Fanfiction : The One That Got Away #1

pageFF copy

Cast :

 Marc Marquez

Clarita Estellina Stoner

Casey Stoner

Adriana Stoner

Roser Alenta

Estelle menatap angkuh kedua lelaki berbeda generasi dan seorang wanita paruh baya yang tengah berjalan masuk ke rumahnya. Tatapannya seketika berubah sinis saat ketiga orang itu berhenti di hadapannya.

Casey, lelaki paruh baya itu menunjukkan senyum bahagia pada Estelle dan maju memeluk tubuh mungil gadis kecilnya. Estelle tersenyum getir melihat senyum yang tercetak di wajah ayahnya. Raut bahagia ayahnya benar-benar tak dapat disembunyikan.

“Apa kabar, Sayang? Kau pasti sangat kangen dengan Dad, ‘kan?” ujar Casey setelah melepas pelukannya.

Estelle tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan.

“Hei, kau kenapa? Wajahmu terlihat lesu sekali. Seharusnya kau senang karena Bibi Roser sekarang sudah menjadi ibumu. Dan ini putranya, Marc Marquez, kau bisa memanggilnya Marc,” kata Casey menggebu-gebu sembari tersenyum, membuat wajahnya tampak 10 tahun lebih muda.

Estelle menatap nanar kedua orang yang diperkenalkan Casey. Ada rasa tidak rela saat kedua orang yang dibawa ayahnya entah dari mana itu masuk ke rumah ini. Mereka siapa? Estelle tidak mengenal mereka. Dan ketika Casey menghubunginya tadi siang dan mengatakan jika Estelle ‘sudah’ memiliki ibu baru, bukan lagi ‘akan’ memiliki ibu baru. Parahnya, Casey bahkan tidak meminta persetujuan darinya untuk menikah lagi. Ia benar-benar kecewa.

Estelle kesal sekaligus marah pada Casey. Ayahnya yang gila kerja dan memiliki kesibukan di mana-mana, bahkan kesibukannya mengalahkan kesibukan Perdana Menteri Australia. Biasanya Casey akan pulang 3 atau 4 bulan sekali ke rumah, tapi kali ini pria itu pulang dan membawa kejutan yang tak diharapkan Estelle.

Estelle tidak butuh ibu baru. Ia lebih baik hidup sendiri di rumah ini dan tidak mendapat perhatian Casey daripada ada orang asing masuk ke zona privasinya. Ia benci kedua orang itu. Estelle bertekad ia tidak akan bersikap baik dengan mereka. Ia tidak akan mau peduli dengan kedua orang asing yang mulai sekarang menjadi penghuni tetap rumahnya.

“Well, selamat datang kalau begitu,” ucap Estelle ketus dan sontak saja membuat Casey tersentak kaget mendengar nada tidak bersahabat keluar dari anak gadisnya.

“Estelle!” tegur Casey. “Kau ini kenapa sih? Sikapmu itu benar-benar tidak sopan!”

“Oh ya?” sahut Estelle, menaikkan alis matanya. “Aku tidak ingat Dad pernah mengajariku sopan santun untuk menyambut tamu tak diundang di rumah ini.” Estelle mengarahkan tatapan bermusuhan pada Roser dan Marc.

“Estelle!”

“Kenapa, Dad? Memang benar, kan Dad tidak pernah mengajariku sopan santun? Dad tidak pernah peduli padaku! Dad hanya peduli pada berkas-berkas kerja Dad. Apa Dad tidak sadar seberapa sering Dad meluangkan waktu untuk menemaniku di sini? Bahkan Dad tidak pernah sekali pun mengajakku keluar! Kalaupun Dad pulang ke rumah, tetap saja bisnis yang Dad prioritaskan dibadingkan aku. Dan sekarang, Dad pulang bawa mereka yang kau perkenalkan sebagai ibu dan saudara baruku. Apa Dad pikir aku senang, hm? Apa Dad pikir aku bahagia?! Kau tidak pernah memedulikan perasaanku!” seru Estelle berapi-api. Mukanya merah dan sorot matanya benar-benar kecewa dengan apa yang telah dilakukan Casey.

Semuanya terdiam di tempat. Roser yang tahu dirinya tak diharapkan di sini memucat di samping Casey. Sedangkan anak laki-lakinya, Marc, menatap tak senang ke arah Estelle.

“Aku kesepian, Dad. Aku sangat kesepian di rumah ini. Tapi yang kubutuhkan adalah Dad, supaya Dad bisa menemaniku di sini, bukannya mereka yang tidak pernah aku minta. Dan satu lagi, jika kepulangan Dad kali ini hanya membawa orang asing ke rumah kita, lebih baik Dad tidak usah pulang saja sekalian!” tandas Estelle dan langsung berlari ke kamarnya.

Casey masih mematung di tempat, masih tidak menyangka putri kecilnya bersikap seperti itu.

“Estelle tidak mengharapkan kehadiran kami, Casey. Maafkan aku,” ucap Roser sedih dan turut menyesal atas apa yang telah terjadi.

Casey membalikkan tubuhnya menghadap ke Roser dan berkata, “Tidak. Jangan minta maaf. Kau tidak bersalah. Mungkin Estelle masih terkejut. Aku yakin dia akan menerima kalian. Jangan khawatir,” hibur Casey pada istrinya dan matanya juga tertuju pada Marc.

“Tapi, tetap saja….”

“Jangan menyalahkan dirimu, Roser,” sela Casey. “Aku akan bicara dengannya,” lanjutnya kemudian.

***

“Estelle… Estelle… buka pintunya, Sayang,” seru Casey dari luar kamar gadis itu sambil mengetuk pintu kamar berwarna pink yang dihiasi gantungan glitter berukir nama Estelle.

Estelle tidak menyahut ayahnya. Ia tidak mau dan tidak akan mau bertemu kedua asing yang dibawa ayahnya jika beliau mengetuk pintu hanya untuk menyuruhnya keluar dan minta maaf pada mereka. Estelle bersumpah ia tidak akan sudi melakukannya.

“Estelle, Dad mohon buka pintunya sebentar. Dad hanya ingin bicara denganmu.” Suara Casey terdengar melunak di luar sana.

“Aku tidak ingin bicara denganmu, Dad!” balas Estelle, suaranya teredam di balik bantal-bantal yang ia tiduri. Tapi Estelle yakin Casey bisa mendengarnya karena teriakannya cukup kuat.

“Estelle, Dad tahu kau marah. Dad minta maaf. Tapi izinkan Dad bicara denganmu sebentar. Buka pintunya, Sayang.”

Estelle menimang-nimang sebentar, lalu bangkit dari tempat tidurnya dan membukakan pintu untuk Casey.

“Dad ingin bicara apa?” Estelle memandang kesal pada Casey.

“Estelle, Dad tahu kau sangat syok karena Dad membawa Bibi Roser kemari. Dad tidak bermaksud membuatmu kecewa ataupun marah. Tapi Dad pikir kau mungkin butuh seseorang yang bisa menemanimu di rumah karena kau tahu Dad begitu sibuk dengan perusahaan. Dad hanya ingin memberikanmu figur seorang ibu karena—”

“Memberiku figur seorang ibu?” potong Estelle. “Alasan yang sangat bagus, Dad,” sindir Estelle. Hatinya perih, sungguh.

“Estelle….”

“Bahkan Dad tidak pernah menanyaiku apakah aku perlu figur seorang ibu atau tidak.  Aku tidak membutuhkannya, Dad. Yang kuperlukan itu kau. Yang kuperlukan itu adalah waktumu. Tapi kau tidak pernah mengerti tentangku. Aku sungguh kecewa padamu. Sangat,” ujar Estelle. Air matanya jatuh.

“Dad minta maaf, Estelle,” kata Casey. Kedua tangannya kemudian terulur dan membawa anak gadisnya ke dada bidangnya. Estelle menangis sesenggukan di sana.

“Aku iri dengan anak-anak di sekolahkuu, Dad. Mereka bisa menikmati liburan musim panas  bersama keluarga mereka. Mereka berbagi cerita mengenai liburan itu dan aku hanya menjadi pendengar saja. Rasanya sakit, Dad. Sakit sekali. Duduk diam sementara di sekitarmu penuh obrolan yang diselingi canda dan tawa. Kau pikir aku harus bagaimana?”

“Kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu. Aku merasa seperti anak yatim-piatu karena tak ada orangtua yang mengontrolku secara langsung. Kau hanya menyewa orang untuk mengawasiku. Aku ingin seperti mereka, Dad. Tapi kuurasa itu tidak mungkin,” curhat Estelle di pelukan Casey. Walaupun kata-katanya teredam oleh tangis, Casey bisa menangkap jelas perkataan Estelle.

Perasaan bersalah langsung mengerubungi batin Casey. Hatinya tersayat mendengar setiap kata-kata Estelle yang meluncur bersama isakannya. Benarkah ia ayah yang begitu buruk untuk gadis kecilnyanya?

“Oh, Estelle. Dad minta maaf. Sungguh, Dad minta maaf,” sesal Casey dan semakin mempererat pelukannya.

Air mata Casey juga ikut jatuh membasahi rambut cokelat Estelle. Ia sadar telah membuat kesalahan besar karena menelantarkan Estelle yang butuh perhatiannya. Bodoh, makinya dalam hati. Kenapa ia begitu bodoh dengan berpikiran jika Estelle yang selama ini tidak pernah protes karena kesibukannya dan mungkin cukup mengerti dengan keadaannya. Tapi, Casey-lah yang tidak mengerti keadaan Estelle. Oh, betapa bodohnya dirinya.

“Aku merindukanmu, Dad,” bisik Estelle tersendat-sendat.

“Ya, Dad juga, Sayang. Dad juga sangat merindukanmu,” balasnya sambil mengecup puncak kepala Estelle.

***

Pagi itu merupakan pagi yang paling menyiksa untuk Estelle. Ia harus sarapan bersama Casey—tentu ini yang paling Estelle rindukan—dan penghuni baru rumahnya.

Walaupun ada sedikit ketegangan di antara mereka—Estelle, Roser dan Marc—tapi, pagi itu semuanya berjalan dengan apa adanya, seperti sarapan pada umumnya.

Estelle menghitung dalam hati berapa kali ia sarapan satu meja dengan Casey sejak kematian Adriana, ibu kandung Estelle karena kecelakaan pesawat yang menimpanya saat Adriana pulang dari London setelah mengunjungi nenek Estelle yang sakit.

Sejak kematian Adriana, semuanya berubah total. Tidak ada kehangatan yang selalu diberikan Casey padanya setiap pagi ketika Estelle bangun tidur. Biasanya Casey selalu menunggunya membuka mata dan menyapanya dengan kata, “selamat pagi, Tuan Putri. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?”, lalu memberinya ciuman selamat pagi di keningnya. Tak lupa juga Adriana berada di samping Casey, ikut menunggu Estelle bangun dari bunga tidurnya.

Perubahan drastis itu sangat melukai Estelle. Ia tidak ingin keluarganya seperti ini. Casey begitu terpuruk, bahkan selama masa berkabung ia tidak memedulikan Estelle yang saat itu berumur 10 tahun dan membutuhkan kasih sayang.

Sebenarnya Casey tidak bermaksud berbuat seperti itu. Hanya saja wajah Estelle merupakan duplikat wajah Adriana dan tak mudah bagi Casey untuk tidak menangis setiap menatap wajah putri kecilnya.

Sejak itu Casey jadi gila kerja. Tidak mementingkan apa pun selain pekerjaannya. Ia rasa dengan bergelung pada berkas-berkas itu bisa sedikit mengalihkan perhatiannya dari kehilangan yang begitu menyakitkan.

Estelle menjadi korban. Ia tidak mengerti kenapa Casey berubah. Namun, dari tahun ke tahun, Estelle pun tumbuh dari gadis kecil yang masih polos dan belum bisa mengerti apa-apa, menjadi seorang gadis cantik yang memesona. Estelle mewarisi rambut berwarna cokelatnya dari Adriana, bentuk alis, hidung dan bibirnya. Sementara matanya ia mewarisinya dari Casey. Estelle tumbuh menjadi gadis yang mengagumkan. Setiap aspek dalam dirinya membuatnya tampak begitu cantik di usianya yang baru menginjak 16 tahun.

“Kenapa sarapannya tidak dihabiskan, Estelle?” tanya Roser, karena dari tadi ia perhatikan Estelle hanya mencubit-cubit roti sandwich hingga menjadi bentuk-bentuk tak beraturan.

Sok baik, gerutu Estelle dalam hati.

Estelle tidak menjawabnya dan tetap melakukan kegiatan cubit-mencubitnya.

“Estelle! Kalau Bibi Roser bertanya padamu, sangat tidak baik jika kau tidak menjawabnya,” tegur Casey yang melihat situasi belum juga bisa diterima Estelle.

“Bela saja terus,” sindir Estelle muak.

“Estelle!” tegur Casey sekali lagi.

Marc yang duduk di sebelahnya tetap melanjutkan sarapannya tanpa mau repot-repot menoleh ke adik tirinya yang menurutnya sangat keterlaluan itu. Ia masih ingat kejadian semalam saat Estelle terang-terangan menunjukan rasa tidak sukanya padanya dan juga ibunya. Memangnya Estelle pikir Marc juga akan suka padanya, apa?

“Aku sudah kenyang,” tukas Estelle malas, kemudian menyambar susunya dan meminumnya hingga setengah. Gadis itu bangkit dari kursinya dan berpamitan. “Aku pergi ke sekolah,” katanya dengan nada tak bersahabat.

“Ya, sudah. Biar Marc yang mengantarmu,” kata Casey.

Perkataan Casey membuat Estelle terdiam beberapa detik sebelum ia meluncurkan protes keras pada lelaki paruh baya itu. “Kenapa harus dia, Dad? Aku kan bisa menyetir sendiri ke sekolah.”

“Well, kupikir aku terlalu memberimu kebebasan. Aku kurang setuju tentang menyetir mobil sendiri karena kau masih 16 tahun dan dalam hukum tidak diperbolehkan. Jadi kenapa tidak Marc saja yang mengantarmu? Selain demi keselamatanmu dan aku bisa tahu kau sampai atau tidak ke sekolah.”

Estelle ingin mengajukan protes lagi saat Casey mengangkat jari telunjuknya ke atas dan berkata, “Kau pikir aku tidak tahu selama ini kau sering bolos sekolah. Wali kelasmu, bahkan kepala sekolahmu sudah bosan meneleponku. Kuharap kau bisa merubah kebiasaan burukmu itu, Estelle. Demi dirimu juga,” ucap Casey tegas.

“Ternyata kau masih peduli juga denganku? Tapi, percuma juga. Kau tidak pernah menegurku seperti pagi ini. Apa mungkin karena dia?” Casey menyipitkan matanya pada Estelle, seolah meminta penjelas apa maksud kalimat ‘apa mungkin karena dia’.

Estelle kemudian beralih ke Roser yang menatapnya. Gadis itu tersenyum mengejek pada wanita itu. “Terima kasih, Bibi Roser. Karena kau, akhirnya Dad-ku berubah. Aku akan menunggu sejauh mana kau mengubah Dad-ku,” sindir Estelle tajam.

“Estelle!” Kali ini Casey naik pitam. Ia bangkit dari kursinya dan hendak menghampiri Estelle, tetapi Roser buru-buru menahannya.

“Apa? Dad mau menyuruhku minta maaf padanya?  Itu tidak akan pernah terjadi!” ketus Estelle, mengakhiri perang pagi itu.

Jadi, di sinilah Estelle sekarang, terjebak di dalam mobil bersama lelaki menyebalkan yang bernama Marc Marquez. Estelle tidak menyukai lelaki itu karena beberapa alasan; dingin, angkuh, dan belagu. Setiap perkataan yang dilontarkan oleh Estelle selalu dibalas oleh lelaki itu. Seperti saat Estelle masuk ke dalam Audi putih—mobil pribadi miliknya— ia sempat melontarkan beberapa makian.

“Setiap perkataan yang terlontar mencerminkan siapa dirinya dan status sosialnya di masyarakat. Jadi jaga mulutmu dan jangan membuat keributan di sini. Aku tidak suka harus mendengar makianmu itu, Gadis Bar-bar!”

Apa? Gadis bar-bar? Mulut Estelle ternganga mendengar julukan itu. Cih! Cara lelaki itu bicara seolah yang paling benar. Benar-benar tipe lelaki belagu.

“Apa? Kau bilang apa? Gadis bar-bar?” protes Estelle tidak terima. “Kau tidak ngaca ya? Kau pikir kau lelaki baik-baik, apa? Dasar lelaki belagu, bawel, jelek!”

“Jelek? Kau pikir wajahmu itu cantik? Melihatnya saja sudah membuat aku mual,” balas Marc sambil mengekspresikan raut jijik di wajahnya.

“Kau…,” Estelle tidak melanjutkan kata-kata. Ini benar-benar penghinaan terbesar untuknya. Selama ia hidup tak seorang pun pernah bilang wajahnya jelek. Bahkan saat pemilihan ratu sejagad saat prom night beberapa bulan lalu, ia terpilih menjadi ratu kecantikan di sekolahnya.

Perdebatan mereka tidak dilanjutkan lagi karena Estelle tidak ingin bicara dengan lelaki sok kegantengan itu. Dalam hati ia mengutuk supaya Tuhan cepat-cepat membinasakan lelaki itu dari muka bumi.

“Kau itu seharusnya bersyukur karena mendapat ibu tiri yang baik seperti ibuku. Kau pikir gampang ya mencari ibu tiri yang baik? Untung saja ibuku mau menikah dengan ayahmu dan menerimamu sebagai anak tirinya. Dasar gadis tak tahu diuntung,” cerca Marc.

Lagi. Kata-kata Marc begitu memojokkannya. Estelle langsung mendebatnya. “Kau pikir aku mau jadi anak tirimu ibumu? Asal kau tahu saja, aku tidak akan pernah sudi menganggap kau dan ibumu itu ada!”

Marc menatap Estelle tajam. Dasar gadis kurang ajar! makinya dalam hati.

To Be Continued….

One thought on “Fanfiction : The One That Got Away #1

  1. Ping-balik: Fanfiction : The One That Got Away #3 | Symphony Rita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s