Don’t Say You Never Love Me #9 – END

cove2r

Laura berjalan dengan langkah gontai menuju ke rumah orang tuanya. Sudah beberapa hari ia tinggal di sini sekedar untuk pelarian. Orang tuanya sudah tahu tentang perjanjian itu dan bisa memahami keadaan Laura sekarang. Walaupun mereka sempat bujuk Laura untuk memikirkan kembali keputusannya itu. Tapi, apa mau dikata karena Laura sudah mengambil keputusan. Dan tentunya mereka akan mendukung apapun keputusan anak perempuan mereka.

Laura mendorong pintu pagar besinya hingga terbuka. Matanya menangkap sosok pria yang sangat ia rindukan beberapa hari ini namun juga pria yang sangat tidak ingin ia temui, sedang bersandar di bagian samping BMW hitamnya. Dan yang paling membuat Laura terkejut adalah sepuntung rokok yang dihisap oleh Marc. Astaga, setahu Laura, Marc tidak pernah merokok karena ia sangat benci dengan yang namanya rokok. Tapi kenapa sekarang…?

Laura tidak ingin memikirkan itu dulu. Yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana menghindari pria itu. Reflek ia melangkah mundur. Tapi baru beberapa langkah ia berjalan….

“Mau kabur kemana lagi kau?” tanya Marc sedingin es yang berhasil membuat Laura mengejang di tempat.

Laura berbalik dan menatap Marc yang sedang membuang puntung rokok itu di tanah. Marc menatap balik Laura dengan tatapan dingin. Tampang Marc sangat memprihatinkan. Beberapa hari ditinggal Laura, penampilan bisa dikatakan sangat-sangat kacau. Rambutnya awut-awutan dan wajahnya juga kusut dengan lingkarang hitam yang menghiasi matanya. Laura yakin sebentar lagi ia akan menerima amukan dari pria itu dan parahnya tidak ada yang bisa menyelamatkannya sekarang. Ayah dan ibunya pergi ke luar kota untuk menghadiri pertemuan dengan saudara jauhnya. Dan yang tersisa di rumah ini hanya seorang baby-sitter yang sedang menjaga Miguel. Matilah!

Marc berjalan ke arah Laura dengan langkah-langkah panjangnya, kemudian mencengkram tangan gadis itu kasar dan menariknya masuk ke dalam rumah. Sepertinya perang dunia ke-3 akan dimulai.

“Lepaskan tangan aku,” bentak Laura berusaha menyentak tangan Marc yang mencengkramnya sangat kuat.

Marc mendorong Laura hingga jatuh ke sofa dan memberinya tatapan mematikan. Ia sangat marah atas perbuatan gadis itu.

“Kau pikir apa yang kau lakukan?” desis Marc.

“Cerai,” jawab Laura datar.

“Cerai? Gampang sekali kau bilang cerai? Sialan kau! Kau pikir aku akan dengan sukarela langsung menandatangani surat itu? Aku tidak akan pernah melakukannya, Laura Amberita Sánchez!” teriak Marc murka. Wajahnya merah padam.

“Kau lupa dengan perjanjian yang kita buat, Marc? Kita sepakat bercerai jika anak yang aku kandung sudah lahir. Dan sekarang Miguel sudah lahir. Tak ada alasan untuk aku tidak menggugatmu. Semuanya sudah berakhir,” ujar Laura, mencoba untuk tidak menangis. Hatinya juga hancur saat mengucapkan kata-kata ‘semuanya sudah berakhir’.

“Persetan dengan perjanjian bodoh itu! Aku tidak peduli jika kau berhubungan dengan pria manapun. Tapi aku sangat tidak ingin perceraian ini terjadi. Tolong jangan membuatku tersiksa seperti ini, Laura. Aku tahu kau juga tersiksa selama menikah denganku. Tapi, aku mohon kau bisa bertahan demi anak kita. Dia juga akan menjadi korban karena keegoisan kita. Miguel perlu kita, orang tuanya untuk merawatnya dan memberikannya kasih sayang, Laura,” ucap Marc dengan nada memohon sekaligus terdengar marah.

“Tidak. Miguel tidak butuh kau, Marc. Dia tidak akan pernah membutuhkan dirimu. Karena ada aku, ibunya yang akan membesarkannya. Aku akan merawatnya dengan caraku sendiri,” ungkap Laura.

“Miguel juga anakku, Laura!” seru Marc tak terima.

“Iya, Miguel memang anakmu juga. Tapi, akan kupastikan saat dia besar nanti, dia tidak akan pernah mencarimu,” balas Laura.

Marc menyipitkan matanya. “Apa maksudmu tidak akan pernah?” tanyanya. Emosinya semakin tersulut.

“Dia tidak akan mencarimu. Karena… saat ia besar nanti aku akan bilang padanya bahwa ayahnya sudah mati saat aku mengandungnya. Dia tidak akan pernah tahu siapa ayahnya. Akan kupastikan itu. Jadi kau tidak perlu repot-repot mengurusi kami lagi. Semuanya sudah berakhir.”

“Tidak. Kau tidak bisa melakukan itu,” desis Marc berapi-api.

“Aku bisa. Karena kita sudah menandatangi surat pra-nikah itu.” Laura tampak tak gentar saat mengucapkannya. Tapi, kalau boleh jujur hatinya sudah hancur berkeping-keping. Rasanya begitu sakit.

“Persetan dengan surat itu. Aku tidak mau Miguel kehilangan sosok ayahnya. Dia anak aku dan aku punya hak atas anak aku sendiri. Karena aku ayahnya,” seru Marc, tetap teguh pada pendiriannya.

“Marc…,” erang Laura frustasi. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Ia terlalu marah, frustasi dan sakit di saat yang bersamaan.

“Kumohon, kembalilah ke apartemen kita. Kita mulai lagi dari awal, Laura. Kita bisa membesarkan Miguel bersama-sama.” Marc melunak saat mengatakannya.

“Itu tidak mungkin, Marc,” ucap Laura lemah.

Sebenarnya Laura tidak habis pikir kenapa Marc bersikeras seperti ini. Apa mau pria ini sebenarnya? Menjadikan Miguel sebagai alasan untuk hidup bersamanya? Laura tidak bisa. Ia tidak akan mungkin bisa hidup dan tinggal bersama pria yang tidak pernah mengatakan cinta padanya.

“Kenapa?”

“Karena kau tidak membutuhkan aku. Yang kau butuhkan adalah seorang wanita yang sangat mengertimu. Jika kau hanya menjadikan Miguel sebagai alasan supaya aku mencabut gugatan ceraiku, itu sama juga kau menyiksaku lebih dalam lagi!” kata Laura. Ia juga sama terlukanya dengan Marc.

“Apa maksudmu?”

Karena aku terlalu mencintaimu, Bodoh! Laura ingin sekali meneriaki Marc dengan kata-kata itu. Tapi ia hanya bisa meneriakannya dalam hati.

Laura menutup matanya dan menjawab, “aku tak menginginkanmu, Marc. Pergilah. Aku tak ingin melihat kau di sini lagi,” usir Laura.

“Apa tidak ada kesempatan lagi untukku?” tanya Marc sekali lagi. Hati pria itu seperti hancur tak beraturan mendengar Laura mengusirnya. Tidak ada yang lebih menyakitkan melihat gadis yang kaucintai yang tak mengingkanmu lagi. Dan Laura menunjukannya secara terang-terang di depannya.

“Tidak,” jawab gadis itu.

“Laura….”

“Pergilah, Marc. Pergi!” Laura menangis. Semuanya begitu berat untuknya.

“Kau tidak menginginkanku bukan berarti kau tidak mencintaiku, Laura,” ujar Marc frustasi. Dan bukannya pergi, Marc kemudian memegang bahu Laura, menuntut pandangan gadis itu ke arahnya.

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menjelaskannya padamu. Karena statusku yang dulu sebagai seorang bajingan, tapi tidak lagi setelah aku menikah denganmu. Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi ini adalah ungkapan isi hatiku. Aku baru menyadari ada yang kurang saat kau meninggalkanku beberapa hari yang lalu. Aku tak terbiasa dengan keadaan itu. Jujur, saat pertama kali aku mengenalmu, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda denganmu. Aku mendekatimu dan mencoba mengenalmu lebih dekat. Tapi aku minta maaf, karena tidak bisa mengendalikan diriku malam itu. Aku terlanjur terbawa napsu. Tapi, satu hal yang harus kauketahui, aku sangat senang mendengar bahwa kau hamil. Jangan salah paham dulu, maksudku dengan hamilnya kau dan kau juga berasal dari keluarga terpandang tentu keluargamu tak mau menanggung aib dan tak berani mengambil resiko. Akhirnya orang tuamu memaksaku untuk menikahimu. Dan kau tahu? Tanpa paksaan dari mereka pun, aku akan dengan senang hati menikahimu.”

“Dan setelah kita menikah, aku berusaha untuk tidak menyakitimu untuk kedua kalinya. Cukup sekali saja atas perbuataanku malam itu. Hari-hari yang kujalani bersamamu sangat berarti untukku, Laura. Mendengar teriakanmu, makianmu, dan merasakan tendanganmu. Beberapa hari ini aku sangat merindukan semua itu. Semuanya terasa tak berarti ketika kau mengemas barang-barangmu dan hanya meninggalkan surat gugatan cerai di kasurmu. Aku takut kehilanganmu, Laura. Sangat takut. Tidak bisakah kau lupakan perjanjian bodoh itu dan menatap ke depan? Aku ada di sini, di depanmu. Tolonglah belajar mencintaiku, Laura. Berusahalah, aku akan menunggu sampai kau siap menyiapkan hatimu untukku.”

Laura masih syok mendengar pengakuan Marc. Ternyata selama ini Marc mencintainya bahkan saat pertama kali mereka bertemu. Laura bodoh sekali mengira jika ia saja yang tersiksa karena terlalu mencintai pria itu. Ternyata Marc pun merasakan hal yang sama. Dan gara-gara perjanjian bodoh itu yang memisahkan jarak diantara mereka. Tapi sekarang semuanya tak berarti lagi. Marc mencintainya, dan ia juga mencintai Marc. Lalu, sekarang apa masalahnya? Mereka juga telah memiliki Miguel. Apa lagi yang kurang?

“Benarkah apa yang kaukatakan itu?” tanya Laura. Pertanyaan bodoh sebenarnya. Jawabannya sudah jelas-jelas di depan mata.

“Apa perlu aku membuktikannya?” Marc melebarkan senyum di bibirnya. Tanpa persetujuan dari Laura, pria itu menunduk ke arah Laura dan menciumnya dengan penuh cinta dan kelembutan.

“Kau tahu? Mengajukan gugatan cerai itu saja bunuh diri,” ucap Laura setelah Marc menjauhkan wajahnya. “Aku hampir mati karena terlalu mencintaimu, Marc. Aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu saat pertama kali kita bertemu. Tapi kejadian malam itu membuatku mengubah cara pendangku terhadapmu. Aku takut untuk jatuh kedua kalinya,” jelas Laura meraih wajah Marc.

“Itu bisa kupahami, Laura. Mulai sekarang jangan pernah katakan kalau kau tidak mencintaiku,” kata Marc lalu memeluk Laura lembut. Semuanya akan berakhir dengan bahagia jika saja tidak ada perjanjian bodoh yang menjadi jurang pemisah bagi mereka.

Sekarang semuanya sudah jelas. Mereka akan berkumpul bersama lagi, dengan anggota baru di keluarga kecil mereka. Ada Miguel, dan semuanya akan dimulai dari awal lagi.

THE END

Finally!!! Akhirnya selesai juga ff ini. Pendek banget ya endingnya? Aku rasa juga begono. Tapi… tapi… tapi…, kalo ada waktu aku bakal nulis sekuel dari ff ini kok. Dan sekuel itu mungkin dalam bentuk mini ff. Soalnya aku lagi males ngetik yang berpart *ditabok*😀 Trus, aku juga mau ngasih tau kalo ff MotoGP Season 2013 yang part 12-nya udah aku tarik dari blog. Karena ada beberapa tambahan, atau mungkin yang part 12 kemarin bakal aku jadiin part 13. Trus, kapan dipostnya? AKU GAK TAU….. *dikeroyok readers* Oke, sekian dan terima kasih…. See yaaaaa….

10 thoughts on “Don’t Say You Never Love Me #9 – END

  1. Hai.. Hai..
    Ini komen pertamaku di ff mu rita..
    Selama ini aku suka baca kisah marc n laura, tapi gk prnah ksih komen. Hehhe
    Utk kisah yg ini, aku suka banget kisahnya.
    Tapi… Maaf banget nih sbelumnya,
    Endingnya kurang greget, kurang dramatisasinya, romanticnya kurang.. kurang bikin terharu, :p
    Kalo masalah panjang alur ceritanya sih udah pas banget..
    Tapi tetep oke banget kok kisahnya,,
    Ditunggu ya sekuelnya🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s