Don’t Say You Never Love Me #7

cove2r

PS : Ceritanya rada geje. Happy reading😉

Laura syok setengah mati karena perlakuan Marc barusan. Terlebih pria itu berteriak di depan wajahnya. Marc tidak pernah sekasar ini sebelumnya. Marc menatapnya garang seolah-olah ingin memakannya sekarang juga. Tapi dengan sebab apa Marc bisa semarah itu padanya? Seharusnya dirinyalah yang marah karena Marc masih bersama teman wanitanya.

“Apa?” bentak Laura.

“Apa?” ulang Marc penuh emosi. “Kau masih berani membentakku dengan kata ‘apa’! Brengsek kau!”

“Aku hampir gila mencarimu di rumah sakit. Kau pikir apa yang kau lakukan, hah? Aku ketakutan setengah mati dan berpikir terjadi sesuatu denganmu dan sekarang kau malah membentakku! Apa maumu? Apa kau sengaja mempermainkanku?!” Marc mencengkram kuat bahu Laura.

“Kau mencariku? Oh, aku sangat berterima kasih, Marc. Tapi aku rasa itu tidak perlu,” cetus Laura.

Marc menyipitkan matanya, emosinya semakin tersulut, ”apa maksudmu?” desisnya.

“Kau masih berani menanyakannya? Apa kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan di sana? Memeluk wanita lain di depan istrinya sendiri. Kau anggap aku apa, Marc? Aku juga manusia dan aku juga punya perasaan!” Kini giliran Laura yang emosi. Ia sudah menahannya dari tadi dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk melampiaskannya.

Marc tak berkata apa-apa. Ia sedang memikirkan sesuatu. “Dia mantan pacarku,” jawab Marc kemudian.

“Sudah kuduga.”

“Apa?”

“Kau pikir apa yang akan dilakukan seorang pria jika bertemu dengan mantan pacarnya? Mungkin mereka akan melepaskan rasa rindunya dengan pergi ke hotel dan menghabiskan waktu bersama,” kata Laura tajam.

“Kau….” Marc tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan. Tapi, dugaan Laura salah besar.

“Kenapa? Kau tidak perlu mengelak seperti itu, Marc. Mencariku sebagai alasan untuk bersamanya sangat keterlaluan, kau tahu? Apa kau tidak berpikir kau sudah menyakiti aku dua kali? Pertama, kau berpelukan dengan mantan pacarmu. Dan kedua, kau menjadikanku sebagai alasan untuk bersenang-senang dengan mantanmu itu dan kau pulang memarahiku dan bilang hampir gila mencariku. Apa aku harus percaya?” Mata Laura mulai berkaca-kaca.

“Kau sedang membicarakan apa sih?” Marc bingung. Sungguh ia tak mengerti apa yang sedang dibicarakan Laura.

“Sudahlah, Marc. Aku capek berdebat denganmu terus. Sekarang, terserah kau mau melakukan apa saja. Aku sudah tak peduli kau mau selingkuh ataupun pergi bersama wanita lain,” kata Laura, mencoba menyentak tangan Marc. Tentu saja ia kalah kuat dengan pria itu.

Marc mencerna semua omongan Laura dan mulai mengerti kenapa ia meningggalkanya. Salah paham, itulah pokok permasalahannya. Emosinya pun perlahan memudar.

“Kau cemburu melihatku berpelukan dengan Adel, eh?” tanya Marc.

Laura yang tak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu. “Tidak,” elaknya, kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain. Sial! Pipinya pasti merah.

“Masa sih? Lalu, kenapa kau langsung pergi saat melihatku berpelukan dengannya?”

“Hanya tidak mau menggangu saja,” jawab Laura semampunya. Jantungnya tiba-tiba berdetak semakin kencang sangat Marc mendekatkan wajahnya.

“Benarkah?” tanya Marc sekali lagi, sambil mengedip jahil pada gadis itu.

“Sudahlah, Marc.” Laura mendorong tubuh Marc menjauh. Ya, kali Marc melepaskan cengkramannya.

“Ups! Ternyata kau….” Marc baru sadar melihat Laura yang hanya terbungkus selembar handuk di tubuhnya.

“Sialan! Keluar kau…,” usir Laura.

Ia mendorong Marc keluar dari kamarnya. Kemudian cepat-cepat ia menutup pintu kamarnya. Ugh! Pasti pria itu sedang menertawainya. Menyebalkan.

“Laura…,” teriak Marc dari luar.

“Apa?!”

“Tubuhmu seksi juga walaupun sedang hamil. Hahaha….”

Ugh! Awas aja kau, Marc Márquez! geram Laura dalam hati.

***

07.30 AM

“Kau tidak pergi kerja?” tanya Laura ketika melihat Marc keluar dari kamarnya dan masih memakai piyama tidurnya.

“Tidak. Aku libur hari ini,” jawab pria itu acuh kemudian meraih remote TV dan berbaring di sofa.

“Oh….” Laura hanya membulatkan mulutnya saja dan kembali membuat sarapan untuk mereka berdua.

Tak lama setelah itu, bel apartment mereka berbunyi. Marc berjalan ke pintu dan langsung membukanya tanpa melihat ke arah monitor kecil yang tertempel di samping pintu apartemen.

“Hai, Marc…,” sapa seorang pria dan wanita di depan Marc. Pria itu langsung memeluk Marc sangat kuat sampai membuatnya sesak nafas.

“A…ku t…ak bi…sa ber…na…fas, Al…ex,” ucap Marc dengan nafas terputus-putus.

“Ups! Sorry.” Alex langsung melepaskan pelukannya.

Ya, tamu yang sedang berkunjung ke apartemen Marc dan Laura adalah Alex Márquez dan istrinya, Kamila Rosabel. Mereka baru menikah beberapa bulan yang lalu. Dan sekarang dengan tak tahu malunya Alex dan Mila langsung masuk ke apartemen Marc tanpa izin sang tuan rumah.

“Wow! Besar juga, Marc, tempat tinggalmu. Omong-omong, di mana Laura?” tanya Mila, mengarahkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.

“Dia ada di dapur,” jawab Marc. Mila pun menuju ke dapur.

“Hei, bro, kau belum mandi ya?” tanya Alex, setelah dipersilahkan duduk.

“Eh, memangnya kenapa?” Marc bertanya balik.

“Kau sangat bau,” jawab Alex seraya mengernyitkan hidungnya.

“Sialan kau!” maki Marc, kemudian ia menjitak kepala adiknya itu.

“Adawww…,” ringis Alex.

Sementara di dapur, ketika melihat Laura yang sedang membuat sarapan, Mila langsung berlari ke arah Laura dan memeluknya erat sekali. Seperti Marc tadi, Laura juga dibuat sesak napas.

Ugh! sepertinya pasangan suami-istri itu memang mempunyai hobi membuat orang hampir mati karena sesak napas.

“Kau mau membunuhku?” tanya Laura.

“Maunya sih. Tapi aku tak mau dibunuh oleh Marc kalau seandainya kau kubunuh. Hahahaha….”

“Sialan kau!”

“Hm, Laura, aku ingin tanya sesuatu,” ujar Mila, masih merangkul bahu Laura.

“Tanya apa?”

“Hmm… Sebenarnya ini sedikit ya… kau tahu sendirilah aku dan Alex kan sedang program ‘bikin’ anak. Tapi, sampai sekarang aku belum hamil-hamil juga. Jadi aku mau tanya, kalian kok bisa begitu cepat mempunyai calon anak? Maksudku apa Marc begitu hebat hingga kau….”

“Apa?” sambar Laura langsung. Pipinya sudah semerah kepiting rebus ketika mendengar pertanyaan Mila tadi. Kenapa harus topik ini sih yang ditanyakan?

Mila hanya menggerakan tangannya ke depan perutnya membentuk bola. “Kenapa kau bisa cepat hamil?” tanyanya.

“Kau tanya saja pada Marc,” jawab Laura cepat, kemudian ia pergi ke lemari dapur dan mengeluarkan beberapa piring. Mungkin Alex dan Mila juga belum sarapan.

“Baiklah. Kalau begitu aku tinggal dulu ya,” kata Mila.

Laura sontak melongo dengan kejadian barusan. Bagaimana bisa ada wanita seperti Mila yang terang-terangan menanyakan langsung pertanyaan yang kalian tahu sendirilah.

“Marc…,” panggil Mila. Ia kemudian duduk di samping Alex.

“Kenapa?” tanya Marc, ia mengambil gelas yang berisi air putih di depannya dan menegguknya.

“Kok Laura bisa hamil cepat sih?” tanya Mila polos.

Sontak saja pertanyaan Mila tadi membuat Marc tersedak dan menyemburkan airnya ke muka Alex yang duduk di sebelahnya.

“OH MY GOD, MARC MÁRQUEZ!! Kau memang pria yang sangat jorok. Aku heran kenapa Laura bisa betah tinggal bersamamu. Dasar menjijikan,” ucap Alex sambil memasang ekspresi jijik. Pria itu prihatin melihat pakainya yang seharga €15 basah begitu saja. Ia pun mengendus-ngendus ke arahnya bajunya, merasakan apakah bau Marc tertempel di sana.

“Kenapa kau menanyakan kepadaku?” tanya Marc pada Mila.

“Laura yang menyuruhku untuk menanyakannya padamu. Jadi, berikanlah jawabannya, Marc,” pinta Mila.

“Oh iya, Marc. Aku juga ingin menanyakannya padamu. Kenapa Laura bisa hamil secepat itu? Kau pakai jurus apa sih? Padahal kan kalian hanya satu kali melaku….” Alex terdiam karena mendapat tatapan tajam dari Marc.

Keheningan kemudian menyeruak di antara mereka.

“Kenapa jadi diam begini?” tanya Laura yang baru muncul dari dapur.

“Tidak… tidak apa-apa kok,” jawab Mila salah tingkah.

“Benarkah?”

“Suamimu galak, Laura,” jawab Alex.

“Kau baru tahu ya kalau dia itu galak?” Laura menaikkan alisnya. “Ayo kita sarapan,” ajaknya.

Mereka pun sarapan dengan suasana yang kaku dan canggung.

To Be Continued…

4 thoughts on “Don’t Say You Never Love Me #7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s