Mini FF : Midnight Rain…

Karena terlanjur janji semalem mau ngepost ff, tapi kutarik lagi ucapanku *ciri-ciri orang gak konsisten #labil* karena mau kurevisi. Nah, sebagai gantinya aku post mini ff. Fyi, mini ff ini bakalan jadi scene di ff The One That Got Away. Episode ke berapa? Aku gak tauuu…. #kabur Happy reading

WARNING : INI HANYALAH SEBUAH CERITA FIKSI DAN TIDAK BENAR-BENAR TERJADI DALAM KEHIDUPAN NYATA!

Hujan lebat disertai kilat mengguyur kota Sydney tengah malam itu. Marc langsung terjaga dari tidurnya saat mendengar petir yang menyambar kaca hingga menimbulkan bunyi menggelar. Marc kemudian bergerak dari tempat tidurnya dan mencoba menekan sakelar lampu di nakas samping ranjang. Berkali-kali ia menekan tombolnya dan lampunya tidak menyala. Apa mati lampu? pikirnya dalam hati.

JEDEEERR!!!!

Tubuh Marc tersentak karena terkejut mendengar petir itu. Tiba-tiba saja wajah Estelle melintas di kepalanya. Gadis itu apa kabar ya? Apa Estelle terjaga dari tidurnya juga seperti Marc?

Marc bangkit dari tempat tidurnya dan meraba-raba laci di meja terdekatnya. Ia kemudian menemukan senter dan menghidupkannya. Marc keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Estelle. Di luar masih terdengar petir saling sahut-sahutan, bahkan terdengar lebih kencang lagi dan sedikit menakutkan.

Marc membuka pintu kamar Estelle dan setika di saat bersamaan dengan bunyi sambaran petir, di saat itu pulalah jeritan Estelle memenuhi setiap sudut ruangan. Jerit ketakutan.

 

***

Estelle mulai gelisah saat hujan tiba-tiba saja turun disertai petir yang awalnya terdengar lemah, lama-lama menjadi kencang. Ia tidak bisa tidur. Detak jantungnya berdegup kencang. Estelle mencoba memejamkan matanya. Tapi, hal itu malah memperburuk keadaan. Ia benci petir. Seumur hidupnya ia selalu dibayangi oleh kejadian malam itu, malam setelah Adriana dikebumikan dan malam pertama kalinya Estelle melihat Casey mabuk-mabukkan.

Saat itu hujan lebat disertai petir. Estelle kecil coba mendekati Casey yang mabuk. Tapi, di luar dugaan, perlakuan kasar langsung didapatkannya. Casey mungkin tidak sadar. Tapi, Estelle akan selalu mengingat kejadian itu.

Casey menamparnya dengan kuat. Estelle kecil terjerembab di lantai dan Casey tidak mempedulikannya. Estelle kecil kemudian berlari ke kamarnya dan menangis. Di tengah petir yang bergemuruh ia menjerit sejadi-jadinya. Ia marah pada Casey, ia marah pada Tuhan yang telah mengambil ibunya. Keadaan semakin diperparah dengan petir yang kemudian mulai menyambar dan menambah ketakutan Estelle kecil.

Estelle membuka matanya. Air mata perlahan merembes turun dari sudut matanya. Hatinya masih sakit mengingat kejadian itu.

JEDEEERR!!!

Estelle menjerit saat petir tiba-tiba saja menyambar dan kilat masuk melalui jendela kacanya. Tubuhnya mulai gemetaran. Seperti deja vu, mata gadis itu seperti melihat adegan dirinya sendiri saat kejadian Estelle kecil yang ditampar Casey. Estelle bisa merasakan sakit di pipinya.

Estelle mencoba mengenyahkan adegan itu. Gadis itu menutup telinganya dengan kedua tangan dan menggeleng-gelengkan kepalanya seolah dengan begitu semuanya bisa berakhir. Ia tidak ingin memutar ke masa lalunya. Tapi, ia tidak bisa. Ia terjebak dan tertahan karena kejadian itu.

JEDEEERR!!!

Estelle menjerit lagi, sangat histeris. Ia mulai menangis. Tapi, di saat itulah sesosok tubuh langsung berlari ke arahnya dan membungkusnya dengan sebuah pelukan. Estelle menangis di bahu bidang itu dan tubuh itu semakin erat memeluknya dan membelai rambutnya.

“Estelle… Estelle…. Sssttt, ini aku, Marc,” bisik Marc di puncak rambut gadis itu.

“Aku takut, aku takut, aku takut…,” tangis Estelle histeris.

“Jangan takut, Estelle. Tenanglah, aku di sini,” ucap Marc sembari mengusap punggung Estelle.

“Kau tidak akan pergi, kan? Kumohon, Jangan pergi. Tinggallah bersamaku di sini. Aku takut….” Estelle mencengkram kaos belakang Marc. Wajahnya semakin ia tenggelamkan ke cekungan leher Marc.

“Aku tidak pergi dari sisimu, Estelle. Aku akan di sini, bersamamu… ssttt,” bisik Marc lagi.

Kata-kata Marc seperti mantra pengusir takut. Terbukti Estelle tidak lagi menjerit histeris saat petir menyambar lagi. Gadis itu hanya butuh dada Marc untuk merasa tenang. Ia merasa sangat aman berada di dekapan laki-laki itu.

***

Suara cicitan burung memulai awalnya pagi yang cerah. Estelle menggeliat dalam tidurnya. Ia merasa agak gerah dan ruang geraknya terbatas. Terlebih ia merasakan ada sentuhan di bagian punggung dan sekitaran pinggangnya. Matanya perlahan terbuka dan mendadak tubuhnya membeku di tempat. Tubuh siapa ini?

“AAAKHH!!!”

Jeritan Estelle lantas membuat Marc bangun dari tidurnya. Marc masih setengah sadar dan matanya juga setengah terpejam.

“Ada apa?” tanyanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.

“Kau masih berani tanya ada apa? Sialan kau! Dasar bajingan!” Dengan sadisnya Estelle langsung mendorong tubuh Marc hingga laki-laki mendarat di lantai dengan suara mendebum.

“Awwww….,” ringis Marc sembari memegang bokongnya. Kesadarannya mulai sepenuhnya kembali.

“Keparat! Berani-beraninya kau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kau benar-benar bajingan sialan!” maki Estelle marah.

“Hei!” balas Marc. “Siapa yang mengambil kesempatan dalam kesempitan? Kan kau sendiri yang memohon-mohon padaku agar tidak meninggalkanmu. Dasar gadis tak tahu diuntung. Masih baik aku mau menemanimu,” gerutu Marc, berusaha berdiri dengan raut meringis kesakitan.

“Tapi, kau sudah tidur di ranjangku, bodoh!” seru Estelle kesal. “Dan… kau juga….” Estelle tidak melanjutkan perkataannya. Pipinya bersemu merah.

“Menidurimu?” Marc mengusap-ngusap bokongnya. “Asal kau tahu saja ya, aku sama sekali tidak bernapsu dengan gadis kecil sepertimu. Jadi kau jangan berpikiran yang macam-macam,” ujarnya.

“Tapi, kau menyentuhku!” seru Estelle lagi. “Dan… siapa tahu saja kau memang mengambil kesempatan semalam. Dasar bajingan!” Estelle melempari Marc dengan bantal dan boneka yang berada di sekitarnya. Marc yang mencoba menangkis tetap saja kena lemparan.

“Cukup! Cukup, Estelle! Aku bilang cukup!” Marc kemudian melemparkan dirinya pada Estelle dan menangkap tangan gadis itu agar tidak melempar bantal ke arahnya lagi. Estelle memberontak karena posisi tubuh mereka sangat dekat. Jantung Estelle kembali berdegup kencang.

Marc menatap serius ke arah Estelle. “Dengar! Aku bukan laki-laki licik yang akan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kalau pun aku mau, aku juga tidak akan melakukannya denganmu. Kau masih kecil dan tidak mengerti apa-apa. Jadi jangan berpikiran yang aneh-aneh.”

“Kau bohong,” tuduh Estelle, memberontak lebih keras lagi. Tapi, kekuatannya tidak lebih besar daripada Marc. Dan entah karena gerakkan siapa, posisi tubuh mereka yang sudah dekat kini tidak berjarak lagi. Marc kemudian jatuh menindih tubuh Estelle dan membuatnya semakin panik.

“Pergi dari tubuhku sekarang juga!” jerit Estelle sembari mendorong tubuh Marc kuat. Tapi, Marc tidak bergerak, malah sengaja membiarkan posisi tubuhnya seperti ini.

“Sampai kapan kau baru bisa memepercayaiku?” tanya Marc.

“Kau jenis laki-laki yang tidak bisa dipercayai. Singkirkan tubuhmu sekarang juga,” bentak Estelle.

“Aku tidak menyentuhmu,” bela Marc.

“Oh ya? Bagaimana bisa aku percaya kalau dalam keadaan sekarang saja kau menindih tubuhku. Cepat pergi dari tubuhku, sialan,” maki Estelle dan kembali mendorong tubuh Marc menjauh. Berhasil. Akhirnya laki-laki itu menyingkir juga dari tubuh Estelle.

“Apa sekarang kau sudah percaya?”

“Tidak,” ketus Estelle. “Karena tidak ada jaminan kalau semalam memang tidak terjadi sesuatu di antara kita,” ujarnya.

Marc tampak berpikir sejenak. “Oke. Begini. Kalau sampai kau menemukan dirimu hamil anakku, kau bisa mencariku. Aku akan bertanggung jawab. Puas?” Marc mengangkat alisnya.

“Kau menikahiku, gitu? Dasar bodoh! Kita ini saudara tiriku, tahu! Dan tidak pernah dalam sejarah kakak tiri boleh menikahi adik tirinya,” jawab Estelle sebal.

“Nah, tumben kau pintar,” sindir Marc sembari tersenyum mengejek dan tangannya sengaja mengacak-acak rambut gadis itu. Namun, dalam sekejap, Marc langsung mengubah ekspresi wajahnya. “Omong-omong, kau tidak memakai bra ya?”

“APA?” Estelle langsung melototkan matanya dan kedua tangannya spontan menyilang di depan dadanya.

Marc mendekatkan kepalanya dan Estelle sontak memundurkan tubuhnya. “Rasanya empuk,” komentar Marc jahil. Laki-laki itu langsung bangkit berdiri dan bergegas pergi sebelum dilempari bantal dan beberapa benda lainnya lagi yang berada di sekitar Estelle. Gadis itu terus menyumpahi Marc dengan kata-kata sadis dan Marc hanya bisa tertawa di ambang pintu. Sialan.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s