Mini FF : Someday You Will Know

Warning : Ini hanya fiktif belaka. Jadi, nikmati saja dan jangan mempercayai apa yang terjadi di dalamnya.😉 Happy reading

Anak itu mulai beranjak remaja, begitulah hal yang terlintas di benak Julia Marquez. Matanya yang memandang dari dalam jendela rumah mengarah ke seorang anak laki-laki yang sedang bermain bola kaki bersama adiknya di halaman rumah. Julia memijit keningnya pelan. Dia harus melakukannya, sesuai tradisi keluarga Marquez—tradisi penduduk Cervera, lebih tepatnya.

Ya, Julia harus melakukannya, seperti halnya yang pernah dilakukan Ramon—ayah Julia—padanya saat dia beranjak remaja.

Walaupun dia yakin ini pasti akan menyulitkan.

Napas berat kembali ia hembuskan.

***

“Tidak! Aku tidak mau!” seru anak laki-laki itu dengan lantang. Tubuhnya mundur ke belakang dan wajahnya memperlihatkan ekspresi cemberut. Raut keras kepala begitu tampak di wajah khas Spaniard-nya.

“Aku tidak memintamu untuk menjawab ya atau tidak. Kau harus mau dan kau harus melakukannya!” Julia berkata dengan tegas. Namun, hal itu tidak membuat anak laki-laki di hadapannya takut.

“Pokoknya aku tidak mau! Dad tidak berhak memaksaku!” serunya lagi dan langsung berlari menghindar dari Julia.

“Mau ke mana kau? Marc Márquez! Jangan kabur kau!” teriak Julia keras dan berlari mengejar Marc.

Sementara itu, Alex, adik laki-laki Marc hanya mengintip dari sudut dinding adegan kejar-kejaran yang dilakukan oleh ayah dan kakaknya. Diam-diam bocah kecil itu menaruh iba pada kakaknya. Walaupun ia tahu suatu hari nanti, ia pasti akan mendapat gilirannya.

“Alex! Apa yang kaulakukan di sini? Masuk ke kamarmu.” Roser yang datang dari belakang mengejutkan Alex. Dengan patuh, Alex segera masuk ke kamarnya.

Roser kemudian menyaksikan kejar-kejaran itu dengan hati pilu. Kalau boleh jujur dia ingin sekali menarik Marc ke dalam pelukannya, dan melindunginya. Tapi, apa daya? Dia tidak mungkin melakukannya. Marc harus menjalani suatu tradisi untuk mengesahkan identitas dirinya seperti lazimnya yang dilakukan oleh seluruh orangtua di Cervera pada anak laki-laki mereka. Roser tidak bisa berbuat apa-apa, selain merelakannya.

Akhirnya tubuh kecil Marc yang tak seberapa itu berhasil ditangkap oleh Julia. Air mata Roser menggenang. Tidak! Dia tidak boleh menangis. Roser membalikkan tubuhnya dan pergi ke kamarnya. Ia sungguh tidak tahan.

Marc memberontak. Dia coba meloloskan dirinya dari kukungan lengan Julia yang keras. “Aku benci padamu! Kau ayah yang kejam! Aku benci padamu, Dad! Lepaskan aku!” berontak Marc.

Julia tidak peduli. Dengan sekuat tenaga pria itu menyeret Marc keluar rumahnya. Tak lupa dia telah menyiapkan tali yang dibawa sertanya. Marc terus memberontak dan mulutnya mengeluarkan berbagai makian yang ditujukan pada ayahnya. Demi Tuhan, bahkan Julia sempat kaget mendengar kata-kata kasar itu. Marc, dia baru 13 tahun. Darimana anak itu mempelajari kata-kata itu?

Julia menyeret Marc masuk ke dalam hutan yang terletak tak jauh dari rumahnya. Bau tanah basah langsung tercium. Dengan posisi masih mengukung Marc, Julia menarik Marc ke sebuah pohon besar yang sebelumnya telah ditandainya dengan sebuah lampu yang tergantung di atas dahannya.

Julia sedikit kewalahan menghadapi perlawanan Marc. Hingga akhirnya, dengan sisa tenaga, Julia mendorong Marc hingga punggung anak laki-laki itu membentur kerasnya batang pohon pinus. Julia segera menarik talinya dan mengikat Marc bersama pohon itu.

Marc rupanya tidak berhenti. Sambil menahan nyeri di punggungnya, Marc terus berontak dan menggerak-gerakan tubuhnya hingga akhirnya dia kelelahan. Lilitan tali di sekujur tubuhnya membuatnya tak berdaya. Sakit di punggungnya semakin terasa akibat gerakannya yang bergesekan dengan kulit kasar pohon pinus.

Dengan mata memandang penuh kebencian di bawah minimnya pencahayaan, Marc berteriak marah pada ayahnya. “Aku benci padamu! Aku benci menjadi anakmu! Kenapa? Kenapa kau harus menjadi ayahku? Kenapa, hah? Kau jahat! Kau ayah yang jahat! Kau tega pada anakmu sendiri! Aku menyesal jadi anakmu!”

Hati Julia teriris mendengar perkataan Marc. Dia tidak menyangka begitu kasar perkataan anak laki-lakinya padanya. Tapi, ini demi kebaikan juga. Julia coba membesarkan hatinya.

“Terserah kau mau berkata apa. Lahir di mana pun juga, kau tetap harus menjalani ini. Kau menyesal jadi anakku? Tidak apa. Suatu saat kau akan tahu kenapa aku melakukan ini padamu. Dan ketahuilah, walaupun kau berkata menyesal jadi anakku, aku tidak pernah menyesal memiliki anak sepertimu.”

“Persetan! Suatu saat? Kau bilang suatu saat? Omong kosong! Kau tahu apa yang sedang kaulakukan? Kau sedang mengumpanku menjadi makanan para binatang buas di hutan ini, Dad! Apa kau senang jika aku mati dengan tubuh hancur di dalam perut mereka? Apa itu yang kauharapkan?” desis Marc dengan napas terengah-engah.

“Ya, itulah yang aku harapkan!” balas Julia dengan nada keras. “Selamat malam. Semoga malammu menyenangkan, anakku,” kata Julia dingin. Perlahan tubuhnya berbalik dan hilang di balik bayangan pepohonan.

“AKU BENCI PADAMU! AKU BENCI PADAMU, DAD!” teriak Marc sembari menangis sejadi-jadinya. Tubuhnya terus meronta dan bibirnya terus meraung. Ketakutan akan gelapnya malam di tengah lebatnya perpohonan menyelimuti Marc. Dia sendirian. Anak laki-laki itu terus menangis pilu.

Andai saja dia tahu. Andai saja dia menyadarinya. Raungan dan makian-makian terus keluar.

Akhirnya tangisan Marc berubah menjadi isakan kecil, hingga kemudian tak terdengar lagi. Anak laki-laki itu jatuh tertidur. Dia lelah.

***

Matahari perlahan-lahan naik dari peraduannya. Sinarnya yang membuat sakit mata itu membuat Marc sukses menyipitkan matanya. Sejenak dipandangnya ke sekelilingnya; dia masih di hutan, terikat di pohon pinus. Marc menoleh ke kirinya dan sontak membelalak syok. Astaga! Apa dia tak salah lihat? Apa dia hanya berhalusinasi saja?

Marc masih ingat semalam saat ayahnya menyeretnya ke hutan, ayahnya mengenakan kaus abu-abu dengan celana hitam panjang. Dan tepat di sebelahnya, ayahnya masih dengan pakaian yang masih sama tertidur di samping pohon tempatnya diikat.

Marc malu pada dirinya sendiri. Dia tidak sendirian semalam.. Ayahnya ada, sangat dekat dengannya. Ayahnya bukan orang yang kejam. Bahkan ayahnyalah yang menjaganya semalam. Marc menangis tersedu-sedu. Dia benar-benar menjadi anak durhaka sekarang.

Julia terbangun mendengar tangisan Marc. Pria itu bangkit dan menghampiri Marc. Julia juga melepaskan ikatan tali di tubuh Marc. Marc langsung menghamburkan dirinya pada Julia.

“Aku minta maaf, Dad. Aku menyesal. Aku minta maaf telah memakimu semalam. Aku minta maaf telah meneriakkan perkataan kasar padamu. Aku menyesal, sungguh,” tangis Marc kecil di pundak ayahnya.

“Tidak apa, Nak. Maafkan, Dad juga. Dad tak bermaksud mengikatmu di sini. Tapi, inilah tradisi penduduk Cervera. Dad ingin kau menjadi anak lelaki yang tangguh. Dan kau berhasil melewatinya.” Julia mengusap wajah Marc. Mata pria itu memperlihatkan betapa dia mencintai anak laki-lakinya.

“Tidak. Aku menangis semalam,” jawab Marc, masih terisak.

“Tidak apa. Tapi, kau sudah berhasil melewati malam itu. Kau sudah hebat, Nak. Aku sangat bangga padamu,” kata Julia sembari mengacak-acak rambut Marc.

“Aku sayang padamu. Aku minta maaf,” balas Marc.

“Aku juga sayang padamu, boy.” Julia mencium dahi Marc. “Ayo kita pulang,” ajak Julia. Marc mengangguk. Mereka pun berjalan pulang ke rumah. Tanpa dendam yang sempat tumbuh di hati Marc. Dia kini tahu kenapa ayahnya melakukan itu padanya. Ia akan tumbuh menjadi lelaki hebat di masa depan.

END

Note :

Well, ide cerita ini terinspirasi dari cerita guruku sewaktu beliau berkhotbah di sekolah. Fyi, sekolahku selalu mengadakan siraman rohani rutin tiap hari Jumat. Semoga cerita ini dapat diambil manfaatnya. Thanks for reading. Dan sekiranya kalian bisa meninggalkan jejak, minimal like atau komenlah. Hehehe…. Dan My Secret, His Son #3 akan kuposting setelah UN. Omong-omong soal UN, doain ye semoga diriku ini sukses di UN. See ya😉 *kecup dari Miguel*😀