Mengapa…. Oh, Mengapa….

Gak tau kenapa tiba-tiba kepikiran buat nulis ini. Padahal besok udah mulai Try Out 3 dan aku sama sekali belum nyentuh buku. Xixixixi…. Jangan ditiru contoh seperti ini.

Oke, jadi pas BAK alias Buang Air Kecil—biasanya kalo buang air besar kan disingkat jadi BAB—aku teringat sama cerita masa lalu. *emang WC tempat paling ampuh buat dihinggapi dewa ide. Makanya aku betah duduk di sana berjam-jam* #PLAK😀

Jadi, beberapa tahun yang lalu *eaaaaa* tukang kebun papaku yang tinggal di daerah Wacopek, istrinya kena DBD. FYI, kebun papaku ada di sana dan sehari-hari tukang kebun itulah yang ngurus lahan papaku. Kalau dilihat dari tali persaudaraan, keluarga dari pihak mamaku yang notabene orang asli Kalimatan Barat, tepatnya Singkawang masih ada hubungan darah gitu sama tukang tersebut. Oke, sebut sajalah tukang kebun ini namanya Ahok *nama samaran*. Eittt, bukan wagub DKI lho. Ntar aku kena lempar sendal pulak. Hihihi….

Alhasil anak-anaknya diungsikan ke rumahku dan istrinya yang pada saat itu sudah sekarat dilarikan ke rumah sakit. Nah, cerita bermula pada saat anak-anak itu, sebut saja yang laki-laki namanya Upik dan yang perempuan Buyung. *ini apaan coba (¬_¬”)* Selama mamanya Upik dan Buyung di rumah sakit, tuh dua anak diasuh sama keluargaku. Dan kekonyolan pun terjadi. Sebelumnya aku mau jelasin dulu ya kalo keluarga Upik dan Buyung ini asli dari Kalbar, sedangkan mamanya adalah orang dayak. Jadi mereka pakai bahasa Khek/Hakka untuk komunikasi sehari-hari. Begitu pun dengan keluarga kami yang juga menggunakan bahasa Khek/Hakka. Namun, kutegaskan, bahasa Khek kami dan mereka itu beda kosakata. Jadi ada beberapa keanehan dan situasi konyol yang bikin aku mengerutkan kening.

Salah satu kejadiannya seperti ini. Si Upik dan si Buyung ini pada suatu malam gelisah banget. Trus papaku suruh aku tanya mereka kenapa. Laparkah? Atau kangen ortunya? Maklum si Ahok alias papa mereka jagain sang mama yang terbaring si rumah sakit.

Pergilah aku ke kamar yang mereka tempati. Dengan perhatiannya aku tanya begini. “Nya tu phat ngo, mo?” *Translate : perutmu lapar, tidak?*

Dan…. TARAP…. TARAP…. JEREENG….!!!

YOU KNOW WHAT??? *caplock jebol* They didn’t understand with what I say to them. Kenapa bisa? Bukannya aku pakai bahasa Khek? Jadi mereka cuma bengang-bengong aja. Cengo-cengo macam orang tolol. Aku pun jadi heran. Tak lama setelah itu, mamaku nyeletuk dari belakang.

“Hayo, ki thew abui thang jit sit na. Kak ki thew kong, ‘nya tu si ki, mo?'” *Translate : Aduh, mereka manalah ngerti. Ngomonglah gini sama mereka, ‘perutmu lapar, tidak?'”

Gantian aku yang cengo. Dalam hati aku bilang, ALAMAK! Itu kan sama aja!!! Aku masih mikir, emangnya ada yang salah ya dengan kata-kata aku yang awal tadi?

Nya = kepunyaanmu
Tu phat = perut
Ngo = lapar
Mo = tidak

Nya tu phat ngo, mo? = Perutmu lapar, tidak?

Trus bandingkan dengan kata mamaku.

Nya = kepunyaanmu
Tu si = perut
Ki = lapar
Mo = tidak

Nya tu si ki, mo? = Perutmu lapar, tidak?

And I just realised they were real Singkawangnese. Jadi, karena aku anak perkawinan campuran *macam iya aja* antara orang Singkawang dan orang Kijang, jadi bahasa Khek/Hakka yang kupakai di sini pun campuran. Nah, bukannya mau menyombongkan diri. Dari kasus di atas, memang rata-rata orang Singkawang yang datang ke sini mungkin sedikit gak ngeh dengan bahasa Khek di daerah Kijang. Sebaliknya orang Kijang ke Singkawang pun begitu. *ini belum terbukti kebenarannya. Jadi jangan langsung percaya*

Jadi, karena percampuran bahasa itulah, aku ngeh-ngeh aja waktu dengar orang Kijang dan orang Singkawang ngomong. Jadi enak-enak aja di telinga aku. Memang aku sering ngomong pakai bahasa Khek/Hakka dengan kosakata orang Kijang. Tapi, percayalah aksen dan logat saya sangat-sangat khas Singkawang sekali. Kalau orang Kijang kan logatnya agak halus dan terkesan lembut. Kalau orang Singkawang agak keras logatnya. Tapi, fine-fine aja sih menurutku. Bahasa kan alat komunikasi. Kalau lawan bicara kita ngerti dengan apa yang kita bicarakan, ya sudah. Yang penting sama-sama ngerti. So simple… Hehehehe….

Sekian tulisan absurd saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s