Curhatan Penting/Tidak Penting

Aku memiliki banyak cerita yang ingin kutuangkan di sini. Sebentar lagi…. Ya, tidak terasa hampir 3 tahun aku menginjakkan kakiku di sebuah tempat yang membuatku tahu apa arti sebuah kebanggaan, cinta, kesedihan, kekecewaan dan lain-lain yang tidak akan bisa kudapatkan dari tempat lain. Aku suka sekolah. Aku suka mempelajari ilmu baru. Terkadang juga jengkel sama beberapa mata pelajaran. Tapi, semua itu dirasa wajar dan merupakan sebuah proses. Proses pembentukan diri. Aku belum sempurna dan memang tidak akan menjadi sempurna. Tapi, aku berusaha untuk memberikan yang terbaik, walaupun harus diselingi jatuh bangun yang kadang membuatku ingin menyerah. Tapi, aku kuat. Karena itulah aku mampu dan sebentar lagi akan meninggalkan tempat yang telah memberiku berbagai pelajaran hidup, tempat yang membuatku mengerti bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari proses dan masa-masa proses itulah yang melahirkan berbagai kejadian-kejadian yang akan kukenang selamanya.

Pertama kali masuk sekolah itu. Jujur aku cuma ikut-ikut teman doang. Padahal tujuan utama ke SMK, dan akhirnya malah nyasar ke SMA. Itulah rencana Tuhan, menempatkanku ke sebuah rumah yang awalnya kuanggap sekolah rendahan. Tapi, setelah aku mengenal rumahku sendiri, aku bangga menjadi bagian rumah itu.

Mungkin bisa kukatakan masa-masa kelas X adalah masa-masa yang paling berkesan. Aku masuk ke X.1, kelas yang bisa dibilang kelas unggulan karena ketatnya persaingan di antara siswa-siswinya. Banyak yang terlewati dengan senyum dan kesal.

Naik ke kelas XI. Dengan bangganya aku menyebut diriku adalah siswi kelas XI Bahasa 1. Banyak yang kaget aku masuk jurusan Bahasa. Sampai-sampai beberapa guru sempat menyayangkan keputusanku ini. Seseorang bilang kepadaku, “bodoh! Otakmu itu otak IPA. Ngapain kau masuk jurusan buangan itu!” Aku hanya senyum menanggapi hal itu.

Yep! Bahasa memang dipandang rendah oleh sebagian warga sekolah karena sering dianggap jurusan rendahan dan kumpulan orang-orang terbuang. Aku tidak setuju. Kami bukan kumpulan orang terbuang. Hanya saja cara belajar tiap orang itu berbeda-beda. Memang di jurusan Bahasa cara belajarnya tidak seketat jurusan IPA ataupun IPS. Tapi, yang kami pelajari ini juga tidak termasuk dalam kategori gampang. Contohnya pelajaran Bahasa Indonesia. Walaupun itu pelajaran umum, tapi untuk jurusan bahasa ada pengecualian. Kami juga mempelajari linguistik (ilmu bahasa), walaupun tidak terlalu dalam. Sastra Indonesia, itu menuntut daya imajinasi seorang siswa saat diberi tugas mengarang indah. Antropologi, menuntut sikap kritis siswa terhadap perkembangan kebudayaan yang ada di lingkungan masyarakat. Bahasa Jerman. Mungkin bisa kukatakan inilah yang membuat jurusan kami spesial. Kami mempelajari bahasa Jerman, sedangkan jurusan lain cuma bahasa Inggris dan bahasa Indonesia doang. Memang tidak semua dari kami mampu menguasai bahasa Jerman dengan baik. Manusia tidak ada yang sempurna, kan?

Naik ke kelas XII. Awalnya aku kurang nyaman dengan beberapa perubahan yang terjadi, seperti pergantian guru mata pelajaran. Aku kurang nyaman dengan guru Bahasa Indonesia yang sekaligus menjadi wali kelasku. Tapi, lambat laun aku mulai terbiasa dan beliau orangnya cukup baik.

Dan… tak kurang satu setengah bulan lagi aku akan berjuang menentukan masa depanku. Ujian Nasional. Entah kenapa semakin mendekati UN, aku semakin malas belajar. Belajarnya cuma seperlunya saja. Rasanya jenuh berkutat dengan berbagai buku yang membuat kepalaku pusing. Wajarkah ini?

SNMPTN. Sudah daftar. Tapi, sepertinya aku tidak akan ambil kalau pun diterima di universitas tersebut. Aku mungkin akan mengambil sekolah pariwisata yang ada di daerahku. Cuma…. masih ragu. Seorang Rita tidak akan pernah bisa hidup tanpa keraguan dan keplin-planannya. Jadi, aku hanya berharap yang terbaik saja. Kembali kuserahkan pada Tuhan. Biarlah tangannya yang bekerja. Aku sudah berusaha.

Terakhir, aku cuma mau bilang terima kasih untuk pembaca setia blog-ku, entah itu pembaca fanfic, uneg-uneg-ku, atau cuma sekadar pembaca nyasar. Hehehe…  ;)

Ciao!

2 thoughts on “Curhatan Penting/Tidak Penting

  1. Baca curhatanmu yg ini….jd ikut ke masa laluku…. Rit.

    Cuma bedanya dulu aku rencananya mau masuk SMA dan udah melangkah jg tuh ke gerbang SMA impianku itu (pdhal temen2ku bilang aku pasti langsung ditrima di SMA itu)…tp takdir berkata lain (karna kebingungan melanda jd balik lg deh gk jd masuk ke gedung itu SMA dan malah melangkah ke sekolah tetangga(SMK)) (bodoh klo inget masa 3 tahun yg lalu) hahaha eh aku malah masuk SMK…dg jurusan akuntansi pula (pdhal gk suka dunia berhitung tp krn wktu pemilihan jurusan bingung mau pilih apa…alhasil kejebak ke dunia akuntansi)

    ishhh jurusan bahasa itu menarik menurutku…aku aja klo dulu masuk SMA jg bakal ngambil tuh jurusan.

    Suka

    • Aku milih bahasa juga karena gak suka hitung2 sih *pelarian ceritanya* Tapi, tetep seneng bisa masuk di jurusan Bahasa. Walaupun rada gak nyambung kalo bergaul sama anak2 itu. Jadinyaa aku lebih sering main sama temen2ku di jurusan IPA. Lebih nyambung soalnya😀

      Tapi ya udahlah. 3 tahun udh berlalu. Skrg tinggal menatap masa depan. Tinggal nunggu kelulusan. Semoga kita lulus dg nilai memuaskan #amin

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s