Thankyou for Everything #1

Ini ff series kedua yang di posting, hehehe. Barusan ini ff jadi :p

fresh from the oven *apasih*

okedeh, happy reading aja ya!

nataadiva26

Maincast :

Adelaide Alessandra

Laura Amberita

Adriana Stoner

Casey Stoner

Dani Pedrosa

Jorge Lorenzo

***

Adel POV
Namaku Adelaide Alessandra. Aku memiliki seorang saudara kembar, Laura Amberita. Walaupun kembar, tapi kami sangat berbeda. Aku cerewet, Laura pendiam. Aku pintar dalam bidang seni, dia lebih menguasai bidang akademik. Dan masih banyak perbedaan di antara kami.
Dan juga, perbedaan mendapat kasih sayang orang tua membuatku sedikit iri dengan Laura. Aku mengidap kanker tulang yang tidak akan bertambah akut sebelum aku mencapai umur 17 tahun. Karenanya, aku tidak bisa melakukan hal yang biasa dilakukan anak seumurku. Dan terang saja perlakuan orang tua ku juga berbeda.

“Kau mau kemana, Laura?” tanyaku suatu pagi ketika melihat Laura telah siap dengan pakaian olahraganya. Pertanyaan yang seharusnya tidak perlu ditanyakan, jelas saja ia ingin olahraga.
Laura menjawab, “Mau lari pagi di taman.”
“Oh,” kataku singkat, kemudian aku masuk ke kamarku dan termenung di dekat jendela. Andai saja aku bisa lari pagi dengannya.
Meskipun begitu, hubunganku dengan Laura sangat baik. Dia lahir 5 menit setelahku, namun akulah yang mewarisi penyakit turunan itu. Lalu aku mengambil binderku dan mulai menulis..
***
“Ma, besok aku mau ikut olimpiade di Cervera. Jadi, aku nginep disana bersama Alicia. Hanya 3 hari,” kata Laura saat mereka sedang makan malam. Ia dan Alicia, teman sekelasnya, memang langganan dalam mengikuti olimpiade seperti itu.
“Hebat! Kamu harus menang lagi ya nak,” respon Adriana terlihat gembira. Ia menatap Casey Stoner yang hanya tersenyum hambar.
“Mudah-mudahan ya ma. Aku gak gitu yakin,” Laura terkekeh.
Adriana mengiyakan, kemudian berpaling ke arah Adel. “Ada yang ingin kamu sampaikan juga?”
Eh? Apa ya? Adel teringat besok ia akan tampil di sebuah opera musik. “Besok aku juga akan tampil dalam opera musik.”
“Kapan kamu akan memperhatikan prestasimu dalam bidang akademik? Apa yang bisa didapat jika kamu hanya melulu memikirkan seni, seni dan seni?” nada pertanyaan Adriana memang datar, tapi itu terdengar seperti memaksa Adel untuk bisa jadi seperti apa yang dia inginkan.
“Sudahlah,” Casey meletakkan sendok garpunya, lalu melanjutkan, “Mereka kan berbeda, punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Biar saja Adel bergerak dalam bidang yang disukainya.”
Adriana mengangkat bahu, menyempatkan melempar seulas senyum pada Adel sebelum ia beranjak ke ruang teater. Laura langsung masuk ke kamarnya.
“Nak,” panggil Casey.
Adel yang hendak berjalan ke kamarnya juga segera menghentikan langkahnya.
“Jangan terlalu dipikirkan,” kata Casey sambil berjalan ke arah anaknya itu.
“Iya, gak apa-apa. Santai aja,” Adel tertawa kecil.
Casey merangkul Adel dan mengantarnya sampai ke depan kamar.
“Jangan tidur terlalu malam, obat juga harus diminum ya. Selamat beristirahat.” Casey mencium lembut kening Adel kemudian menyusul Adriana di ruang teater.
***
Mereka sedang menonton film action. Ini adalah film favorit mereka. Selama setengah jam lebih mereka terdiam dan asik dengan pikiran masing-masing. Casey mendadak memperhatikan Adriana ketika istrinya itu melamun dengan tatapan kosong. Sama sekali tidak melihat adegan film yang seru itu.
“Percuma saja kau terus bersikap seperti ini, Adriana. Naluri keibuanmu pasti meronta,” kata Casey tiba-tiba.
“Terus, aku harus bagaimana? Ini cara yang paling baik,” desah Adriana. Ia menutup muka dengan kedua tangannya.
“Apa yang baik? Justru ini membuatnya terasingkan.”
“Aku hanya tidak ingin ada yang tersakiti.”
“Tersakiti?”
Adriana mengerang. “Umurnya tidak akan lama setelah melewati 17 tahun, dan kalau aku mempunyai hubungan yang erat dengannya aku pasti akan sangat kehilangan. Setidaknya jika aku tidak dekat dengan Adel aku tidak perlu merasa sakit.”
“Itu berarti kau egois. Aku harap dia tidak merasa tertekan dibalik keadaannya sekarang ini.”
“Aku.. aku tidak tau apa yang harus aku lakukan,” air mata Adriana mulai mendesak keluar membasahi pipinya.
Casey memeluk Adriana, “Sudahlah. Kita tidur saja dulu. Besok ada free practice dan aku harus menjaga kondisiku. Lagipula ini sudah larut malam.”
***
Adel POV
Waktu yang tertera diponselku menunjukkan pukul 00.26. Aku yakin seisi rumah pasti sudah terlelap. Hanya aku yang terjaga karena insomnia menyebalkan ini.
“Kau belum tidur?” tanya Laura yang tiba-tiba muncul dibalik pintu kamar.
Aku terkejut. Biasa dia tidak pernah bangun di tengah malam seperti ini.
“Belum. Kenapa?” tanyaku.
“Keluar sebentar yuk!” seru Laura penuh semangat.
Aku buru-buru mengangguk. Memang diluar dia sangat pendiam, tapi tidak denganku dan sahabat baiknya. Ia bisa menjadi sangat amat cerewet.
Cuaca diluar malam ini cukup indah. Ada bintang dan bulan yang bersinar terang. Suara jangkrik terdengar memecah keheningan malam. Aku dan Laura duduk di teras rumah.
“Semangat buat hari ini,” kata Laura membuka pembicaraan.
“Kamu juga. Semoga menang,” balasku lalu melanjutkan, “Kamu tau? Kadang aku pengen jadi kaya kamu.”
Laura menoleh menatapku. “Masa? Dan kamu tahu? Aku juga pengen kaya kamu. Bisa musik, bisa gambar, bisa bebas berekspresi. Gak kaya aku yang cuma berkutat dengan teori dan rumus.”
Hah? Laura ingin jadi diriku? Apa tidak salah? Dia mendapatkan perhatian lebih dirumah, dan disekolah pun guru-guru juga lebih sering memujinya dibanding diriku.
“Aku sering ngerasa perhatian mama seperti pelampiasan, lebih dari batas dan jujur aku gak suka. Aku kadang juga gak enakan sama kamu,” Laura meneruskan.
“Ah, pikiranmu itu terlalu berlebihan. Gak usah mikirin aku,” gumam ku menghembuskan nafas sambil tersenyum lebar.
“Kamu mau tau satu hal gak?” tanya Laura hati-hati.
Aku mengernyitkan alis, “Soal apa?” Rasa penasaran muncul, membuatku bisa menjadi uring-uringan kalau tidak terselesaikan.
“Sebenernya, mama itu..,” kalimat Laura terpotong begitu aku mengalihkan pembicaraan. “Masuk yuk sekarang, anginnya tambah gede. Mulai ngilu ini,” kataku langsung masuk ke dalam rumah. Aku bisa menebak dia akan berbicara apa.
Aku sudah sering mendengar Laura berkata seperti itu, tapi pada kenyataannya aku tidak benar-benar mengalami sosok mama dalam ocehan Laura. Papa lebih memperhatikanku, dan itu yang membuatku akan berjuang untuk sembuh. Aku ingin membahagiakan papa ketika aku tumbuh menjadi gadis dewasa yang kuat nanti. Dan mungkin akan membuat mama juga bangga kepadaku, meskipun kecil kemungkinannya untuk menerima sedikit saja kata pujian darinya.
“Saatnya tidur,” kata ku sambil meletakkan gelas sehabis minum obat. Tak lama aku tertidur, obat terakhir itu memang mengakibatkan rasa kantuk.
Aku harap hari ini akan berjalan dengan baik, dan tentu saja sukses untuk semua agenda acaraku!

One thought on “Thankyou for Everything #1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s