Thankyou for Everything #6

NB : setelah sekian lama sibuk akibat tugas numpuk, baru bisa posting sekarang. huahaha.. agak jayus sedikit, atau karena ngetiknya setengah2 jadi berasa gimanaaa gitu.. wkwk.. well, happy reading aja yaa🙂

***

 

 

“Tok.. Tok..” Suara ketukan pintu membuat Casey tersentak.

Sambil mengucek matanya yang berat karena kantuk yang menyergap, Casey berjalan dan membuka pintu. Raut wajah Casey langsung memanas. Darahnya seketika mendidih ketika kejadian semalam terlintas dalam pikirannya. Ia mengepalkan tangannya dan..

“Aku..,” sebelum laki-laki itu menyelesaikan kata-katanya, satu pukulan melayang ke arah mukanya.

“Buggghh!” Dia tersungkur ke kursi yang terletak di koridor rumah sakit.

“Kau, Dani Pedrosa! Apa yang kau lakukan semalam hingga menyebabkan Adel seperti ini, hah?!” desis Casey dengan emosi yang tidak tertahankan. Ia mencengkram kerah kemeja Dani, memaksanya untuk berdiri.

“Maaf Casey, aku tidak tahu kalau dia sampai separah ini. Aku tenggelam dan dia menolongku, hanya itu. Kemudian tidak beberapa lama dia pingsan dan aku membawanya kesini,” jelas Dani merasa bersalah.

“Asal kau tahu saja, kondisi Adel memang lemah. Itu sebabnya aku begitu mengkhawatirkan dirinya!” Casey menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia mengendorkan cengkramannya. Dan melepaskannya beberapa detik kemudian.

“Memang ada apa dengan dirinya?” tanya Dani ikut khawatir. Bagaimanapun juga Adel adalah pacarnya sekarang.

“Dia mengalami kank..,” kali ini kata-kata Casey yang terpotong. Laura yang menemani Adel di dalam buru-buru keluar dan menarik Casey menjauhi Dani.

“Ada apa ini?”

“Papa gimana sih? Adel kan gak suka kalo hal seperti ini diketahui orang lain, apalagi sama Dani. Jamin deh, Adel bisa ngambek. Dan papa apain Dani tadi?” selidik Laura saat melihat memar di dekat ekor mata Dani.

“Papa terlalu emosi,” jawab Casey sekenanya.

Laura hanya menggelengkan kepalanya. “Well, aku mau pulang dulu. Papa jangan berbuat aneh-aneh pada Dani kalo gak mau melihat Adel uring-uringan.”

Casey mengiyakan saja. Ia mencium kening Laura dan berpesan untuk berhati-hati. Lalu Casey menghampiri Dani.

 

***

 

“Maaf. Aku tidak bisa mengontrol emosiku tadi. Well.. Kau tahu bukan seberapa berartinya dia untukku?” kata Casey setelah berhasil menguasai emosinya.

Dani mengangguk. “Aku akan menjaganya, kau tenang saja. Dia juga berarti untukku,” Dani menepuk pelan pundak Casey.

Casey baru tahu maksud perkataan Laura tadi. Rupanya ada hubungan khusus antara anaknya dengan lawan balapnya di lintasan ini.

“Aku mau menemuinya dulu, boleh aku masuk ke dalam?” Dani menunjuk pintu kamar Adel.

Casey mengangguk, ia memilih beristirahat sejenak dan menitipkan Adel pada Dani. Kemudian Casey pulang ke rumah setelah berpamitan pada keduanya.

“Kau sudah baikan?” Dani duduk di ujung tempat tidur.

“Hmm..,” gumam Adel sambil mendesah. “Aku bosan disini, makanannya juga gak enak. Ditambah harus disuntik, oh ya ampun.. Ini menyebalkan. Ngomong-ngomong, kau kenapa? Apa sudut matamu terbentur sesuatu? Kau harus berhati-hati…”

Celotehan Adel membuat Dani tersenyum. Ia suka cara gadis itu bercerita. Suaranya juga yang ia rindukan dari diri gadis itu. Ahh, begitu menyenangkannya berada didekat Adel.

 

***

 

“Selamat siang!” seru Jorge tanpa permisi.

“Kalau mau masuk ketuk pintu dulu,” cetus Dani.

“Suka-suka dong. Adel saja gak protes,” balas Jorge.

“Sekolah gak sih? Biar Adel gak protes juga tetap saja itu namanya gak sopan,” sahut Dani lagi.

“Eh, lu mau ngeledek gue? Lu tahu gak gue itu…”

Adel berteriak, “Aduh udah deh! Kalian ribut melulu, pusing dengernya!”

“Gak tahu tuh si Jorge, masuk-masuk bikin keributan aja.”

“Enak aja, sembarangan ngomong lu,” kata Jorge tak mau kalah.

Baru saja Dani akan membuka mulutnya ketika seorang suster membawa makan siang Adel. Setelah mengecek infus, suster itu keluar dari kamar.

 

“Aku suapin ya,” Dani mengambil sepiring sayur dengan bau yang tajam. Adel menutup mulutnya. “Gak suka sayur itu.”

“Kalau begitu, aku aja yang suapin. Pasti mau,” ucap Jorge dengan penuh percaya diri. Adel mendelik tajam ke arah piring yang dipegang Jorge. “Kau mau makan daging rebus tidak berasa seperti itu?”

Dani tertawa terbahak-bahak, sementara Jorge bersiap-siap melemparkan sepiring daging aneh ke arah Dani. Hanya saja, itu menjadi senjata makan tuan. Dee yang ingin menjenguk Adel langsung menerobos masuk ke dalam.

Karena lantai kamar licin, ia terjerembab dan menyebabkan Jorge terdorong. Jelas saja piring dihadapannya dengan mulus mendarat di wajah Jorge.

“Ups.. Maaf.”

Jorge yang berusaha keras menahan emosinya berujar, “Air mana air? Cepat bersihkan wajahku sekarang!”

Dee refleks menyiram Jorge dengan sebotol besar air putih hingga kini pakaiannya basah semua. “Oh my Gosh! Apa-apaan ini?!” Jorge menjambak rambutnya sendiri.

“Kau! Awas saja sampai bertemu lagi, kau tidak akan selamat!” Jorge mendesis lalu beranjak keluar kamar.

“Aku pulang dulu Adel, jangan lupa beristirahat. Nanti aku kesini lagi,” nada bicara Jorge melembut. Kemudian ia segera kembali ke rumah dan membersihkan diri.

 

***

 

Suasana malam ini terasa ramai. Ada Casey, Adriana, Laura, Dani dan beberapa teman Casey lainnya. Casey sibuk mengobrol dengan Nicky, sedangkan Vale menggoda Adel sejak tadi. Dani mencari minum di luar bersama Laura.

“Bagaimana hubunganmu dengan kakakku?” tanya Laura membuka pembicaraan.

“Begitulah, berjalan baik. Kau tidak usah ragu menitipkan kakakmu padaku,” jawab Dani terkekeh.

Laura menggumam sendiri. Sepertinya Dani tipikal laki-laki idaman untuk semua wanita. Andai saja ia bertemu dengan Dani lebih dulu, mungkin ia akan jatuh cinta juga. Eh! Pikiran macam apa itu? Laura merutuki pikiran konyolnya.

“Ingat ya, jangan sampai kau menyakiti kakakku. Kalau sampai aku mendapatinya menangis karena ulahmu, habislah kau. Paham?” Laura memasang tampang galak dan mengancam Dani.

Tingkahnya itu dibalas Dani dengan hormat ala upacara bendera yang kontan saja membuat keduanya tertawa berbarengan. “Kau tak usah khawatir, percayakan saja Adel padaku. Aku akan menjaganya.”

Sehabis dari cafetaria, mereka kembali menuju kamar Adel. Dani langsung duduk disamping Adel dan ikut bergabung dengan Vale. Laura memilih mencari angin di teras belakang.

Andai saja ia bisa menemukan seseorang seperti Dani yang tulus mencintainya. Oh astaga.. Jangan sampai ia menyukai Dani. Ia tidak mau hubungannya dengan Adel menjadi rusak karena hal bodoh macam ini. Dan laura langsung saja membuang jauh-jauh pikirannya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s