Today Is A Gift of God

cove2r

Hari ini, tanggal 28 April 2014, saya bermimpi tentang kematian saya sendiri. Tenggelam di pantai karena hendak mengajari teman saya berenang. Tubuh saya hanyut dibawa air. Semuanya mencari. Teman, sahabat dan guru-guru. Dan hasilnya nihil. Dengan berat hati pihak sekolah mengabari kematian saya pada keluarga. Bisa ditebak mereka sangat syok bukan main. Mama teriak histeris dan Papa menangis.

Awalnya saya bingung mengapa mereka mencari saya di tengah-tengah laut. Saya di sini, teman-teman. Kemudian saya menghampiri Pak Aris, yang dulu merupakan wali kelas saya. Beliau hendak melapor ke kepala sekolah. Ketika saya memanggil beliau, beliau menoleh dan terkejut. Kemudian beliau tersadar, saya tidak nyata. Saya hanya roh dan tubuh saya sudah hanyut di laut. Seketika saya terkejut. Saya pun pergi menemui teman-teman dan guru-guru saya. Mereka sudah menyiapkan seperangkat alat upacara kematian. Saya masih belum bisa mencerna. Siapa yang meninggal?

Saya semakin panik. Kaki ini menuntun saya keluar dan tepat di depan sana kakak saya sudah jemput seperti biasanya. Dia bisa melihat saya, tapi ia tahu saya hanyalah sebuah roh yang keluar dari tubuh. Kakak saya bilang, waktu saya semakin sedikit dan ia hendak membawa saya pulang untuk menemui keluargga sebelum saya benar-benar pergi. Namun, di jalan, kami tersesat. Jalan menuju rumah tidak seperti biasanya. Kami tidak tahu berada di mana. Dan entah macam mana, kami ditangkap dan dimasukkan ke sebuah penjara yang penuh orang-orang jahat. Tangan kakak saya dipatahkan dan hampir dibunuh. Tiba-tiba saja sahabat saya datang. Dia yang menolong kami. Di saat itulah saya semakin merasa tidak berdaya. Waktunya hampir habis.

Kemudian sahabat saya menuntun saya untuk berdoa, mengangkat tangan ke atas, meminta pertolongan Tuhan. Kami pun berdoa dan bercucuran air mata. Dan pertolongan Tuhan saat itu menjadi nyata. Saya dan kakakku akhirnya pulang ke rumah. Suasana duka langsung menyambut kami. Kini aku tahu siapa yang meninggal. Akulah. Akulah yang mereka tangisi.

Kami melangkah masuk ke dalam rumah. Orang pertama yang langsung berlari kepada saya adalah Mama. Beliau menangis sejadi-jadinya sambil memeluk saya. Sementara di belakang sana ada Papa. Beliau juga menangis. Semuanya menangis untuk saya.

“Mi,” ucap saya, “waktu saya hampir habis. Sebelum saya pergi, saya ingin Mimi mengabulkan beberapa permintaanku agar di sana saya bisa tenang. Jangan pernah membuang-buang uang untuk hal-hal yang tidak ada gunanya. Jangan duduk di tempat-tempat orang-orang penggosip dan nanti saat saya pergi, saya pernah bertanya pada orang pintar tentang bagaimana nasib saya. Saya punya Tuhan, Mi. Tuhan pasti menjaga saya. Tuhan itu baik. Mimi mau janji, kan sama saya?”

Mama menyanggupi permintaanku. Saya beralih pada Papa saya. Saat beranjak remaja, saya sangat jarang bicara dengan beliau. Hanya sepatah dua kata saja. Namun, kini saat melihat wajah beliau, rasanya sangat sakit. Mengapa? Mengapa selama ini saya tidak pernah mau dekat dengan beliau? Saya sangat menyesal. Waktu semakin sempit dan saya ingin berada di dekat Papa untuk waktu yang lebih lama.

“Pa,” saya memeluk Papa dengan erat. “Saya sayang banget sama Papa. Maafin saya jika selama ini saya punya salah sama Papa.”

Papa memaafkan saya. Kemudian saya beranjak dan memeluk kakak, abang, dan adik-adik saya. Mereka adalah saudara saya. Mereka adalah harta bagi saya yang selama ini saya sia-siakan. Saya tidak pernah akur dengan adik perempuan saya. Namun, kini rasanya sangat sakit harus berpisah secepat ini. Saya telah menyia-nyiakan waktu untuk bersama mereka saat saya masih hidup.

Saya juga minta maaf pada om dan tante, pekerja-pekerja yang tinggal dan kerja di rumah saya. Saya sangat sayang pada mereka semua.

Dan waktunya tiba. Seseorang telah menjemput saya di luar. Ini sangat berat. Saya harus meninggalkan keluarga untuk selama-lamanya. Saya harus pergi, menghadap Tuhan dan penghakiman atas perbuatan-perbuatan yang saya lakukan sewaktu masih hidup. Diiringi tangisan dari belakang, mereka mengantarku ke depan. Saya sayang Papa, Mama, saudara-saudara saya, om dan tante yang kerja di rumah saya. Saya sayang pada kalian semua. Maaf jika saya punya salah pada kalian.

Saya terbangun sembari terisak-isak mengingat apa yang telah saya lakukan selama saya hidup. Saya tidak bersyukur, berdosa dan anak kurang berbakti. Melalui mimpi ini, saya tersadar ada begitu banyak yang harus saya lakukan. Saya tidak boleh menyia-nyiakan anugerah dari Tuhan. Waktu adalah hal terpenting. Saya teringat sebuah kalimat yesterday is a history, tomorrow is a mystery and today is a gift of God.