Serial Keluarga Marquez #3

cove2r

Hola! I’m back again! Kali ini mau mempersembahkan sebuah fanfic berantai. Berantai? Maksudnya? Oke, begini saudara-saudara sebangsa tanah airku *lebay*, kali ini saya berkolaborasi dengan salah satu teman dunia maya saya, yakni @MarcAdmire. Nah, cerita yang kami buat ini berkisah tentang keluarga Marquez. Sebelumnya @MarcAdmire sudah terlebih dahulu menulis part 1 dan part 2. Nah, sekarang saya menulis yang bagian part 3. Jadi jangan bingung kenapa judulnya langsung part 3. Itu udah aku kasih link-nya. Kalau penasaran, silakan dibaca dulu part 1 dan part 2-nya. Well, sekian ocehan dari saya. Dan Happy reading. Jadilah pembaca yang budiman dengan meninggalkan komen di bawah tulisan ini. Oke?😉

Cast :

Marc Márquez as himself

Alex Márquez as himself

Laura Amberita as Marc’s Girlfriend

Alicia Márquez as Marc and Alex’s Sister

Hari itu keluarga Márquez kedatangan calon mantunya. Namanya Laura Amberita Sánchez. Laura adalah pacarnya Marc. Awal pertemuan mereka terjadi di klinik tempat ayah Laura bekerja beberapa tahun yang lalu. Ayah Laura adalah dokter sunat yang terkemuka di Cervera. Jadi, setiap anak yang mau sunat pasti disunat di klinik itu. Ceritanya, sehari setelah Marc disunat, kemaluan Marc berdarah gara-gara ditendang Alex. Salah Marc sih sebenarnya. Baru juga disunat, eh besoknya main bola sama Alex. Awal kronologi kemaluan Marc bisa ditendang itu karena Alex sedang menendang bola ke arah Marc. Eh, entah gimana ceritanya, si Alex salah nendang. Alhasil kemaluan Marc pun berdarah dan dibawalah ke klinik. Dan kisah cinta mereka pun dimulai di sana saat Laura tak sengaja masuk ke ruang praktik ayahnya yang saat itu sedang memperbaiki jahitan Marc. Tapi, tenang saja. Laura tak melihat kemaluan Marc kok.

“Beb, kok rumah kamu sepi amat ya? Yang lain pada ke mana semua?” tanya Laura setelah dipersilakan duduk oleh Marc.

“Biasalah. Papa dan Mama lagi ke rumah Opung. Alice lagi nge-date sama si Antonelli, anak geng motor itu.”

“Alex?”

“Lagi tidur siang kalik,” Marc mengangkat bahunya.

“Jadi, kita berdua dong di sini?”

“He eh,” Marc tersenyum misterius. Pemuda itu kemudian duduk di sebelah Laura dan bibirnya mulai nyosor ke pipi gadis itu. “Aku sayang kamu,” ucapnya sembari merangkul pinggang Laura.

“Jangan macam-macam!” peringat Laura. Gadis itu pun segera bangkit berdiri.

“Aku pulang!” Teriak sebuah suara cempreng dari arah pintu. Alicia masuk ke dalam rumah dengan tampang ceria. Melihat Laura ada di ruang tengah, bibirnya menganga syok. “KAK LAURA!!!” Anak itu langsung menabrakkan diri ke tubuh Laura.

“Alice!” Laura balas memeluk Alicia.

Sementara para gadis sibuk berpelukan, Marc menggerutu dalam hati. Gagal maning, gagal maning.

“Kak, main di luar yuk. Udah lama nih kita gak main bareng,” Alice menarik-narik tangan Laura.

Mereka pun segera keluar meninggalkan Marc yang merana karena ditinggal sendirian. Rencana mau pacaran dengan Laura, eh si kuntilanak kesayangannya datang. Emang bukan rezekinya kali ya?

“Errr, berisik banget sih di luar. Gak tau apa ya, gue lagi tidur?” gerutu seorang pemuda yang turun dari tangga. Marc menoleh dan melihat penampilan Alex yang benar-benar jelek. Rambut berantakan, baju kusut, dan wajahnya lagi, perpaduan antara berantakan dan kusut. “Siapa sih yang bikin keributan di luar?”

“Siapa lagi. Noh, si tuan putri dan calon istri gue.”

Mendengar kata calon istri, kantuk Alex segera menghilang. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Breast padding. Alex pun lari ke arah jendela dan melihat ke luar. Alicia dan Laura sedang masih semprot-semprotan pipa di halaman depan rumah. Tubuh kedua gadis itu basah kuyup.

“Waw,” ucap Alex refleks.

“Lihat apaan sih lu?” tanya Marc kepo, ikut melihat kedua gadis itu bermain air.

“Waw…,” sekali lagi Alex berucap kata itu.

“Eh?” Marc tambah penasaran. Dilihatnya mata Alex yang menatap lekat ke arah Laura sontak membuatnya naik pitam. Marc melepas pengait jendela rumah, lalu menghempaskannya begitu saja ke kepala Alex.

“Waw….”

DEBUK!!!

Jendela itu sukses mendarat di wajah Alex.

“Apa-apaan sih lu? Sakit, dodol!” adu Alex sembari mencubit-cubit hidungnya yang ia rasa agak penyok sedikit akibat hantaman jendela tadi.

“Mata lu liat siapa tadi?” tanya Marc galak.

“Eh? Liat apaan?” Alex salah tingkah.

“Lu liatin badan Laura, kan?” tuduh Marc.

Alex kembali menyengir. Ketahuan deh.

“Awas lu ya, mikir macam-macam tentang Laura. Gue pites lu!” ancam Marc dengan muka garang.

“Eh, hehehe… Iye, sorry, sorry.” Alex lagi-lagi nyengir dan cengengesan. “Hm, Marc, boleh nanya gak? Elu kan udah berpengalaman nih soal cewek. Apalagi lu udah pacaran 2 tahun sama Laura. Itunya Laura gimana? Lu pasti pernah pegang, kan? Mantap gak?”

Marc mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Alex. Alisnya menyatu, coba mencerna apa maksud Alex.

“Itu apanya?” Alis Marc terangkat.

“Itu lho. Menara kembar.” Alex memperagakan tangannya di depan dada.

BEDEBAK!!!

“ADAW!!!”

“Anjrit lu!” maki Marc sembari menjitak keras kepala Alex. Alex mengaduh kesakitan seraya mengelus-elus bagian yang kena jitak Marc. “Lu kira Laura cewek apaan? Kalo ngomong jangan sembarang!” tukas Marc dengan nada marah.

“Iye, gue kan cuma tanya doang. Gak perlu main jitak-jitakkan juga keles. Sakit tauk,” Alex memonyongkan bibirnya. “Gue kan penasaran. Lagian lu bilang punya Laura asli. Jadi gue pengen tau aja gimana rasa itunya.”

BEDEBAK!!!

“AWWW!!!”

“Lu bahas itu lagi, gue lempar lu ke laut! Biar mati dimakan hiu!”

“Ini ada apaan sih? Kok ribut-ribut?” Laura tiba-tiba muncul dengan tubuh basah kuyup. Ia mendengar suara gaduh dari dalam rumah, makanya ia masuk untuk melihat apa yang terjadi.

“Waw…!”

Air liur Alex menetes melihat tubuh Laura. Bra hitam gadis itu tercetak jelas di kaus putih yang dikenakannya. Sehingga menampakkan bentuk padat berisi itu di dadanya.

“Eh, eh.” Laura salah tingkah.

Marc tidak bisa membiarkan Alex memandang tubuh Laura lama-lama. “Laura, masuk ke kamar Alice!” suruh Marc dengan suara dingin.

Alex tersadar dengan apa yang barusan ia lakukan. Hati-hati ia memutar tubuhnya dan bisa ditebak, dilihatnya wajah Marc merah padam dan kepalan tinju sudah siap sedia terbang ke wajah imutnya. Alex menyengir tak berdosa.

“Sudah puas liat badan Laura?” tanya Marc dengan suara sengaja dibuat-buat ceria. Alex mengangguk takut. Dan seketika bogem mentah melayang ke wajah Alex dan pemuda itu pun tak sadarkan diri.

“Dasar banci! Baru kena sekali bogem aja udah pingsan,” ejek Marc.

Marc menyusul ke kamar Alicia. Laura yang melihat kedatangan Marc sontak berdiri dari ranjang Alicia. Tubuhnya masih basah. Ia belum ganti baju. Lah, mau ganti gimana? Baju ganti saja ia tidak bawa.

“Kamu ini apa-apaan sih? Sudah tahu pakai baju putih, masih main lagi basah-basahan. Mau pamer tubuh ke orang-orang? Gitu?” Sembari mengomel, Marc membuka lemari baju Alicia, mengambil sehelai baju dan celana panjang. Untung saja tubuh Laura dan Alicia tidak beda jauh.

Laura diam tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia malas mendebat Marc. Sebenarnya bukan salah gadis itu sih tubuhnya basah semua. Alicia tiba-tiba saja menyemprotnya dengan air. Ya sudah, mainlah mereka basah-basahan.

Marc meletakkan baju dan celana panjang yang diambilnya tadi ke atas ranjang tidur Alicia. Marc berbalik, masuk ke dalam kamar mandi Alicia dan keluar lagi dengan sebuah handuk putih di tangan. Hati-hati diusapnya rambut Laura dengan handuk itu.

“Lain kali, jika mau main basah-basahan, usahakan jangan pakai baju putih. Ngerti?” Marc menghentikan usapannya. Kedua tangannya terangkat menyentuh pipi Laura yang agak dingin. Marc menatap ke manik mata itu dengan intens. “Aku tidak suka membagi pemandangan yang seharusnya kudapatkan ke orang lain, sekalipun orang itu adalah adikku sendiri.”

Laura merinding mendengar kalimat terakhir Marc. Begitu posesif dengan nada ketegasan yang jelas. Inilah yang Laura suka dari Marc. Laki-laki itu sangat menjaganya. “Aku minta maaf,” ucapnya pelan.

“Ini bukan salahmu. Tidak perlu minta maaf,” balas Marc pelan. Marc menelusuri wajah Laura. Ia mendekatkan wajahnya pada Laura dan bibir mereka pun saling berpagutan. Menyatu bersama belitan lidah mereka yang menari-nari. Tangan Marc menyusup di balik kaus tipis Laura. Hanya menyentuh punggung gadis itu saja. Ia tidak mau terlalu dalam menyentuh Laura. Ia masih tahu batasnya.

Ciuman itu pun semakin dalam dan panas. hingga….

“OH, TUHAN…!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN DI KAMARKU?!”

Teriakan Alicia yang berpotensi membuat pekak telinga itu sukses membuat kedua orang itu memisahkan diri. Laura buru-buru memalingkan wajahnya, sedangkan Marc senyam-senyum tak jelas. Dasar!

To Be Continued…

PS : Thanks to @MarcAdmire for the fanfic cover. It’s really cool sist. Thank you so much😀 and buat lu lu pada, jangan lupa mampir ke http://www.mercymarc.blogspot.com. Di sana banyak fanfic yang keren badai. Suer, gue gak bohong.