ONESHOT : My Baby, You

Jarum panjang jam di dinding itu terus berjalan, menciptakan bunyi di setiap pergeseran detiknya. Malam kian larut, bahkan sudah memasuki waktu dinihari. Gadis itu masih terjaga, dengan posisi tubuh yang menghadap ke samping, membelakangi seseorang yang memeluknya erat dengan lengan kekar yang seolah tidak mengizinkan gadis itu pergi ke mana pun. Gadis itu bisa merasakan posisi kepala pria itu yang berada di ubun-ubunnya dan sesekali bernapas di sana, menciptakan rasa hangat yang menusuk ke kulit kepalanya. Pria itu tertidur begitu damai. Ia tidak sendirian.

Jantung gadis itu berdetak tak keruan. Keraguan mulai timbul di hatinya. Pertanyaannya sekarang, sejauh mana ia berani mengambil keputusan untuk meninggalkan pria yang tertidur pulas di sampingnya ini?

Air mata merembes turun dari sudut matanya. Tidak ada pilihan. Ia harus pergi sekarang. Demi kebaikan ia sendiri, pria itu dan seseorang lagi yang sekarang berada di rahimnya.

Dengan gerakan perlahan-lahan, gadis itu menurunkan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya dan pelan-pelan coba menyingkirkan lengan kekar itu yang berada di pinggangnya. Jantungnya semakin berpacu dengan setiap gerakan yang ia ciptakan. Ia hanya berharap semoga pria itu tidak menyadari apa yang sedang ia lakukan.

Namun, harapan tinggallah harapan. Pria itu terbangun dengan kantuk yang masih menghiasi wajahnya. Tangan itu justru semakin erat melingkar di pinggangnya.

“Mau ke mana, hm?” tanya pria itu dengan suara serak. Hidung pria itu menyentuh leher gadis itu, dan mengendusnya pelan.

Gadis itu terdiam sejenak. Ia tidak berani melihat ke arah pria itu. “Aku ingin buang air kecil.”

“Hm, jangan lama-lama ya,” pesannya, kemudian melepaskan lingkaran lengannya dari pinggang gadis itu.

Gadis itu bergegas memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan masuk ke kamar mandi. Sejenak ia memandangi tubuh telanjangnya di depan kaca. Tanda cinta yang ditinggalkan pria itu masih tercetak jelas di atas payudara dan lehernya setelah percintaan panas yang mereka lakukan beberapa jam yang lalu. Tapi, bukan itu yang menjadi fokus utama gadis itu. Matanya beralih pada gundukan kecil di bawah perutnya. Masih belum terlihat jelas. Namun, jika dilihat baik-baik, perutnya tidak serata dulu.

Air matanya kembali terjatuh. Gadis itu terisak pelan. Matanya kemudian mengarah kepada benda kecil berwarna putih yang tergeletak di pojok wastafel marmer itu. Diraihnya alat itu dan kembali dilihatnya. Garisnya masih sama. Positif. Ia memang positif mengandung anak dari pria itu.

Gadis itu segera menghapus air matanya dan buru-buru mengenakan pakaiannya serta merapikan rambutnya yang sedikit awut-awutan akibat kegiatan panas mereka. Sebelum keluar dari kamar mandi itu, tidak lupa gadis itu membuang testpack-nya ke tempat sampah di sebelah kloset.

Saat ia keluar, matanya langsung terpaku pada Marc yang masih terbaring di sana. Bulir-bulir kembali berkumpul di sudut matanya. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana bisa ia harus hidup tanpa pria itu di sisinya, jika saat berdiri dengan jarak beberapa meter seperti ini saja sudah membuat dadanya sesak. Demi Tuhan, ia tidak sanggup meninggalkan pria itu, pria yang hampir 1 tahun bersamanya.

“Aku minta maaf,” ucapnya lirih, kemudian menarik koper kecil yang sudah dikepaknya dan meninggalkan kamar hotel itu.

***

Elena Elizabeth terkejut mendapati putrinya pulang pagi-pagi buta dengan keadaan yang bisa dibilang cukup mengenaskan. Dengan wajah sembab dan pucat, gadis itu ambruk ke dalam pelukan ibunya dan menangis histeris.

“Kau kenapa, Nak? Apa yang terjadi?” tanya Elena khawatir sembari mengusap-usap punggung putrinya.

Laura tidak menjawab. Ia terus menangis hingga akhirnya tubuh gadis itu benar-benar ambruk dan hilang kesadaran. Elena teriak histeris. Seumur hidupnya ia tidak pernah melihat Laura dalam keadaan seperti ini.

“Robert! Robert!” Elena memanggil suaminya panik.

Seorang pria paruh baya lantas datang terpogoh-pogoh dan seketika syok melihat putri semata wayangnya terbaring di pangkuan Elena dengan wajah memerah.

“Oh, astaga! Laura!”

Robert segera menghampiri Elena dan meraih Laura ke dalam pelukannya. Tanpa mempedulikan berat badan putri kesayangannya itu, Robert langsung mengangkat tubuhnya ke dalam kamar gadis itu.

Robert membaringkan Laura di atas ranjangnya, kemudian mengarahkan tatapannya pada Elena yang sudah berada di sampingnya. “Apa yang terjadi? Kenapa Laura bisa sampai seperti ini?”

Elena menggelengkan kepalanya. “Aku juga tidak tahu, Robert,” jawabnya.

“Kau yakin?” Robert kembali bertanya. “Apa dia masih berhubungan dengan Marc?”

“Setahuku masih. Tapi, kupikir hubungan mereka baik-baik saja.”

“Tidak ada orang lain lagi yang bisa membuat Laura sesakit ini, Elena. Aku sangat yakin, pria sialan itulah yang membuat gadis kecilku seperti ini.”

Mata Robert berkilat marah. Ia yakin, bahkan terlampau yakin pria yang bernama Marc Márquez Alenta itu telah menyakiti putri semata wayangnya. Memang dari awal ia tidak setuju Laura berpacaran dengan pria itu yang notabene adalah seorang pembalap MotoGP.

“Jangan berprasangka buruk dulu, Robert. Kita tidak tahu apa yang terjadi,” kilah Elena. Wanita mendekati lemari pakaian Laura dan menarik beberapa helai pakaian untuk mengganti pakaian Laura yang basah oleh keringat.

“Dia akan membayar apa yang telah dia lakukan terhadap putri kita. Aku tidak akan membiarkan bajingan itu hidup tenang!” desis Robert, emosi.

“Robert!” tegur Elena, tidak suka. “Keluarlah dulu. Aku akan mengganti pakaian Laura,” suruhnya kemudian pada suaminya.

Robert menatap Elena sejenak, kemudian beralih pada Laura. Tatapannya berubah lembut. Sebagai seorang ayah, ia akan melakukan apa pun demi melindungi anak gadisnya. Ia takkan membiarkan seorang pun menyakiti putrinya, termasuk pria yang bernama Marc Márquez Alenta itu.

***

Ia sadar, sangat sadar saat tangan itu coba menyingkirkan kukungan lengannya di pinggang gadis itu. Dengan alasan ingin buang air kecil, gadis itu tidak kembali lagi. Marc tidak tahu kenapa gadis itu pergi meninggalkannya. Ada apa sebenarnya?

“Aku minta maaf.”

Marc mendengar 3 kata itu, yang diucapkan gadis itu dengan nada perih. Minta maaf untuk apa? Apa salah gadis itu hingga harus minta maaf padanya? Maaf karena telah meninggalkannya? Tidak. Marc yakin itu bukan alasannya.

Marc terduduk di atas ranjang itu. Matanya memerah. Dadanya terasa begitu sesak, hingga bahkan untuk menarik napas saja terasa sangat sulit. Ia tidak bisa memaksa gadis itu, jika memang gadis itulah yang menginginkan perpisahan. Perpisahannya yang sangat menyakitkan bagi Marc.

Rasanya dunianya seakan hancur. Untuk berbagai macam alasan, dan untuk pertama kalinya ia menangis karena gadis itu. Sakitnya bahkan jauh melebihi beribu-ribu cidera yang pernah ia dapatkan saat terjatuh di atas kecepatan mesin motor. Kini, ia tahu sangat sulit hidup tanpa gadis itu di sisinya.

Kenapa? Kenapa kau meninggalkanku, Laura?

***

Elena terkejut begitu melihat beberapa tanda kemerahan di sekitar leher putrinya. Bibir wanita itu terbuka, syok. Ia tahu tanda kemerahan itu apa. Tapi, apa mungkin itu….

“Marc….”

Igauan yang keluar dari bibir Laura membuat Elena tersentak. Elena memandang wajah putrinya yang pucat dengan keringat yang masih membasahinya. Entahlah apa yang dirasakan oleh wanita itu. Ia tahu sesuatu telah terjadi pada putrinya.

Elena mengusap matanya yang berair. Hatinya seketika hancur melihat putri yang sejak kecil ia didik dan ajar, kini telah berubah drastis. Elena sadar memang ada perputaran waktu menuju kedewasaan. Tapi, demi Tuhan, Laura masih 18 tahun. Belum cukup dewasa untuk melakukan hal-hal yang dilakukan orang dewasa.

Lalu, mata Elena kemudian turun menuju sebuah gundukan kecil di atas perut Laura. Matanya membelalak syok. Tidak perlu menjadi jenius untuk menebak gundukan apa itu. Elena tahu, karena ia sendiri juga pernah mengalaminya. Gundukan kecil yang pernah bersarang di rahimnya yang kini bertumbuh menjadi seorang gadis cantik yang bernama Laura Amberita Sánchez.

Oh, demi Tuhan. Dia baru 18 tahun dan sekarang tengah mengandung. Elena terisak hebat. Ini… tidak mungkin.

***

Robert kembali masuk ke kamar putrinya saat Elena selesai mengganti pakaian Laura. Namun, Robert melihat ada yang berbeda dengan wajah Elena.

“Kenapa?” tanya Robert cemas seraya mencengkram bahu Elena.

Pandangan Elena tidak fokus. Bibirnya bergetar, hingga…, “sesuatu telah terjadi,” lirihnya.

“Sesuatu? Apa? Apa yang terjadi, Elena?” tuntut Robert, mendadak merasa tidak enak.

“Laura…,” Elena berhenti sejenak. “Laura, Robert…. Laura hamil.” Dan seperti petir yang menyambar di pagi hari, muka Robert sontak memutih dan tubuhnya membatu di tempat. Mendadak jantungnya seolah berhenti berdetak.

“Apa? Kau… bilang apa?” Syok. Robert tampak masih tidak percaya.

“Laura hamil, Robert. Laura sedang mengandung.” Elena terisak-isak.

Kedua tangan Robert jatuh di sisi tubuhnya. Kepalan tangan lantas terbentuk dan sorot matanya tampak begitu murka. “Akan kubunuh bajingan sialan itu,” desisnya marah.

Melihat tubuh Robert yang pergi menjauh, Elena refleks berseru. Ia tahu bagaimana karakter suaminya itu jika sudah berada dalam titik puncak kemarahannya. “Jangan, Robert!”

Robert berhenti di ambang pintu dan berbalik menatap Elena. “Kau menyuruhku jangan membunuh bajingan yang telah menghamili anak kita, Elena?!” seru Robert, keras.

“Kau jangan bodoh! Apa kau pikir dengan membunuh Marc semua masalah akan teratasi? Kau juga harus pikirkan perasaan Laura. Apa kau tidak sadar? Laura sedang mengandung anak Marc, Robert. Ayah dari calon cucu kita. Apa kau tega membunuhnya demi melampiaskan kemarahanmu, hm?” balas Elena, tak kalah kerasnya.

Robert tidak merespon. Ia marah, sangat marah pada bajingan tengik itu. Tapi, Elena benar. Bajingan itu adalah ayah dari calon cucunya. Apa yang akan dijelaskan Robert nanti jika cucunya bertanya di mana ayahnya? Apa ia akan menjawab, bahwa ayahnya telah dibunuh oleh kakeknya sendiri? Tidak. Robert langsung tersadar. Ia terlalu marah.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” desis Robert, frustrasi.

Kemarahan Robert belum sepenuhnya mereda. Pria itu kembali menghampiri Elena, kemudian mengambil posisi duduk di samping Laura yang masih dengan mata terpejam. Tangan Robert terulur dan membelai rambut Laura dengan penuh sayang. Mata Robert berkaca-kaca saat memandang duplikat dirinya yang ada pada wajah Laura. Di dekatkan wajahnya dan dikecupnya kening putri kesayangannya itu.

“Kenapa kau bisa begitu bodoh, hah? Kenapa kau harus jatuh cinta pada bajingan sialan itu, Sayang? Kenapa, Laura?” tanya Robert frustrasi, sembari menintikkan air mata. “Daddy sangat mencintaimu, Nak.”

***

Sirkuit Catalunya sebenarnya merupakan sirkuit favorit Marc. Namun, entah kenapa saat menjelang race yang tinggal menghitung jam, pria itu seakan hilang gairah membalap. Ia sangat lelah dan tidak sanggup duduk di atas tunggangannya. Ia bahkan berencana untuk tidak mengikuti race kali ini, dengan konsekuensi yang akan mencoreng nama baiknya karena tidak menjadi rider yang profesionalis.

Wajah Marc tampak pucat. Dan hal itu membuat team Repsol Honda was-was akan keadaan pria itu. Saat warm up pun Marc terperosok di posisi yang paling buncit yang semakin mengindikasikan bahwa pria itu tidak dalam kondisi baik-baik saja.

Tidak. Ia tidak akan bisa merasa baik-baik saja tanpa kehadiran gadis itu di sampingnya. Ia butuh oksigennya. Ia butuh penyemangatnya. Ia butuh kekuatannya. Dan semua itu ada pada diri Laura.

Marc seperti kehilangan arah. Alasan yang masih belum ia ketahui kenapa Laura pergi. Dan bodohnya Marc membiarkan gadis itu pergi begitu saja. Seandainya waktu bisa ia putar lagi. Ia tidak akan membiarkan gadis itu pergi.

Aku mencintaimu, batinnya.

Sebelum race dimulai, pria itu mendapat sebuah pesan singkat yang mengusik pikirannya. Ia tidak tahu siapa nama pengirimnya, namun saat nama Laura tertera di barisan kata pesan itu, hati Marc sontak bergemuruh.

Aku ingin bicara denganmu. Ini tetang Laura. Setelah race, temui aku di hotel tempatmu menginap.

Bisa ditebak apa yang terjadi saat pertengahan race Catalunya. Marc tersungkur ke gravel dengan posisi highside yang membuat siapa pun melihatnya akan bergidik ngeri. Marc membuat kesalahan, walaupun ia tidak merasa telah melakukannya. Otaknya tidak berjalan dengan apa yang ia perintahkan.

Namun, race itu tidak lagi penting. Sekarang ia harus menemui seseorang. Seseorang yang mungkin akan mengabarkan berita baik atau buruk.

***

Sebuah tinju langsung menghantam wajah Marc begitu ia masuk ke dalam kamar hotelnya. Bukan hanya sekali, namun tinju itu datang bertubi-tubi dan tidak memberikannya sedikit pun kesempatan untuk membalas.

Robert Sánchez memandang sinis pada pemuda yang tersungkur tak berdaya di hadapannya. Dan kembali, Robert menarik kerah baju Marc dan membawa pemuda itu berdiri menghadapnya.

“Kau! Sudah berkali-kali kuperingati kau agar tidak lagi berhubungan dengan putriku. Dasar bajingan sialan!” teriak Robert di muka Marc. “Apa kau puas telah menyakiti putriku? Apa salah dia hingga kau meninggalkannya begitu saja dan melepas tanggung jawabmu?! Dasar pengecut!”

Sebuah hantaman keras kembali melayang dan mendarat mulus mengenai rahang Marc. Marc hampir terjatuh. Bibirnya yang memar mengeluarkan darah segar. “Apa maksudmu?” tanya Marc.

Sungguh, saat ia masuk ke kamarnya, pria itu tidak menyangka Robert berada di dalam. Bahkan Marc juga bingung kenapa Robert memukulnya dan mengatakan masalah ‘meninggalkan Laura dan melepas tanggung jawab’. Ia tidak mengerti.

“Kau masih berani bertanya?” Robert semakin murka. “Sialan kau!”

Robert hendak maju menghajar Marc. Namun, langkahnya terhenti saat bunyi ponselnya berdering. Robert mengambil benda itu dengan kasar dari sakunya dan menempelkannya ke telinga. Matanya masih tajam mengarah pada Marc.

“Ada apa, Elena?” sahut Robert di ponsel. Dan tak lama setelah itu, mata Robert membelalak terkejut. “Apa?!” ucapnya dengan nada tak percaya. Ekspresi Robert tampak terpukul.

Marc tahu ada yang tidak beres. Mendadak pikirannya langsung tertuju pada Laura.

“Ada apa, Om? Apa yang terjadi?” tanya Marc, panik.

Robert tidak menjawab. Pria paruh baya itu langsung pergi meninggalkan kamar Marc. Marc masih terpaku di tempat. Dan tanpa diperintah, langkah kakinya sontak mengikuti Robert. Namun, baru beberapa ia melangkah, Marc kembali berbalik masuk ke kamarnya dan menuju kamar mandi. Pria itu berjalan ke arah wastafel dan mengambil sebuah kalung perak yang berliontin daun dengan ukiran huruf L di tengahnya.

Saat Marc hendak keluar, matanya tak sengaja menangkap bungkusan plastik kecil. Marc memunguti plastik itu dan membaca saksama tulisan yang tertera di sana. Marc merasa pernah melihat tulisan itu. Nama sebuah produk. Dan seketika seolah tersadar akan apa yang terjadi hari ini, Marc mulai mengurai benang kusut itu. Dan seolah menemukan jawabannya, mata pria itu tertuju pada tempat sampah di sebelah kloset. Pelan-pelan didekati tempat sampah itu dan benar saja, di atas tumpukan sampah itu ada sebuah benda kecil berwarna putih. Dengan tangan gemetar, Marc meraih benda kecil itu dan membalikkannya sisinya.

Seketika air matanya mengalir. Bodoh! Betapa bodohnya dirinya. Kenapa ia tidak sadar? Bodoh! Marc terus menerus merutuki dirinya.

***

“Bagaimana kondisi anak kami, Mrs. Stanley? Apa yang terjadi?” tanya Robert begitu dokter yang menangani Laura keluar dari ruang pemeriksaan. Elena yang berada di samping suaminya tampak sangat khawatir.

Wajah Mrs. Stanley tidak menunjukan ekspresi apa pun. “Ada kabar buruk yang harus kuberitahukan pada kalian. Janin yang berada di dalam kandung Laura tidak bisa terselamatkan,” jawab Mrs. Stanley.

Elena terpukul dan terisak pilu. Sementara Robert merasa seperti akan dicabut nyawanya. Dadanya seperti diombang-ambingkan oleh badai tornado. “Maksudmu putriku keguguran?” Sekuat tenaga Robert berusaha menyuarakan pertanyaan itu.

“Maaf. Tapi, pendarahan yang dialami Laura sangat mengkhawatirkan. Mau tidak mau kami harus mengambil tindakan untuk tidak mempertahankan janinnya. Kami turut berduka cita.” Mrs. Stanley memandang sedih pada pasangan suami istri di hadapannya itu.

“Lalu, bagaimana kondisi Laura sekarang? Dia baik-baik saja, kan?” Giliran Elena yang bertanya.

Mrs. Stanley mengangguk. “Kondisinya sudah stabil. Namun, saya harap kalian tidak membebaninya dengan perkataan-perkataan yang akan mempengaruhi suasana hatinya. Itu akan berdampak buruk pada psikologisnya.”

Usai menjelaskan kondisi Laura, Mrs. Stanley meninggalkan Robert dan Elena. Robert yang masih tidak percaya, membenturkan punggungnya ke dinding. Tangan pria itu terangkat mengusap wajahnya lelah. Air matanya mengalir turun. Hatinya dipenuhi penyelesan yang begitu mendalam. Ia tidak menyangka perdebatan dengan Laura sesaat sebelum ia menemui Marc akan berdampak begitu besar bagi putrinya. Ini salahnya. Kalau saja Robert tidak bersikeras menemui Marc, Laura pasti tidak akan keguguran.

“Ini salahku. Aku benar-benar bodoh! Aku ayah yang bodoh! Seandainya saja tadi aku tidak berkeras menemui Marc, semua ini tidak akan terjadi.” Robert terus menyalahkan dirinya sendiri. Sementara Elena terus terisak sesenggukan di kursi samping Robert.

Tanpa mereka sadari, seseorang di ujung sana menyaksikan tangis pilu mereka. Hingga kemudian mata Robert bersitemu dengan mata pria itu.

***

Angin musim semi bertiup tidak terlalu sejuk di taman yang tidak terlalu ramai ini. Di sana, di bawah rindangnya pohon oak yang di sekitarnya ditumbuhi oleh berbagai macam jenis bunga yang berwarna-warni, tampak kedua sejoli itu sedang menikmati waktu mereka.

Marc membaringkan kepalanya di pangkuan Laura. Kepalanya sengaja ia sembunyikan ke perut langsing Laura. Napasnya berhembus teratur dan sedikit membuat Laura geli karena napas pria itu menembus baju tipisnya dan terasa hingga kulitnya.

“Kau tahu apa yang sedang kupikirkan sekarang?” tanya Marc dengan suara yang teredam di perut Laura.

“Apa?” sahut Laura, penasaran.

Marc memalingkan wajah dan menatap Laura dari bawah yang semakin membuat gadis itu tampak sempurna di matanya dengan lekuk tinggi tulang pipinya. “Aku hanya sedang berpikir apa rasanya jika benihku di dalam rahimmu.” Mata gadis itu sukses membulat. “Pasti akan menyenangkan sekali melihatmu hamil dan menjadi ibu dari anak-anakku. Mereka akan terlahir dari rahimmu. Mendengar tangis mereka dan merasakan tubuh mungil mereka di pelukan kita.” Marc tampak berbinar saat mengucapkannya.

“Kau ingin jadi ayah muda ya?” tanya Laura pelan.

“Ya, jika kau mau jadi ibu muda.” Marc tersenyum padanya.

“Bagimana kalau aku tidak mau?” Tenggorokan gadis itu sedikit tercekat saat mengatakannya.

Marc memandangnya penuh arti. Lagi-lagi senyum itu bertambah lebar dan Laura bisa merasakan kehangatannya. “Aku akan menunggu, sampai kau siap,” jawab Marc.

Sejenak Laura seperti lupa cara menarik napas yang benar. Ia gugup, apalagi ditambah Marc memandangnya seperti ini. “Apa …,” Laura tampak ragu. “Apa menurutmu aku bisa menjadi ibu yang baik?”

“Pasti bisa. Bahkan mungkin kau akan jadi ibu yang sempurna untuk anak-anak kita kelak.”

***

Marc mendorong pintu kamar perawatan yang ditempati Laura, kemudian melangkah pelan menghampiri gadis itu. Laura masih memejamkan matanya. Wajahnya masih tampak pucat dengan bibir memutih dan ada garis hitam di bawah lingkaran matanya.

Marc menunduknya kepalanya dan mengecup dahi Laura. Perbuatannya sontak membuat mata Laura terbuka. Mata gadis itu terlihat sayu, namun ada perasaan bahagia begitu melihat siapa yang berada di sampingnya.

“Kau datang,” bisik Laura.

“Ya, aku di sini,” balas Marc dengan air mata yang menggantung. Marc meraih tangan Laura dan dikecupnya dengan lembut.

“Maafkan aku,” ucap Laura, lemah.

“Untuk apa, Sayang?” tanya Marc, menatap lembut gadis itu.

“Karena tidak bisa menjaga titipanmu,” lirih Laura.

Hati Marc seperti tersayat oleh sembilu tajam. “Sssttt…. Kau tidak perlu meminta maaf. Kita bisa memilikinya lagi, bahkan lebih. Kau harus kuat, Laura. Kau harus sembuh. Aku mencintaimu,” ucap Marc lembut.

“Aku juga mencintaimu,” Laura menutup matanya. Rasa kantuk kemudian menyerangnya. “Aku lelah, Marc.”

“Tidurlah. Aku akan menemanimu di sini,” bisik Marc dan kembali mengecup dahi Laura. “Tidurlah,” ucapnya sekali lagi.

Bersambung…

🙂 So, gimana hasilnya? Semoga suka ya. Bocoran aja, itu ada tulisan bersambung, maksudnya bersambung ke epilog. Nah, di epilog itu ceritanya si Marc dan Laura bakal punya anak kembar. Namanya Miguel dan Maura. Hehehe… Mati satu tumbuh seribu, eh, tumbuh dua maksudnye :p Well, seperti biasa, kalo mau komen ya silakan. Aku gak munafik. Soalnya dengan adanya komen kalian, aku merasa dihargai atas karya-karyaku. Menulis itu gak gampang. Mau sampai kapan coba jadi silent reader? Tapi, aku gak maksa sih. Saling menghargai saja😉 Thank you😀

19 thoughts on “ONESHOT : My Baby, You

  1. jujur bagus. . Tp aq bingung di bagian yg tiba2 angin musim semi?? Trus kembali ke . Setting marc di RS dg laura?. . .mungkin kalau ku baca lg yg bagian itu aq akan paham

    Suka

  2. Selalu salut sama Ff kamu, Rit…tapi, pas endingnya itu (yang sesudah flash back) kok tokoh Robert sama Elena udah gak ada lagi? Kyk dikit ngegantung gitu…entah di setujui atau apa hubungan Marc sama Laura…yaahh, itu sih pendapat aku…over all feel sama yg lainnya udah bagus banget, like usually🙂 di tungu epilognya😀

    Suka

  3. Selalu salut sama FF kamu, Rit…tapi, kok endingnya (yg stlh flashback) agak sedikit ngegantung ya? Tokoh Robert sama Elena udah gak di munculin lagi…jadi agak sedikit bertanya, apakah hubungan Laura dan Marc udah di setujui atau belum? By the way, yang lainnya udah bagus banget **like usually😀 ** ditunggu epilognya🙂

    Suka

  4. Baru sempet baca….padahal udah 1bln yg lalu😀

    gk tau deh mau coment apa.
    Yang semua karyamu slalu kusukai.

    Hohoho aku punya dua keponakan kembar😀 Maura Miguel

    Suka

  5. Ping-balik: {Epilogue} My Baby, You | Symphony Rita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s