The One That Got Away #2

pageFF copy

Estelle keluar dari mobil dengan perasaan kesal dan marah sesampainya ia di Sydney International High School. Ia membanting pintu mobil dan seketika raut wajahnya berubah menjadi sesal. Aduh…  itu kan mobil kesayangannya. Sial! makinya dalam hati. Lalu, terdengar suara tawa mengejek dari dalam mobil tersebut.

“Diam kau!” bentak Estelle seraya menunjukkan wajah murkanya di depan kaca.

“Makanya, pakai otak sebelum melakukan sesuatu. Jangan pakai dengkul! Cih!” balas Marc.

“Jadi kau bilang aku bodoh, begitu?” tanya Estelle tersinggung.

“Kenyataannya begitu, ‘kan?” Marc mengangkat bahunya.

“Sialan kau!” maki Estelle, bertambah kesal.

Sepanjang perjalanan menuju kelas, Estelle tidak henti-hentinya mengucapkan serentetan sumpah serapah. Kakinya mengeentak-entak kesal. Estelle tidak peduli ia menjadi pusat perhatian di sepanjang koridor. Ia terlalu kesal untuk mengurusi tatapan siswa-siwsi itu padanya.

Saat masuk ke kelasnya, Estelle melempar tasnya begitu saja di atas mejanya dan kembali mengundang perhatian beberapa siswa di dalam sana. Tapi, tak berapa lama, Frau Irene, guru Bahasa Jerman-nya kemudian masuk ke kelas tepat saat bel masuk berbunyi.

“Kau tampak cemberut hari ini,” komentar Bradley, sahabat baiknya saat Estelle mengambil tempat di sebelahnya. “Ada apa?” tanya cowok itu.

“Ayahku sudah pulang.” Estelle mengeluarkan buku Kontakte Deutsch 2 (buku bahasa Jerman untuk kelas 11)  dari tasnya dengan kasar.

“Wah, bagus dong. Itu kan berita baik,” kata Bradley, ikut mengeluarkan buku Kontakte Deutsch 2.

“Iya,” Estelle membanting pelan buku itu di atas meja, “tapi, akan lebih baik lagi jika ayahku tidak pulang membawa serta 2 gelandangan masuk ke rumahku. Mereka benar-benar seperti sampah yang dipungut oleh ayahku,” geram Estelle teringat dua wajah menyebalkan itu.

“Memangnya siapa sih mereka? Pembantu baru?” tanya Bradley penasaran.

“Bukan!”

“Lalu?”

Estelle kemudian menghadap ke Bradley. “Begini, Brad. Apa yang akan kau lakukan jika tiba-tiba saja ayahmu memperkenalkan anggota keluarga baru tanpa memberitahumu terlebih dahulu?”

“Aku akan menyambut mereka dengan sukacita,” jawab Bradley polos.

 “What?!” Estelle memutar bola matanya dan mendelik tajam ke arah Bradley.

“Iya, aku akan menyambut mereka dengan sukacita. Memangnya kenapa? Ada yang salah?” Bradley tanya balik.

“Apa kau akan bersukacita juga jika yang dibawa oleh ayahmu adalah ibu dan saudara baru untukmu?”

“Heh? Kau bicara apa sih, Es? Aku tidak mengerti.” Bradley menggaruk-garuk kepalanya plontosnya yang tidak gatal.

Estelle mendekatkan kepalanya ke telinganya Bradley. “Ayahku menikah lagi dan… parahnya dia tidak meminta persetujuanku ataupun meminta izin dariku.” Suara Estelle bergetar saat mengatakannya.

“Kau tidak serius, ‘kan?” tanya Bradley. Ekspresi cowok itu berubah ngeri.

“Apa aku tampak seperti sedang berbohong?” Bradley menggeleng.

“Aku turut sedih mendengarnya, Es. Apa saudara barumu itu lebih muda atau lebih tua darimu? Laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki, dan beberapa tahun lebih tua dariku.”

“Baguslah. Kupikir dia perempuan. Tenang sajalah. Kau masih satu-satunya tuan putri di rumahmu. Tidak ada yang bisa menyaingimu di rumah, ya, kecuali ibu tirimu. Tapi, tidak apa-apa. Setidaknya kau masih muda dan masih cantik dan kutebak pasti ibu tirimu itu sudah keriputan dan jelek.”

Estelle terkekeh pelan mendengar kata-kata Bradley. Ia tahu Bradley sedang menghiburnya sekarang.

“Aku jadi penasaran dengan wanita itu. Oh ya, omong-omong bagaimana sifatnya? Kau tidak disiksa, kan sama dia? Kalau sampai itu terjadi, dia harus berhadapan denganku. Aku tidak akan membiarkan nenek sihir itu menyentuhmu sejengkal kuku pun.” Ekspresi wajah Bradley yang culun itu tampak lucu dan lagi-lagi membuat Estelle tertawa geli.

“Aku belum tahu. Tapi, kupikir sifatnya pasti tidak akan jauh berbeda dengan ibu tirinya Cinderella, sama-sama jahat dan licik,” ucap gadis itu dengan mata menerawang jauh.

“Kalau begitu, kau harus hati-hati dengan segala akal bulusnya. Pertama-tama dia akan mengambil hatimu terlebih dahulu, setelah itu dia akan merencanakan misi busuknya. Jangan sampai terperangkap,” pesan Bradley dan disambut anggukan Estelle.

“Frau Stoner dan Herr Smith, bisakah kalian berdua berhenti bicara? Atau apa perlu kupersilakan kalian untuk menggantikan saya berbicara di depan?” tegur Frau Irene, guru bahasa Jerman mereka.

“Tut mir Leid, Frau! (I am sorry, Ma’am!)” ucap Estelle dan Bradley serempak.

“Kau tahu, setidaknya aku sedikit bersyukur mengetahui bahwa saudara tiriku itu beberapa tahun lebih tua dariku,” bisik Estelle di sela-sela mencatat materi Modal Verben yang dijelaskan oleh Frau Irene.

“Memangnya kenapa?” tanya Bradley.

“Aku akan bunuh diri kalau sampai ayahku membawakanku seorang adik. Apalagi yang masih kecil.” Estelle bergidik saat mengatakannya.

“Heh? Kenapa bisa begitu?” Bradley cengo mendengarnya.

“Aku benci anak-anak, Brad! Mereka itu seperti tikus kotor dan juga sangat merepotkan. Menjijikan, tahu!” desis Estelle dan… sekali lagi mereka mendapat teguran dari Frau Irene.

***

Estelle dan Bradley berjalan menuju kafetaria setelah bel istirahat berbunyi. Seperti biasa, sepanjang perjalanan mereka selalu menjadi pusat perhatian. Memangnya siapa yang tidak mengenal Clarita Estellina Stoner? Gadis yang notabene anak pemilik yayasan sekolah sekaligus ratu kecantikan yang tiada tandingannya. Walaupun dibaluti kecantikan yang begitu memesona, sosok Estelle juga ditakuti oleh penghuni sekolah. Sekali saja mereka berurusan dengan Estelle, maka siap-siaplah angkat koper secara tidak hormat dari sekolah ini. Dan terhitung sudah ada 2 siswi yang sudah dibuang dari sekolah ini gara-gara berurusan dengan putri pemilik yayasan ini. Keduanya juga merupakan senior gadis itu.

Tidak hanya Estelle yang dikagumi di sekolah, bahkan Bradley Smith, cowok keturunan Inggris tulen ini juga dikagumi oleh beberapa siswa karena keberaniannya berteman dengan Estelle yang selama ini dikenal angkuh dan dingin.

Semua warga sekolah tahu bagaimana kisah pertemanan mereka, bahkan menganggapnya sebagai salah satu kejadian luar biasa dan pantas masuk ke 7 keajaiban dunia.

Estelle berjalan angkuh masuk ke dalam sekolahnya. Seperti biasa, beberapa orang sontak memandang ke arahnya. Mulai dari pandangan terpesona hingga iri sudah biasa bagi gadis itu. Ia cantik dan ayahnya, Casey juga pemilik yayasan sekolah ini. Estelle rasa wajar saja jika ia bersikap angkuh. Bukankah itu sebuah keharusan?

“Estelle!” panggil seorang laki-laki tepat di belakangnya. Estelle berhenti, lalu menoleh ke belakang, melihat siapa yang memanggilnya. 

Bradley Smith, si aneh dengan perawakan seperti alien dengan kacamata supertebalnya itu, dan tidak lupa buku ilmiah yang selalu berada di dekapannya dan luar biasanya lagi, ia juga menggantungkan tumbler minuman bergambar SpongeBob SquarePant di lehernya, sedang berlari menghampirinya. Tidak salah cowok alien itu memanggilnya? tanya Estelle dalam hati.

“H… hai, Estelle…,” sapa Bradley sembari memamerkan senyum gigi kawatnya.

“Kau memanggilku?” tanya Estelle sembari terus memandang penampilan Bradley yang bertambah culun 2 kali lipat kalau dilihat dari dekat.

“I… iya.”

“Ada apa?”

Beberapa orang mulai intens memandang ke arah mereka. Ekspresi Bradley tampak malu-malu. Tangannya kemudian menarik sebuah kertas berwarna pink berbentuk amplop dari dalam bukunya, dan memberikannya pada gadis itu. “Untukmu,” ujar Bradley.

“Apa ini?” tanya Estelle sembari menerima amplop itu.

“Buka saja,” jawabnya.

Kumpulan orang-orang di sekitar mereka semakin ramai, terlebih lagi para cowok-cowok, mulai dari yang paling bodoh sampai paling pintar di sekolah, bahkan mulai dari yang paling rajin dan sampai yang paling malas sekalipun ikut bergabung.

Estelle membuka amplop itu dan mengeluarkan sebuah kertas yang berisikan tulisan cakar ayam Bradley. Estelle mengernyitkan dahi saat membaca tulisan yang tertera di atas kertas tersebut. Tidak hanya itu, matanya ikut menyipit, tampak sangat menghayati setiap kata yang tertulis. Tapi, pada akhirnya….

“Aku tidak bisa baca tulisanmu,” ucap Estelle dan sontak membuat sekumpulan orang itu mengeluarkan ekspresi kaget, terlebih Bradley. “Apa ada yang bisa membantuku membacakan tulisan di kertas ini?” Estelle mengangkat kertas itu tinggi-tinggi. Tak sampai 2 detik hampir 30-an orang menawarkan diri untuk membaca. Estelle lalu memberikan kertas itu secara acak pada seorang cowok.

Dear, Estelle…,” mulai cowok itu dengan suara lantang. Beberapa cowok di belakangnya ikut berebut melihat isi surat itu walaupun sudah akan dibacakan. Estelle melihat ekspresi Bradley mulai berubah. Cowok culun itu seperti ingin menangis.

Kau tahu, aku sangat menyukaimu. Aku suka caramu berjalan, caramu berbicara dan caramu tersenyum. Kau adalah gadis tercantik dan termanis yang pernah kulihat seumur hidupku,” lanjut cowok itu dan beberapa orang mulai tertawa.

Estelle, sudah sejak lama aku memperhatikanmu. Aku ingin mengenalmu, tapi aku takut. Aku takut kau akan menolakku dan aku takut terluka karena penolakan itu. Tapi, sekarang aku benar-benar ingin mengenalmu dan kuharap kau mau menerimaku. Hahahaha…. Dia tidak bercanda, ‘kan? Hahahaha….” Cowok yang membacakan tulisan itu tertawa terbahak-bahak bersama cowok-cowok lainnya yang ikut mendengarkan.

“Ini benar-benar gila.”

“Dia pikir dia siapa berani-beraninya mau mengenal Estelle?”

“Aku saja yang 100 kali lebih keren dari si culun itu masih berpikir 2 kali untuk mendekati Estelle. Kelasnya terlalu tinggi.”

“Dasar orang gila.”

“Dia sudah bosan hidup?”

“Semoga Tuhan memberkatinya setelah ini.”

Komentar-komentar yang datang dari cowok-cowok itu membuat muka Bradley semakin memerah menahan malu. Estelle tidak bereaksi apa-apa dan menunggu surat itu dibacakan lagi.

“Ayo, ayo, dilanjutkan,” suruh sekumpulan cowok itu.

“Estelle, aku tidak memintamu menjadi pacarku. Tapi, aku ingin menjadi temanmu, teman dekatmu, teman tempatmu berbagi segala keluh kesah dan teman tempatmu bersandar. Aku ingin menjadi seseorang yang berarti bagimu. Dan kupikir dengan menjadi temanmu, aku sudah bisa menjadi bagian terpenting di hidupmu. Hanya teman saja. Bagaimana? Bisakah aku menjadi temanmu? Salam manis dari Bradley si Culun. Eh, dia benar-benar menuliskan kata Bradley si Culun di sini? Hahahaha….”

Kumpulan orang-orang itu lagi-lagi tertawa terbahak-bahak. Estelle mengulurkan tangannya lagi, meminta surat itu kembali. Gadis itu kemudian memasukkannya ke dalam amplop.

“Dasar bodoh.”

“Idiot!”

“Sakit jiwa ya?”

Berbagai cemoohan diterima Bradley. Cowok itu pun menangis di tengah tawa mengejek dari teman-teman sekolahnya. “Diamlah,” ucap Estelle pada sekumpulan orang-orang itu. Tapi, mereka masih saja tertawa. “Aku bilang tutup mulut kalian!” Kali ini Estelle berteriak dan suasana langsung senyap mendadak.

Estelle mengeluarkan sapu tangan berwarna biru mudah dari sakunya, lalu dengan cekatan ia menghapus air mata Bradley. Bradley sontak terkejut dengan perlakuan Estelle dan memandang heran. Estelle tersenyum lembut. Kemudian gadis itu mengulurkan tangan, mengajak Bradley bersalaman. “Ayo kita berteman,” katanya manis dan lantas membuat beberapa kumpulan cowok-cowok itu jatuh pingsan di tempat karena syok.

Bradley ikut tersenyum dan menyambut tangan halus itu. “Terima kasih, Estelle.”

Kejadian itu sudah berlalu hampir setahun yang lalu, tapi benar-benar membekas di ingatan para cowok yang menyaksikannya. Alhasil, setelah kejadian itu banyak sekali cowok-cowok di sekolahnya yang melakukan hal serupa yang dilakukan Bradley. Bedanya, mereka tidak terang-terangan seperti cowok culun itu. Mereka lebih memilih memberi surat untuk Estelle melalui loker gadis itu. Bahkan sehari setelah kejadian itu, tidak terhitung berapa puluh bahkan hingga ratusan amplop berwarna pink yang mengisi lokernya.

Estelle yang dibanjiri oleh surat-surat itu lantas emosi. Semua surat itu kemudian dibuangnya ke tong sampah, tanpa dibacanya satu per saru.

Isi dari semua surat itu sebenarnya hampir sama semua, kecuali bagian salam manisnya. Ada yang menulis salam manis dari Pol si tampan, Karel si manis, Mack calon direktur, Rins calon pengusaha, bahkan ada yang menulis Aleix si penakluk wanita. Benar-benar menjijikan.

***

“Apa kau sudah tahu tentang guru musik barus kita?” tanya Bradley sambil memotong steiknya.

“Tidak tahu dan tidak peduli,” jawab Estelle acuh tak acuh sembari memasukkan potongan salad ke mulutnya.

“Ish, kau memang selalu begitu,” cibir Bradley.

“Bukan kewajibanku untuk mengetahuinya. Lagian kan cuma guru baru. Apa istimewanya?”

“Setidaknya kau harus tahu trending topic yang sedang dibicarakan di sekolah ini. Aku sudah bertemu dengan orangnya di ruang guru tadi saat Frau Irene menyuruhku membawa makalah-makalahnya.”

“Oh ya?” respons Estelle malas.

“Oh, ayolah, Es…. Jangan begitu dong. Peduli sedikit saja dengan kehidupan sekolahmu. Kau harus tahu tentang hal-hal yang berkaitan dengan sekolah.”

“Aku tidak peduli, Mr. Smith!” tegas Estelle, kemudian menyambarkan es lemonnya dan menyeruputnya dengan cepat.

“Nah, itu dia orangnya….” Bradley menunjuk ke arah pintu masuk kafetaria dan Estelle lantas menoleh ke sosok yang menjadi trending topic itu. Gadis itu membelalakkan matanya. Astaga, ia tidak salah lihat, kan? Laki-laki itu…. Air lemon yang ia minum tadi mendadak tersangkut di tenggoroknya. Tak sampai setengah detik, air itu kemudian berpindah ke wajah Bradley.

“ESTELLINA!!!”

To Be Continued….

8 thoughts on “The One That Got Away #2

  1. wahhh Ini momentya di khususkan pada Estelle dan Bradley nih
    Tumben castnya Bukan Scott redding
    thanks ya udah di tag
    kupikir mereka pacaran tahunya hanya sahabatan
    cinta segotiga nih
    ditunggu lanjutannya

    Suka

  2. Ping-balik: Fanfiction : The One That Got Away #3 | Symphony Rita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s