Thankyou for Everything #2

Selamat menikmati~

nataadiva26

***

Gedung minimalis berkesan glamour itu akan ramai sebentar lagi. Beberapa orang sibuk menata panggung. Ada juga yang mengurusi sound dan lain-lain. Cukup sibuk memang. Memastikan semua sudah siap dan tidak ada masalah.

Adelaide sedang asik dengan gitarnya ketika Michaela Deeanara menghampirinya. Dia adalah teman sebangku Adel di sekolah.

“Hei! Kamu ada disini gak bilang-bilang ih,” senggol Dee, lalu duduk disebelah Adel.

“Buat apa? Gak perlu ngasi tau juga kali,” cetus Adel yang langsung disambut cubitan kecil dari Dee.

Mereka berteman cukup akrab. Selain keluarga Adel, yang mengetahui bahwa fisik Adel lemah adalah Dee. Itu sebabnya Dee sangat menjaga Adel saat berada di sekolah.

“Muter-muter yuk, bosen nih disini mulu…”

Adel melirik Dee dengan tatapan kau-memang-selalu-bosan-dimanapun-kau-berada. Well, Adel mengiyakan juga karena ia butuh udara segar sore itu.

Akhirnya mereka mengitari gedung sampai ke taman di daerah belakang. Dee sibuk berfoto-foto, sedangkan Adel duduk di pinggir danau kecil. Baru semenit mereka disana, Dee menerima telepon dan mengharuskannya kembali ke dalam gedung untuk membantu mamanya menyelesaikan pekerjaan.

Jadilah Adel seorang diri disitu. Ia sedang menghirup udara dan memejamkan matanya. Dan saat ia membuka matanya… Oh, oke. Katakan ini hanya mimpi. Biarpun Casey Stoner seorang pembalap MotoGP tapi Adel belum pernah sekalipun bertemu dengan rider favoritnya. Ia tidak pernah diijinkan ikut oleh Casey, takut kelelahan katanya.

Dan kini, didepan matanya! Apakah ini ilusi? Eh.. Dia mendekat! Adel buru-buru bangkit berdiri dan mundur beberapa langkah. Namun..

“Awas!” seru laki-laki itu dengan keras.

***

Jorge POV

Aku sedang beristirahat akibat cedera minggu lalu, dan aku terpaksa absen mengikuti seri pertengahan di Catalunya minggu ini. Daripada bosan, aku memilih pergi ke opera musik. Sendirian. Aku tidak memiliki pacar, juga tidak berniat mengajak teman untuk pergi kesini.

Acara masih lumayan lama. Iseng-iseng aku berjalan-jalan keluar dan langkah kaki membawaku ke sebuah taman kecil yang bisa dibilang sangat indah. Aku menikmati saat santai ini. Lalu aku berjalan ke arah sebuah danau kecil dan menjejakkan kakiku tepat di ujung danau.

Dan, ada seorang gadis di sebelahku. Tunggu dulu.. Seperti tidak asing lagi, pikirku kemudian mendekatinya. Mungkin dia sudah menyadari keberadaanku sejak aku berdiri didekatnya tadi, ia hanya mematung menatapku. Namun ketika aku menghampirinya refleks dia bangkit berdiri dan mundur beberapa langkah.

“Awas!” seru ku sambil berusaha meraihnya dengan cepat.

D

ia berhasil mendarat dengan mulus diatasku, lebih tepatnya menindihku. Aku bisa melihat jelas muka merahnya yang mirip kepiting rebus. Hampir saja dia tercebur didalam danau kalau aku telat sedetik saja.

“Maap ya, maap..,” kata gadis itu gelagapan. Ia segera berdiri dan merapihkan bajunya. Ia melihat ke arah tanganku dengan tatapan penuh rasa bersalah.

“Tidak apa-apa. Namamu siapa?” tanyaku mengulurkan tangan.

Adel, Adelaide Alessandra.”

Ia menyambut uluran tanganku. “Jorge, kau pasti sudah mengenalku bukan.”

Aku sok akrab dengannya, hingga tanpa sadar aku tidak melepaskan tangannya daritadi.

“Well, aku mau siap-siap dulu ya. Udah mau mulai nih,” kata gadis itu sambil menarik tangannya.

“Kau ikut menonton juga? Kalau gitu, aku juga mau masuk ke dalam. Ayo, jalan!”

Entah kenapa aku menjadi begitu bersemangat. Ia hanya mengikutiku dari belakang dengan menundukkan kepalanya. Ah.. Mungkin ia malu akibat kejadian tadi.

***

Lampu panggung menyorot ke arah seorang gadis begitu ia menyanyikan lagu Mama. Adelaide sedikit gugup saat itu. Biasanya, ia tidak akan segugup ini kalau saja tidak ada orang sekelas Jorge yang menontonnya. Tapi yang terpenting Adel sukses membawakan lagu ini walau tanpa feeling sama sekali.

Setelah selesai, ia segera berjalan ke belakang panggung. Jorge yang ada di bangku barisan depan beranjak dari tempatnya duduk dan mengikuti Adel.

“Bagianmu sudah selesai?” tanya Jorge.

Adel yang baru keluar dari kamar ganti terlonjak kaget.

“Udah. Dan aku mau pulang sekarang,” Adel berusaha tenang.

“Well, aku akan mengantarmu. Tidak akan merepotkan, jangan menolak ya?” tawar Jorge yang seketika membuat Adel salah tingkah.

Adel akhirnya menerima ajakan Jorge. Rencananya, Jorge akan langsung mengantar Adel pulang tepat didepan rumahnya. Akan tetapi karena rasa penasaran akan gadis ini membuat Jorge mengemudikan mobilnya ke arah sebuah bistro kecil disudut jalan.

“Kita mau makan disini?” Adel bertanya saat mereka duduk didekat jendela.

“Kau tak suka tempat ini?” Jorge balik bertanya.

Dengan cepat Adel menggeleng. “Ah bukan! Aku bukan tipe pemilih tempat ataupun makanan, asal ada kamu sih gak masalah…”

Opss. Adel terdiam seribu bahasa begitu menyadari ia sudah berbicara terlalu jauh. Sementara itu Jorge hanya terkekeh. Nilai tambah untuk gadis ini, ia bukan tipe pemilih. Salah satu tipe yang disukai Jorge.

Mereka memesan makanan dan menunggu dengan saling terdiam satu sama lain. Seorang pelayan paruh baya mengantarkan pesanan mereka tak lama kemudian. Adel mengucapkan terimakasih, lalu menatap Jorge.

“Mau dipotongin?” Adel membuka pembicaraan yang tadi sempat terhenti.

“Memangnya aku masih bayi? Kau meledekku ya?” tuduh Jorge. Cukup membuat Adel kesal.

“Bukan gitu maksudku!” teriak Adel, “Tangan kamu kan masih cedera, nyetir aja pake tangan satu. Gimana mau motong daging?”

Jorge memasang tampang imutnya, “Bercanda. Sana potongin, aku sudah lapar.”

Adel mendengus kesal, ia memotong daging steak dengan ukuran yang besar-besar. Setelah itu ia meletakkan piring dihadapan Jorge.

“Makan tuh sana,” gumam Adel. Ia memakan pesanannya sendiri dan membiarkan Jorge mengoceh panjang lebar tentang potongan yang terlalu besar, ia bisa mati tersedak, dan hal-hal aneh lainnya. Ah, sebodo amat.

***

Casey POV

Aku berkali-kali melirik jam di pergelangan tanganku. Sudah lewat dari batas jam malam yang kuberikan pada Adel. Sangat larut bahkan. Majalah olahraga yang kubaca tidak berhasil menghilangkan rasa khawatirku.

Ponselnya tidak aktif.

Memang aku tidak sekhawatir ini jika Laura yang pulang telat, karena.. ya, kalian tahu bahwa ini lagi-lagi beralaskan masalah fisik. Namun bukan berarti aku membiarkan Laura begitu saja, mereka berdua sama-sama mendapat omelan kecil dariku untuk bisa belajar menepati waktu. Mereka masih berstatus pelajar.

Tiba-tiba saja ponselku berdering.

“Halo?”

“Pa, aku udah didepan rumah nih. Tolong bukain pintu dong.”

“Baiklah, tunggu sebentar.”

Aku bergegas membukakan pintu. Adel dengan muka yang sedikit pucat langsung menyengir lebar begitu melihatku. Ia meminta maaf karena pulang telat. Aku membiarkannya masuk ke dalam rumah dulu, cuaca memang sangat dingin malam ini.

***

“Jadi dia itu anakmu? Pantas saja wajahnya tidak asing lagi,” kata Jorge terkekeh.

“Bagaimana kalian bisa pergi bersama? Ehm, maksudku apakah kalian berpacaran?” tanya Casey sambil berdeham.

“Oh, tidak. Aku bertemu dengannya di opera dan mengajaknya makan malam sebelum kuantar pulang. Sorry ya kalau kemalaman,” Jorge menepuk pundak Casey. “Aku pamit pulang dulu, sampai nanti.”

Jorge berpamitan, lalu masuk ke dalam mobilnya. Casey baru menutup pintu ketika mobil Jorge sudah tidak terlihat lagi.

“Well, coba ceritakan tentang hari ini,” Casey bertanya pada Adel.

Gadis itu sedang duduk di kursi meja makan saat Casey masuk ke rumah dan menghampirinya.

“Aku ketemu Jorge tadi, terus diajak pulang bareng. Awalnya mau langsung pulang, eh malah pergi makan dulu. Gak taunya udah malem,” jelas Adel dengan tampang polosnya.

“Kau akan menjadi dewasa nak di akhir tahun nanti, aku tidak melarangmu berpacaran. Hanya saja, kau pasti tahu batasan-batasannya nak. Baik soal berpergian maupun yang lainnya,” Casey menasihati Adel. “Bagiku sekarang kau tetap gadis kecilku.”

Adel mengangguk patuh, mirip seorang anak TK yang dijanjikan akan dibelikan permen jika menuruti kata-kata orang tuanya. Ekspresinya yang lucu itu membuat Casey tertawa.

“Dan mungkin membuat waktu kita akan mulai ditentukan,” kata Casey lirih dalam hatinya.

Mengingat ini waktunya Adel untuk naik ke tempat tidur, Casey menutup pembicaraannya dan menyuruh putri kecilnya untuk beristirahat. Tapi, Adel terlihat lemas. Baru saja ia berjalan beberapa langkah, jalannya oleng.

“Adel!” seru Casey panik. Ia menuntun Adel sampai ke kamar dan membaringkannya di ranjang.

Badannya panas. Astaga.. Jika sakitnya kumat, maka seperti inilah tanda-tandanya. Casey menuangkan beberapa butir obat berwarna oranye itu, memasukkannya ke dalam mulut Adel, membantunya minum obat dan mengompresnya.

Adriana masuk ke dalam kamar Adel. Ia melihat anaknya sudah tertidur pulas. Suhu tubuhnya sudah turun sejak 1 jam yang lalu. Jadilah Casey yang kalang kabut merawat Adel. Adriana yang terbangun mencari Casey, dan ia menemukannya tertidur di samping Adel. Ia membangunkan Casey, menyuruhnya untuk pindah ke kamar.

Setelah menemani Casey ke kamar mereka, Adriana kembali ke kamar Adel. Ia merasakan matanya panas. Hatinya sakit, ia paling tidak tahan melihat Adel dalam kondisi drop seperti ini. Ia ingin menggantikan Adel kalau saja ia bisa.

“Jangan membuat mama khawatir nak,” Adriana mengerang pelan sambil mengelus kepala Adel.

“Kau tahu? Mama ingin sekali memelukmu seperti mama memeluk Laura, memperlakukanmu seperti mama memperlakukan Laura. Hanya saja.. Mama tidak bisa.. Entah kenapa rasanya sakit sekali disini,” kata Adriana menunjuk dadanya, kemudian melanjutkan, “Apa yang harus mama lakukan nak?”

Adriana menangis cukup lama hingga akhirnya ia kelelahan dan tertidur di sebelah Adel. Jarang sekali ia tidur bersama anaknya ini. Mungkin ini baru pertama kalinya sejak Adel bertumbuh menjadi gadis yang dewasa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s