Our Little Miss Marquez : Jewel’s Happiness

Warning : This story is mine. Don’t ever think to copy-paste it! Don’t read if you don’t like. So, happy reading…. ^_^

Tubuh Kanya bergerak pelan sesaat ketika sebuah tangan mengusap rambut hitam kecokelatan miliknya. Matanya yang masih terpejam, sedikit bergetar dan perlahan-lahan terbuka. Pemandangan wajah pemuda berusia 20-an lantas memenuhi penglihatannya.

“Bangunlah, Princess,” kata cowok itu dengan suara lembut. “Kau sudah tertidur selama 10 jam,” lanjutnya. Jari-jari Marc masih bermain-main di atas rambut Kanya.

“Selama itukah?” Kanya balik bertanya. Gadis itu kemudian meregangkan tubuh sebentar, lalu mengambil posisi duduk bersandar di kepala ranjang. Selimut tebal yang ia pakai tadi dibiarkan tersingkap hingga batas pinggangnya.

Marc mengangguk. “Sebentar lagi makan malam. Ayo, kita turun,” ajaknya sembari meraih tangan Kanya.

Sejenak Kanya terdiam dan menarik tangannya dari genggaman Marc. Ingatan tentang anak angkat itu kembali mengusik pikirannya. Apakah ia masih berhak duduk bersama di meja makan bersama keluarga angkatnya? Terlepas dari penerimaan mereka terhadap Kanya, tapi tetap saja ada suatu perasaan segan yang mengisi relung hati gadis itu.

“Aku tidak lapar,” jawab Kanya kemudian. Mata gadis itu mengarah ke lantai kayu kamarnya. Ia bohong, sebab itulah ia tidak berani menatap sepasang mata tajam itu.

Marc mendekatkan tubuhnya dan kembali meraih tangan gadis itu. Tatapan matanya menatap Kanya secara intens, membuat gadis itu semakin tertunduk dalam.

“Bagaimana bisa kau mengatakan kau tidak lapar jika sejak tadi pagi kau belum makan? Kau kenapa, hah? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Ceritalah,” bujuk Marc.

Kanya memejamkan matanya, lalu menggeleng lemah. “Tidak. Aku tidak apa-apa. Sungguh. Aku hanya… tidak merasa lapar,” jawabnya kembali berbohong. Marc tentu sadar hal itu. Ia tahu apa yang menyebabkan Kanya bersikap seperti ini.

“Lupakan apa yang pernah dikatakan Antonio kepadamu. Lupakan apa yang pernah terjadi hari ini. Anggaplah semuanya tidak pernah terjadi—”

“Gampang untukmu mengatakan semuanya tidak pernah terjadi!” potong Kanya, tiba-tiba kesal. Mata-mata gadis itu berkaca-kaca. Ia masih sulit menerima kenyataan sebenarnya. “Kau bukan aku. Kau tidak akan pernah bisa merasakan apa yang kurasakan setelah tahu ternyata aku bukan anggota keluarga kalian. Kau tidak pernah tahu, Marc!” lanjutnya sembari terisak pelan.

Marc langsung meraih tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Ya, Kanya benar. Marc memang tidak akan pernah bisa merasakan apa yang dirasakan Kanya. “Aku minta maaf. Aku memang tidak merasakannya, Kanya. Tapi, aku sakit jika melihatmu terluka dan menangis. Karena kau adikku dan aku tidak ingin melihatmu seperti ini,” balas Marc bergetar.

“Aku takut, Marc. Aku sangat takut akan ada perasaan asing karena kehadiranku yang akan merusak kebahagian keluarga kalian. Aku tidak mau terus menerus menjadi benalu dalam keluarga kalian. Karena aku bukan siapa-siapa.”

“Cukup, Kanya!” hardik Marc sembari merengkuh wajah gadis itu. Tatapan tajam Marc langsung menusuk ke manik matanya. “Sudah berapa kali kubilang bahwa kau adalah adikku dan bagian dari keluarga kami? Jangan merendahkan dirimu seperti itu! Kau bukan benalu. Kau adalah Kanya, permata keluarga Márquez yang sangat berharga. Tidak mengertikah kau, hah?” seru Marc, frustrasi dan marah.

Kanya terdiam dengan ekspresi ketakutan. Bibir gadis itu bergetar. Ditatapnya Marc masih masih melemparkan tatapan tajam ke arah, perlahan-lahan tatapan itu mencair dan berubah menjadi tatapan bersalah. Marc kembali menarik Kanya ke dalam pelukannya.

“Maaf, membuatmu ketakutan. Aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja, kumohon untuk terakhir kalinya, Kanya. Jangan pernah menganggap dirimu bukan bagian keluarga Márquez. Kau adalah putri di keluarga ini. Kami semua sangat sayang padamu,” ungkap Marc sembari mengusap punggung gadis itu. Sekali-kali Marc juga mencium rambut adiknya itu.

Marc kemudian mengambil jarak di antara tubuh Kanya. “Kita turun ya?” Tangannya terangkat menghapus sisa air mata Kanya. “Mom, Dad, dan Alex sudah menunggu kita di bawah.”

Kanya tidak menjawab. Ia hanya menganggukan kepalanya.

Marc membantu Kanya turun dari tempat tidurnya. Saat kaki gadis itu berpijak di lantai kayu, tubuhnya hampir oleng kalau saja Marc tidak sigap menangkapnya.

“Kau tidak apa-apa?” Marc bertanya dengan nada khawatir.

“Aku baik-baik saja,” jawab Kanya pelan.

Karena takut kembali terjatuh, akhirnya Marc terus memegangi tubuh Kanya keluar dari kamarnya. Saat menuruni tangga pun, Marc dengan sukarela membopong tubuh mungil adiknya itu. Kanya sempat protes. Ia kembali merasa dirinya seperti parasit yang selalu bergantung pada orang lain.

Saat melewati ruang keluarga, Kanya mengernyitkan keningnya heran. Kenapa lampunya jadi remang-remang? Saat mendekati ruang makan, penerangan semakin minim. Apa bola lampu di ruangan ini rusak?

Saat gadis itu hendak bertanya pada Marc, tiba-tiba saja….

“HAPPY BIRTHDAY, KANYA!”

Gadis itu syok bukan main. Semua anggota keluarganya; Julia, Roser, Alex, Grandpa Márquez, Bibi Kelly serta suaminya dan kedua anaknya, Antonio dan Damian, dan beberapa kerabat dekatnya berkumpul di sana. Tak lupa Alex yang berdiri di tengah memegang sebuah kue tart dengan lilin yang menyala. Senyum bahagia tampak tercetak jelas di wajah anggota keluarganya.

Kanya terdiam. Bibirnya terkatup rapat. Ia belum bereaksi. Sementara para anggota keluarga tampak was-was menunggu reaksi gadis kecil itu. Semuanya tegang di tempat. Well, ada kekhawatiran sebenarnya. Mereka takut kejadian seperti tadi pagi, Kanya mencampak kue tart kembali terulang

Lama mereka menunggu dengan jantung berdegup tak berirama hingga sebuah senyum haru tercetak di bibir Kanya. “Oh, astaga!” Kembali matanya berkaca-kaca.

Ketegangan seolah terlepas begitu saja. Pelukan lantas mulai berdatangan satu per satu. Dimulai dari Grandpa Márquez, Julia, Roser dan lainnya.

“Selamat ulang tahun, Sayang. Tetaplah menjadi Kanya yang seperti dulu. Kakek sayang padamu,” kata Grandpa Márquez penuh kasih.

Berbagai doa dan ucapan sayang terlontar bersamaan dengan pelukan-pelukan itu. Namun, saat Antonio hendak memeluknya, Kanya malah terang-terangan tidak mengacuhkannya dan sibuk menyambut pelukan dari anggota keluarga lain.

Setelah semua mendapatkan pelukan, Antonio kembali mendekati Kanya. Sebenarnya sebelum datang ke sini, Grandpa Márquez sudah memperingati anak itu agar segera meminta maaf pada Kanya. Apalagi setelah rahasia besar yang tersimpan rapat dalam keluarga itu bocor oleh karena ulah Antonio. Grandpa Márquez sempat marah besar. Bahkan pria tua sampai berkata jika terjadi sesuatu pada Kanya akibat ulah Antonio itu, beliau tidak akan pernah memaafkan sampai kapan pun.

“Kanya,” panggil Antonio, kikuk.

Kanya membalikkan tubuhnya dan memandang datar ke arah pemuda 18 tahun itu.

“Apa?” sahut Kanya, sinis.

Antonio menggaruk kepalanya. Raut gugup semakin jelas terlihat di wajahnya. “A… aku minta maaf atas ucapanku tempo hari lalu. Aku tidak bermak….”

Kanya diam sejenak sebelum merespon ucapan Antonio. “Kau tidak salah. Tidak perlu minta maaf. Aku memang anak pungut. Memang itulah kenyataannya,” jawab gadis itu dan kembali membuat aura tegang di ruang makan itu.

Kelly Márquez tampak khawatir. Sementara Julia dan Roser merasa tidak enak. Sedangkan Grandpa Márquez hanya diam memperhatikan kedua cucunya itu.

Antonio menghembuskan napasnya dan kembali melanjutkan, “well, aku juga minta maafkan karena pernah menginjak clay-mu. Aku tidak sengaja waktu itu,” jelasnya gugup.

“Kenapa kau baru minta maaf sekarang?” tanya Kanya dingin. Suasana di ruang makan itu juga ikut dingin.

“Aku….” Antonio tidak tahu lagi harus mengatakan apa.

“Tidak. Aku tidak mau memaafkanmu. Tidak semudah itu aku melakukannya, Antonio,” ungkap Kanya.

“Kanya!”

Teguran dari Julia dan Roser di belakangnya tidak menggentarkan Kanya. Kanya tahu apa yang dikatakan Antonio itu bukan karena keinginannya. Kanya bisa membacanya lewat sorot mata pemuda itu.

Gadis itu kemudian menatap Antonio dengan saksama. “Aku akan memaafkanmu jika kau bersungguh-sungguh minta maaf padaku, tanpa paksaan. Kau tulus ingin berdamai denganku atas kemauan dirimu sendiri, bukan karena didesak. Kurasa kau mengerti perkataanku.”

Kanya lalu membalikkan tubuh dan saat itulah Antonio kembali bersuara, sedikit keras. “Aku benar-benar minta maaf kali ini, Kanya. Sungguh, kini tanpa paksaan ataupun desakan dari Grandpa. Dengan segenap hatiku, aku meminta maaf padamu atas segala kesalahanku. Maaf.”

Kanya tidak segera berbalik. Ia masih membelakangi Antonio. Semua menunggu reaksi Kanya. Tak lama, gadis itu berbalik dan melangkah maju ke arah Antonio.

Antonio memejamkan matanya. Ia siap menerima konsekuensi terburuknya, termasuk menerima tamparan gadis itu. Namun, di luar dugaan, bahkan seluruh anggota keluarga juga tidak menyangka apa yang dilakukan Kanya. Gadis itu tanpa ragu memeluk Antonio.

“Aku juga minta maaf,” balas Kanya tulus.

“Terima kasih, Kanya.” Antonio membalas pelukan itu.

“Oke, oke. Sekarang…,” Alex mengambil alih. “Kanya, kau belum tiup lilin ulang tahunmu. Kemarilah,” suruh Alex tampak bersemangat. “Jangan lupa buat permohanan.”

Kanya kemudian melepas pelukannya dan berjalan menghampiri Alex yang berdiri di sebelah Granpa Márquez. “Memang masih sah ya, kalau aku tiup lilinnya? Maksudku ulang tahunku sudah lewat,” tanya Kanya ragu-ragu.

“Tidak masalah, Sayang. Buatlah permohonan.” Marc tiba-tiba sudah berada di belakangnya dan mengacak-acak rambut gadis itu pelan.

“Baiklah.” Gadis itu pun memejamkan matanya.

Tuhan, Kau adalah Tuhan yang baik. Aku cuma minta semoga damai sejahtera senantiasa datang ke keluarga ini.

Tiupan lilin mengakhiri doa gadis itu yang disertai tepukan tangan dari penjuru ruang makan ini. Kanya tersenyum bahagia. Ia sangat bersyukur diberikan sebuah keluarga yang amat menyayanginya tanpa syarat. Ia mulai percaya Tuhan memang selalu adil kepada setiap umatnya. Ia memang tidak mengenal keluarga kandungnya, namun di sini ia bisa mendapatkan yang ia butuhkan. Sebuah keluarga; rumah dan kasih sayang.

END

I’ll be really happy if you guys leave comments after reading this story. Thank you😀