The Story of Us : Feels Half of My Life was Lost #8

Gambarcomeback again😀

selamat membaca aja ya🙂

nataadiva26

 

***

 

 

00.43 a.m
Adelaide terbangun dan melihat jam di layar ponselnya. Ia merasa haus. Lalu ia turun dari ranjang dan mengambil minum di depan.
Sesudah itu Adel kembali ke kamarnya.
“Hoamm..” Adel menguap menahan kantuk. Begitu melihat pintu kamar terbuka, ia langsung masuk dan tidur dengan posisi melintang.
Sedikit tidak nyaman. Namun rasa kantuk membuatnya pulas dalam sekejap.

Dani Pedrosa, yang saat itu baru selesai menonton pertandingan bola bersama Casey Stoner di ruang keluarga langsung beranjak ke kamar tamu. Baru saja ia akan merebahkan tubuhnya ketika ia melihat Adelaide menguasai tempat tidurnya. Ralat, tempat tidur yang di sediakan untuknya.
“Bagaimana bisa dia ada disini?” Dani kebingungan sembari melihat Adel. Sekarang ia mau tidur dimana?
“Apa aku gendong aja ya?” tanyanya lagi, yang ditanya malah membalikkan badannya.
Dani naik ke atas ranjang, bermaksud menggendong gadis itu kembali ke kamarnya. Akan tetapi baru saja kakinya terangkat, Adel mendesah dan sedikit meronta. Dani mengurungkan niatnya. Kalau sampai Adel terbangun, pasti ia akan terjaga hingga larut malam.
“Tak apalah. Toh aku juga tidak melakukan apapun yang melanggar norma hukum,” kata Dani menyerah, lalu tidur di sebelah Adel.

/>Setidaknya posisi tidur gadis ini tidak makan tempat seperti tadi. Jadilah malam itu mereka berdua tidur sekamar.

***

Suara dari ponsel berbunyi nyaring pagi itu. Adelaide dengan mata yang masih terpejam meraba meja kecil di samping tempat tidur.

Setelah berhasil meraih ponsel yang berada di atas tumpukan buku, Adel menempelkan ponsel itu ke telinga.
Benar-benar menyebalkan! Telinganya merasa pekak karena suara ponsel itu bukannya berhenti, tapi semakin bertambah keras.
Oh gosh.. Adel lupa men-swipe layarnya.

“Holaaa?” suaranya terdengar serak.
“Ini.. nomor ponsel Dani kah?” tanya seorang wanita dengan nada heran.
Dani? Apa ponselnya tertinggal? Adel terbangun dari tempat tidurnya dan mengerjapkan mata.
Dan ini? Ini bukan kamarnya! Ia berpikir keras sampai Dani keluar dari kamar mandi.
“Ada telepon,” kata Adel langsung menyerahkan ponsel tanpa menatapnya.
Dani mengambil ponselnya dan berbicara dengan seseorang yang ternyata.. Madre nya!?

“Kau.. Sejak kapan aku bisa tidur disini, hah?” desis Adel sambil menuding Dani saat laki-laki itu selesai berbicara dengan madre nya.
“Mana aku tau, kamu yang pindah sendiri. Jangan berpikiran macam-macam, aku tidak melakukan sesuatu terhadapmu.”
Adelaide memasang tampang cemberutnya. Huh! Bodoh sekali, mengapa ia bisa sampai berada di kamar ini dan bukan di kamarnya?
“Ayo cepat mandi, kita mau ke Valencia hari ini.”
“Hari ini? Emang udah ada tiketnya?” tanya Adel yang masih manyun.
“Udah, buruan sana mandi. Aku tunggu di ruang makan,” kata Dani tersenyum lebar. Ia mengelus kepala Adel kemudian beranjak ke ruang makan.
Adel yang terbengong-bengong segera bangkit berdiri dan berlari ke kamar tidurnya.
Ia mandi dengan pikiran-pikiran anehnya yang masih menggema di dalam otaknya.

 
***
 
Message from Me ,
Alex, tolong ya bilangin hari ini aku gak masuk. Ijin seminggu, thanks.
Alex ,
Oke. Aku juga bolos nanti 4 hari. Hehe.
Me ,
Loh, kenapa?
Alex ,
Aku kan mau balapan nanti di Valencia, kamu kesana juga?

Adel membalas pesan singkat dari Alex, ia lupa Alex juga seorang pembalap motor. Alex adalah adik dari Marc, sama-sama menyandang nama Marquez Alenta.

Setelah makan pagi dan bersiap-siap, Adel dan Dani bertolak ke bandara. Tak lama kemudian, mereka sampai disana dan langsung check-in. Lalu mereka masuk ke dalam pesawat, selang beberapa menit pesawat lepas landas menuju Valencia, Spanyol.

***

“Wuahh, bagus banget pemandangan disini!” seru Adel kagum saat Dani membawanya ke Pirenia.
Pegunungan yang terletak di perbatasan Spanyol dan Perancis itu memang sering di kunjungi banyak wisatawan. Hutan dengan bermacam jenis flora langka terdapat disini.
Mereka mengabadikan banyak foto.
Ahh.. Dani sudah lama tidak merasakan suasana seperti ini. Kebahagiaan yang dulu tak pernah ia rasakan lagi kini kembali. Apa karena gadis yang ada bersamanya saat ini?

Adel terlalu asik menikmati alam bebas, hingga saat Dani bertemu teman dekatnya disini Adel memilih berputar-putar sendiri.
“Musim panas lebih baik dari pada musim dingin,” gumam Adel pelan sambil menarik nafas dalam-dalam.
Baru saja ia akan melangkah lebih jauh lagi ke dalam hutan ketika ia merasakan sesuatu yang aneh.
“Seperti ada yang mengikutiku,” kata Adel dalam hati.

Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, namun ia tidak menemukan apa-apa. Mungkin hanya perasaannya saja.
“Entahlah,” Adel menaikkan bahunya lantas berlari kecil menuju pondok.
Mereka pulang ke rumah ketika matahari mulai bergerak turun dan langit hampir gelap. Dani harus beristirahat setelahnya, karena free practice tinggal menghitung hari.

***

Sunday, 10th November.
Seorang laki-laki berpakaian kemeja putih dengan seorang gadis berpostur mungil memasuki paddock Honda.
Beberapa mekanik yang berpapasan melemparkan senyum ke arah mereka. Lebih tepatnya senyum menggoda.
Dani Pedrosa, segera mengganti pakaian dibantu salah seorang mekanik. Tak lama, Dani keluar dengan baju balap bernuansa oranye. Ia tidak mendapati Adel di paddock. Ah ya! Gadis itu lebih suka berjalan-jalan di sekitar pit jika sedang bosan. Kemudian Dani duduk serius dan berdiskusi dengan mekaniknya.
Hasil free practice dan kualifikasi tidak begitu baik. Dan sekarang Dani menempati posisi 3 untuk memulai start.

Adel yang sedang menunggu Dani melirik layar ponselnya. Masih ada banyak waktu bebas.
Pertama, ia menghampiri paddock Casey. Mereka berbincang-bincang sebentar. Kali ini Adriana mengemban kembali tugasnya sebagai UG Casey.
Kemudian ia iseng melewati paddock Marc. Tapi, tidak terlihat sosok pemuda itu. Lalu pikirannya teringat pada Alex. Adik Marc itu juga balapan disini.
“Bertegur sapa dengan teman sekelas tidak ada salahnya kan,” Adel menimang-nimang sebelum ia memutuskan.

 
***
 
Sampai di paddock Alex, ia juga tidak menemukan pemuda jangkung itu. “Dasar kakak dan adik sama saja, lagi pacaran kali ya,” cetus Adel asal. Adel tidak tahu dan tidak ingin tahu tentang Moto2 ataupun Moto3, itu sebabnya ia tidak sadar Alex yang sekelas dengannya adalah seorang pembalap motor.
Langkah kaki membawanya ke area truk-truk besar. Ada yang menurunkan motor, ada yang beristirahat disitu, ada pula yang berdiskusi.
Ia menelusuri truk panjang satu persatu. Dan satu gebrakan keras mengagetkannya.
“Truk ini? Truknya Marc kan?” batin Adel bertanya-tanya.
Yang ia hafal hanya truk besar milik Casey dan Dani. Dengan ragu Adel menaiki tangga kecil dan mengintip ke dalam truk.

“Ngaku aja deh, lu suka kan sama dia!?” Marc berteriak keras sambil mengepalkan tangannya ke udara.
“Apa masalahnya sama lu?” balas Alex lebih kalem.
Sifat mereka memang berbeda. Marc tidak sabaran dan egois, Alex sebaliknya. Lebih tenang dan santai.
Marc mendengus, membuang muka dan mencibir, “Munafik. Terus ngapain lu foto dia?”
Alex terdiam. Ia sudah menduga kakaknya akan menanyakan hal ini. Ia lupa mengunci ponselnya, dan saat Marc meminjamnya muncul foto-foto seorang gadis. Alex salah menjawab dan permasalahan menjadi melebar kemana-mana.
“Gak usah ribut lagi ya,” Alex menurunkan tangan Marc kemudian melanjutkan, “Kalo gue suka sama Adel, gue bakal bersaing sama lu. Gak peduli status lu itu kakak gue. Cuma kalo lu kalah lu harus terima hasilnya.”
Alex berlalu dari hadapan Marc dan berjalan ke pintu truk. Adel yang terkejut buru-buru bersembunyi di kolong truk.

“Astaga.. Apa lagi ini?” Adel mendesah.

Baru saja ia melupakan masalah Marc dengannya, kini muncul lagi perseteruan Marc dengan Alex.
Adel langsung berlari ke paddock Dani begitu Marc keluar dari truk. Sesampainya di paddock, dadanya sesak. Ia melewati jalan belakang, makannya jarak yang ditempuh cukup jauh. Ia tak mau menarik perhatian orang-orang di sekitar pit.
Asma akutnya kambuh. Ia mengatur nafas dan duduk tergeletak dibawah. Rasanya seperti menghirup serpihan kaca, sakit rasanya.
Dani yang habis memakai sarung tangannya di belakang langsung menghampiri Adel dan membantu gadis itu duduk di kursi.

“Kau kenapa?” tanya Dani menunjukkan guratan kekhawatiran di wajahnya.
Adel menghela nafas, “Gak apa-apa. Cape abis lari tadi, dari depan kesini.”
“Sungguh? Kau tak kenapa-napa?” Dani memastikan.
“Iya. Aku ganti baju dulu ya,” kata Adel lalu menuju ruang ganti.
Sebenarnya dadanya masih sesak, hanya saja Adel tak mau menganggap terlalu serius. Selesai berganti pakaian, ia keluar dan duduk memainkan ponselnya. Adel ingin mengalihkan pikirannya sejenak.

***

 
Race tersisa 10 laps lagi. Seperti biasa, posisi terdepan ditempati oleh Casey, Jorge dan Dani. Marc berada di posisi 4 dengan gap yang terpaut 0.918 detik dari Dani.
Hingga tinggal 3 laps menjelang dikibarkannya chequered flag, kedudukan tetap sama.
Ditengah emosinya yang tidak stabil akibat pertengkarannya dengan adiknya, muncul niat jahat di pikiran Marc.
Ia nekat. Saat mereka melewati high speed corner, ia sengaja menyenggol Dani dengan kecepatan tinggi. Ban depan motor Marc bersentuhan dengan ban belakang Dani, namun Marc membuat seolah semua karena ketidak sengajaan. Dua-duanya terjatuh.
Marc terhempas cukup keras dan langsung memegangi tangan kanannya.
“Sial!” seru Marc. Ia juga cidera karena ulahnya sendiri.
Sedangkan Dani terpelanting dengan tulang ekor menghujam aspal terlebih dahulu. Ia bergulingan di gravel sebelum akhirnya menghantam pagar pembatas sirkuit.
Dani tidak bisa bangkit berdiri, ia pingsan! Adel yang melihat tayangan dari paddock tercekat.
“Ya Tuhan!” jerit Adel tertahan.
Beberapa marshal mengangkat tubuh Dani dan membawanya ke medical center dengan ambulance. Adel segera menyusul dengan mekanik kesana.
Sementara Casey, Jorge dan Vale menikmati kemenangan mereka di atas podium, Adel dan semua penggemar Dani was-was. Takut kalau-kalau terjadi sesuatu yang fatal dengan Dani.

Air mata mulai menggenangi pelupuk mata Adel. Ditambah rujukan dokter bahwa Dani harus dibawa ke rumah sakit terdekat.

Begitu sampai di rumah sakit, Dani segera ditangani dokter. Adel menunggu diluar dengan perasaan cemas yang amat sangat.
Jika ia boleh meminta, biar dirinya saja yang tergeletak disini sekarang. Bukan Dani, bukan seseorang yang sangat dicintainya. Ia terus berdoa dalam hati.
Tak lama seorang dokter muda yang ternyata teman dekat Adel muncul dari ruang ICU.

“Gimana keadaannya?” tanya Adel lemas.
Tenaganya terkuras hanya untuk menangisi kondisi Dani.
Dr. Scott menampakan raut wajah gelisah.
“Gimana Sekooott? Dia.. Dia baik-baik saja kan?” Adel mulai menangis lagi.
Alex yang baru sampai disana ikut bergabung. Ia merasa tak enak, ia tahu pasti ini karena Marc yang sengaja mencelakakan Dani.
“Dia memang sudah melewati masa kritisnya. Hanya saja..,” dokter itu menggantung kalimatnya.
“Cuma apa? Jangan berbelit-belit dong,” perasaannya kalut, membuat emosinya tersulut.
“Kita harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk jika ia sudah sadar nanti,” kata dr. Scott mengusap keringat di dahinya.
“Ia terkena gegar otak dan sum-sum tulang belakangnya mengalami gangguan hebat. Kita pantau terus dan berusaha melakukan yang terbaik untuknya,” jelas dr. Scott lalu berlalu meninggalkan Adel dan Alex.

Tangis Adel meledak. Separah itu kah efek dari kecelakaan tadi? Apa yang harus ia lakukan untuk menolongnya? Oh Tuhan, begini rasanya melihat orang yang kita cintai tebaring lemah tak berdaya?
Alex memeluk Adel. Ia rasa perbuatannya ini tepat, karena sedetik kemudian tubuh gadis itu ambruk..

One thought on “The Story of Us : Feels Half of My Life was Lost #8

  1. koreksi bagian atas kenapa ada kata ” oleh ibu hamil PASCA akan melahirkan. ” paska itu kan artinya sesudah jd kalu diartikan oleh ibu hamil setelah akan melahirkan ?? knp gak pake kata menjelang kelahiran ?? #just koreksi …. btw I like name miguel … seperti film telenovela sesuaan ku juan miguel …
    next … cinta marc ke laura tumbuh seiring kedekatan mereka selama ini ….so sweeettt .. tp knp laura keburu pergi ??// # di tunggu cerita nya >>>

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s