TWOSHOT : Once Upon A Time #1

Adakah yang baru selain ff ini? Yeah, lagu background blog aku😀 Spesial sengaja kuubah biar menambah feel baca cerita ini. Itu lagunya cuma diputar sekali. Karena durasinya pendek, bagi yang mau mendengarkan lagi harus menekan play-nya sendiri di music player. Okeiii, mari kita bahas ff. Agar tidak terjadi kebingungan, bagi yang belum baca Sweet Accident on Holiday, kalian bisa baca di sini. Karena cerita ini adalah sekuel dari SAoH. 

PS : Ini ceritanya rada garing dan membosankan. Happy reading…

Gelap. Rasanya kembali ke beberapa hari yang lalu, terjebak di badai salju dan hampir mati karena kedinginan. Tapi, kali ini sedikit berbeda. Laura terjatuh di tumpukan salju, tepat berada di bawah rerimbunan pohon pinus yang mulai memutih. Di sana Laura sendirian, tanpa adanya tanda-tanda Marc akan datang menolongnya.

Waktu terasa begitu lambat dengan setiap detiknya. Laura merasakan sakit yang menusuk-musuk tubuhnya, mematikan seluruh syaraf tubuhnya. Kali ini gadis itu merasa kematian memang akan datang menjemputnya.

Hal terakhir yang diingatnya sebelum matanya benar-benar tertutup adalah bayangan wajah Marc yang melintas di kepalanya dan tersenyum padanya. Rasanya ia akan kehilangan Marc segera.

***

04.27 AM

Laura bergerak gelisah dalam tidurnya. Raut wajahnya tampak resah dan butiran keringat juga tampak membasahi dahi, pelipis dan lehernya. Berkali-kali bibir mungilnya menggumam tidak jelas.

Marc yang tidur di sofa samping tempat tidur Laura lantas terbangun dan segera menghampiri gadis itu. Pria itu tidak lagi mempedulikan rasa kantuk yang menyerangnya. Padahal ia baru tidur kurang dari 4 jam.

Marc menyibak rambut Laura, kemudian jari-jarinya mengusap dahi gadis itu dengan penuh sayang. “Sstt, Sayang. Hei…, bangunlah,” panggil pria itu seraya terus menerus mengusap wajah Laura.

Laura masih memejamkan matanya. Raut wajahnya kian mengerut dan kepalanya mulai bergerak ke kiri dan ke kanan. Marc kemudian menepuk lembut pipi Laura, berusaha membangunkannya sembari terus memanggil namanya.

“Laura…. Sayang, bangunlah. Kau hanya mimpi buruk. Bangunlah…. Ssttt….” Marc mendekatkan wajah Laura dan membisikkan kata-kata ke telinganya.

Laura membuka matanya dengan ekspresi terkejut. Pandangan matanya kosong. Napas gadis itu tersengal-sengal seperti baru saja berlari maraton. Marc kemudian merengkuh wajahnya, mencoba mengembalikan fokus gadis itu dan padangannya tertuju pada Marc.

“Marc…,” ucap Laura, sangat pelan.

“Mimpi buruk, hm?” tanya Marc sembari mengelus pipi gadis itu.

Laura mengangguk lemah. “Sangat buruk.”

“Mau berbagi denganku?” Marc memandang Laura penuh kasih, seolah bisa memahami perasaannya.

“Aku….” Laura memejamkan matanya, cukup lama. Marc pun mengambil inisiatif duluan. “Baiklah, kalau kau tidak ingin memberitahuku, aku tidak akan memaksa. Tidurlah. Kau butuh banyak istirahat karena nanti pagi kita akan pulang ke Madrid.”

Marc menarik selimut dan menyelimuti tubuh Laura. Ia kemudian mengecup dahi Laura. “Tidurlah,” ucap Marc sembari tersenyum hangat sebelum ia kembali berbaring di sofa.

Laura tidak bisa memejamkan matanya lagi. Rasa kantuknya hilang, diganti dengan kecemasan yang mengerubungi hatinya. Entah kenapa ia merasa tidak enak. Seolah ada hal yang buruk, sangat buruk yang akan datang. Apa karena pengaruh mimpi itu? Tapi seburuk-buruknya mimpi yang pernah Laura alami, ia tidak pernah sampai merasa seperti ini. Astaga! Semoga saja ini hanya perasaannya.

***

Madrid, Spain

Tak ada yang lebih baik daripada pulang ke rumah sendiri. Ya, hari ini Marc dan Laura akan pulang ke Madrid. Penerbangan dari Swiss menuju Spanyol sendiri memakan waktu beberapa jam. Wajah Laura masih tampak pucat, dan membuat Marc jadi sedikit khawatir dengan kondisi calon istrinya itu.

“Aku rasa kita harus ke rumah sakit sekarang,” ucap Marc sambil menyetir mobilnya setelah mendarat dari pesawat jet pribadinya.

Laura yang mendengar hal itu sontak memandang tak senang ke arah Marc. “Tidak perlu, Marc. Aku baik-baik saja. Hanya saja aku masih sedikit kelelahan setelah….”

Ucapan Laura langsung dipotong Marc. “Tapi, wajahmu semakin pucat.”

“Aku. Baik. Baik. Saja. Percayalah padaku,” kata Laura dengan penekanan di setiap kata-katanya.

Marc tidak mendebat lagi. Saat ia membelokkan mobil ke arah berlawanan dari jalan menuju ke apartemen Laura, gadis itu lantas protes. “Ini bukan jalan menuju apartemenku, Marc.”

“Memang tidak. Untuk sementara ini kau tinggal dulu di apartemenku agar aku bisa memantau kondisimu.”

“Tapi….”

“Laura!” tegur Marc pelan.

Laura terdiam, tidak membantah lagi. Toh, pada akhirnya ia kalah dan Marc menang. Mobil yang melaju itu kemudian berhenti di depan gedung apartemen mewah. Marc menuntun Laura keluar dari mobil. Saat di lift pun, tak sedetik pun Marc melepas pegangannya pada tubuh Laura, seolah gadis itu akan tumbang jika tidak dipegang olehnya.

Walaupun sudah beberapa kali Laura menginjakkan kakinya di apartemen Marc, ia merasa asing di sini. Entah perasaannya atau apa, ia merasa tidak nyaman di sini. Namun, bibirnya kelu untuk berucap pada Marc mengenai hal ini.

Marc membawa Laura masuk ke kamar yang ia tempati dan membaringkan gadis itu di atas tempat tidur. Seketika Laura mencium bau khas tubuh Marc yang tertinggal di tempat tidur itu.

“Istirahatlah,” ucap Marc, tersenyum hangat padanya. Kepala pria itu perlahan turun di atasnya dan Laura merasakan bibir hangat itu menyentuh keningnya. Bukannya merasa nyaman, tapi Laura malah merasa aneh dan lagi-lagi tidak nyaman dengan perlakuan Marc itu. Sekilas memang tampak normal, seperti semalam saat Marc mengecupnya dan menyuruhnya istirahat. Tapi, kali ini Laura menemukan ada perbedaan. Dan ia tidak tahu apa itu.

Laura menatap nanar ke arah Marc setelah wajah itu agak menjauh darinya. “Kau tidak akan pergi, kan?” tanya Laura, bergetar.

“Aku akan di si….”

Ucapan Marc terpotong dengan bunyi ponselnya. Marc merabah saku celananya, mengambil benda pipih itu, kemudian menempelkannya ke telinga. “Halo,” jawabnya.

“….”

“Iya, ada apa, Mia?”

“….”

“Apa? Bagaimana bisa itu terjadi?”

“….”

“Baik-baik. Aku akan ke sana segera. Tolong kau hubungi seluruh dewan direksi. Kita akan rapat.”

“Laura.” Marc memasukkan ponselnya kembali ke saku, kemudian memandang Laura dengan perasaan bersalah.

“Kau akan pergi?” tanya Laura pelan. Tapi, Marc bisa mendengar nada perih dari pertanyaan gadis itu.

“Aku benar-benar minta maaf. Ada kecelakaan proyek pembangunan stadion dan… aku harus ke sana sekarang. Sekali lagi aku minta maaf,” ucap Marc, sangat merasa bersalah. Pria itu merasa jahat sekali. Padahal baru tadi Laura menanyakan apakah ia akan pergi, dan saat ia ingin menjawab akan tinggal bersamanya di sini, semuanya berantakan gara-gara panggilan masuk itu.

Laura, antara kesal dan sedih. Saat ia sakit pun, kesempatan untuk bersama Marc masih saja sedikit. Laura memejamkan matanya sejenaknya.

Aku tidak boleh egois. Marc memiliki urusan yang sangat penting sekarang. Kau tidak boleh egois, Laura. Biarkan dia pergi, jangan egois.

Tapi di sisi lain, ia sangat tidak rela Marc pergi. Ia tidak ingin Marc sedikit saja beranjak dari sisinya. Seolah ia akan pecah seketika jika pria itu meninggalkannya.

Akhirnya, setelah mendebat pada dirinya sendiri, Laura kemudian berucap dengan pasrah, “pergilah.”

Marc sadar betul dan sangat tahu Laura sama sekali tidak ikhlas mengucapkan kata itu. Tapi, ini urusan penting dan ia tidak bisa menundanya.

Marc kembali mengecup kening Laura dan berkata, “aku janji setelah semuanya selesai, aku akan segera pulang, Laura. Aku mencintaimu.”

Lagi. Laura membeku di tempat. Dua kata terakhir Marc membuat napasnya tertahan. Bukannya semakin ikhlas membiarkan Marc pergi, tapi hatinya semakin sakit dan tidak rela pria itu beranjak. Ia ingin menahan Marc di sini, bersamanya.

Marc sudah mengenakan jas kantornya yang diambilnya dari lemari pakaian. Pria itu mendekati Laura lagi. “Aku pergi,” ucapnya singkat dan membuat Laura tercekat. Marc kemudian berjalan menuju pintu keluar kamar ini.

Jangan pergi, Marc! teriak Laura dalam hati. Tiba-tiba Laura merasa begitu ketakutan sekarang saat tubuh Marc berbalik dan berjalan ke arah pintu. Air matanya lantas merembes turun dari sudut matanya. Ia terisak. Laura ingin bersikap egois sekarang. Ia benar-benar membutuhkan pria itu di sampingnya. Ia tidak bisa sendirian di sini, di tempat asing yang membuatnya tidak nyaman.

“Marc,” teriak Laura histeris dan tangan Marc yang hendak memutar kenop pintu pun terhenti di udara. Marc sontak berbalik dan terkejut melihat tubuh Laura yang setengah berbaring di tempat tidurnya dan… dengan wajah penuh air mata. Marc bergerak dengan jantung berpacu cepat. Kaki-kakinya kembali mencapai tempat tidur dan dengan sigap membawa Laura ke dalam pelukannya.

“Jangan pergi. Kumohon, jangan pergi. Aku tidak ingin sendiri, Marc. Aku takut. Kumohon, jangan pergi,” erang Laura dalam pelukan Marc.

Selama menjalin hubungan, Marc tidak pernah melihat Laura dalam keadaan serapuh ini. Marc kini lebih merasa bersalah lagi. Ia dilanda dilematis, antara gadis yang dicintainya dan perusahaan yang sedang membutuhkannya. Ia harus memilih di antara salah satunya.

“Aku tidak meninggalkanmu jika itu yang kauinginkan, Sayang. Aku minta maaf,” kata Marc, mempererat pelukannya. Ia sudah memutuskan. Tangannya kembali mengeluarkan ponsel di saku celananya.

***

Keadaan Laura mulai pulih seiring berjalannya waktu. Gadis itu juga masih tinggal di apartemennya Marc. Hari-harinya juga diisi dengan berbagai kecerian, tawa dan kebahagian yang diberikan Marc padanya. Mereka juga sudah merencanakan tanggal pernikahan dan mengatur segala tetek-bengek lainnya. Ya, tinggal menunggu waktu saja. Satu minggu lagi.

Malam ini Marc berencana mengajak Laura makan malam di luar. Gadis itu tampak cantik mengenakan gaun hitam selutut dan berpotongan dada tidak terlalu rendah. Sedangkan, Marc mengenakan jas berwarna abu-abu yang dipadukan dengan kemeja putih bergaris-garis. Pria itu sangat tampan.

Makan malam mereka semula berjalan lancar. Tapi, ada yang aneh dengan sikap Marc malam itu. Laura tidak ingin bertanya ada apa. Ia tidak ingin merusak makan malam pertama mereka di luar.

“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Laura, saat perjalanan pulang mereka.

Marc yang sedang mengemudikan mobilnya tampak ragu-ragu. “Sebenarnya ada sesuatu penting yang ingin kuberitahukan padamu,” kata Marc sedikit tidak enak.

“Sesuatu penting apa maksudmu?” sahutnya. Laura memperhatikan perubahan wajah Marc yang tak seperti biasanya.

Butuh waktu semenit sebelum Marc memulai kembali ucapannya. “Ada beberapa masalah besar yang terjadi di perusahaan. Aku ingin mengatasinya sebelum hari penikahan kita, Laura. Tapi, itu butuh waktu hingga 3 minggu. Jadi, kupikir….”

“Kau ingin kita menunda pernikahan kita?” potong Laura, dingin. Sesuatu langsung muncul dari dalam hati Laura. Gadis itu tidak habis pikir dengan jalan pikiran Marc yang terkesan tidak konsisten itu. Pria itu yang ingin mempercepat pernikahan mereka, tapi sekarang dengan seenaknya Marc bilang ingin menundanya. Dan, parahnya ini semua diputuskan sepihak oleh Marc sendiri. Laura benar-benar tidak bisa terima.

“Aku minta maaf, Laura. Tapi ini benar-benar mendesak dan demi kelancaran perusahaan,” ucap Marc lagi.

“Demi kelancaran perusahaan? Dan kau tidak memikirkan bagaimana nasib pernikahan kita? Kenapa sih selalu perusahaan dan perusahaan yang kaupikirkan? Kau anggap aku ini apa, hah? Kau seenaknya memutuskan segala sesuatu tanpa meminta persetujuanku. Mempercepat pernikahan kita dan sekarang kau bilang menundanya. Kau pikir aku mau mengikuti semua keputusanmu? Sepenting apa urusan perusahaanmu itu? Apa lebih penting daripada aku? Aku benar-benar muak denganmu, Marc!” seru Laura marah.

“Bukan begitu, Laura. Kau tetap menjadi orang terpenting dalam hidupku. Aku hanya….”

Bullshit!” umpat Laura.

“Laura, dengar. Aku tidak akan mungkin menundanya jika tidak benar-benar mendesak. Aku mohon pengertianmu.” Konsentrasi Marc sedikit mengendur saat berbicara dengan Laura. Pandangan pria itu sebentar-sebentar ke arah Laura dan sebentar-sebentar ke jalan raya.

“Seharusnya dari awal aku sudah bisa menebak sulitnya hidup bersama laki-laki super sibuk seperti. Urusi saja perusahaanmu itu dan kita tidak usah menikah saja sekalian,” ucap Laura, penuh penekanan pada setiap kata-katanya.

“Laura! Aku tidak bilang tidak mau menikah denganmu,” tegas Marc, ikut marah.

“Kenyataannya begitu, kan?” balas Laura, keras.

“Jangan egois, Laura,” tegur Marc.

“Aku tidak egois! Tapi, kau yang tidak punya perasaan,” hardik Laura dan kemudian membuang mukanya ke arah jendela. “Hentikan mobilnya,” desis Laura. Marc tidak menurutinya, malah menambah kecepatan mobilnya.

“AKU BILANG HENTIKAN MOBILNYA!!!” seru Laura, lebih marah. Marc langsung menepikan mobilnya karena ia tahu sifat Laura yang nekat dan khawatir gadis itu membuka pintu mobil dan melompat ke jalan raya.

Laura keluar dari mobil Marc dan membanting pintu dengan kuat. Gadis itu langsung berjalan ke arah yang berlawanan dengan mobil Marc.

“Laura… Laura, kembali!” seru Marc, masih di dalam mobil. Laura tidak memedulikan Marc. Ia terus berjalan sembari menahan tangis yang sudah hampir pecah. Ia sudah muak, benar-benar muak dengan Marc. Padahal tinggal seminggu lagi pernikahan mereka. Hancur sudah. Semuanya sudah hancur sekarang.

***

Laura tidak pulang ke apartemen Marc, melainkan ke apartemennya. Ia sudah tidak ingin bertemu dengan pria itu. Kakinya melangkah gontai masuk ke lobi gedung. Wajahnya sembab dan penampilannya juga berantakan.

Saat Laura berjalan di korindor gedung, ia melihat Marc di sana, berdiri dengan tangan bertopang pada pintu apartemennya. Laura kemudian berjalan cepat menuju pintu apartemennya dengan tampang tak acuh.

“Laura,” panggil Marc, mencoba menyentuh legan Laura, tapi langsung ditepis begitu saja oleh gadis itu. “Kumohon, dengarkan aku, Laura.”

Laura memasukkan kartu kuncinya, setelah pintunya terbuka, gadis itu langsung masuk dan menutup pintunya dengan kasar. Laura memejamkan matanya dan tubuhnya masih bersadar pada pintu apartemen. Di luar ia mendengar Marc memanggil namanya dan merasakan getaran dari gedoran pintu. Lagi-lagi air matanya jatuh. Hatinya sakit. Ia benar-benar kecewa pada pria itu.

***

Sudah seminggu berlalu. Seharusnya hari ini adalah hari pernikahannya Marc dan Laura. Laura termenung, memandangi surat undangan yang ia pegang. Ini surat undangan pernikahannya. Tapi, ini sudah tidak berarti lagi. Tidak ada pernikahan dan tidak akan pernah ada pernikahan selama Marc masih mementingkan perusahaannya. Laura sudah lelah. Gadis itu merasa dipermainkan, walaupun ia tahu Marc bukan lelaki yang suka mempermainkan wanita. Tapi, tetap saja sikap pria itu membuat Laura sakit hati.

Seminggu tanpa ada kontak dengan Marc. Laura tidak pernah mengaktifkan ponselnya sejak malam itu. Gadis itu juga tidak mempedulikan Marc yang terus menerus menekan bel apartemennya hingga pria itu lelah. Lagipula sudah 3 hari Marc tidak menekan belnya lagi.

Laura merasa tidak nyaman dengan kondisinya seperti ini. Tapi, ia juga belum ingin bertemu Marc dulu. Ia masih butuh waktu.

***

1 bulan berlalu, dan Laura masih belum juga memaafkannya. Marc memijat rahangnya di tengah kesibukannya membaca setumpuk berkas di mejanya. Kepalanya lagi-lagi dipenuhi oleh wajah gadis itu. Marc sangat merindukannya dan tidak tahu harus bagaimana caranya  agar ia bisa bertemu dengan Laura. Memang semua masalah sudah selesai sesuai dengan prediksinya, 3 minggu. Tapi, itu tidak mengubah apapun. Gadis itu sulit untuk ditemui. Marc sering berkunjung ke apartemen Laura, menekan bel hingga jari-jarinya bengkak. Ponsel Laura juga tidak pernah aktif. Marc frustasi dan fokusnya sering pecah karena memikirkan gadis itu di tengah pekerjaannya.

Pikiran Marc terusik oleh suara ribut-ribut di luar ruangannya. Kemudian, pintu terbuka dan sekretarisnya, Mia tampak sedang menarik keluar seorang gadis yang memaksa masuk ke dalam ruangannya. Marc memperhatikan saksama gadis itu, kemudian menyipitkan matanya. Mau ada dia datang kemari? tanya Marc dalam hati.

“Aku minta maaf, Tuan. Aku sudah mengatakan bahwa kau sedang sibuk. Tapi, orang ini memaksa masuk,” ucap Mia, dengan wajah menunduk.

“Tidak apa-apa, Mia. Kau bisa kembali bekerja,” kata Marc. Mia pun keluar dari ruangan Marc.

“Hai, Marc,” sapa gadis itu ceria.

“Aku sudah pernah memperingatkanmu untuk jangan pernah mencariku lagi,” semprot Marc langsung.

“Kau ini kenapa sih? Kan aku hanya berkunjung. Lagipula aku punya sesuatu penting yang ingin kuberitahukan kepadamu,” sungut gadis itu sambil mengambil tempat duduk di hadapan Marc.

“Ada apa?” tanya Marc, langsung to the point.

Gadis itu membuka tas tangannya dan mengeluarkan sebuah benda tipis kecil berwarna putih. Ia kemudian menyodorkannya ke hadapan Marc. Marc sontak membelakkan syok. 2 garis itu….

“Aku hamil dan kau harus bertanggung jawab.”

Suara pintu terbuka kembali mengejutkan Marc dan kali ini ia benar-benar terkejut. Laura berdiri membeku di sana dengan tangan terangkat di depan bibirnya. Mata gadis itu sarat akan kekecewaannya.

***

Laura kembali mengaktifkan ponselnya setelah sebulan berlalu sejak kejadian malam itu. Seketika wallpaper di layar ponselnya langsung menohok hatinya. Hatinya nyeri melihat seorang gadis dengan senyum manis di bibir yang direngkuh pinggangnya dari belakang oleh seorang pria. Laura tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia sangat merindukan sosok Marc.

Tak selang berapa lama, ponselnya kemudian dipenuhi oleh ratusan bahkan ribuan panggilan masuk dan pesan singkat. Semuanya berasal dari Marc.

Pesan 1

…Aku ingin kita bicara, Laura…

Pesan 2

…Aku merindukanmu…

Pesan 3

…Sampai kapan kau akan terus bersikap seperti ini?…

Pesan 4

…Tidak adakah kesempatan untukku lagi?…

Pesan 5

…Laura, aku benar-benar menyesal…

Pesan 6

…Sampai kapan kau akan terus menyiksaku?…

Pesan 7

…Laura, aku benar-benar merindukanmu….

Pesan 8

…Aku minta maaf…

Pesan 9

…Kumohon, berhenti menyiksaku, Laura…

Pesan 10

…Aku tidak bisa hidup tanpamu…

Laura tidak sanggup membaca semua pesan singkat itu. Ia tidak tahan lagi. Gadis itu langsung mengambil mantelnya dengan cepat dan keluar dari apartemennya. Hanya satu tempat yang akan ditujunya. Kantor pria itu.

Sepanjangan perjalanannya, Laura mencoba menyusun kata yang pas untuk diucapkan saat bertemu dengan pria itu. Sesampainya Laura di sana, ia langsung menuju ke ruangan Marc.

Dari kejauhan, Mia yang melihat Laura datang lantas berdiri. “Apa Marc ada?” tanya Laura, sedikit bergetar saat menyebut nama pria itu.

“Ada, Nona. Tapi, beliau sedang ada tamu,” jawab Mia sopan.

“Tamu?” Laura mengerutkan keningnya. “Sudah lama?” tanya Laura lagi.

“Baru saja, Nona.”

Entah apa yang merasuki Laura, gadis itu langsung masuk ke ruangan Marc. Tapi, gerakan kakinya terhenti saat kata-kata itu meluncur dari mulut seorang gadis yang sedang duduk di hadapan Marc.

“Aku hamil dan kau harus bertanggung jawab.”

Dunia Laura seketika runtuh. Setetes air bening kemudian meluncur begitu saja di sudut matanya. Laura menatap tajam ke arah Marc, meminta penjelasan atas apa yang terjadi di sini.

“Siapa dia, Marc?” tanya gadis yang duduk di hadapan Marc.

Marc tidak mempedulikan pertanyaan gadis itu. Pria itu kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Laura. Marc mencoba menyentuhnya, tapi untuk kesekian kalinya Laura menepisnya dengan kasar.

“Aku menunggu penjelasanmu,” desis Laura perih.

“Laura….” Marc tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia tidak berani menyangkal kalau semuanya bohong. Karena Marc memang pernah bercinta dengan gadis itu.

“Dia mengandung anakmu.” Itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan dan Marc tidak membantahnya. Air mata Laura semakin mengalir deras. Tangannya terangkat dan meredam tangisannya.

“Aku minta maaf, Laura. Aku benar-benar minta maaf!” ucap Marc, kembali ingin menyentuh Laura. Tapi, Laura buru-buru mundur beberapa langkah.

Hampir setengah menit yang terdengar hanya suara tangisan Laura. Marc tidak tahu harus berbuat bagaimana lagi. Sementara gadis di belakang mereka justru tampak tertarik dengan adegan di depannya.

“Kau bilang kau merindukanku, kau bilang kau benar-benar menyesal, kau bilang kau tidak bisa hidup tanpaku, bahkan kau menyuruhku berhenti menyiksamu. Tapi kenyataan apa yang kaulakukan, Marc? Kau menebar benihmu di rahim gadis lain. Sebenarnya apa maumu?” teriak Laura emosi.

“Aku minta maaf, Laura. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku khilaf,” sesalnya. Mata Marc tampak memerah.

“Apa salahku padamu, Marc? Apa salahku? Kenapa kau mempermainkanku? Kenapa kau terus-terusan menyakitiku? Apa salahku padamu? Kenapa kau begitu jahat padaku? Kenapa, Marc?” Tangisan Laura membuat hati Marc pilu. Pria itu sangat menyesal.

Laura coba untuk meredakan tangisannya. Tatapannya kemudian mengarah pada gadis itu. “Kurasa tidak ada lagi yang perlu dipertahankan. Kuharap kau bahagia, Marc. Dan… selamat untuk calon bayimu.”

Usai berkata seperti Laura pun pergi meninggalkan kantor Marc. Hatinya hancur, sangat hancur. Marc bukan miliknya lagi dan tidak akan pernah menjadi miliknya. Seharusnya ia sudah tahu itu sejak awal.

To Be Continued

Note : Budayakan komen setelah membaca ya, Guys. Tapi, aku gak maksa. Cuma aku pengen lihat sebesar apa sih penghargaan kalian terhadap karya aku. Thanks for reading. Next part bakal nyusul secepatnya. Btw, Merry Christmas ya….😉

6 thoughts on “TWOSHOT : Once Upon A Time #1

  1. Kak aku suka banget sama ceritanya. Tapi, aku punya saran..sekali lagi cuma saran. Kupikir seharusnya kakak menyelesaikan cerita yang ditulis sebelum-sebelumnya terlebih dahulu baru buat cerita lain lagi biar nggak berhenti di tengah jalan. But i really love about your story, and happy x’mas to

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s