Mini FF : Heartbeat

cove2r

Tubuh Laura terguncang, lebih tepatnya ranjang yang ia tiduri berguncang lumayan keras. Gadis itu sontak terbangun dengan perasaan panik. Astaga, ada apa ini? batinnya dalam hati.

Bukan hanya ranjangnya terguncang, tapi seluruh barang-barang di dalam kamarnya juga bergerak-gerak dan bahkan berjatuhan ke lantai.

PRANG!!!

Tubuh Laura tersentak kaget bersamaan dengan vas bunga di lemari kecil sebelah tempat tidurnya jatuh dan pecah. Lantas gadis itu langsung bangkit berdiri dengan hati-hati dan matanya menatap lekat ke pecahan kaca itu. Jantungnya berdetak tak keruan. Ketakutan mulai melanda di dalam dirinya dengan sangat cepat. Ia tidak tahu harus melakukan apa.

BUKK!!!

Lagi-lagi ada barang yang berjatuhan dan membuat Laura terkejut. Tangannya jadi gemetaran, dan karena syoknya perlahan ia mulai terisak. Laura takut, ia sangat takut. Gadis itu kemudian berjalan cepat ke arah pintu. Ia harus keluar dari tempat ini sekarang juga!

Namun, sebelum ia mencapai ke arah pintu, tubuh Laura oleng, lalu terjatuh karena guncangan itu bertambah keras. Dengan kekuatan yang masih tersisa, Laura berusaha berdiri lagi, namun kembali ia terjatuh karena hilang keseimbangan. Sadar bahwa ia tidak akan mungkin bisa berdiri, gadis itu lalu beringsut menuju pojok kamarnya dan tangisnya pun pecah.

Laura memejamkan matanya. Ia menutup telinganya dengan kedua tangannya. Panik, kaget, syok, takut, semua bercampur padu. Laura kemudian berteriak histeris. “AKHHH!!!”

Laura takut sendirian di sini dengan gempa yang masih mengguncang. Tubuhnya gemetaran. Marc, nama laki-laki langsung terlintas di benaknya. Laura butuh cowok itu sekarang juga. Ia butuh kehadiran cowok itu di sini.

Marc…, aku takut…, ucap Laura dalam hati.

***

Marc merasakan guncangan juga dalam tidurnya. Cowok itu pikir mungkin ia cuma mimpi dan tidak sadar bahwa tubuhnya bergerak-gerak. Tapi, ini bukan mimpi. Ini benar-benar gempa.

Marc lantas terjaga dari tidurnya dan dilihatnya Alex yang tidur di sebelahnya tampak tak sedikit pun terpengaruh oleh guncangan itu. Dasar babi tidur, Marc masih sempat-sempatnya mengumpat di saat seperti ini.

“Alex…, Alex…, bangun!” Marc menggoyang-goyangkan tubuh Alex dan cowok itu tetap tidak bergeming. Bahkan terdengar suara ngorok dari cowok itu.

“ALEX, BANGUN!” teriak Marc dan Alex memang seperti babi mati yang tidak bisa dibangunkan. “Terserah kau sajalah. Yang penting aku sudah membangunkanmu. Kalau kau mati, aku tidak akan sudi menanggung dosamu. Bye!” ujar Marc, kemudian bangkit dari tempat tidurnya.

Namun, saat Marc ingin bangkit dari tempat tidurnya, tiba-tiba saja guncangan itu bertambah keras dan ia langsung terjatuh ke lantai. Ia mengusap-ngusap bokongnya sebentar, lalu perasaannya mendadak berubah menjadi tidak enak seperti baru saja tersadar oleh sesuatu.

Marc langsung berlari ke arah pintu kamar hotelnya. Wajah Laura yang mendadak terlintas di benak membuatnya perasaan seperti disambar petir. Astaga, bagaimana keadaan gadis itu?

Marc berjalan cepat dengan disertai guncangan ke kamar Laura. Cowok itu lantas mengetuk pintu kamar Laura dengan keras.

“Laura,” seru Marc dan terus mengetuk pintu.

Karena tidak mendengar sahutan apapun dari dalam, Marc pun semakin kuat mengetuk pintu kamarnya. “Laura, buka pintunya!”

Perasaan Marc berubah menjadi panik. Ada ketakutan yang mengerubungi dirinya. “Laura, kau dengar aku? Aku bilang buka pintunya!” seru Marc dengan suara terdengar marah. Ada emosi yang bercampur dengan kepanikan Marc. Marc takut, benar-benar takut jika terjadi sesuatu dengan Laura di saat Marc tidak tahu bagaimana keadaan gadis itu di dalam sana. “LAURA, AKU BILANG BUKA PINTUNYA!” teriak Marc marah. Ia benar-benar marah karena tidak ada sahutan apapun dari dalam.

Kemudian Marc melihat ada beberapa petugas hotel yang berlarian di koridor, segera saja cowok itu menghampiri mereka untuk meminta kunci kamar Laura.

***

Laura mendengar seruan Marc di luar sana walaupun ia menutup telinganya dengan kedua tangannya. Pintu kamarnya berkali-kali digedor dengan frekuensi begitu cepat. Tapi, Laura tetap memejamkan matanya, ia masih belum berani melihat ke sekelilingnya. Apalagi guncangan gempanya juga belum berhenti.

“LAURA, AKU BILANG BUKA PINTUNYA!” teriak Marc dari luar. Entah karena efek gempa atau memang benar-benar terjadi, Laura bisa mendengar suara Marc bergetar. Laura ingin sekali bisa berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ia ingin bersembunyi di pelukan Marc, tempat teraman untuknya bersandar. Tapi, untuk saat ini ia terlalu takut untuk berdiri.

Bahu Laura berguncang pelan, bukan karena efek gempa, namun ia kembali menangis karena ketidakberaniannya di tengah ketakutannya. Ia butuh Marc, ia butuh cowok itu di sini.

Marc…! seru Laura dalam hati.

Laura memeluk lututnya dan menenggelamkan kepalanya di atasnya. Perlahan-lahan Laura merasa guncangan di sekelilingnya mulai menghilang. Dan pada saat itu juga, Laura mendengar pintu kamarnya menjeblak terbuka. Marc dengan langkah panjangnya berjalan ke arah Laura. Marc berlutut dan langsung mendekap gadis itu ke pelukannya. Cowok itu bisa merasakan isak tangis Laura di dadanya.

“Marc…,” isak Laura di dada cowok itu.

“Kenapa kau tidak membuka pintumu, hah? Aku kira sesuatu yang buruk terjadi padamu. Kau hampir membuatku gila, Laura, karena panik memikirkanmu. Kau tidak apa-apa, kan?” tuntut Marc sembari melepas pelukannya dari Laura.

“Aku takut, Marc. Aku takut…,” ucap Laura masih terisak-isak. Marc kemudian menangkup kedua pipi Laura dan mengusap air matanya.

“Sstt…, kau tidak perlu takut, Sayang. Aku ada di sini bersamamu. Jangan takut, oke?” kata Marc lembut sembari memberi senyum tulus untuk gadis itu.

“Kau tidak akan meninggalkanku, kan?”

“Tidak akan pernah,” jawab Marc dan kembali membawa Laura ke dalam pelukannya.

Laura merasa hangat dan sangat aman. Tapi itu tidak berlangsung lama ketika tiba-tiba saja gempa susulan kembali mengguncang mereka. Gempa kali ini tidak terlalu kuat, tapi kembali membuat Laura menjerit histeris. “AKHHH!!!”

“Laura… Laura… Hei…. Ssttt…. Aku di sini. Jangan takut. Sstt…,” ucap Marc, mempererat pelukannya pada Laura. “Kita akan keluar dari sini,” lanjutnya, lalu membantu Laura berdiri. Mereka lalu keluar dari kamar dan tampak di koridor hotel juga banyak penghuni di lantai itu keluar dari kamar mereka.

Gempa kali ini tidak berlangsung lama dan guncangannya juga tidak terlalu kuat. Marc masih tetap mendekap Laura di pelukannya dan sesekali membisikkan kata-kata lembut untuk menenangkan gadis itu.

Tak selang beberapa lama, sepertinya gempa memang sudah benar-benar berhenti. Para penghuni hotel itu pun kembali ke kamar masing-masing. Saat Marc hendak membawa Laura masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba saja dari belakang seseorang berseru kepadanya.

“MARC MÁRQUEZ!!!”

Marc mengenal suara berat itu. Alex. Memangnya itu suara jelek milik siapa lagi kalau bukan suaranya Alex. Marc menolehkan kepalanya ke arah Alex yang sedang berjalan menuju ke arahnya.

“Apa?” tanya Marc cuek.

“Dasar kau kakak tidak berperikemanusiaan. Kau ini sengaja ya tidak membangunkanku? Kau sudah bosan melihatku hidup di dunia, hah? Kau itu memang tega ya. Tidak punya hati! Bagaimana kalau aku tadi tertimpa reruntuhan? Bagaimana kalau aku mati terjebak di dalam kamar itu? Kau itu memang tidak pernah memikirkan aku ya. Kau benar-benar…”

“Kau mau aku memplester mulut embermu itu?” ancam Marc seraya melototkan matanya pada Alex. Alex sontak terdiam saat dilihatnya Laura dengan kepala terkulai ke bahu Marc.

“Ups! Apa yang terjadi padanya?” tanya Alex. Cowok itu kemudian mendekat ke arah Laura.

“Sudahlah, Alex. Laura butuh istirahat sekarang. Kembalilah ke kamarmu sekarang!” perintah Marc.

“Tapi, kan aku ingin tahu….”

Alex tidak sempat menyelesaikan ucapannya. “Aku bilang kembali ke kamarmu sekarang juga. Aku akan menceritakan padamu besok,” kata Marc.

Seusai berkata seperti itu, Marc langsung membawa Laura masuk ke dalam kamarnya yang lumayan berantakan dengan barang-barang seperti buku, vas dan beberapa benda kecil lainnya berhamburan di lantai.

Marc mendudukan Laura di atas tempat tidurnya. Wajah Laura tampak sedikit pucat. Matanya juga sembab.

“Bagaimana perasaanmu?” tanya Marc, sembari memegang kedua pipi Laura.

“Aku….” Laura tidak tahu mau menjawab apa. Ia masih takut. Lidahnya kelu untuk bicara.

Seolah bisa mengerti kekhawatiran Laura, Marc tidak menuntut jawaban gadis itu. “Ya sudah, tidurlah,” suruh Marc seraya membaringkan tubuh Laura. Laura menolak, dan tetap mempertahankan posisi duduknya.

“Apa gempa itu akan datang lagi?” tanya Laura dengan raut cemas di wajahnya.

“Kemungkinannya tidak,” jawab Marc ragu.

“Kemungkinan?”

Marc memejamkan matanya sejenak, tampak berpikir apa yang harus ia jelaskan kepada Laura. “Maaf, aku tidak bisa memprediksinya.”

“Aku tidak mau sendirian di sini,” ucap Laura.

“Tidak, tidak, Laura. Kau tidak akan sendirian. Aku tidak akan kemana-mana. Jangan khawatir.”

“Benarkah?”

Marc tersenyum pelan. “Aku akan menemanimu.” Kemudian cowok itu mendorong lembut tubuh Laura ke atas tempat tidur, lalu menyelimuti tubuh gadis itu. “Tidurlah,” ucap Marc pelan dan penuh kasih. Perlahan mata Laura pun mulai terpejam.

***

Marc membuka matanya saat merasakan Laura bergerak gelisah di sampingnya. Ya, Marc memang tidur di atas ranjang yang ditempati Laura karena kelelahan. Tapi, ia sangat menjaga jarak dengan tubuh Laura di atas tempat tidur ini. Marc tidak mau terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.

Mata Laura memang terpejam yang mengindikasikan bahwa gadis itu memang masih terlelap. Tapi tubuhnya bergerak gelisah dan ada beberapa titik keringat yang membasahi wajah dan leher Laura. Marc sendiri baru menyadari bahwa suhu di kamar ini lumayan panas karena ternyata AC-nya tidak menyala.

Marc kemudian mengambil sebuah buku yang lumayan tipis dari lantai, lalu kembali naik ke atas tempat tidur. Marc berbaring menyamping dan mulai mengipasi Laura yang kepanasan walau pun sebenarnya ia juga lelah dan mengantuk. Tapi, itu bukan masalah baginya. Marc ingin memastikan kenyamanan Laura.

Marc menyibak beberapa helai rambut yang menutupi dahi Laura, lalu meniup-niupnya. Dan… sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatian laki-laki itu. Kipasannya berhenti sejenak. Senyum kecil pun mengembang di bibir Marc. Jarinya lalu terangkat dan menyentuh pelan alis kiri Laura. Ada sebuah tonjolan kecil berwarna merah di sekitaran itu.

Dasar jerawat nakal, celetuk Marc dan masih mengelus tonjolan kecil itu. Marc kemudian maju mendekatkan kepalanya, lalu mengecup ringan tonjolan kecil itu.

Aku mencintaimu, jerawat jelek. Karena kau tumbuh di wajah gadis yang kucintai, jadi kau adalah bagian dari dirinya, batin Marc dan kembali tersenyum.

***

2 thoughts on “Mini FF : Heartbeat

Komentar ditutup.