The Story of Us : Now All Is Felt Different #9

Image

Sibuk banget nih baru sempet ngepost sekarang, hehehe..

Ini gak diedit lagi, jadi muup ya kalo ada typo2 nya :p

 

***

 

 

Alex Marquez memeluk Adel untuk yang pertama kalinya. Hanya saja, kondisinya tidak tepat. Dan sekarang Adel sedang berada di kamar Alex.

Sehabis membuat teh hijau untuk dirinya sendiri, Alex memandangi Adel yang masih terlelap.

“Mungkin dia lelah,”  batin Alex sambil menyibak rambut Adel yang menutupi mukanya. Gadis itu terlihat menarik meski terlihat berantakan. Bahkan bajunya pun belum diganti sejak tadi. Matanya, hidungnya, bibirnya… Sedetik kemudian muncul hasrat dalam diri Alex secara tiba-tiba.

Sebuah keberanian melintas dalam pikiran laki-laki bertubuh jangkung itu. Ini saat yang mendukung, Alex! Perlahan Alex mulai mendekatkan wajahnya kearah Adel. Mengusap pipinya lembut dan mulai maju lebih mendekatinya.

Sedikit lagi! Sedikit lagi bibir mereka akan berpagutan kalau saja Alex tidak mendapati kembali kesadarannya. Astaga.. Apa yang baru saja ia lakukan? Sungguh konyol.

 

“Dani.. Dani mana?”

tiba-tiba saja Adel mengigau.

Alex menghembuskan nafasnya lega, kalau ia tetap nekat mencium gadis ini, mungkin ia bisa mati di tempat.

“Dia di rumah sakit,” jawab Alex.

Tiba-tiba Adel bangkit berdiri dan hendak berlari keluar sebelum Alex menahannya.

“Biar aku anterin aja, aku keluarin mobil dulu. Kamu tunggu didepan,” kata Alex segera mengambil kunci mobil diatas lemarinya dan mengeluarkan mobil dari garasi. Ia sudah menduga Adel pasti akan segera menemui Dani untuk melihat kondisi pacarnya itu.

Setengah jam kemudian mereka sampai, Adel turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih pada Alex. Ia berjalan gontai ke kamar rawat Dani di lantai 3.

Begitu menemukan kamarnya, Adel langsung masuk ke dalam dan duduk di kursi tepat di samping ranjang dimana Dani tergeletak dengan perban di kepalanya dan masker oksigen masih terpasang. Dadanya sesak. Ia baru merasakan hal ini pertama kali dalam hidupnya. Melihat seseorang yang sangat di sayangi kini terbaring lemah tak berdaya, beginikah rasanya?

Karena rasa lelah kembali menyergapnya, Adel meletakkan kepala diatas tangannya. Tak lama, gadis itu tertidur pulas dengan sisa air mata di pipinya.

 

***

 

Putih. Dani seolah melihat siluetnya sendiri. Ia merasakan pusing yang amat sangat sampai akhirnya ia tersentak dan menariknya dari koma yang mengancam nyawanya itu.

“Arghh.. Sakit sekali,” erang Dani sambil memegangi kepalanya.

Mendengar suara Dani, Adel terlonjak kaget dan hanya tertegun menatap Dani.

“Kamu.. Sedang apa kamu disini?” tanya Dani ketika melihat seorang gadis di sebelahnya.

“Aku khawatir banget sama kamu! Pertanyaan gak penting tau gak, jangan bikin aku gila gara-gara mikirin kamu!” emosi Adel meluap. Jelas saja ia sedang menemani pacarnya dengan cemas, memang apalagi?

Dani mengernyitkan alisnya. Sedangkan Adel terdiam menunggu respon dari laki-laki di hadapannya itu.

“Kamu siapa?” tanya Dani. Ia memutuskan untuk bertanya. Siapa dia, seenaknya saja berteriak seperti tadi.

“Aku? Aku siapa? Apa maksudnya, hah?” Adel mulai memikirkan kemungkinan terburuk yang sempat dikatakan dr. Scott padanya.

Adel menyentak kursi dan berlari keluar kamar. Biar saja, ini tidak lucu sama sekali. Seharian berharap-harap cemas, malah respon seperti itu yang didapat.

 

***

 

Adel termenung di koridor rumah sakit. Perkataan dr. Scott masih membebani pikirannya. Dani mengalami amnesia, dan membutuhkan donor sum-sum tulang belakang secepatnya. Pantas ia melihat dirinya seperti orang asing tadi. Ditambah keadaan Dani yang masih terlihat lemah.

“Apa yang harus aku lakukan?” desah Adel lemas. “Mungkin aku akan memikirkannya di rumah. Lagipula ini sudah larut,” lanjutnya lagi.

Adel beranjak dari situ dan menelepon Casey untuk menjemputnya. Kebetulan Casey juga sedang berada di luar. Besok ia akan kesini setelah pikirannya lebih baik.

 

***

 

“Keselip dimana sih?” tanya Adel pada dirinya sendiri pagi itu. Ia mengecek isi lemarinya dan tidak menemukan notes kesayangannya.

Hampir sejam ia habiskan mencari kesana kemari, lalu akhirnya ia membiarkan notes nya itu hilang entah kemana. Biasa jika tidak dicari, benda yang hilang akan ada ditempat asalnya secara tiba-tiba.

 

“Kau mau ke rumah sakit?” tebak Adriana ketika melihat Adel turun dari tangga.

Adel mengangguk. Kemudian ia berpamitan dengan Adriana dan menyusul Casey yang sudah menunggunya di mobil. Karena belum mempunyai SIM, maka Casey tidak mengijinkan Adel membawa mobil sendiri.

 

***

 

“Baiklah. Aku yakin hari ini dia pasti sudah mengenaliku,” gumam Adel dalam bahasa Indonesia. Ia terus berbicara sendiri. Beberapa orang memperhatikannya, mengira ia turis asing dan tersesat di rumah sakit ini.

“Kalau sampai ia tidak mengenaliku juga, aku akan…”

Kalimat Adel terhenti. Sungguh pemandangan yang tidak ingin dilihat. Saat pintu terbuka ia melihat Dani bersama seorang gadis. Mereka terlihat akrab dan sangat dekat. Bahkan saking asiknya mereka mengobrol sampai-sampai tidak ada yang menyadari kehadirannya disitu.

Sakit. Emosinya kembali terpancing.

Ketika melihat Dani dengan gadis itu ingin rasanya ia melabrak mereka berdua kalau saja otaknya yang masih bekerja tidak memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Dani tidak mengenalinya sekarang, bisa-bisa malah ia yang digeret keluar oleh petugas keamanan.

“Siapa dia? Kenapa aku gak pernah liat teman Dani yang satu itu? Mungkin mereka cuma teman, tetapi rasanya dia sainganku sekarang. Arrrgghhh!” jeritnya dalam hati sambil menjambak rambutnya sendiri.

Langkah kaki membawa Adel ke ruang kerja dr. Scott.

Tanpa mengetuk pintunya Adel langsung masuk dan menemukan dr. Scott yang sedang mengurusi data-data pasien. Dalam keadaan seperti ini, niatnya sudah bulat. Sebodoh amat dengan gadis itu ataupun amnesia sialan yang diidap Dani sekarang. Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana Dani bisa sembuh sepenuhnya dan ia bisa memulihkan ingatan Dani kembali..

5 thoughts on “The Story of Us : Now All Is Felt Different #9

  1. amnesia?? OMG.. Gimana ya cara adel bantu balikin ingatannya dani..?
    butuh sum-sum tulang belakang??
    separah itu sakitnya smpe hrus cari donor sum2 tlg blkang??
    Kasiaan😥

    Suka

  2. iya typo, gak diliat2 lagi sih. hahaha..

    digetok kepalanya pake batu *jahat*
    soalnya pas kehantem gitu ada yg gak bisa dibenerin.
    jd butuh donor biar bisa fit 100%
    wkwkwk :p

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s