Mini FF : He Is Leaving Her With Love

cove2r

Supaya bisa lebih menghayati cerita ini, silakan download lagu ini di sini
So, Happy reading🙂

Soundtrack : Iwan Fals – Izinkan Aku Menyayangimu

Sebuah taxi baru saja keluar dari perkarangan sebuah rumah minimalis bernuansa modern itu saat sebuah mobil Volvo masuk ke halaman luas itu. Gadis itu kemudian turun dari mobil Volvo yang dikendarainya. Sesaat ia memandang keluar pagar rumahnya. Siapa yang baru saja pergi? pikirnya dalam hati.

Gadis itu lalu masuk ke dalam rumahnya dan berjalan melewati ruang keluarga. Sepi. Laki-laki itu ke mana? Tumben jam segini dia tidak ada di rumah. Biasanya kan ia penunggu setia gadis itu. Tapi, kenapa sekarang ia tidak ada?

Laura merasa ada yang aneh, tepatnya merasa tak biasa. Ya, memang beberapa hari ini laki-laki itu tampak aneh saat bertemu dengan Laura. Laura kemudian berjalan ke arah kamarnya. Saat ia melewati kamar laki-laki itu yang persis di sebelah kamarnya, ia sontak berhenti. Lama Laura memandang pintu kamar laki-laki itu.

Ragu-ragu tangannya memutar kenop pintu dan Laura melangkah masuk ke dalamnya. Laura memandang ke sekelilingnya dan tidak menemukan siapa pun. Tempat tidur yang biasanya ditempati laki-laki itu juga masih tampak rapi, seolah belum tersentuh.

Perasaan panik pun lantas merasuki dirinya. Untuk pertama kalinya, ia tidak pernah merasa sepanik ini saat tidak melihat laki-laki itu di dekatnya. Laura lalu masuk ke dalam kamar mandi yang terletak di pojok ruangan dan lagi-lagi ia tidak menemukan laki-laki itu.

Dia di mana? Laura bertanya-tanya di dalam hatinya.

Ada yang tidak enak di hatinya. Rasanya seperti ada yang hilang. Laura juga bingung dengan perasaannya, kenapa ia bisa seperti ini hanya karena tidak melihat Marc?

Apa jangan-jangan Marc sudah pergi? Laura sontak berlari ke lemari pakaian dan membukanya. Kosong. Tak ada satu pun yang tertinggal di sana. Laki-laki itu benar-benar sudah pergi. Tapi, kenapa? Kenapa Marc pergi?

Kepala Laura tertunduk lemas. Air mata jatuh dari pelupuk matanya. Tubuhnya kemudian merosot ke lantai. Laura membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya dan ia mulai terisak.

Kenapa Marc pergi? Kenapa laki-laki itu meninggalkan dirinya? Marc tidak memiliki alasan apapun untuk pergi? Laura semakin terisak hebat.

Bunyi ponsel memecahkan suara isakan Laura. Gadis itu buru-buru mengambilnya dari saku jaketnya dan menempelkannya ke telinga.

“Halo…,” jawab Laura serak.

“Halo, Laura. Apa pesawat Marc sudah take off? Kau di mana sekarang? Sudah pulang dari bandara, kan?” tanya ibunya.

“Take off? Pesawat Marc? Maksud Mama apa sih? Aku tidak mengerti,” ujar Laura bingung.

“Bukannya kau mengantar Marc ke bandara, ya? Memangnya kau di mana sekarang?”

Laura tersentak mendengar perkataan ibunya. “Mengantar Marc ke bandara? Tidak, aku di rumah, Ma. Memang Marc mau ke mana?”

“Dia kan pulang ke Spanyol untuk meneruskan bisnis keluarganya, Sayang. Dia tidak memberitahumu?”

Ponsel Laura terlepas dari genggamannya dan benda pipih itu sukses mendarat di lantai kamar. Kesadaran Laura belum sepenuhnya kembali. Pikirannya masih dipenuhi tentang Marc yang pulang ke Spanyol. Kenapa laki-laki itu tidak memberitahunya? Apa Marc sengaja?

Tidak! Tidak mungkin Marc meninggalkannya. Laura kemudian bangkit berdiri dan hendak keluar saat matanya menangkap sebuah amplop berwarna biru muda di atas tempat tidur Marc. Laura mengambil amplop itu dan membukanya. Sebuah surat.

Hai, Laura…

Saat kau membaca surat ini mungkin aku sudah pergi. Jangan tanyakan aku pergi ke mana, karena kau juga tidak akan mau tahu, kan? Aku bisa menebaknya.

Aku tidak tahu bagaimana caranya mengatakan selamat tinggal padamu. Aku tidak ingin bertatap muka dengamu karena aku tahu kalau sampai aku melakukannya, aku tidak akan sanggup pergi darimu. Maka dari itu, aku menulis surat ini, caraku mengucapkan selamat tinggal yang benar.

Sejujurnya, aku tidak ingin. Tapi, aku harus melakukannya. Untuk kebaikan kita, kau dan aku.

Hmm, sejujurnya rasanya sulit sekali, kau tahu. Tapi aku tidak memiliki cara lain. Walaupun sekarang kau tidak pernah mengenalku, tapi, aku mengenalmu, dulu dan sekarang. Kau tahu, hal terindah yang pernah kulakukan selama aku hidup? Jawabannya adalah mencintaimu. Aku tidak pernah merasa keberatan sedikit pun jika kau memang tidak mengingat apapun tentangku. Aku tidak menuntut. Karena bagiku cukup aku saja yang mencintaimu sekaligus merasakan sakitnya juga. Tapi, kau jangan khawatir. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Karena di sini, di hatiku sudah tergores namamu seorang di sana. Tidak ada yang bisa menggantikannya. Sampai kapan pun.

Jaga dirimu baik-baik, Laura. Karena kau sekarang bebas. Sampai bertemu lagi, jika kita memang ditakdirkan untuk bersama.

Aku mencintaimu, Laura.

Marc

Tubuh Laura seperti tersambar petir. Laura memang tidak mengenal Marc dan tidak pernah tahu tentang Marc. Laura hanya tahu, Marc itu laki-laki aneh dan menyebalkan yang mengaku sebagai sepupu jauhnya. Sialnya lagi Marc tinggal di rumahnya saat ia baru saja pulang dari rumah sakit setelah kecelakaan besar yang merenggut ingatannya.

Laura menganggap Marc sebagai laki-laki menyebalkan karena Marc selalu bertanya tentang sesuatu yang tidak diketahui Laura dan berbicara tentang sesuatu yang tidak dimengerti oleh Laura. Bahkan saat hari pertama Marc tinggal di rumahnya, ia jengkel setengah mati dan sampai-sampai ingin melempar Marc keluar dari rumahnya kalau saja waktu itu ibunya tidak memperingatkannya.

Tapi, seiring berjalannya waktu. Laura seperti mengenal sosok Marc, walau pun tidak transparan. Namun, saat ia menemukan satu hal, saat laki-laki itu berdiri di dekatnya, jantungnya selalu berdegup kencang tanpa ia ketahui sebabnya. Laura ketakutan dan ia menutup diri dari Marc.

Sejak ia menutup diri, rasanya seperti ada yang menariknya lebih dekat ke arah Marc. Laura tidak tahu apa itu, yang pasti ia benci mengetahui hal tersebut. Ia tidak mau mengenal Marc lagi. Semakin ia menutup diri, Marc semakin dekat padanya.

…aku mencintaimu, Laura…

“Kalau begitu kenapa kau pergi, sialan! Kau mengatakan mencintaiku tapi kenapa kau pergi? Kenapa kau pergi, Marc!!!” jerit Laura sembari mengoyak-ngoyak surat itu hingga menjadi kepingan kecil. Tubuhnya lagi-lagi terperosot ke lantai.

Laura menyentuh dadanya, seolah sedang menambal luka yang menganga lebar. Untuk pertama kalinya, ia merasa begitu tersakiti. Ia memang tidak mengenal Marc, tapi kenapa rasanya bisa seperti ini? Kenapa?

“Aku benci denganmu, Marc. Aku benci denganmu!” erang Laura terisak-isak. Aku benci denganmu karena kau mencintaiku dan pergi meninggalkan aku.

***

4 thoughts on “Mini FF : He Is Leaving Her With Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s