TWOSHOT : Once Upon A Time #2 – END

Beberapa hari setelah kejadian itu, Laura menghilang. Apartemennya kosong. Marc frustrasi mencari gadis itu. Bahkan orang suruhannya juga tidak ada satu pun yang tahu di mana keberadaan gadis itu. Harapannya kini cuma satu. Adel. Semoga saja gadis itu berbaik hati mau memberitahunya di mana Laura sekarang.

Saat Marc mencari Adel di rumahnya, lagi-lagi Marc kena semprot.

“Apa? Mau apa kau kemari?” ketus Adel. Sejenak Adel memperhatikan penampilan Marc. Sedikit mengenaskan sebenarnya. Pakaian Marc berantakan. Rambut yang biasanya disisir rapi pun kini acak-acakan. Dan kedua bola mata Marc juga dihiasi lingkaran hitam di bawahnya. Sangat menunjukkan kefrustrasiannya.

“Aku tahu kau mengetahui keberadaan Laura. Dengan segenap hatiku, aku mohon kepadamu, Adel. Beritahu aku di mana dia?” Suara Marc bergetar dan Adel juga bisa mendengarnya. Adel agak terkejut sebenarnya. Marc, pria yang dikenalnya sebagai pria sok berkuasa dan arogan itu kini memohon kepadanya. Apa tak salah?

Adel menggertakan giginya. Walaupun ia mengagumi Marc, tapi untuk kesalahan Marc yang ini, sudah tidak termaafkan lagi.

“Untuk apa lagi kau mencari Laura?” tanya Adel, emosinya mulai tersulut. “Supaya kau bisa menyakiti dia lagi? Dasar bajingan tidak berperasaan! Kau tidak tahu betapa hancurnya dia, Marc. Laura hampir gila karena ulahmu. Kau benar-benar jahat. Kau tega,” lanjutnya. Bahkan Adel saja sampai menintikkan air matanya. Ia juga sakit hati pada Marc.

Marc mengerjapkan matanya. “Aku tahu aku salah, Adel. Tapi, ada sesuatu yang terjadi….”

“Iya. Yang terjadi adalah kau menghamili gadis lain. Itu sudah cukup jelas!” seru Adel marah.

“Aku tidak pernah menghamili siapa pun, Adel! Aku difitnah,” balas Marc dengan nada begitu frustrasi.

“Apa kau mengharapkanku untuk mempercayai omonganmu? Sayangnya aku tidak bisa.” Adel membuang muka. Lama-lama ia juga muak melihat tingkah Marc.

“Dia memang hamil, tapi bukan aku ayah dari anak yang dikandungnya. Aku memang pernah menyentuhnya, Adel. Tapi, aku bersumpah aku menggunakan pengaman saat melakukannya. Dia mengandung anak Scott, sahabat kalian. Bukan anak aku.”

Adel melebarkan matanya. “Apa maksudmu, Marc?”

“Dia menggunakanku untuk menuntut pertanggungjawaban.” Ucapan Marc membuat Adel terkejut.

***

Saat menghadiri pembukaan cabang perusahaan baru, Marc tidak sengaja bertemu dengan Scott di toilet pria. Marc bersikap tak acuh pada laki-laki itu dan lewat begitu saja di hadapannya.

“Ada hal yang ingin kukatakan padamu,” ucap Scott, mencegat Marc.

“Aku tidak ingin mendengar apa pun. Minggir kau,” hardik Marc kasar. Ia lantas berjalan melewati Scott.

“Ini tentang kau dan Laia,” seru Scott lantang.

Marc sontak menghentikan langkah kakinya dan membalikkan tubuhnya menghadap Scott. Pria itu menatap tajam ke arah Scott. “Apa maksudmu?” tuntut Marc tajam.

“Dia mengaku sedang mengandung anakmu, bukan? Kau ditipu. Dia tidak mengandung anakmu. Tapi, anakku, Marc.”

“Kau ingin bercanda denganku? Kau ingin mengatakan bahwa kau mengenal Laia dan sudah pernah tidur dengannya?” tanya Marc dengan nada sarkatis. “Sayangnya aku tidak butuh semua omong kosongmu itu.”

Scott tahu ia harus sabar menghadapi Marc yang terkenal dengan emosi yang suka meledak-ledak. Ini semua dilakukannya demi orang terkasihnya. Ia tidak ingin Laura tersakiti.

“Kaupikir untuk apa aku repot-repot memberitahu hal ini jika yang kukatakan ini hanya omong kosong belaka? Laia benar-benar hamil anakku. Bahkan dia lebih dulu memberitahuku sebelum pergi mencarimu. Dia menyelidikimu dan memutuskan untuk  menuntut pertanggungjawaban darimu,” jelas Scott tenang.

Marc tampak menggeram. “Apa dia menuntutku hanya karena masalah finansial?” tanya Marc, tiba-tiba merasa kesal.

“Kurang lebih begitu,” jawab Scott.

“Dasar pelacur sialan!” umpat Marc, penuh amarah.

“Well, aku sudah mendengar masalahmu dan Laura dari Adel. Kau tahu? Seharusnya aku senang. Tapi, aku sadar ini sama juga menyakiti Laura. Asal kau tahu saja, aku juga mencintai gadis itu, jauh sebelum kau hadir dalam hidupnya. Aku ingin dia bahagia dan aku tahu kau adalah orang yang paling tepat untuk dia. Pergilah dan bawa dia pulang.”

Sejenak Marc tertegun, tidak menyangka pria yang menjadi saingan menyuruhnya untuk membawa pulang kebahagiannya. Untuk pertama kalinya sebuah senyuman kemudian terukir di bibir Marc. “Terima kasih,” ucapnya tulus.

***

Laura meninggalkan semua yang berbau pria itu. Bahkan untuk menyebut namanya saja Laura sudah enggan. Gadis itu juga sampai rela pindah negara agar kemungkinan bertemu dengan pria itu hanya di antara 1 banding 1000.

Laura masih sering menangis. Setiap hari tanpa menangis, rasanya itu bukan dirinya. Ia tidak bisa memulai segalanya dengan benar. Tapi, sekarang Laura bertekad untuk bangkit dari keterpurukannya. Ia tidak ingin lagi menangisi hancurnya hubungannya. Pria tidak hanya satu di dunia. Banyak. Mungkin ia harus mencoba untuk kembali membuka hatinya. Walaupun luka yang saat ini masih basah.

Sudah hampir 2 minggu Laura menetap di Bali, Indonesia. Di sini Laura tinggal bersama adik perempuan ibunya. Laura memanggilnya dengan sebutan Tante Tara.

Tante Tara sudah mengetahui masalah yang dihadapi oleh keponakannya dari ibu Laura sendiri. Jadi, beliau tidak banyak tanya saat Laura tinggal di rumah ini. Bahkan Tante Tara juga mengingatkan anak laki-lakinya, Petra yang lebih tua beberapa tahun dari Laura untuk tidak bertanya macam-macam.

“Kamu mimisan lagi?” Petra yang datang entah dari mana menyerahkan bungkusan tisu untuk sepupunya itu.

Mereka sedang berada di teras rumah. Laura lalu menerima bungkusan tisu itu dan menarik beberapa helai, dan menempelkan ke hidungnya yang berdarah. “Makasih, Kak,” ucap Laura.

“Kamu yakin nggak mau ke dokter buat meriksain mimisan kamu? Itu udah keseringan lho, Laura. Takutnya ada apa-apa lagi nantinya,” kata Petra.

“Aku nggak pa-pa kok, Kak. Cuma panas dalam biasa, makanya mimisan.”

“Yakin?”

Laura mengangguk.

“Petra…,” panggil Tante Tara dari dalam rumah. Tante Tara kemudian muncul. “Ke pasar gih. Ambil titipan Mama di Bude Atik. Oh, Laura mimisan lagi?” Tante Tara mendekati Laura dan melihat hidungnya.

“Nggak pa-pa kok, Tante. Hm, aku boleh ikut gak? Pengen liat pasar,” ucap Laura malu-malu.

“Boleh dong, Sayang. Lagian selama kamu di sini, belum pernah keluar ke mana-mana, kan? Ya udah, sekalian kamu jalan-jalan gih,” kata Tante Tara senang. Ini kemajuan. Laura yang biasanya tidak mau diajak ke mana-mana, sekarang malah menawarkan diri untuk ikut ke pasar. Setidaknya gadis itu mulai bangkit dari keterpurukannya sedikit demi sedikit.

Laura tampak bersemangat saat memasuki pasar yang masih terkesan tradisional, karena di Madrid tidak ada pasar yang seperti ini. Setelah mengambil barangan titipan Tante Tara, Petra kemudian mengajak Laura berkeliling di setiap sudut pasar. Walaupun tampak gembira, tapi Laura sedikit jijik saat berjalan melewati bagian penjual ikan. Ia tidak pernah suka dengan yang namanya ikan. Jangankan dimakan, mencium baunya saja sudah membuatnya mual.

“Kak, pulang yuk. Aku capek,” kata Laura. Petra pun membawa Laura pulang. Saat memasuki halaman rumah, Petra dan Laura tampak bersenda gurau. Petra belum pernah melihat Laura tertawa selebar itu. Melihat gadis itu tertawa benar-benar seperti sebuah keajaiban. Laura tampak cantik dengan senyum di wajahnya.

“Kayaknya ada tamu,” kata Petra pada Laura.

“Tau dari mana, coba? Sok tau ah, Kak Petra,” cibir Laura, kemudian tertawa lagi.

“Yaelah. Gak percayaan banget sih. Ini rumah aku. Ya, aku tahu dong kalau ada tamu di rumah. Tuh, liat aja sepatunya.” Marc mengarahkan bibirnya ke sepatu di depan rumah sederhana itu.

“Iya, iya deh. Kak Petra benar kali ini. Kira-kira siapa sih tamunya? Nyari aku gak ya?” tanya Laura, penasaran.

“Hei, kamu tuh bule di sini. Siapa coba yang nyari kamu. Ya, kecuali pak RT kali. Siapa tahu aja dikira bule nyasar,” canda Petra dan langsung dihadiahi cubit maut Laura.

“Kak Petra nyebelin deh,” sungut Laura cemberut.

“Bercanda.”

“Gak lucu.”

Petra dan Laura pun memasuki rumah. Tapi, begitu melihat siapa yang duduk di ruang tamu, wajah Laura yang semula berseri sontak berubah 180 derajat. Senyumnya hilang. Kenapa… pria itu bisa berada di sini?

Laura tidak memperhatikan ucapan tantenya yang menyambutnya. Ia merasakan dadanya begitu sesak. Luka itu kembali muncul ke permukaan. Tapi, walau begitu Laura juga tidak bisa memungkiri ada perasaan bahagia melihat Marc di sini. Terlebih Laura sangat menyukai, bahkan merindukan sorot tajam mata Marc. Sakit dan bahagia di saat bersamaan.

“Laura….” Marc berdiri dari tempat duduknya dan hendak mendekati Laura. Laura mundur dan secepat kilat gadis itu pun berlari keluar rumah. Marc langsung menyusul di belakang.

Secepat apa pun Laura berlari, kakinya tidak sepanjang Marc. Marc menangkap tubuhnya dengan cepat. “Lepas!” sentak Laura.

“Aku tidak akan melepasmu lagi, Laura. Untuk kali ini saja, kumohon dengarkan penjelasanku,” mohon Marc, tetap menahan tubuh Laura.

“Tidak perlu. Semuanya sudah jelas. Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Lepaskan aku!” Laura memberontak dan Marc semakin menguatkan cengkramannya di bahu Laura.

Namun, gerakan Laura semakin lama semakin melemah. Marc bisa merasakannya. Dilihatnya darah segar mengalir di bawah hidung gadis itu. Pandangan gadis itu juga mulai tidak fokus. Seketika tubuhnya limbung dan Marc dengan sigap menangkapnya.

***

“Tidak ada penyakit serius. Laura cuma kena alergi cuaca, keadaan di mana tubuh seseorang belum mampu beradaptasi dengan iklim. Itu sebabnya tubuhnya cepat lemas dan sering mimisan. Laura kurang cocok tinggal di daerah tropis.”

Penjelasan dari dokter cukup membuat Marc dan keluarga Laura lega. Memang mimisan yang dialami Laura awalnya membuat Petra dan Tante Tara khawatir. Untung saja itu cuma alergi cuaca.

Laura sudah siuman saat Petra dan Marc masuk ke ruang inapnya. Tante Tara sudah pulang ke rumah duluan karena ada urusan mendadak. Laura membuang muka begitu wajah Marc muncul di hadapannya.

“Kak Petra,” panggil Laura dengan suara lemah, begitu Petra berdiri tidak jauh dari bangkarnya.

“Iya, Laura?” tanya Petra, menggunakan bahasa Indonesia.

“Tolong suruh dia keluar. Aku nggak mau liat muka dia,” jawab Laura, sedikit perih.

“Bukannya aku mau ikut campur, Laura. Tapi, kamu harus ngasih dia kesempatan buat ngomong. Inget. Kamu udah gede. Jangan biarkan masalahnya berlarut-larut. Selesaikan dengan kepala dingin.”

Seusai berkata seperti itu, Petra pun beranjak dari ruang inap Laura. Tinggallah mereka berdua di dalam. Keheningan sempat tercipta sebelum Marc mengangkat suara.

“Laia tidak mengandung anakku, Laura. Tapi, kuakui kalau aku memang pernah bercinta dengannya. Aku minta maaf untuk yang satu itu. Aku….”

“Tidak perlu dilanjutkan. Aku sudah tahu. Scott dan Adel sudah mengatakannya padaku. Sudah selesai bicara? Kau bisa keluar sekarang,” ucap Laura dingin.

“Laura….” Marc terkejut diusir Laura seperti ini.

“Tidak ada yang perlu dibahas lagi. Semuanya sudah selesai. Kau dan aku sudah tidak ada apapun lagi. Ini yang terbaik. Kau hidup dengan jalanmu sendiri dan aku hidup atas pilihanku sendiri.” Laura memalingkan wajahnya. Lapisan bening mulai menggantung di matanya dan ia tidak ingin Marc melihatnya.

“Kau masih marah padaku karena penundaan pernikahan kita? Aku bersumpah dalam nama Tuhan, Laura. Aku tidak ingin menyia-nyiakanmu lagi. Aku tidak akan membiarkanmu menunggu lebih lama lagi. Kembalilah, kumohon,” pinta Marc tulus.

“Aku tidak bisa. Sangat sulit untukku untuk menerimamu kembali setelah apa yang terjadi. Aku lelah terus menerus merasa tersakiti. Cukup untuk semuanya.” Air mata Laura kembali merembes keluar.

“Tidak ada kesempatan untukku?” tanya Marc, mulai putus asa.

“Maaf. Aku tidak bisa memberinya,” putus Laura, dan lagi-lagi menyakiti mereka berdua. Mungkin inilah yang terbaik, pikir Laura.

***

Laura tidak perlu dirawat di rumah sakit dan diperbolehkan pulang pada sore harinya. Marc yang tidak kelihatan batang hidungnya saat ia pulang membuat Laura bertanya-tanya. Laura langsung dibawa ke kamarnya oleh Petra.

“Kamu harus banyak istirahat,” kata Petra, mengacak-acak rambut Laura.

“Kak, Marc mana? Kok gak keliatan?” tanya Laura heran.

“Hm, kangen ya?” goda Petra.

“Ih, apaan sih? Sembarangan. Kan aku cuma tanya,” sungut Laura.

“Ada kok. Tapi, kayaknya dia udah mau pulang,” kata Petra kalem.

“Pulang? Ke mana?” Laura mengerutkan keningnya.

“Ke Spanyol-lah, Laura.” Petra memperhatikan perubahan raut wajah Laura. Dalam hati ia tersenyum geli.

Cepat sekali, batin Laura. Ada ketidakrelaan dalam diri gadis itu begitu tahu Marc akan pulang. Laura mulai gamang. Kesesakan di dadanya bertambah.

Malam mulai menjelang dan Laura merasa tidak nyaman di tempat tidurnya. Ia terus memikirkan Marc. Pria itu akan pulang. Laura entah kenapa merasa sedih. Ia belum puas melihat wajah Marc. Walaupun saat di rumah sakit, ia terus-terusan membuang muka. Sedikit menyesal sebenarnya.

Jarum jam menunjukkan pukul 10 malam. Laura semakin gelisah. Ia tidak dapat memejamkan matanya. Dengan keadaan masih lemah, Laura nekad turun dari ranjangnya dan keluar dari kamarnya. Keadaan rumah sepi. Mungkin penghuni rumah lainnya sudah tidur.

Laura berjalan pelan menuju kamar tamu satu-satunya di rumah itu yang mungkin ditempati Marc. Laura mengetuk pelan pintu kamar itu sambil berdoa dalam hati semoga pria itu belum tidur. Tak lama, pria yang selalu memenuhi pikiran Laura membuka pintu dan terkejut melihat siapa yang mengetuk pintunya.

“Laura,” lirih Marc.

“Boleh aku masuk?” tanya gadis itu.

“Silakan.” Marc mempersilakan Laura masuk. Laura melihat ke sekeliling kamar itu dan matanya kemudian tertuju pada sebuah tas ransel yang terletak di atas tempat tidur pria itu. Sejenak Laura terpaku di tempat. Matanya menatap lurus ke tas ransel itu, seolah menguatkan bukti kalau Marc akan pulang.

“Kau akan pulang?” tanya Laura, beralih memandang Marc.

“Pesawatku akan berangkat jam 1 nanti.” Marc menjawab dengan perasaan tak menentu. Marc tidak dapat memungkuri, untuk menjawab satu kata itu saja sangat sulit untuknya.

Laura menarik napas berat. “Well, selamat jalan kalau begitu.” Ia membalikkan tubuhnya dan segera berjalan ke arah pintu. Diam-diam air mata gadis itu mulai merembes keluar.

“Laura….” Suara Marc tercekat, sarat akan frustrasi dan emosi. Hatinya juga tercabik begitu mendengar Laura hanya mengucapkan kalimat itu, kalimat yang semakin memperjelas perpisahan mereka.

Langkah Laura terhenti. Wajahnya sudah basah. Ini kesempatannya. Kesempatan terakhir sebelum Marc pergi. Ia sudah berjalan sejauh ini bersama Marc, bahkan hampir menikah. Apakah semudah ini ia terlepas dari pria itu? Apakah ia akan kuat menghadapi suramnya tanpa Marc di hidupnya?

Tidak. Laura tidak sekuat itu. Gadis itu kemudian memutar balik tubuhnya, berlari ke arah Marc dengan sisa-sisa tenaga yang tersisa. Laura menubruk tubuh Marc dan menangis di bahu pria itu.

Sejujurnya Laura marah kepada Marc. Ia ingin mempertanyakan apakah hanya segini saja pengorbanan pria itu untuk menyakinkan Laura untuk kembali padanya? Ia marah Marc menyerah begitu saja dan pulang ke Spanyol tanpa serta membawanya.

“Kau jahat, kau jahat, Marc. Kau jahat…,” isak Laura, memukul lemah bahu pria itu. Marc semakin mempererat dekapannya dan kepalanya ditenggelamkan ke rambut cokelat Laura. Air mata pria itu juga jatuh dan ikut membasahi helaian cokelat itu.

“Aku minta maaf, Laura. Sungguh aku minta maaf,” ucap Marc, ikut terisak.

Laura menjauhkan tubuhnya dari Marc. Dengan mata penuh air mata, ditatapnya wajah Marc yang juga basah oleh air mata. Laura sadar ia sangat merindukan wajah ini. Mata, hidung, alis, bibir, semuanya. Dengan tarik satu napas, Laura pun berucap, “boleh aku ikut bersamamu?”

Marc melebarkan matanya. Apa ia tidak salah dengar? Laura bertanya padanya. Laura meminta sesuatu pada dirinya. Tercipta keheningan sesaat sebelum seulas senyum lantas mengembang di wajah Marc. Dengan perasaan haru, direngkuhnya pipi Laura. Marc mendekatkan wajahnya dan menjawab, “tanpa kau minta pun, aku akan tetap membawamu pulang, Laura. Karena kau adalah rumahku, tempat di mana seharusnya aku berada, bersamamu.”

End

Well, ending tak sesuai harapan. Seharusnya ada adegan adu jotos. Tapi, ntah kenapa jadi hilang arah begitu. Hmmm…. Btw, thanks for reading😉

One thought on “TWOSHOT : Once Upon A Time #2 – END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s