Grand Prix Love – Part 1

Main cast :

Marc Marquez Alenta (Himself)

Jorge Lorenzo Guerrero (Himself)

Carrila Adila Fico (Imagination)

Support Cast :

Alex Marquez Alenta (Himself – Marc’s Brother)

Yang lain, find sendiri ya

Genre : Romance (maybe ^^)

Rated :  PG 13+

 

Author : Khairunnisako/@Khairun_OFC

Hola! Nisa’s here now. Debut bersama FF pertama Abang Marc Marquez saya ini. Wuh, sekian lama aku menunggu untuk… eh (?) sekian lama saya dan pikiran discuss tentang apa yang mau diketik, rupa-rupanya muncullah kisah-kisah berikut. FF ini asli dan total buatan pikiran saya. Saya sejujurnya baru masuk ke dalam dunia penulisan, jadi sangat mohon maaf jika ceritanya kurang dapat feel. Dari FF ini, saya sangat harapkan komentar dari pembaca sekalian😀 Jika ada cerita yang sama ataupun ngaku-ngaku sama (abaikan), hubungi saya hanya melalui Twitter (Follow juga ^-^) di atas itu tadi. Dilarang keras COPAS, Copy-Paste jika belum ada izin nyata dari penulis FF ini😛 (Jujur itu perlu lho untuk semua-semua). Hati-hati ya, banyak tanjakan eh (?) typo-nya. Happy Reading Reader! Betah-betah yoo ^0^.

***

Untuk pertama kalinya hari paling sial menghujani Marc Marquez, seorang pembalap rookie dari kelas MotoGP. Dikejar-kejar oleh beberapa penggemar sangat fanatik yang semuanya perempuan itu menyusahkan, berlari sejauh mungkin dari kejaran mereka yang bagaikan singa-singa lapar itu adalah satu-satunya cara yang bisa dan terpaksa untuk dilakukannya. Marc masih saja heran, mengapa mereka bisa mengenal dirinya, padahal menurutnya ia telah memakai perlengkapan penyamaran yang sangat baik, sebut saja masker hitam penutup mulut.

Pria muda berusia 20 tahun itu berhenti berlari dan berbalik ke belakang, tak ada lagi yang mengejarnya kini. Ia lalu melihat arloji yang menggelang di pergelangan kirinya, terdapat angka 5:30 PM di sana.

“Setengah jamkah aku berlari? Sudah gelap begini,” sesalnya sambil menatap langit gelap yang ditemani gumpalan awan keabuan. Mata coklat Marc kembali menerawang daerah yang dijejakinya sekarang, dahinya berkerut. Sial! “Ini dimana?”

Percuma. Suara bisikan Marc terlalu kecil, tak akan ada yang mendengar apalagi menjawab. “Ini gara-gara Alex! Awas kalau aku pulang,” umpatnya menyebut nama Adik laki-lakinya itu dan berjalan ke satu-satunya halte yang ia lihat untuk melindungi diri dari terjangan runtuhan hujan gerimis. Dalam keadaan duduk dan posisi mata menghadap ke jalan, Marc hanya mampu menghela nafasnya berkali-kali. Tersesat di daerah hutan rimbun nan sepi dengan handphone mati, ibarat mengejar matahari, mustahil cepat. Jalan sepi yang lumayan lebar tanpa penghuni, tanpa kendaraan berlalu lalang. Jangankan banyak kendaraan, satu saja tak ada di sepanjang matanya memandang. Sangat-sangat sepi dan menakutkan jalan ini, batinnya. Bunyi gesekan-gesekan ranting, di tambah dengan hujan gerimis, suasana yang sangat horor. 

Tiiing…!!!

Tiba-tiba, bunyi melengking tiang halte akibat lemparan batu membuat Marc terkejut dan menoleh kaku ke arah kanan. “Si… si… siapa di sana?”

Dalam remang-remang kabut gerimis, pada pandangannya ia melihat sosok putih memegang tongkat, dan lebih parahnya lagi, sosok itu mulai mendekat padanya. Hantukah itu? Tuhan selamatkan aku, batin Marc lagi.

Wiiiuush…!!!

Angin berhasil mengibas tubuh Marc, membuat dirinya merinding bukan kepalang. Ia memejamkan matanya rapat. Entah itu yang Marc sebut sebagai perlindungan diri. Semakin mendekat… mendekat… mendekat….

Dan….

“Aaaa, tolong jangan ganggu aku, aku tak bersalah, aku tak merusak apa ppmmh.…”

“Sssh… Jangan berteriak, pelankan suaramu itu.”

Marc membuka sebelah mata kanan dan pasangannya setelah sebuah tangan dan suara lembut menahan pemberontakan (?) yang tak jelas asalnya itu. Gadis putih berambut hitam sepinggang berwajah oriental bak gadis Asia itu berdiri di hadapannya sekarang. Gadis itu sedang memakai dress longgar putih selutut yang dihiasi renda sekelilingnya, tampak sangat anggun, namun di bagian belakang punggungnya ada sebuah ransel hitam yang mengganggu serta menghalang penampilan anggun ini. Detik terasa sangat-sangat lamban jalannya membuat Marc tak berhenti dan tak pula membiarkan sekon-sekon indah itu terlewat begitu saja meskipun sedikit. Lekukan yang hampir sempurna menghiasi wajah gadis itu, mata indah, hidung tak terlalu mancung, dan bibir tipis. Bidadari Marc-kah dia?

PLAK!

Sebuah tamparan sedikit hebat menancap di pipi kanan Marc, membuat keterpakuannya buyar dan terbang ditiup angin entah kemana. Buru-buru Marc melihat kaki (makhluk) di depannya. Marc mengelus-elus dadanya karena kaki dengan boots hitam masih terlihat berpijak di bumi.

“Yaa, kenapa kau menamparku?” marah Marc lalu berdiri, menyamai kaki dengan gadis itu. Terlihat jelas gadis itu lebih pendek darinya, hanya sebahu jika dibandingkan dengan Marc. Ia mendongak menatap tajam mata Marc. Emosinya jelas cukup tinggi sekarang.

“Pikirkan sendiri…. Aku tak pernah melihatmu, kau ingin berniat jahat di daerah ini, kan?” tanya gadis itu dengan berkacak pinggang.

“Berniat jahat? Hahaha…. Memang kau sendiri siapa?”

Gadis itu merubah posisi berdirinya, menyapu-nyapu telapak tangannya, dan memberikan sebelah ke arah Marc. Marc menerima uluran tangan itu.

“Perkenalkan Namaku Carrila Adiva Fico, biasa dipanggil Carrila. Aku adalah salah satu anggota pengamanan daerah sekitar ini.”

“Pengamanan daerah? Tak ada yang perlu diamankan di tempat yang sepi. Lagi pula tak ada yang takut dengan dirimu.”

BUKK!

Carilla menendang lumayan keras betis kiri Marc, membuat laki-laki itu meloncat-loncat kesakitan. Gadis berumur 17 tahun itu benar-benar tak suka jika ada orang yang menjelekkannya, seperti apa yang telah Marc lakukan.

“Kau tak tau siapa yang kau tendang, hah?” Komentar Marc tak senang atas perlakuan ini.

“Oh ya, memang kau siapa?”

Dengan niat yang membara, dan siap-siap melihat ekspresi yang akan digambarkan oleh Carrila. Marc pun akhirnya memutuskan untuk membuka masker di wajahnya. Seperti dugaan, Carrila sedikit terkejut saat melihat Marc tanpa penutup mulut. Membuat gadis itu memundurkan beberapa langkah kakinya ke belakang. Kelakuan Carrila tak khayal malah membuat Marc tersenyum puas.

“Kenapa? Kau takut setelah mengetahui diriku sebenarnya? Iya?” Marc memajukan beberapa senti wajahnya ke arah Carrila.

“Ciih, tidak, memang alasan apa yang membuatku untuk takut padamu? Orang yang sama sekali tidak kukenal. Jangan bergurau lebih jauh,” elak Carrila.

Apa? Ia tidak kenal? Bagaimana bisa?

Marc Marquez Alenta, pembalap rookie julukan The Baby Alien dari kelas Primer MotoGP dengan kemampuan yang dapat menjinakkan (?) sirkuit jenis apapun. Seantero negeri ini tahu, mengapa gadis ini malah sebaliknya?

“To the point saja, apa tujuanmu sebenarnya datang ke daerah ini?” tanya Carrila lagi-lagi. Hanya saja nada suaranya terdengar lebih rendah dan sedikit sopan.

“Aku tersesat, dan handphone-ku mati. Kau punya handphone? Aku ingin mengabarkan seseorang untuk menjemputku.”

“Hanya tersesat? Kalau saja alasanmu sejatinya hanya itu, aku tak harus berlama-lama disini,” ujar Carilla sambil memberi smartphone-nya pada Marc./p>

“Ini. Muchas Gracias (terima kasih banyak).” Marc menyerahkan kembali alat komunikasi jarak jauh itu kepada pemiliknya. Tak ada balasan yang didapatnya, yang terdengar di telinga Marc hanya gumam tak jelas.

Namun sesuatu yang tak terpikirkan dan juga termasuk kejadian sial terjadi lagi, kini antara Marc dan Carrila. Ketika Carrila berniat akan meninggalkan halte, Marc menarik bagian belakang bawah ransel Carrila. Tanpa sedikit pun unsur kesengajaan, ransel hitam itu sobek dengan cukup lebar menggambarkan besar kekuatan Marc saat melakukan itu. Disusul pula dengan jatuhnya sebuah notebook merah dari tempat sobekan itu langsung hancur terbagi dua tak lama sedetik menyentuh lantai halte. Carrila berbalik dengan wajah penuh amarah menatap Marc yang masih kalut akan ketakutannya.

“Jangan pergi…,” lirih laki-laki berjaket hitam itu.

“Maaaaaarrcc!!!”

To Be Continued…

7 thoughts on “Grand Prix Love – Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s