Mini FF : This Hand Is Only Yours

cove2r

Terinspirasi dari sakit hati yang aku alami gara-gara liat foto Marc dan Lara Lopez. Itu asli bikin galau berhari-hari. So, happy reading😉

Malam kian larut. Gadis itu belum beranjak juga. Entah sudah berapa lama Laura mendekam di perpustakaan ini seraya mengerjakan tugas kuliahnya. Tapi, alih-alih mengerjakannya, ia malah sibuk bergelut dengan hati dan pikirannya. Perasaannya benar-benar kacau.

Suasana perpustakaan ini sepi, hanya tersisa beberapa mahasiswa yang sibuk mengerjakan tugas kuliah mereka. Memang perpustakaan ini bisa dibilang buka 24 jam. Bahkan pada saat menjelang ujian pun, banyak mahasiswa yang kerajinan sampai rela bermalam di sini.

Laura menghela napas berat. Gadis itu tak berniat pulang ke apartemennya. Ia ingin mengasingkan diri dan di sinilah tempat yang ia rasa tepat untuk menenangkan diri.

Sudah 2 hari dan cowok itu belum menghubunginya juga. Laura berusaha keras mengabaikannya. Tapi semakin ia lakukan itu semakin pulalah pikirannya melayang pada cowok itu. Atau mungkin lebih tepatnya pikirannya melayang pada foto-foto itu. Laura cemburu. Tentu saja. Siapa yang tidak cemburu melihat kekasihmu sendiri menyentuh tubuh gadis lain—gadis yang jauh lebih cantik dan menarik dibandingkan dirimu, walaupun itu untuk hal komersial.

Matanya kemudian memanas dan bulir-bulir sudah berkumpul di sudutnya. Laura menyandarkan punggung ke sandaran kursi, menggigit bibir bawahnya keras-keras dan mendongakkan kepalanya ke atas.

Tidak, ia tidak boleh menangis. Laura menghembuskan napas berat dan menghirupnya kembali. Tangannya kemudian terangkat dan menyentuh dadanya. Di sana rasanya begitu nyeri. Bahkan untuk menarik napas saja rasanya begitu sulit. Padahal itu hal sederhana yang paling mudah dilakukan.

Laura tahu dan sadar saat ia memutuskan menjadi kekasih seorang Marc Márquez setahun yang lalu, ia harus menerima segala konsekuensinya, bahkan yang terburuk sekalipun. Rasanya sakit sekali. Dan lebih sakit lagi sampai hari ini pun Marc belum menghubunginya sekadar memberi penjelasan mengenai foto-foto itu.

Laura kecewa, sangat kecewa pada cowok itu. Marc seolah masa bodoh, seperti tidak merasa telah melakukan kesalahan besar. Tapi di sini dirinyalah yang terluka. Batinnya tersiksa setiap mengingat foto-foto itu.

Laura kembali coba memfokuskan pikirannya pada buku di hadapannya. Tugas kuliahnya masih banyak dan sedari tadi ia hanya membuang-buang waktu memikirkan cowok yang mungkin sekarang sedang bersenang-senang di luar sana. Laura memang merasa ada yang berbeda dengan Marc sejak cowok itu menjadi juara dunia. Marc sibuk, bahkan jauh lebih sibuk setelah merengkuh gelar itu. Laura coba mengerti dengan keadaannya. Ia berusaha sabar. Tapi, tetap saja ia hanyalah manusia biasa yang memiliki tingkat kesabaran maksimal. Semakin hari Laura semakin merasa ada jarak yang memisahkan mereka, membentang lebar.

Hubungan mereka merenggang. Marc seolah sangat jauh untuk dijangkaunya. Laura sadar, Marc bukanlah Marc yang dulu. Dan itu semakin memperjelas status mereka. Marc seorang juara dunia MotoGP. Sedangkan dirinya? Ia hanya gadis biasa dan tidak memiliki kecantikan bak seorang model. Sedikitpun tidak ada yang bisa dibanggakan. Tentunya setiap orang yang sukses dalam karirnya pasti ingin mendapatkan yang terbaik juga untuk kehidupan percintaannya.

Laura jadi bertanya-tanya apakah perasaan Marc masih seperti dulu? Apakah cinta yang diberikan oleh cowok itu masih sebesar seperti saat awal mereka pacaran? Laura khawatir jika ia sendiri yang akan terluka lebih dalam dan menangis lebih banyak saat cowok itu tiba-tiba mengubah perasaannya. Jika sampai itu terjadi, Laura tidak tahu apakah ia bisa hidup dengan benar atau tidak. Mengingat saat-saat seperti ini saja sudah cukup membuatnya tersiksa. Apa jadinya jika Marc benar-benar mengubah hatinya dan melihat gadis lain, atau bahkan memberikan cintanya pada gadis lain? Laura tidak bisa membayangkan akan seperti apa sakitnya. Cukup sakit ini yang ia rasakan. Ia tidak sanggup jika harus merasakan sakit yang lebih parah lagi. Ia tidak bisa.

Laura menggeser buku-buku ke samping, kemudian merebahkan kepalanya di atas meja. Ia menyerah. Air matanya jatuh, gadis itu terisak pelan. Bahu Laura naik turun, semakin lama isakkannya semakin hebat. Ia tidak peduli dengan sekitarnya. Ia hanya perlu menyembuhkan dirinya. Dan menangis biasanya menjadi solusi terbaik agar ia bisa merasa lebih baik setelahnya.

Laura semakin tenggelam dalam tangisnya. Namun, entah ia hanya berhalusinasi saja atau mungkin itu benar-benar terjadi, seseorang merengkuh bahunya dan menariknya bersandar ke perut six pack itu. Tangan itu melingkar erat ke sekeliling bahu Laura dan sesekali mengusap punggungnya. Dan… Laura tahu tangan itu adalah milik cowok itu. Laura sangat mengenal setiap sentuhannya.

Tangan Marc terangkat dan membelai rambut cokelat Laura. Cowok itu kemudian menunduk sedikit dan mendaratkan kecupan di puncak kepala gadis itu. Diam-diam air mata cowok itu mengalir dan jatuh di rambut gadis itu.

Marc merendahkan tubuhnya—berlutut di depan Laura agar tinggi mereka sejajar. Cowok itu merengkuh jari-jari gadis itu dan menggenggamnya erat. Laura bisa melihat mata Marc sedikit memerah. Apa Marc menangis? tanya Laura dalam hati.

“Aku tidak tahu akan seperti ini jadinya. Kembali membuat kesalahan besar, membuatmu terluka dan menangis karena ulahku. Aku tidak akan membela diriku dan mengatakan ini hanyalah tuntutan pekerjaan. Aku punya pilihan, tapi aku menerima pekerjaan itu. Aku tidak berusaha menolaknya.” Marc berhenti sejenak. “Aku minta maaf. Mungkin kau bosan mendengarku mengatakan ini. Aku banyak melakukan kesalahan, aku tahu itu. Aku ingin memperbaikinya. Tapi, aku tidak bisa menjanjikan apakah perbuataan itu akan kuulangi lagi di masa depan atau tidak. Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan apa pun padamu, Laura. Tapi, aku akan berusaha membuatmu bahagia, semampuku. Aku tahu aku tidak bisa membuatmu tersenyum dan tertawa lebih banyak jika bersamaku. Tapi aku akan berusaha membuatmu tersenyum dan tertawa sebisaku. Aku tahu aku sering membuatmu menangis, tapi aku akan berusaha menghapus air matamu. Aku tahu aku sering menyakitimu tanpa sadar. Tapi, biarlah aku juga yang menyembuhkan luka itu.”

Laura terenyuh mendengar perkataan Marc barusan. Air matanya kembali mengalir. Benarkah apa yang dibilang Marc itu?

“Kau boleh marah padaku, kau boleh memakiku, bahkan kau juga boleh menamparku atau memukulku. Kau boleh menyiksaku sesuka hatimu untuk melampiaskan kemarahanmu. Aku rela, jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik.” Suara Marc serak. Laura semakin yakin cowok itu juga menyimpan luka seperti dirinya.

“Tidak. Aku tidak akan melakukan hal seperti itu,” ucap Laura pelan. Laura menarik napas sejenak sebelum melanjutkan. “Kau tahu? Ada saat di mana aku merasa jenuh mencintaimu. Kadang aku merasa kau itu sangat dekat, bisa kugenggam dan terjangkau olehku. Tapi, saat aku mendekat, kau seolah hilang tertiup angin dan terbang ke dimensi yang tak kukenal. Ada saat di mana aku merasa lelah mencintaimu. Aku ingin menyerah. Namun, yang kulakukan justru bertahan. Aku terluka, Marc. Di sini sakit. Bodohnya aku masih mencintaimu,” lanjutnya dengan suara bergetar.

Napas Marc tercekat. Setiap perkataan gadis itu seolah menohok hatinya. “Laura….”

Laura memandang tangannya yang digenggam Marc di atas pangkuan pahanya sejenak sebelum kembali menatap nanar ke mata cokelat cowok di hadapannya.

“Aku tidak peduli kau berfoto dengan gadis manapun, Marc. Tapi, yang membuatku sakit adalah kau menyentuh gadis itu, berpose begitu intim dengannya. Kau tertawa lebar dan matamu menyiratkan kau begitu bahagia. Terlebih dia cantik, menarik dan mungkin menjadi idaman setiap cowok. Aku cemburu, aku tidak rela tanganmu menempel di tubuhnya, matamu tertuju padanya dan tawamu kauberi untuk gadis itu. Aku tidak rela, Marc. Sekuat tenaga aku coba ikhlas, tapi aku tidak bisa. Rasanya begitu sakit, sakit sekali,” ucap Laura, kembali terisak.

“Ssttt.” Tangan Marc terangkat merengkuh wajah Laura dan bergerak mengusap air matanya. “Kau ingin bilang kau tidak ada apa-apanya dibanding dirinya, hm?” tanya Marc lembut. “Kau salah besar. Justru dia tidak ada apa-apanya dibanding dirimu, Laura. Tak sedikitpun dari dia yang bisa menggantikanmu. Dia memang cantik dan menarik. Tapi, kau lebih dari itu. Kau memiliki apa yang tidak dia punya. Kau tahu apa itu? Cintaku. Dia tidak memilikinya. Karena aku hanya memberikannya padamu. Dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapan pun. Jangan pernah menganggap rendah dirimu. Justru kau lebih tinggi dari gadis-gadis yang pernah kukenal. Kau tidak perlu merasa tidak cantik dan menarik. Karena akulah yang melihatmu. Kau berharga di mataku, Laura. Tidak peduli betapa banyak gadis yang lebih cantik dan menarik, tapi kau tetaplah gadis yang paling cantik dan menarik dan yang paling kuingini.”

Seketika perasaan hangat menjalar di seluruh tubuhnya. Semua beban seolah hilang begitu saja saat Marc mengatakan menginginkannya. Air matanya mulai kering dan Laura bisa melihat dengan jelas kesungguhan cowok itu melalui tatapan matanya. Mata itu tidak pernah bohong.

“Kau merona,” canda Marc dan membuat Laura menunduk malu. Marc tertawa pelan, membuat Laura pura-pura memasang tampang cemberut.

Marc kemudian menarik wajah Laura mendekat. Lalu, bibir hangat dan basah itu perlahan bersatu di atas bibir Laura. Awalnya Marc hanya mengecup pelan, namun kecupan itu semakin dalam dan menuntut. Marc melumat intens bibir gadis itu. Laura membalasnya dan ikut melumat bibir Marc yang selama ini ia rindukan. Ia mencintai cowok itu dan seperti inilah cara ia mengekspresikan perasaannya. Belitan lidah mereka menjadi bukti betapa kuatnya cinta mereka, setelah melewati hari-hari yang penuh cobaan.

“Aku mencintaimu,” bisik Marc.

***

Geje ya? Emang sih. Tapi, bisalah ya ninggalin di jejak di kolom komentar? Hehehe…. Itung-itung apresiasi kalian buat aku. Tapi, aku gak maksa. Saling menghargai aja😉 Oke?

Bonus!!!

cove2r

Foto diambil di sini

14 thoughts on “Mini FF : This Hand Is Only Yours

  1. BOLIZ???? keren bangett, awalnya kukira Marc gabakal balik, entah kenapa? tapi ternyata oh yaampunnnnnnnnnn!! ini keren, keren banget. kalo baca ini sambil menghayati. sedih juga, tapi itu diawall pas dipertengahan oh my god terharu hhahahhahahhaha!! lanjutkan karyamu bolizzzzzz :*

    Suka

  2. emang Marc kalau soal balap paling jago tapi soal ngertiin Cewek payah bangetttt
    sekali2 marc thu di kasih pelajaran dikit biar tahu perasaan Laura
    woooo Marc udah Gede udah brani2 pose2 sama cewekk
    sori baru muncul dari alam kubur nih

    Suka

  3. Tadinya gk mau nerusin jari2ku buat nekan kursor kebawahh

    udah nyesek bgt kata2 marc pas dia berlutut didepan Laura.
    Apalgi seterusnya…

    Dan akhirnya dgn keadaan jari yg lemes, karena kata2 marc yg udah menyayat hatiku (aishhh udah seperti belati kata2mu Marc !) bisa bertahan juga baca sampe ending ;( walaupun dlm keadaan mata brkaca2 (maklum terlalu menghayati).

    Suka

  4. hai Rita, aku new reader nih dan baru coba baca dari siang dan baru berlanjut lagi… aku baru baca oneshoot yg gak diprotect hehehe dan aku suka sama semua ceritanya… sweet dan jadi gimanaaa gitu bacanya heheheh… semangat ya buat bikin ff selanjutnya, Ditunggu!! 😄😄😚

    Suka

    • Hai Jaejae *lambai-lambai*😀 Makasih banget lho udah mampir, baca, dan suka sama ceritaku. Seneng banget jadinya hihihi😀 Semoga gak bosen ya main-main ke sini dan gak kapok tentunya :p

      Suka

  5. Aihhhh jadi baper bacanya T_T
    Feelnya dapet, wajar sih perasaan Laura kaya gitu, manusiawi. Gimana jg liat org yg kita sayang bermesraan sama orang lain, yeah walaupun itu tuntutan pekerjaan.
    Cant wait wait for u another atory🙂

    Suka

  6. Lauranya jadi cemburuan disini,
    Sikap Marc yg romantic malah jadi baper sendiri, entah kenapa disemua ff di blig ini yg udah gw baca. Suka sama cara author menuangkan alurnya pas di adegan kiss sccenenya, sederhana tapi manis aja keliatanya😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s