Oneshot : The Happy Ending….

Okay!!! Ini ff lama-lama jadi sinetron jijay kayaknya. Bersambung terusss…. *kayak cinta pitri* Tapi, kali ini bener-bener ending *sebenarnya mau bikin part honeymoon sih* Readers setuju? wkwkwkwkk….. *dirajam* Okelah, sebelum baca, aku cuma mau ngasih tau kalo ada part di ff ini yang ngewakilin perasaan aku waktu ngundurin diri sehari sebelum lomba debat bahasa inggris *gak penting*.  Gak nyambungkan? Hahahaha… aku pun mikirnya kayak gitu. Kok bisa pulak aku nyambung-nyambunginnya ke ff.

Kedua, lagu background blog berubah lagi. Sengaja. Jadi sambil baca sambil dengerin lagu ini ya, biar makin dapet feel-nya. Itu khusus untuk yang baca via PC. Kalo via hp, kalian bisa download lagu Turning Page Instrumental di bursalagu.com. So, happy reading🙂 Komennya ditunggu yoo… ;D

Jika ia diberi satu permintaan, ia ingin waktu berhenti di detik ini juga. Tapi, ia sadar itu permintaan konyol. Ia hanya terlalu gugup untuk menghadapi momen terpenting dan mungkin sekali seumur hidupnya. Khawatir dan cemas. Tidak bisakah pernikahannya ditunda beberapa hari lagi? Ia… belum siap, secara mental.

Gaun berwarna gading pucat itu tampak indah membalut di tubuh gadis itu. Dengan aksen modern dan elegan membuat tubuh mungil itu bak seorang putri. Gadis itu sedang duduk di meja rias dan membuat ekor gaunnya tersampir di belakang kursi. Sementara rambutnya disanggul longar ke belakang dengan kepangan sederhana. Beberapa helai rambutnya juga sengaja dibiarkan menjuntai di kedua sisi wajahnya, menambah kesan anggun gadis itu. Tapi… tetap saja itu tidak bisa memperbaiki suasana hatinya.

Laura berkali-kali menghembuskan napasnya, berusaha meredakan degup jantungnya yang tak karuan. Bibir ranumnya dibaluri pewarna alami tampak sangat pucat. Penata riasnya sudah berkali-kali mengolesi pewarna ke bibirnya, namun tak sampai 5 menit, bibirnya kembali memutih. Laura tidak bisa menahan giginya untuk mengigit bibir bawahnya. Ia terlalu cemas dan gugup dan juga takut. Bahkan jari-jarinya juga tidak ketinggalan saling meremas satu sama lain, seolah memperjelas semuanya.

Laura melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Wajahnya yang sudah diberi make up tampak sangat mengerikan, menurutnya. Raut khawatir di kerutan dahinya sangat kentara. Ia ingin menangis sekarang juga. Ia tidak siap menghadapi hari ini. Ia tidak bisa melakukannya.

Pintu di belakang terbuka. Laura memutar tubuhnya dan melihat kedua orangtuanya dengan senyum sumringah masuk dan datang menghampirinya. Laura sedikit meringis melihat raut wajah mereka.

“Aku tidak menyangka sebentar lagi gadis kecilku akan menjadi milik pria lain,” ujar Elena dengan haru yang tak terbendung. Elena kemudian menggenggam tangan putrinya dan seketika rasa dingin langsung menusuk ke telapak tangan wanita paruh baya itu. “Mom tahu kau pasti sangat gugup. Itu sangat normal, Sayang.”

“Aku tidak siap, Mom, Dad,” kata Laura, lirih.

“Jangan bilang begitu. Semuanya pasti akan berjalan lancar.” Kali ini giliran Robert yang coba menenangkan Laura. Tapi, tetap tidak mempan. Laura semakin khawatir dan ketakutannya menjadi berlipat ganda.

“Bagaimana kalau semua tidak berlancar lancar sesuai rencana? Bagaimana kalau misalnya aku tidak sengaja menyerempet gaunku sendiri, terjatuh di hadapan orang banyak, merusak acara penikahanku sendiri dan menanggung malu seumur hidupku. Atau saat mengucapkan janji suci aku tidak sengaja tersedak ludahku sendiri dan sesak napas dan…. Aku takut, Mom, Dad!” erang Laura putus asa seraya menarik tangannya dari genggaman Elena. Ia kemudian menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Laura, Laura, hei, kau bisa merusak dandananmu.” Elena kembali menggenggam tangan Laura, tapi gadis itu terlalu terbawa emosi hingga kemudian setetes air mata merembes di sudut matanya.

“Astaga, Laura. Kau ini kenapa sih?” Elena tampak gusar dibuatnya. Sementara Robert berusaha menenangkan Laura dengan memberikan usapan lembut di punggung putrinya itu.

“Aku tidak siap menikah, Mom. Aku tidak siap,” isak Laura, terdengar memilukan di telinga Elena dan Robert.

Elena dan Robert saling berpandangan. Mereka mengenal Laura dan sangat mengerti kenapa putri mereka bersikap seperti ini. Pernikahan sama juga dengan dengan para tamu undangan. Laura tidak nyaman jika harus bertemu dengan banyak orang. Semacam phobia akan keramaian. Gadis itu juga gampang demam panggung. Tapi, mereka tahu Laura bukan gadis yang lemah.

“Bisakah pernikahan ini ditunda saja? Aku sangat takut.” Laura tampak begitu rapuh dan memancing kesedihan kedua orangtuanya. Tapi, mereka juga tidak bisa membiarkan pernikahan ini ditunda begitu saja.

Hanya ada satu cara dan baik Elena maupun Robert tahu siapa yang bisa membantu mereka untuk meyakinkan Laura bahwa semuanya akan baik-baik saja.

***

“Sepertinya nanti malam kau tidak bisa menikmati malam pengantinmu. Pengantin wanitamu ingin menunda pernikahan ini,” kata Alex pada Marc.

“Apa?!”

Suara tinggi Marc mengundang perhatian beberapa tamu undangan. Pria itu menyipitkan matanya ke arah Alex, adik sekaligus pedamping prianya. Alex baru saja memberitahunya bahwa Laura ingin menunda pernikahan mereka. Marc sontak syok dan tidak percaya. Apa-apaan gadis itu?

Marc, antara kesal dan penasaran kenapa Laura bisa memikirkan hal segila ini. Padahal saat merencanakan pernikahan mereka beberapa minggu yang lalu, gadis itu tampak begitu semangat. Tapi, kenapa sekarang tiba-tiba….

“Rendahkan suaramu, budy. Kau mau orang-orang berpikiran pengantin wanitamu meninggalkanmu dan kau tampak seperti orang syok di sini?” bisik Alex, seraya menatap orang-orang yang memandang ke arah mereka.

Marc tidak peduli denggan tatapan para tamu undangan. Lantas pria itu melangkah cepat meninggalkan altar menuju kamar rias pengantin wanita. Sebenarnya ini melanggar peraturan karena seharusnya pengantin pria tidak boleh menemui pengantin wanitanya sebelum acara pemberkatan selesai. Tapi, Marc sebodoh amat. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah sesuatu sedang terjadi dan ia harus segera menemui Laura.

Pintu kamar rias itu terbuka bersamaan dengan tubuh berbalut jas hitam itu masuk. Laura yang melihat Marc datang menghampirinya semakin memucat. Ia tahu sebentar lagi ia akan menerima semburan amarah dari pria ini. Mentalnya semakin jatuh.

Laura merasakan perutnya mulas dan asam lambungnya naik. Sejak pagi tadi ia belum sempat mengisi perutnya. Atau lebih tepatnya sengaja tidak memakan apa pun.

Marc semakin dekat ke arahnya dan Laura otomatis menunduk. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi. Elena dan Robert juga meninggalkan mereka, hanya berdua di kamar rias ini. Darah seolah menyurut di tubuh Laura.

Marc berdiri di hadapan Laura sekarang, menatap gadis itu dalam diam dan membuat Laura merasa tertekan. Marc kemudian menyentuh bahu Laura, menariknya berdiri. Jari-jari kekar itu juga menyusuri wajah bekas tangis Laura. Marc menyentuhnya dengan sangat lembut dan perlahan. Tubuh mereka kini berdempetan, sangat dekat hingga Laura bisa merasakan hembusan napas pria itu.

Entah keberanian dari mana, Laura mengangkat wajahnya dan balas menatap Marc. Seketika tatapannya terkunci di bawah tatapan lembut Marc. Mereka masih terdiam, tapi sorot mata mereka tidak diam. Tangan Marc bergerak, mengusap pipi Laura. Gadis itu menikmati sentuhan itu.

“Kau ingat setiap waktu yang kita lalui selama 3 tahun belakangan ini, hm?” Suara selembut beledu Marc memecah keheningan di antara mereka. Laura mengangguk pelan. “3 tahun kau bersamaku, terikat padaku. Ada di saat kau tidak bahagia dan merasa marah karena kesibukanku mengurus perusahaan. Kau berusaha memahamiku, memaklumi pekerjaanku, dan bersabar menghadapi sikapku yang dingin padamu. Apakah pernah terpikir olehmu untuk pergi meninggalkanku karena merasa lelah? Pergi mencari kebahagiaan di luar sana yang jarang kaudapatkan dariku?” Marc berhenti sejenak, menarik napas dan menghembuskannya di kulit Laura. Laura merinding, tetap merasa nyaman.

“Ada saat di mana aku merasa bersalah padamu. Aku ingin memaki diriku sendiri karena sudah membuatmu menangis diam-diam. Aku terlampau sering menyakitimu dengan sikapku dan membuatmu terluka. Tapi, kau tetap berdiri tegar di sampingku. Aku posesif di balik sikap cuekku dan kau merasa tidak nyaman. Tapi, kau berusaha untuk tetap bertahan,” lanjut Marc.

Lapisan bening kembali menggenang dipelupuk mata Laura. Marc segera menghapus butiran-butiran itu dengan ibu jarinya. “Aku minta maaf,” ucap Laura, lirih dan mengerjapkan matanya. Marc kembali menghapus butiran air mata itu.

“Apa kau ingat untuk pertama kalinya selama 3 tahun kita bersama dan kau memulai pemberontakan?” tanya Marc, lebih lembut lagi.

“Aku pergi ke Swiss bersama sahabat-sahabatku.” Laura menarik napas panjang. “Aku minta maaf, lagi,” ucapnya.

“Apa kau tahu bagaimana perasaanku saat mendengarmu pergi ke sana?” Marc semakin intens menatap Laura. “Aku hampir gila memikirkanmu. Aku sangat cemas denganmu. Aku takut jika sesuatu buruk menimpamu. Dan aku benar tentang perasaanku. Kau hampir mati kedinginan karena badai itu. Kau tidak tahu bagaimana khawatirnya aku, Laura. Aku begitu takut dan putus asa. Aku takut kehilanganmu, terlebih aku takut tidak bisa hidup tanpamu. Dan kau tahu? Satu hal yang sangat kusyukuri waktu itu, saat sekarat itu pun kau masih tetap berjuang melawan kematian, berjuang untuk kembali hidup. Tidak ada kebahagiaan lain yang mampu menandingi kebahagiaanku saat melihatmu sadar dari koma. Kau berhasil melewati masa-masa sulit itu.” Mata Marc tampak berkaca-kaca.

Laura tak mampu berkata-kata. Bibirnya terkatup, menahan isak tangis yang akan pecah. Ia tidak boleh nangis, tidak boleh nangis.

“Kita sudah menapaki jalan sejauh ini, Laura. Bahkan kita berhasil melewati masa tersuram hubungan kita, saat berpisah karena kesalahpahaman. Apa kau ingin berhenti sampai di sini? Kau ingin menyerah saat hampir mencapai puncak dalam hubungan kita? Pernahkah kau hitung seberapa banyak yang telah kauperjuangkan untuk hubungan ini selama kita bersama? Aku mengerti ketakutanmu. Tapi, bisakah kau berjuang sekali lagi untuk hari ini, untuk pernikahan kita?” Suara Marc hendak pecah, tapi tetap dikontrolnya dengan baik. Pria itu tidak ingin membuat Laura semakin terintimidasi karena suaranya.

Laura memejamkan matanya sejenak, berusaha merenungi setiap perkataan Marc. Laura tahu pernikahan adalah tujuan utama dalam setiap hubungan dan hari ini mereka akan mencapai tujuan tersebut. Ketakutannya juga konyol kalau dipikir-pikir. Tapi, tetap saja ia tidak bisa menghilangkan ketakutan itu dari dirinya.

Suara pintu terbuka membuyarkan keheningan kamar rias itu. Marc dan Laura sontak melihat siapa yang masuk ke dalam kamar.

“15 menit lagi acara pemberkatan akan dimulai,” kata Elena. Robert menyusul di belakang dan berjalan melewati Elena. Robert kemudian mendekati Laura.

“Apa kau siap?” tanya Robert khas seorang ayah.

Laura menatap Marc sebentar, kemudian ibunya yang berdiri tak jauh di depannya, lalu ayahnya. Laura kembali memejamkan matanya. “Aku siap,” jawabnya dengan mantap dan tanpa sedikit pun keraguan.

Marc tersenyum lebar. “Aku tunggu di altar.” Kemudian pria itu berjalan keluar bersama Elena.

***

“Pegang yang erat, Dad,” kata Laura dengan darah mengalir deras di sekujur tubuhnya. Sebentar lagi.

“Pasti, Sayang,” balas Robert.

Pintu itu terbuka dan alunan mars pernikahan langsung terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan di dalam gereja itu. Setiap tamu undangan berdiri, memberi sambutan kepada pengantin wanita yang digandeng erat oleh sang ayah.

Adel yang merupakan pendamping wanita Laura berjalan terlebih dahulu di depan Laura dan Robert. Langkah Laura pelan namun pasti. Buket mawar putih itu dipegangnya dengan erat dan matanya hanya tertuju pada satu orang di depan sana. Dada Laura bergemuruh. Perasaan haru, senang, bahagia, semuanya bercampur aduk menjadi satu kesatuan yang membuat langkah kaki Laura mantap melangkah di atas taburan mawar merah.

Entah karena terlalu terpaku pada wajah pria itu atau langkah kakinya yang terlalu cepat, Laura hampir mendekati altar, tempat calon suaminya yang telah menunggunya dengan senyum kagum. Laura baru sadar wajah Marc begitu tampan dengan balutan jas hitamnya.

Marc menyambutnya dengan uluran tangan dan Robert melepaskan gandengannya di lengan Laura. “Kuserahkan putriku. Kau harus menjaganya dengan baik dan membahagiakannya. Aku percaya kau adalah pilihan yang tepat untuknya. Jangan membuatku kecewa, Marc,” pesan Robert pada Marc.

“Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku kupastikan Laura tidak akan salah memilihku,” balas Marc mantap.

Robert menepuk Marc sebelum ia pindah ke baris kursi paling depan dan bergabung bersama Elena, Julia dan Roser. Elena tampak tak bisa menahan air matanya. Itu semua tak lepas dari kenyataan bahwa anak gadis mereka yang merupakan anak satu-satu di keluarga Sanchez sebentara lagi akan menjadi isteri orang lain yang tak lain tak bukan adalah Marc.

Pemberkatan dimulai dengan pembacaan ayat alkitab oleh pendeta. Tubuh Laura sontak bergetar di samping Marc. Pria itu menoleh sebentar ke arah Laura dan melalui tatapan matanya, Marc berusaha menyemangatinya.

Pendeta itu kemudian mempersilakan kedua calon pengantin itu untuk mengucapkan janji sehidup semati di hadapan Tuhan. Tubuh Laura kembali tegang. Kini mereka berdiri berhadapan, saling menatap. Marc sengaja menundukkan kepalanya agar lebih intens lagi menatap Laura. Bibir Marc kemudian bergerak, mengucapkan rentetan kalimat yang membuat air mata Laura menggenang.

“Aku, Marc Márquez Alenta, menerima engkau Laura Amberita Sánchez sebagai isteriku, sahabat setiaku, pasangan hidupku, serta ibu yang akan mengandung anak-anakku sejak hari ini, esok dan seterusnya. Aku bersumpah di hadapan Tuhan dan Roh Kudus akan senantiasa menerimamu dalam sakit maupun sehat, suka maupun duka, dalam kebahagiaan maupun dalam penderitaan. Aku berjanji akan mencintaimu sebanyak yang bisa kulakukan, menerima kekuranganmu dan mendukung segala kelebihanmu. Aku akan mengasihimu, menjagamu dan menghormatimu sebagai orang terpenting dalam hidupku, tertawa bersamamu dalam kebahagiaan dan menangis bersamamu dalam kesedihan, melindungimu dengan segenap jiwaku hingga maut memisahkan kita.”

Laura tampak begitu terkesima mendengar setiap kalimat itu. Marc mengucapkannya begitu mantap dan tanpa sedikit pun keraguan, seolah Marc memang sangat menginginkannya dan pria itu memujanya.

“Miss Sanchez, giliran Anda.”

Suara pendeta itu membuat Laura tersentak. Tiba-tiba saja degup jantungnya menggila, lebih cepat dari sebelumnya. Perutnya kembali mulas dan tulang punggung serasa membeku. Sorot mata Laura menjadi panik dan tidak fokus. Bibirnya bergetar dan mulai khawatir tidak bisa mengucapkan janji suci itu dengan baik.

“A… aku….” Laura kembali mengatupkan bibirnya. Kata-kata yang hendak ia ucapkan hilang begitu saja. Laura memejamkan matanya dan menggeleng pelan. Ia tidak bisa melakukannya.

Sementara itu, orangtua mereka di belakang mulai khawatir dan para tamu undangan juga tampak penasaran dan mulai berkasak-kusuk. Laura tetap terdiam dan membuat suasana yang awalnya hening menjadi sedikit ribut.

Laura masih tetap memejamkan matanya, seolah dengan begitu semuanya akan berlalu. Tapi, ia sadar ini semua ini tidak akan berlalu jika ia masih bungkam. Mendadak Laura merasakan sebuah tangan menyentuh pinggangnya dan bau aftershave di antara wewangian bunga mawar menusuk hidungnya. Laura membuka matanya dan melihat Marc berdiri sangat dekat ke arahnya. Hanya menyisakan jarak beberapa centi saja.

“Apa kau masih ingat yel-yel penyemangat saat kau ditunjuk untuk berpidato di hari kelulusanmu?” tanya Marc, tidak mempedulikan kasuk-kusuk di belakangnya yang semakin kuat terdengar. “Laura pasti bisa. Laura pasti bisa. Laura pasti bisa.”

Laura bisa merasakan tangannya diremas dalam genggaman jari-jari kekar Marc. Tidak hanya itu, bahkan kata-kata yang barusan diucapkan oleh Marc diikuti oleh suara-suara lain yang begitu Laura kenal. Laura menoleh ke belakang. Adel, Dani, Scott, Alex bahkan kedua orangtuanya dan orangtua Marc juga mengucapkan kata-kata itu. Tidak mau ketinggalan, para tamu undangan juga turut memberi Laura semangat.

Air mata Laura merembes keluar. Air mata kebahagiaan dan terharu. “Banyak yang mendukungmu. Kau pasti bisa. Laura pasti bisa,” bisik Marc sembari mengusap pipi Laura.

Marc dan Laura menghadap ke depan altar lagi. Kali ini dengan kepercayaan diri penuh, Laura menarik napas panjang dan mulai mengucapkan janji suci itu.

“Aku, Laura Amberita Sánchez, menerima engkau Marc Márquez Alenta sebagai suamiku, sahabat terbaikku, pasangan hidupku dan ayah dari anak-anakku. Hari ini, di hadapan Tuhan dan Roh Kudus, aku bersumpah akan menerimamu dalam sakit maupun sehat, suka maupun duka dan dalam kebahagiaan maupun dalam penderitaan. Aku berjanji akan mencintaimu dengan sepenuh hatiku, mempercayaimu dan menghormatimu sebagai laki-laki yang akan melindungiku, tertawa bersamamu dalam kebahagiaan dan menangis bersamamu dalam kesedihan. Aku akan memberikan tanganku, hatiku dan cintaku untukmu, menyerahkan diriku sepenuhnya kepadamu sejak hari ini, esok dan seterusnya.”

Gemuruh tepuk tangan membahana di ruangan itu dan sorak-sorai pun terdengar riuh. Laura tidak kuasa menahan tangis, kembali menumpahkan air matanya.

“Dengan terucapnya janji suci ini, aku umumkan kali sah menjadi suami-isteri di hadapan Tuhan. Kau bisa mencium pengatinmu, Mr. Marquez,” ucap pendeta itu, turut senang.

Marc merengkuh pipi Laura, mengusap air matanya dengan ibu jarinya. Marc kemudian menundukkan kepalanya dan mulai mencium mesra isterinya itu. Awalnya hanya lumatan pelan, namun Marc sedikit menaikkan temponya dan sukses membuat pipi Laura memerah dan napasnya tersenggal-senggal. Ulahnya itu sontak membuat para tamu undangan terpingkal-pingkal. Seorang Marc Márquez yang dikenal dingin oleh para kliennya tampak hangat hari ini, khususnya saat sedang bersama dengan isterinya.

Marc kemudian meraih salah satu cincin yang dibawakan oleh Adel dan Alex, kemudian memasangkannya ke jari manis Laura. Begitu juga sebaliknya, Laura mengambil cincin satunya lagi dan memasangkannya di jari manis Marc. Mulai hari ini mereka sah menjadi pasangan suami-isteri, dengan sepasang cincin ini yang semakin memperjelas status mereka.

“Aku mencintaimu,” bisik Laura pada Marc. Sejenak pria itu tertegun. Tidak salah Laura mengucapkan kata-kata itu? Kalau dalam janji suci sih memang wajar, tapi kalau ini?

Memang kata-kata itu jarang diucapkan oleh gadis itu. Tapi, Marc senang Laura mengucapkannya. “Aku juga mencintaimu,” balas Marc, kembali merengkuh pinggang Laura.

Rasanya begitu tidak ada yang lebih membahagiakan lagi selain pernikahan ini. Di hadapan keluarga, sahabat dan teman-teman mereka, mereka disambut dengan sukacita begitu luar biasa. Kedua anak Tuhan ini persatukan dalam sebuah tali yang disebut pernikahan. Apa yang menjadi milik Laura akan menjadi milik Marc. Begitu juga sebaliknya. Mereka akan berbagi dan saling mencintai hingga maut memisahkan mereka.

END

5 thoughts on “Oneshot : The Happy Ending….

  1. Aku suka ceritanya..Laura-nya lucu banget, sampe lupa ngucap janji kayak begitu😀 cocok sama soundtracknya juga…oh ya, tadi aku pikir soundtracknya lagunya Christina Perri – A Thousand Year…hehe *kayak Edward-Bella gitu*😀 tapi selebihnya..Keren banget😀

    Suka

  2. Jadi baper T_T
    Suka sama ffnya, alurnya jugaaa
    Laura terkena syndom pra nikah.
    Jadi kebayang ekspresi Marc waktu Alex bilang Laura mau nunda pernikahan mereka, mungkin matamya mau loncat keluar😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s