Thankyou for Everything #4

selamat membaca ya reader2 sekalian😀

@nataa_diva

 

***

 

 

“Hoeeeeekkk!”

Adel muntah. Ia merasa kepalanya berputar hebat dan seluruh tulangnya terasa ditusuk ribuan jarum. Rasanya linu sekali. Sampai-sampai ia mengaduh kesakitan. Biasa Adel tidak pernah merasa seperti ini, namun pagi itu badannya seakan ambruk begitu saja.

Laura yang saat itu hendak mengambil buku pelajaran di meja Adel mengetuk pintu kamar mandi. Tanpa menunggu jawaban, Laura segera menerobos masuk ke dalam. Ia menemukan Adel dengan muka yang pucat. Sontak ia berlari memanggil Casey dan Adriana. Mereka melihat Adel yang sudah tergeletak di lantai kamar mandi. Casey segera menggendong Adel ke dalam mobil.

“Laura, kau berangkat dengan supir saja ya? Tak apa kan?” tanya Casey dengan cemas.

Laura terdiam. “Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Sampai nanti.” Laura berpamitan, hukumannya lumayan konyol jika ia terlambat masuk ke kelas. Sebenarnya ia sering merasa perlakuan yang tidak adil dari Casey, sama seperti yang Adel dapatkan dari Adriana.

Ia juga ingin Casey mengkhawatirkan dirinya, tapi terkadang biarpun Laura sakit itu hanya dianggap sakit biasa. Oh well, tidak seharusnya Laura berpikiran begitu, Adel kan memang butuh perhatian lebih banyak dibanding dirinya.

Setelah Adriana selesai bersiap-siap, mereka segera membawa Adel ke rumah sakit untuk memeriksanya.

 

***

 

Casey POV

“Kau telah membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya, Casey. Mengapa kau sampai lengah?” dr. Cal terlihat cemas.

“Aku tidak tahu, aku selalu menjaganya selama ini. Aku tak pernah melihatnya menyentuh minuman seperti itu sebelumnya,” jelas ku dengan perasaan sedikit bersalah. “Kemarin-kemarin ia tampak baik-baik saja, tidak terlihat gejala yang mencurigakan.”

“Saat dia sadar, tanyakan padanya. Oh, ya ampun.. Kau telah berhasil membuat hidup sel kanker yang tertidur lelap dalam tubuhnya. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik,” kata dr. Cal kemudian berlalu meninggalkanku.

Bisa ditebak, tangis Adriana meledak saat ia mendengar percakapanku dengan dr. Cal barusan. Aku meraihnya ke dalam pelukanku. Ia sukses mengotori baju putih dengan tanda tangan pemberian pembalap MotoGP, Mick Doohan, dengan lunturan maskaranya. Sebodoh amat, aku tidak memperdulikannya sekarang. Aku sibuk menenangkan Adriana, dan tiba-tiba Adel memanggilku.

“Papa…”

Aku mendekatkan telingaku, suaranya tidak jelas karena memakai masker oksigen. “Ada apa, sayang? Apa kau merasa sakit? Beritahu dimana rasa sakitnya nak, papa akan menguranginya jika papa bisa..”

Adel sedikit tersenyum. “Aku gak apa-apa. Papa kan bukan dokter,” ledeknya memaksaku untuk tertawa walau hanya sebentar.

“Papa boleh nanya?”

Adel mengangguk, ia membuka masker oksigen agar suaranya bisa terdengar lebih jelas.

“Apa yang terjadi nak?”

Ia tidak berani memandangku saat menceritakan semua secara detail, mungkin tidak enak karena ia membicarakan Adriana. Aku mencerna dengan cermat setiap kata yang keluar dari mulutnya. Alasannya jelas, ia tidak minum sembarangan ternyata. Sesudah itu aku menyuruh Adel untuk istirahat lagi. Kemudian aku keluar untuk menemui Adriana di cafetaria rumah sakit. Efek dari alkohol itu baru muncul kurang dari seminggu sejak Adel meminumnya.

 

***

 

“Adel!” seru Jorge dari tempat parkir sekolah ketika anak-anak berseragam kotak-kotak berhamburan keluar dari kelas.

“Oh maaf, aku Laura. Bukan Adel,” jelas Laura. Orang awam sering salah mengenali keduanya.

“Kau tahu dimana dia sekarang?” tanya Jorge mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.

Laura tidak mau memberi tahu, Adel tidak suka jika semua orang tahu tentang penyakitnya dan merasa kasihan padanya. Akan tetapi Jorge terus mendesak Laura.

“Sebenarnya kau punya hubungan khusus apa dengan kakakku sampai kau harus tahu semua tentangnya?” selidik Laura saat mereka dalam perjalanan di mobil menuju rumah sakit.

“Well, tadinya aku pikir aku sangat mencintai Adel,” kata Jorge tanpa mengalihkan perhatiannya menyetir.

Laura mendelik. “Lalu setelah tahu kau akan bilang bahwa kau tidak mencintainya lagi, begitu? Kalau tahu jawabanmu seperti ini lebih baik aku tidak memberi tahu apapun tentangnya.”

“Dengarkan aku dulu,” tukas Jorge. “Memang tadinya aku mencintai dia, tapi sekarang aku semakin mencintai dia. Aku ingin dia bisa sembuh dan hidup bersama selamanya denganku.”

Laura menghela nafas. So what? Sepanjang sisa perjalanan ke rumah sakit Laura tidak menggubris ocehan Jorge. Untunglah Laura sudah pulang dari Cervera, setidaknya ada yang menemani Adel jika Casey dan Adriana ada urusan mendadak.

 

“Thanks, jangan pernah kasih tahu Adel. Dia bisa marah besar padaku,” Laura membuka pintu mobil. Laura tidak begitu menyukai Jorge, bukan tipenya pada penilaian pertama kali saat di sekolah tadi.

Dengan langkah gontai Laura masuk ke dalam rumah sakit dan masuk ke dalam lift. Ia menuju kamar Adel. Tidak ada kakaknya dirumah hampir membuatnya mati karena kesepian.

 

***

 

Jorge POV

“Kalo aku gak ada, jagain mama sama papa ya…”

Percakapan antara Laura dan Adel masih terngiang-ngiang di telingaku. Ketika Laura menyuruhku pulang, aku malah mengikutinya hingga sampai di kamar Adel. Hanya saja sesuai katanya tadi, aku tidak menampakkan kedatanganku pada Adel. Jadi aku hanya mengintip saja dari celah pintu.

“Kamu ngomong apa sih? Jangan mendramatisir deh,” Laura menyeka sudut matanya yang mulai berair.

“Aku gak tau semua bermula dari minum wine bersama Dani,” kata Adel lalu bercerita, “Biarpun aku jadi begini, aku seneng banget pas malem itu. Bodoh ya? Tapi itulah kenyataannya.” Adel terkekeh pelan.

Matanya menyiratkan gadis itu mungkin menyukai Dani. Aku sedikit gusar. Mengingat apa yang terjadi dengan gadis yang aku cintai itu ternyata disebabkan juga oleh Dani, entah kenapa emosiku memuncak terhadap rivalku di lintasan balap itu.

“Prraaanngg!”

Tanpa sadar aku melayangkan pukulan ke arah kaca yang ada di kamarku, membuatnya pecah sekaligus membuat tanganku berdarah. Sial! Umpatku penuh kekesalan. Emosiku memang gampang meledak.

Aku harus mengadakan perhitungan dengannya! Entah bagaimana caranya. Dia lah yang menyebabkan Adel jadi seperti ini. Aku akan memikirkan sesuatu. Nanti setelah pikiranku bisa tenang, barulah aku akan merencanakan semuanya. Liat saja nanti..

One thought on “Thankyou for Everything #4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s