ONESHOT : Our Little Miss Marquez

Cerita ini lebih banyak narasinya dari pada dialog!!!

Genre : Family, Sad, etc.

Semua orang tengah berbahagia sekarang. Pelukan di mana-mana dan dentingan gelas yang saling bersulang juga terdengar. Dari yang muda hingga berumur lanjut pun tak mau ketinggalan di momen yang sangat mereka nanti-nantikan. Ya, untuk pertama kalinya garis keturunan Márquez menjadi juara dunia di ajang balap bergengsi MotoGP. Marc Márquez Alenta, menjadi kebanggaan setiap orang yang memiliki persamaan nama keluarga dengannya. Seorang yang pantas dibanggakan.

Tapi, tak semua orang turut berbahagia atas prestasi yang diraih oleh pemuda itu. Seseorang terluka. Seseorang menangis dalam diam. Dan seseorang itu hanya bisa memendamnya dalam hati. Seharusnya ini harinya, hari tepat di mana ia dilahirkan. Tapi, kakaknya sukses mencuri hari bahagianya dan membuat semua orang melupakannya. Miris, memang.

Kanya Márquez Alenta sontak bangkit berdiri meninggalkan keramaian di ruang tengah rumah kakeknya dan berjalan menuju dapur. Gadis itu lalu berhenti dan memandang kesal ke luar jendela dapur.

Matanya kemudian panas dan hatinya nyeri melihat semua anggota keluarganya menyambut kemenangan yang diraih oleh kakak tertuanya, sekaligus mencatatkan dirinya sebagai juara termuda sepanjang masa. Kanya yakin dengan gelar yang diraih oleh kakaknya itu pasti akan semakin membuat cowok itu dianak-emaskan oleh kedua orangtuanya di rumah dan bahkan seluruh anggota keluarga Márquez. Jelas sekali gadis itu iri. Apa mungkin ia memang pantas mendapatkannya? Entahlah. Mengingat tak satu pun yang ingat hari ulang tahunnya saja sudah cukup membuatnya sakit hati.

Bukannya Kanya tidak pengertian. Tapi ia merasa benar-benar menjadi orang asing di rumahnya sendiri dan semua itu disebabkan oleh satu orang. Dialah Marc Márquez. Kakaknya sendiri yang menghancurkan harinya dengan membuat semua orang terpaku pada momen juara dunianya.

Kanya tidak pernah merasa dirinya normal, dan kenyataan ia memang tidak normal. Ia berbeda dari kedua kakak lelakinya. Kanya tidak bisa dan tidak akan pernah bisa mendapatkan apa yang dimiliki oleh Marc dan Alex. Bahkan perlakuan dari kedua orangtuanya pun dirasa Kanya berbeda. Terhadap Marc dan Alex, Julia dan Roser sangat memberi mereka kebebasan menentukan pilihan hidup mereka masing-masing. Sedangkan dirinya? Jangankan kebebasan, untuk sekadar cari angin segar di luar rumah dirinya harus ditemani seperti seorang bayi yang harus dijaga oleh babysitter-nya. Dan yang paling sering menemaninya adalah Marc, kakak pertamanya yang sangat menyayanginya. Tapi, Kanya malah lebih menganggap kasih sayang dari Marc maupun anggota keluarga lainnya hanya pemanis saja, hanya dilandasi kasihan. Kanya tidak normal dan karena itulah mereka lebih berhati-hati pada gadis itu. Kanya tahu itu dan ia sangat muak. Ia ingin mendapatkan perlakuan yang sama seperti Marc dan Alex dan juga sepupu-sepupunya, kalau boleh ia menyebutnya seperti itu. Tapi, kenyataan tidak mengizinkannya mendapatkan hal itu. Penderita Dystonia—penyakit yang menyerang syaraf dan membuat penderitanya mengalami diskoordinasi gerakan tubuh—seperti dirinya tidak akan pernah membuatnya normal, sampai ia mati sekalipun.

Air mata Kanya perlahan turun membasahi pipinya. Ia terisak pelan. Ia sebenarnya sayang pada Marc dan Alex. Tapi sesuatu dalam dirinya selalu merasa tidak nyaman saat ia mengeskpresikannya. Ia tidak rela jika Marc dan Alex mendapatkan kasih sayang lebih banyak dari pada yang ia dapatkan.

Tentang Marc, setidaknya Kanya mencoba membenci kakaknya itu agar perasaannya lebih baik. Dan memang terkadang hal itu berhasil. Perasaannya lebih baik saat ia menumbuhkan rasa benci di hatinya. Tapi, ia tidak merasa bahagia sama sekali. Yang ada ia malah merasa bersalah. Ia merasa tidak tahu diri sekali dengan apa yang selama ini ia terima dari Marc, tapi malah ia balas dengan kebencian tanpa alasan yang diketahui Marc. Perasaannya semakin buruk dan ia tidak tahu harus bagaimana ia bersikap agar tidak merasa iri dan memendam kebencian pada kakaknya itu.

Derap langkah kaki seseorang yang sedang menuju ke dapur lantas membuat Kanya buru-buru menghapus air matanya. Ia berdehem sebentar untuk menormalkan suaranya, berjaga-jaga siapa tahu saja orang itu akan mengajaknya bicara.

Kanya menoleh ke belakang dan melihat, ternyata suara langkah kaki itu adalah milik kakeknya. Grandpa Márquez dengan tongkat kayu di tangannya, berdiri diam menatap cucu perempuannya. Walaupun wajahnya telah dimakan usia, tapi garis rahangnya tidak bisa menyembunyikan kekhasan keluarga Márquez. Dengan lekuk tulang pipi yang tinggi dan yang paling menonjol adalah sepasang mata tajam berwarna cokelat. Sepertinya Grandpa Márquez sengaja mencarinya.

“Kakek,” suara Kanya yang bergetar mencoba menyapa Grandpa Márquez.

Wajah Grandpa Márquez tak menunjukan ekspresi apa pun. Tak ada senyuman seperti biasanya atau mungkin bekas-bekas kebahagiaan atas perayaan gelar juara dunianya Marc. Kanya tidak bisa menebaknya.

“Kemarilah,” tukas Granpa Márquez sembari membuka satu tangannya.

“Apa?” tanya Kanya pelan. Sebenarnya sudah jelas. Hanya saja gadis kecil ini bingung.

“Aku bilang, kemarilah,” ulang Grandpa Márquez, kali ini dengan suara lembut khas seorang kakek.

Kanya kemudian maju dan masuk ke dalam pelukan kakeknya. Perasaan hangat langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Matanya kembali memanas dan kali ini Kanya tidak mampu menyembunyikan apa yang ingin ia keluarkan.

“Menangislah jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik, Nak. Aku tahu apa yang terjadi dan aku sangat memahami perasaanmu, Sayang,” ujar Grandpa Márquez seraya mengusap lembut punggung Kanya. Kanya semakin terisak mendengar kata-kata kakeknya. Ia tidak peduli lagi bagaimana kakeknya bisa tahu tentang apa yang ia rasakan. Ia hanya butuh pelampiasan dan menangis adalah jalan terbaik, di pelukan kakeknya sendiri.

Tak ada yang tahu, kecuali pria tertua di keluarga Márquez itu. Grandpa Márquez semakin mempererat pelukannya di tubuh mungil cucu perempuannya itu, tidak peduli dengan tubuh rentanya yang ditopang dengan satu tongkat. Ia hanya ingin memeluk Kanya, membuat cucunya itu merasa nyaman.

“Selamat ulang tahun. Aku tidak akan mungkin melupakan hari ini, Nak,” bisik Grandpa Márquez di telinga Kanya.

“Terima kasih, Kakek. Terima kasih,” balas Kanya, semakin menenggelamkan kepalanya di pelukan Grandpa Márquez.

“Ketahuilah. Apa pun yang terjadi, kau akan tetap menjadi cucu terbaikku, Kanya. Kakekmu ini sangat menyayangimu, Sayang.”

***

“Kau yakin ingin pulang malam ini juga? Ayah dan ibumu kemungkinannya baru akan pulang besok, Kanya,” kata Kelly Márquez yang merupakan adik dari Julia Márquez.

“Aku akan baik-baik saja, Bibi. Aku bisa kok menjadi diriku sendiri. Lagi pula ayah dan ibuku akan pulang besok. Hanya berselang beberapa jam saja. Tidak akan lama. Aku ingin pulang, Bibi Kelly,” paksa Kanya, terus menerus.

Kelly ragu, antara mengiyakan permintaan keponakannya ini yang terus memaksanya atau menolaknya dengan catatan ia tidak akan sanggup dimusuhi oleh gadis ini. Ya, Kanya tipe gadis pendendam. Sekali saja bermasalah dengannya dan membuat sesuatu yang tak menyenangkan hatinya, gadis itu tidak akan segan-segan menganggap orang itu musuh dan Kanya bersumpah tidak akan menegur sapa orang itu sampai gadis itu bersedia memaafkan orang itu.

Salah satu orang yang pernah dan masih dimusuhinya adalah Antonio Alonso Márquez, putra Kelly Márquez. Masalahnya sepele. Antonio pada saat itu tidak sengaja menginjak clay yang sengaja Kanya jemur di depan rumah kakeknya. Sebenarnya Kanya bisa saja memaafkan pemuda itu. Tapi, Antonio saja yang tidak tahu diri. Sudah jelas salah, ia malah bersikeras mengatakan bahwa bukan ia yang menginjak clay Kanya. Sejak saat itulah Kanya tidak pernah berbicara dengan Antonio hingga sekarang, meskipun Julia dan Roser sudah berkali-kali membujuk Kanya untuk memaafkan Antonio. Jadi, semua orang, terutama anggota keluarganya sangat berhati-hati dalam bersikap terhadap Kanya, apalagi ditambah dengan penyakit yang diidap oleh gadis itu yang mengharuskan setiap orang menjaga betul kondisi psikologisnya.

Kelly hanya memandang iba pada Kanya. “Baiklah. Tapi kau harus izin dengan kakekmu dulu. Aku tidak berani mengambil resiko. Kau mengerti?”

Minta izin dengan Grandpa Márquez? Bunuh diri namanya. Tak akanlah pria tua itu mengizinkannya pulang. Grandpa Márquez pasti tidak akan membiarkan Kanya sendirian di rumah, tanpa pengawasan orang dewasa. Itu tidak akan terjadi.

Kanya dengan cepat memutar otaknya. Semoga saja bibinya ini percaya. “Kakek sudah mengizinkan aku pulang kok. Aku sudah memintanya tadi.” Kanya berusaha terdengar sewajar mungkin. Ia sudah sering berbohong dan sudah sering pula ketahuan. Tapi, semoga saja kali ini berhasil.

Kelly mengernyitkan dahinya sejenak. Ia masih belum yakin. Namun, pada akhirnya ia menuruti kemauan keponakannya ini juga.

Jarak antara rumah Grandpa Márquez dan rumah Kanya hanya memerlukan waktu tak lebih dari 20 menit. Kanya segera turun dari mobil Kelly setelah sampai di kediamannya.

“Ini kunci rumahmu,” kata Kelly sambil menyerahkan sebuah kunci ke tangan Kanya. Gadis itu lantas mengambilnya dan memasukkannya ke dalam lubang pintu. Kelly yang melihat hal itu semakin tak yakin. Ia ragu Kanya akan baik-baik saja sendirian di rumah ini.

Pintu rumah sudah terbuka. Namun….

“Kanya,” panggil Kelly dan menarik Kanya menghadapnya.

“Iya? Kenapa?” sahut gadis itu.

“Maukah kau berjanji satu hal padaku?” Kelly menatap Kanya penuh keraguan. Meninggalkan gadis berusia 15 tahun di rumah sendirian membuat Kelly sedikit khawatir. Bukannya ia tidak percaya pada Kanya. Hanya saja ia takut sesuatu terjadi dan tak satu pun anggota keluarganya tahu. “Jaga dirimu baik-baik. Hubungi kami jika ada sesuatu yang terjadi. Kau harus terbuka, oke? Kami tidak ingin sesuatu terjadi padamu di saat kami tak berada di sampingmu. Mengertilah, kami sangat menyayangimu.”

Jari-jari Kelly kemudian menyusuri pipi Kanya. Kanya balas menatap Kelly dan bisa merasakan ketulusan tatapan itu. Terkadang Kanya iri melihat Antonio yang memiliki ibu sebaik Bibi Kelly. Bukan berarti ibunya kurang baik. Roser cukup baik, bahkan sangat baik padanya. Hanya saja Kanya seperti lebih mengenal Bibi Kelly dibandingkan dengan ibunya sendiri.

“Aku mengerti, Bibi. Kau jangan khawatir. Aku akan menghubungi kalian jika sesuatu terjadi padaku. Terima kasih banyak,” balas Kanya.

“Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu. Ingat kata-kataku, oke? Jaga dirimu baik-baik. Aku menyayangimu.” Kelly mengecup pipi Kanya sebentar sebelum kembali ke mobilnya dan berlalu. Kanya pun masuk ke rumah dan merasakan kekosongan, lagi. Sepi dan tak berpenghuni. Ia sendirian.

Kanya naik ke kamarnya dan segera berganti pakaian. Setelah itu, ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sejujurnya ia tak merasakan kantuk sama sekali. Gadis itu kemudian menggulingkan tubuhnya dan matanya tak sengaja menatap sebuah pigura kecil di nakas samping tempat tidurnya. Tangannya refleks mengambil pigura itu dan matanya memandang perih ke orang-orang yang berada di dalamnya. Ayah dan ibunya tersenyum hangat dan saling berangkulan. Mereka adalah raja dan ratu rumah ini. Lalu, kedua pemuda tampan yang mengapit di kedua sisi orangtuanya, dengan senyum hangat pula bak pangeran yang akan meneruskan takhta sang raja. Kemudian seorang gadis mungil yang berada di tengah-tengah orang-orang itu dengan senyum kecut dan ekspresi tak bersahabat, kontras seperti seorang putri yang tersesat di keluarga ini. Kanya merasa ia tidak pantas dan tidak seharusnya berada di keluarga ini, keluarga yang terlalu sempurna untuk seorang gadis tidak normal seperti dirinya. Dan ia memang tak seharusnya berada di keluarga ini.

Air mata mengiringi tidurnya malam itu. Ia tidak berani berharap, hanya sebatas doa saja. Semoga Tuhan sedikit berbaik hati padanya untuk menghadapi hari esok. Ia takut.

***

Kanya terbangun dari tidurnya saat cahaya matahari menyusup melalui celah-celah jendela kamar. Gadis itu kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan hendak berjalan ke kamar mandi, namun tiba-tiba saja tubuhnya hilang keseimbangan dan ia terjatuh. Kanya mengadu pelan, kemudian berusaha berdiri lagi. Hal ini sudah sering terjadi setiap paginya. Ototnya masih belum mampu bergerak seluwes orang normal. Biasanya saat ia terjatuh seperti ini Marc atau Alex langsung membantunya berdiri. Namun, gadis itu baru sadar baik Marc maupun Alex pasti masih di Valencia.

Setelah mampu berdiri dengan benar, Kanya kemudian masuk ke kamar mandi. Tak lama setelah itu, ia kemudian keluar dan menuju lantai bawah. Saat melewati ruang tengah, Kanya merasa hampa. Tak ada tanda-tanda orangtuanya telah kembali dari Valencia.

Gadis itu berjalan menuju dapur dan duduk di kursi meja makan. Ia kemudian diam dan mata memandang ke seluruh penjuru ruangan. Rumahnya benar-benar sepi seperti kuburan dan ia sadar ia mulai kesepian. Kanya memejamkan matanya sejenak. Kalau boleh, ia ingin mata ini terpejam untuk selamanya.

Detik demi detik berlalu. Kanya seperti mendengar keributan. Matanya masih tertutup. Entahlah ia sedang berhalusinasi atau benar-benar mendengar suara Marc dan Alex, serta kedua orangtuanya. Suara itu semakin mendekat dan…

“SURPRISE!!!”

Teriakan itu membuat Kanya terkejut. Marc, Alex, Julia dan Roser dengan sebuah kue tart dengan lilin berangka 15 sontak memenuhi penglihatan Kanya. Wajah mereka berseri-seri, sedangkan Kanya tidak menunjukan wajah yang sama. Kanya hanya menatap dingin pada mereka semua dan juga kue tart itu.

Masih ingat denganku ternyata, sindir Kanya dalam hati.

Tanpa berkata-kata apa, Kanya langsung mendorong kue itu hingga terjatuh dan hancur membentur lantai. Gadis itu langsung berlari masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan keterkejutan di wajah anggota keluarganya.

Orang yang bereaksi duluan adalah Marc. Pemuda itu langsung menyusul Kanya ke kamarnya. Tapi, pintu kamar gadis itu sudah terkunci terlebih dahulu.

“Kanya…, buka pintunya!” Marc mengetuk-ngetuk pintu kamar itu. “Kanya, aku bilang buka pintunya!” seru Marc dan tak mendapat respon apa pun dari Kanya.

“Kanya, kalau kau punya masalah kau bisa mengatakannya pada kami. Bukan dengan cara ini, Sayang. Buka pintunya. Ayo kita bicara baik-baik,” bujuk Marc masih tetap mengetuk pintu itu.

Julia, Roser dan Alex kemudian ikut bergabung dengan Marc di depan kamar Kanya. Kali ini giliran Julia yang bersuara. “Sayang, buka pintunya, Nak. Kau kenapa, hah? Buka pintunya, Kanya!”

Hampir 5 menit mereka berdiri di depan pintu kamar gadis itu dan tak mendapat tanggapan apa pun. Namun, Marc melihat sebuah kertas yang didorong keluar melalui celah-celah pintu kamar itu. Lantas cowok itu mengambilnya dan membaca tulisan yang tertera di sana.

“Aku hanya ingin bicara dengan Marc. Bisakah kalian pergi?” Marc membaca kata-kata itu dan memandangi wajah Julia dan Roser, serta Alex.

“Baiklah. Kau bicara dengannya. Kami akan menyingkir. Marc, kau tahu, kan apa yang harus kau katakan padanya?” tanya Julia dengan perasaan gundah.

“Aku tahu. Dad tidak perlu khawatir.” Marc mengangguk sekali.

“Bujuk dia, Marc,” pinta Roser yang tak mampu membendung air matanya lagi.

“Akan kuusahakan, Mom.”

Setelah semuanya menyingkir, Marc kemudian mengetuk pintu kamar Kanya lagi. Tak lama, pintu itu terbuka dan Kanya keluar dengan mata sembab dan memerah. Tanpa dikomando, Marc langsung meraih gadis kecil itu ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat. Tubuh Kanya terdorong beberapa meter ke belakang.

“Kau marah, hm?” tanya Marc.

“Kau jahat,” balas Kanya dan kembali terisak.

Marc mengusap rambut Kanya dan mengecup ubun-ubun kepalanya. Marc sangat menyayangi adik perempuannya yang satu ini. Media tidak pernah tahu bahwa keluarga Márquez ternyata memiliki satu anggota keluarga lagi, yakni Kanya Márquez Alenta. Keluarganya sengaja merahasiakan hal ini, demi menjaga putri kesayangan mereka.

Marc mengerti kenapa Kanya mengatainya jahat. Marc memakluminya. Ia dan Kanya berada di situasi yang tidak tepat, waktu yang tidak tepat. Ia tidak bisa menyalahkan siapa pun.

“Aku tidak mungkin melupakanmu. Kami tidak pernah melupakan hari ulang tahunmu, Kanya. Maafkan aku jika aku merusak hari bahagiamu. Seharusnya itu harimu dan aku merampasnya darimu. Aku minta maaf,” ucap Marc lirih.

“Maaf tidak akan merubah apa pun. Semuanya sudah terjadi. Mom, Dad, dan Alex, semuanya memilih merayakan kemenanganmu dibandingkan ulang tahunku. Kalian memang tidak pernah adil padaku. Selalu saja dinomorduakan. Apa kau tahu bagaimana rasanya selalu ditempatkan seperti itu, Marc? Tidak. Aku rasa kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya. Karena kau selalu menjadi nomor satu. Selalu dibanggakan karena membawa harum nama keluarga Márquez. Ya, memang….”

“Ssttt,” potong Marc langsung.

Marc menarik dirinya menjauh, kemudian merengkuh wajah Kanya. Marc bisa melihat mata terluka milik adik perempuannya itu. “Kami tidak menomorduakanmu, Kanya. Mengertilah. Ada sesuatu yang membuat kami harus bersikap seperti ini. Kami….”

“Karena aku tidak normal. Karena aku berbeda. Begitu, kan, maksudmu?” tanya Kanya dengan suara tinggi. “Kalian selalu begitu. Selalu menggunakan kelemahanku sebagai alasan untuk membela diri. Aku benci kalian!” seru Kanya marah.

Kanya menyentak tangan Marc dan hendak meninggalkan tempat itu. Namun, tak sampai sepersekian detik, Marc kembali menangkapnya dan memeluknya dari belakang, menahan Kanya meninggalkan kamarnya. Kali ini Marc menunjukan ekspresi terlukanya, seolah merasakan apa yang dirasakan Kanya.

“Lepaskan aku, sialan!” maki Kanya, memberontak. Marc semakin mengencangkan pelukannya dan saat itulah setetes cairan being mengalir di sudut matanya.

“Lepaskan aku, Marc Márquez!” bentak Kanya, lebih keras lagi. Marc tidak membiarkan Kanya begitu saja. Ia tetap memeluk tubuh mungil itu dan tidak peduli perutnya berkali-kali disikut oleh Kanya.

“Dengarkan aku, Kanya,” ucap Marc dengan suara serak.

Kanya berhenti. Ia seperti merasa ada yang aneh dengan suara Marc. Bahunya kemudian melemas, karena kelelahan. Pelukan Marc di tubuhnya pun sedikit mengendur.

Marc kemudian memutar tubuh adik perempuannya. Mata mereka kembali bertemu dan kali ini Marc menatap Kanya dengan tatapan menusuk. Kanya bisa melihat mata kakak lelakinya itu memerah.

“Kami menyayangimu. Tidak peduli apa pun kekuranganmu. Kami hanya ingin kau mendapatkan apa yang bisa kami berikan padamu, Kanya. Tidak sedikitpun aku berpikir untuk merebut apa yang menjadi milikmu. Jika kau merasa seperti itu, aku benar-benar minta maaf. Aku….”

“Apa kau menyesal?” potong Kanya dengan nada sinis. “Apa kau menyesal memiliki adik sepertiku, hm?”

“Apa maksudmu, Kanya?” balas Marc, bingung.

“Tidak usah berpura-pura lagi. Aku sudah tahu semuanya!” kata Kanya dengan perasaan lebih terluka. “Seharusnya aku sadar. Aku tidak berhak bersikap seperti ini. Ini bukan tempatku. Aku bukan adikmu, aku bukan anak Dad dan Mom. Aku tak lebih dari sekadar sampah yang dipungut jadi anak hanya karena belas kasihan kalian. Aku bukan bagian dari keluarga kalian.”

Marc membeku di tempat mendengar setiap kata yang meluncur dari bibir Kanya. Marc tidak menyangka sama sekali Kanya akan berkata seperti itu. Belum sempat Marc bereaksi, Kanya langsung menyentak tangan Marc dan pergi meninggalkan kamar itu.

Entah kenapa, sesuatu langsung menusuk ke dada Marc. Tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Marc bahwa Kanya akan mengetahuinya secepat ini.

“Marc!” Julia, Roser dan Alex lantas masuk ke kamar Kanya. “Apa yang terjadi? Kanya kenapa?” tanya Julia, panik.

Marc tidak langsung menjawab. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Lalu, bibirnya pun bergerak. “Kanya tahu,” jawab Marc lemah.

“Tahu? Tahu apa, Marc? Kau jangan membuat kami bingung!” bentak Julia, tidak sabaran lagi dan khawatir. “Kanya sudah tahu. Status dirinya. Kelahirannya.”

Dan semua orang membeku di tempat. Syok. Perlahan-lahan luka itu kemudian menyeruak dan mulai menggerogoti hati mereka satu per satu. Rahasia mereka sudah terbongkar. Namun, bukan itu yang dikhawatirkan mereka semua. Suara teriakan mengadu kesakitan Kanya-lah yang kemudian membuat mereka membelalakkan mata dan berseru dengan serentak. Sontak suasana tegang langsung menyusup di antara mereka.

Tanpa dikomando, tubuh-tubuh itu segera berlari cepat menuruni tangga dan melihat Kanya yang sudah terjembab di dasar anak tangga.

***

Kanya tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Saat menuruni anak tangga tadi, ia kehilangan keseimbangan dan kakinya seolah tak bisa diajak bekerja sama. Ia terjerembab dan berteriak kesakitan. Lengkap sudah penderitaannya.

Kanya coba berdiri, mengabaikan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya. Ia tidak mau lagi dipandang kasihan oleh keluarga angkatnya. Ia yakin mampu berdiri tanpa bantuan mereka. Tapi, hanya dalam angan-angan. Ia tidak kuat mengangkat tubuhnya sendiri. Semakin ia berusaha, sakit yang ia rasa semakin menusuk.

“Kanya!”

Suara Roser kemudian terdengar dan tak lama disusul oleh suara lainnya. Kanya semakin benci dengan dirinya sendiri yang tampak tak berdaya di hadapan mereka. Kenapa sih ia selalu menjadi pihak yang lemah karena penyakit sialan ini? Tidak adil!

Yang kemudian dirasakan Kanya adalah tubuhnya sudah terangkat dan dibawa masuk ke dalam kamarnya. Marc meletakkan tubuh adiknya dengan hati-hati di atas tempat tidur. Kanya yang masih meringis kesakitan buru-buru menjauhkan dirinya dari Marc.

“Kanya,” Julia dan Roser kemudian duduk di samping tempat tidur Kanya. Sementara itu Marc dan Alex berdiri di samping mereka.

“Aku bukan anak kalian. Aku sudah mendengarnya dari Antonio. Dia memakiku dengan sebutan anak pungut. Aku benar-benar merasa seperti sampah yang dibungkus oleh permata, yang jelas-jelas tak pantas aku dapatkan.” Kanya kembali menangis.

“Ssstt,” Roser lalu memeluk tubuh Kanya. “Kau bukan sampah, Kanya. Kau bukan anak pungut, Nak. Kau adalah anak kami. Kau adalah Kanya, permata kesayangan kami. Jangan merendahkan dirimu seperti itu.” Julia menyentuh tangan Kanya dan mengusapnya lembut.

“Tapi, aku tidak pernah merasa adil. Kalian tidak pernah memperlakukanku seperti kalian memperlakukkan Marc dan Alex. Kenapa, hm? Apa karena aku anak pungut?” tanya Kanya, terisak penuh.

“Tidak seperti itu, Nak. Kami tidak pernah membeda-bedakan kalian. Kami memperlakukkan kau sedikit berbeda karena kau istimewa. Kau adalah permata kami, Kanya. Kau sangat berharga dan kami menjagamu seperti permata yang harus dijaga dan dilindungi.” Roser mengusap pipi Kanya dengan penuh sayang. Roser tulus mencintai Kanya, sekalipun Kanya bukan darah dagingnya.

Lalu, keheningan menyeruak. Hanya terdengar suara tangisan Kanya dan Roser, serta tangisan tak bersuara Julia, Marc dan Alex.

“Lalu, siapa orangtua kandungku? Apa mereka masih hidup?” lirih Kanya kemudian. Gadis itu mulai sedikit tenang.

Julia menggelengkan kepalanya. “Kami tidak tahu. Kami mengambilmu saat kau berusia 13 bulan di sebuah panti asuhan di Madrid, Kanya. Kami tidak pernah tahu siapa orangtuamu. Dan kami juga tidak tahu apakah mereka masih ada atau tidak.”

Kanya kembali terdiam. “Apakah kalian akan tetap menganggapku sebagai anak kalian? Aku minta maaf jika pertanyaanku ini terdengar tak pantas. Aku bersedia kembali ke panti asuhan jika kalian tidak menginginkanku di sini. Aku sangat berterima kasih pada kalian, untuk semua yang telah kalian berikan padaku,” ucap Kanya, dengan nada perih.

“Tidak, Kanya,” erang Roser frustrasi dan kembali membawa Kanya ke dalam pelukannya. “Harus berapa kali kami mengatakannya bahwa apa pun yang terjadi kau tetap anak kami. Kami tidak akan membiarkan kau pergi, sejengkal pun dari kami. Kami mencintaimu, Kanya. Kami sangat menyayangimu.” Roser tersedu.

Marc ikut bergabung dan memeluk Kanya dari sisi lain. “Kau akan tetap menjadi adikku, Kanya. Apa pun terjadi. Kau adalah adikku.”

“Dan adikku juga. Kami menginginkanmu, Kanya,” timpal Alex dan ikut memeluk Kanya.

Kanya tidak tahu sudah berapa banyak air mata yang ia tumpahkan. Tapi, saat ini, air mata yang ia keluarkan adalah air mata kebahagiaan. Kebahagiaan yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh apa pun. Ia permata, dan akan selalu dijaga. Begitulah kata Roser.

End

Yang mau komen, silakan komen. Aku gak maksa. Cuma ya, kesadaran masing-masing aja. Aku bakal seneng kalo kalian ninggalin jejak yang berupa kritik dan saran. Saling menghargai saja. Oke, thanks for reading😉

17 thoughts on “ONESHOT : Our Little Miss Marquez

  1. asik ff baru.. aku suka banget sama ide ceritanya, bagus, penyampaian emosi tokohnya ngena banget, gaya bahasanya juga keren. sayangnya kurang panjang, jadinya pemunculan konfliknya terkesan agak terburu-buru. tapi tetep bagus banget kok🙂
    oh iya, btw makasih ya kemaren udh mampir ke blog aku🙂

    Suka

  2. kanya pikiranya negative terus sih dari tadi padahal keluarga Marquez semua menyayangimu
    tumben bukan cerita romansa si marc tapi ini bagus lohhh

    Suka

  3. Hai, aku pengunjung baru. Baru kali ini aku nemuin ff dari rider motogp. Biasanya aku suka baca ff kpop..
    duuhh ini ff nya keren bgd, author Rita🙂 suka bgd sama bahasanya🙂
    Menyentuh😥 Tetep semangat ya nulis ceritanya..

    Suka

  4. aduuh. sedih banget bacanya..
    tapi aku salut sama keluarga marquez yang bener bener tulus menyayangi kanya walaupun kanya bukan anak kandjng mereka. aku juga suka waktu marc nenangin kanya. kayaknya dia sayang banget sama kanya. jadi iri dehh

    Suka

  5. Dari judulnya, gw kirain ini cerita kalo Marquez udh punya baby, Miguel😀
    Ternyata diluar dugaan ffnya bergenre Angst, pengen rasanya gw nabok si Antonio, Kanya benar2 beruntung tumbuh dikeluarga yg seperti itu :”)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s