Thankyou for Everything #3

Selamat membaca🙂

@nataa_diva

***

 

Adel POV

07.00 a.m.

Sinar matahari menerobos masuk ke dalam kamar. Aku menarik selimutku hingga sebatas leher. Jam berapa sekarang? Kenapa matahari sudah terang begini? Aku mengerang pelan.

“Ayo bangun, jangan membuat mama mu menunggu untuk sarapan sayang.”

Suara papa terdengar sayup-sayup. “Kamu kan juga harus sekolah.”

Aku membuka sebelah mataku.

“Gak mau, males ah.”

“Jangan bandel, ayo cepat mandi dan bersiap-siap. Kau akan kesiangan nanti,” kata papa sambil menarik selimutku.

“Bangunin..,” aku merengek manja.

Dengan sekali tarikan, papa mampu membuatku berdiri dengan tegak. Aku mengambil seragam di lemari pakaian dan segera mandi. Rasanya badan ini remuk semua, aku pikir mungkin ini karena semalam aku kurang istirahat.

Sesudah berpakaian seragam lengkap, aku mematut diriku di depan cermin. Kalau dilihat, aku lebih mirip papa. Sedangkan potongan muka Laura persis mama. Tidak ada yang terbuang sama sekali.

“Adel!” mama berteriak memanggilku. Opss.. Aku berlari kecil menuju ruang makan. Dan mama sudah menungguku dengan muka yang sedikit dibuatnya galak.

 

***

 

“Serius!?” Dee memastikan ucapan Adel barusan.

“Iya. Siapa suruh pergi duluan, gak ketemu kan. Ganteng banget tau,” Adel menopang pipi dengan kedua tangannya.

Saat jam istirahat sekolah, Adel menceritakan kejadian kemarin pada Dee. Bisa ditebak, reaksi sahabatnya yang satu itu sangat heboh. Selama 15 menit waktu istirahat dipakai mereka untuk mengobrol tentang Jorge Lorenzo. Seorang pembalap yang memukau, dan.. tentu saja keren.

“Adel, ke ruangan saya sebentar,” sebuah suara menyeruak begitu saja, mengganggu pembicaraan seru diantara Adel dan Dee.

Pemilik suara itu, Mr. Alex, menarik rambut Adel yang di kuncir satu tanpa memperdulikan Adel yang marah-marah karena rambutnya berantakan. Di ruangannya, Mr. Alex langsung menyampaikan maksudnya.

“Minggu depan, kamu diikut sertakan dalam perlombaan matematika di Jepang. Kamu harus banyak berlatih,” kata Mr. Alex menyerahkan selembar surat. “Itu untuk orang tuamu,” sambungnya lagi.

Wahh! Ini kesempatan untuk membuktikan dirinya bisa seperti Laura. Baru pertama kalinya ia diberi penawaran seperti ini. Adel menyetujui tanpa keraguan sedikitpun.

“Siap pak bos!” seru Adel bersemangat, sampai-sampai Mr. Alex menutup telinganya rapat-rapat.

“Sudah sana kembali ke kelas. Sekali lagi kau berteriak seperti itu didepanku, kau akan mendapatkan surat peringatan pertama.”

Mr. Alex memberi tekanan pada kalimat surat peringatan pertama. Adel sering diancam seperti itu oleh beberapa guru entah karena keusilannya maupun teriakannya yang super keras itu.

 

***

 

Adriana POV

“Tok.. Tok..”

Suara ketukan pintu terdengar. Aku melangkah gontai dan membuka pintu. Pasti Adel, batinku.

“Bisa ngomong bentar gak ma?” tanyanya.

Oh tentu, tentu bisa nak. Ingin sekali aku memeluknya, mencium kepalanya dan menyambutnya dengan sejuta kehangatan. Bukannya saat-saat terbaik itu ialah bertukar isi hati dengan anak gadismu? Apalagi Laura sedang tidak berada di rumah, suasana terasa sepi sekali.

“Well, tapi jangan terlalu lama. Mama ingin beristirahat.”

Ada raut kekecewaan di wajahnya, tersirat meskipun ia berusaha memasang tampang datar.

“Ini,” Adel menyodorkan selembar surat. Aku mengambil dan membaca surat itu. “Terus?”

“Aku mau ikut. Tolong tanda tanganin suratnya dong. Minggu depan lombanya diadakan di Jepang,” kata Adel dan menyerahkan bolpen. Aku menanda tangani surat itu.

“Sudahkan? Mama mau istirahat,” tukas ku sambil mengembalikan surat itu dengan kasar. Adel menghirup nafasnya dalam-dalam dan pamit. Ia kembali ke kamarnya.

Eh? Apa aku tidak salah dengar? Suara isakan tangis ketika Adel menutup pintu? Oh my.. Sejurus kemudian aku tersadar. Perkataanku tadi mungkin menyakitkan untuknya, bahkan terdengar amat sangat menyakitkan di telingaku sendiri.

“Ya Tuhan..” Aku menyesal. Tidak salah kan jika ia mau berbincang-bincang sebentar denganku? Jika ia ingin merasakan kasih sayangku sebagai ibu yang melahirkannya ke dunia ini? Beribu pertanyaan mencuat begitu saja. Pertanyaan yang tidak bisa ku jawab, karena kesalahan terbesar menurutku adalah membangun hubungan yang erat dengannya lalu hancur begitu saja hingga yang tersisa hanyalah kenangan menyakitkan.

Namun apa yang bisa diharapkan dari keadaan yang tidak berpihak ini?

 

***

 

Suasana begitu ramai. Asap rokok dan bau alkohol bercampur menjadi satu, membuat siapa saja yang belum terbiasa pasti merasa pusing. Seorang gadis yang terlihat cukup dewasa duduk di sudut ruangan. Dari pakaiannya mungkin gadis ini bukan gadis sembarangan.

Kau tidak akan menemukan perempuan nakal dengan baju lengan panjang dan celana jeans bukan? Bel di pintu masuk berdenting halus. Seorang laki-laki masuk dan mencari tempat duduk. Melihat ada yang kosong di pojok sana, ia berjalan ke arah gadis itu.

“Hei, siapa namamu?”

“Adelaide.”

Jawabannya singkat, ia terus menatap lurus kedepan.

“Sedang apa kau disini? Well, maksudku dengan tampangmu yang begini tak mungkin kan kau kesini untuk berbuat sesuatu, benar kan?”

“Jadi kalo aku pake tanktop sama hotpans kesini, aku bakalan berbuat aneh-aneh gitu?” desis Adel risih.

“Bukan begitu, siapa tahu saja kau ada waktu untuk menemaniku malam ini,” goda laki-laki itu.

“Brengsek kau! Memangnya kau pikir aku ini apa? Dan kau, pergi aja sana kalo mau begituan. Sembarangan aja,” Adel menyerocos panjang lebar, masih tanpa menatap laki-laki di sebelahnya.

Laki-laki itu terkejut, ia hanya bercanda dan tidak menyangka akan mendapat tanggapan seperti itu dari Adel.

“Maaf, aku bercanda tadi. Kupikir Casey mengatakan tentang dua anak perempuannya yang manis dan sopan itu benar. Cuma melihat kamu rasanya itu tidak benar.”

Adel tersentak. Ia menatap lekat-lekat pemuda dihadapannya. Sialan! Saking kalutnya ia tidak menyadari ia sedang berbicara dengan siapa.

“Opss.. Sorry, Dani Pedrosa. Aku sama sekali gak tau itu kamu” desah Adel menahan malu. Selain Casey, Adel juga mengidolai Dani dan Jorge. Dan secara kebetulan ia bisa bertemu mereka berdua dalam waktu dan tempat yang tidak terduga.

Adel dan Dani kemudian terlarut dalam obrolan, di temani sebotol wine dari Prancis berkadar alkohol sangat rendah. Segalanya terlihat baik-baik saja. Karena baik Dani maupun Adel tidak ada yang menyadari bahwa salah satu pantangan dari dokter adalah Adel tidak boleh minum segala jenis alkohol. Dani memang tidak tahu, dan Adel tidak pernah diberi tahu. Casey berpikir Adel bukanlah tipe anak remaja yang suka bergaul tidak senonoh, maka ia tidak memberi tahu soal itu pada Adel.

Namun sekarang, Adel hanya meminum wine untuk menemaninya mengobrol. Sekaligus menekan rasa frustasinya. Bukan untuk bersenang-senang selayaknya anak-anak muda yang sudah kecanduan alkohol. Ia tidak tahu sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya sendiri..

2 thoughts on “Thankyou for Everything #3

  1. baguuss jalan ceritanya..
    Agak kaget + bingung waktu muncul sosok dani di cerita ini, dia karakternya baik atau jahat yaa??
    Nah, yg gak aku sukanya terlalu bnyak POVnya.
    Jadi sedikit ribet bacanya. Cukup author’s pov aja menurutku sih udh bagus.
    Tapi tetep lanjut ya,, ffmu slalu bikin penasaran.
    Heheh

    Suka

  2. Hahaha, baik kok baik ;;)
    Kan lumayan bikin reader sedikit berpikir waktu ngebacanya, hehe..
    Okelah, nanti dikurangin POV nya😀
    Siappp, maacii..
    Hihi :p

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s