Don’t Say You Never Love Me #8

cove2r

Waktu berlalu dengan sangat cepat. Tak terasa usia kandungan Laura kini hampir memasuki bulan ke-9. Dan akhir-akhir ini ia juga sering merasakan kontraksi yang biasa dialami oleh ibu hamil yang akan melahirkan.

Pagi ini saat Laura ingin bangun dari tempat tidurnya, ia merasakan kontraksi lagi. Tapi kali ini sakitnya tidak seperti biasanya. Ia menyingkap selimut yang masih menutupi setengah tubuhnya dan melihat ada cairan kuning yang membasahi seprai dan kakinya. Astaga, air ketubannya pecah dan ia akan melahirkan. Sakit dibagian bawah perutnya pun semakin menjadi.

“MARC!!!” teriak Laura kesakitan.

Marc yang baru bersiap-siap berpakaian di kamarnya langsung terkejut mendengar teriakan Laura di kamar sebelah. Sontak saja itu membuatnya panik. Langkah-langkah kakinya langsung menuju ke kamar Laura. Marc berjongkok di depan dan menatapnya cemas. ”Astaga, Laura. Kau kenapa? Apa bayinya menendang lagi?”

Laura menggeleng pelan dan wajahnya masih merintih kesakitan. “Sepertinya aku akan melahirkan,” ucapnya.

“APA?!” teriaknya kaget.

Marc bangkit berdiri. Dan wajahnya terlihat panik setengah mati. Benar-benar gila! Apa yang harus dilakukannya? Ia berjalan mondar-mandir tak jelas sembari melemparkan pandangan ke penjuru kamar. Mencari sesuatu yang ia pun tak tahu apa yang sedang dicarinya. Sementara Laura hanya menatap heran ke arah pria itu. Setidaknya dengan ekspresi Marc panik yang menurutnya sangat lucu dan bisa sedikit meredakan sakit di perutnya.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Marc panik, wajahnya sangat frustasi. “Astaga! Aku harus bagaimana? Menelpon Dad, Mom, Alex, Mila…. Akh…!!! Aku harus apa? Aduh… bagaimana ini???” Marc semakin panik, ia pun mengacak-acak rambut hingga berantakan. Ia benar-benar frustasi.

“Apa bayinya sudah mau keluar? Apa yang kau rasakan? Bayinya mendesak, memberontak atau mendorong ingin keluar secepatnya? Astaga, bagaimana ini…???”

Marc kemudian menunduk ke arah perut Laura. “Aduh, Sayang. Jangan keluar dulu ya. Daddy sedang mencari bantuan,” katanya sembari mengelus perut Laura. Laura yang melihat pemandangan itu sangat terharu dengan sikap Marc terhadap bayi yang ada di dalam perutnya. Dan tadi Marc mengucapkan kata ‘Daddy’ untuk menenangkan bayinya.

“Bisakah kau beritahu apa yang harus aku lakukan?” tanya Marc frustasi.

“Bawa aku ke rumah sakit, Marc. Dan di sana…,” Laura menunjuk ke lemari di sudut kamarnya, “itu tas yang berisi perlengkapan bayi dan bawa itu ke rumah sakit,” ujar Laura, memberi instruksi.

“Baik… baik….” Marc langsung berlari mengambil tas kemudian balik lagi ke hadapan Laura. “Lalu?” tanyanya.

“Antar aku ke rumah sakit, bodoh! Memangnya apa lagi?” Laura pun ikut naik darah karena kedudulan Marc.

“Ah… iya. Ayo…,” ajak Marc kemudian berjalan ke pintu.

“MARC MÁRQUEZ!!!” teriak Laura emosi. Pria itu benar-benar keterlaluan.

Marc menghentikan langkahnya dan segera berbalik menghadap Laura. “Apa lagi?”

“Kau itu bodoh atau apa sih?! Aku ini sedang sakit perut, masa kau mau meninggalkanku begitu saja!” geram Laura.

“Aku kan ingin menyiapkan mobil dulu, Laura. Memangnya kau tidak bisa jalan sendiri?” Mulut Laura sontak ternganga mendengar pertanyaan Marc. Pria itu memang dudul sekali. Ia sedang sedang sakit perut, bagaimana bisa berjalan?

“Kau benar-benar bodoh! Aku tak bisa berjalan, Marc!” Laura sewot sendiri.

“Kenapa kau tak bilang dari tadi.”

Marc kemudian meletakan tas ke lantai, lalu menghampiri Laura lagi dan langsung menggendong gadis itu masuk ke dalam mobil. Lalu, ia kembali masuk ke apartemennyaa lagi untuk mengambil tas. Mereka pun berangkat ke rumah sakit.

***

“Tenanglah, Laura,” kata Marc sembari menyeka keringat yang mengalir di dahi gadis itu. Tangannya menggenggam erat tangan Laura.

“Kau enak saja bilang tenang, tenang! Coba kalau kau yang melahirkan! Menyebalkan!” semprot Laura. Sakit di perutnya pun semakin menjadi-jadi.

Marc hanya cengengesan.

“Auw…,” Laura menjerit kecil, ia mempererat cengkraman tangannya yang di gengaman Marc. “Huh… sakit sekali. Lihat saja nanti, ini akan menjadi yang pertama dan terakhirnya aku melahirkan,” gerutunya.

“Ah…. Sayang sekali. Padahal semalam aku berencana akan menambah jumlah keluarga kita,” ujar Marc. Maksud perkataannya hanya untuk menghibur Laura yang tengah kesakitan.

“Berharap terus saja kau!” sahut Laura ketus.

Dr. Adriana Stoner, dokter yang akan menangani proses persalinan Laura, masuk ke ruang persalinan. Sepertinya sudah waktunya Laura untuk melahirkan.

“Sudah pembukaan ke sepuluh, ayo Mrs. Marquez, sekarang kau harus mengejan,” kata Dr. Adriana seraya memposisikan tubuhnya di depan selangka Laura.

Suasana seketika tegang, jantung Marc semakin berdebar-debar tidak karuan. Sebentar lagi… sebentar lagi anak mereka akan lahir.

“Kau pasti bisa. Berjuanglah,” bisik Marc ke telinga Laura. Kemudian ia menyangga tubuh Laura agar memudahkan proses kelahiran buah hatinya, buah cintanya bersama Laura.

***

Laura’s POV

Akh… sakit sekali. Aku tak menyangka rasanya akan seperti ini. Bahkan ini di luar perkiraanku. Melahirkan tak semudah yang dibayangkan. Tapi aku bersyukur, ada Marc yang masih setia mendampingi. Walaupun lengannya habis kucakar-cakar hingga meninggalkan bekas-bekas luka. Aku rasa itu setimpal dengan penderitaan yang aku alami saat ini.

Huh!

***

Menjadi seorang ibu di usia yang masih sangat mudah sepertinya tak masalah untukku. Aku malah sangat bangga karena berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki yang kini sedang terlelap di pelukanku setelah kususui. Aku tak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini. Bahkan kata bahagia pun tidak dapat mendeskripsikannya.

cove2r

“Kau mau menamainya siapa?” tanya Marc kepadaku, dia berdiri tepat di sampingku. Tangannya terurai membelai lembut kepala bayi kami. Dia sangat perhatian. Tapi… ini tidak akan bertahan lama. Ini adalah saat yang aku tunggu dan juga saat yang paling kutakuti dan kuhidari. Perjanjian itu….

“Bagaimana dengan Miguel?” usulku.

“Miguel? Miguel Márquez Alenta Sánchez. Bagus sekali. Aku setuju,” ucap Marc tersenyum.

Marc menatapku lembut, tangannya beralih membelai rambutku. Kenapa… kenapa aku merasa seolah-seolah ini adalah awal perpisahan kami. Oh, Tuhan, Aku belum siap.

“Terima kasih, Laura. Terima kasih karena kau telah melahirkan bayi kita dengan selamat.”

Terima kasih?

Hanya dengan dua kata itu saja bisa membuat hatiku hancur seketika. Apa dia tidak punya kata lain? Ini terlalu cepat.

Kenapa aku begitu bodoh mempercayai harapan yang diberikan oleh Marc? Aku bodoh sekali, bodoh karena terlalu mencintainya. Aku ingat, tujuan awal dari pernikahan kami hanya memberi status pada anak kami. Dan setelah itu… berpisah.

Miguel Márquez Alenta Sánchez. Dalam hati aku ingin sekali menangis. Márquez Alenta. Kedua kata itu akan tertera di surat kelahiran Miguel, anak kami. Setidaknya Miguel memiliki ayah yang selama beberapa bulan ini selalu mendampingi ibunya. Dan setelah ini, anak itu tidak akan bisa lagi bertemu dengan ayahnya. Tidak akan pernah lagi. Karena kewajiban Marc sudah berakhir sampai di sini.

***

Author’s POV

Marc baru saja pulang dari kantor dan langsung masuk ke kamar Laura untuk melihat bayi kecil mereka, Miguel. Tapi di dalam kamar itu kosong, tak ada siapa-siapa. Bahkan sebagian perlengkapan bayi tak terlihat disana. Astaga, jangan-jangan Laura….

Rasa panik langsung menghantam Marc. Ia kemudian memeriksa lemari baju Laura dan tapi isi lemari itu kosong. Marc mengacak-acak rambutnya frustasi. Bagaimana ini bisa terjadi? Baru saja ia merasakan kebahagian yang luar biasa setelah kelahiran putra mereka. Tapi hilang begitu saja karena perjanjian bodoh yang pernah dibuat oleh mereka berdua.

Tak sengaja, Marc melihat sebuah dokumen berwarna coklat yang terletak di tempat tidur Laura. Segera saja Marc mengambil dokumen itu dan mengeluarkan isinya.

DEG!

Surat gugatan cerai! Marc membelalakan matanya saat membaca kepala surat itu. Tidak! Ia tidak ingin bercerai dengan Laura. Itu tidak boleh terjadi.

Surat itu pun langsung menjadi keping-kepingan kecil dan hancur di tangan Marc. Ia akan berjuang untuk mempertahankan rumah tangannya. Ia yakin bisa melakukannya. Apapun caranya!

To Be Continued…

8 thoughts on “Don’t Say You Never Love Me #8

  1. koreksi bagian atas kenapa ada kata ” oleh ibu hamil PASCA akan melahirkan. ” paska itu kan sesudah jd kalu diartikan oleh ibu hamil setelah akan melahirkan ?? knp gak pake kala menjelang kelahiran ?? #just koreksi …. btw I like name miguel … seperti film telenovela sesuaan ku juan miguel …
    next … cinta marc ke laura tumbuh seiring kedekatan mereka selama ini ….so sweeettt .. tp knp laura keburu pergi ??// # di tunggu cerita nya >>>

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s