Don’t Say You Never Love Me #6

cove2r

PS : Part ini bakal jadi cerita terpendek yang pernah kubuat. Happy reading😉

“Bayinya sehat, letak posisinya juga bagus,” jelas Dr. Casey, dokter spesialis kandungan yang sedang memeriksa kandungan Laura. “Dan ini kepala bayinya,” kata Dr. Casey seraya menggerakkan alat USG ke bagian bawah perut Laura.

Marc menatap takjub ke arah monitor yang menunjukkan sosok buram yang belum terlihat jelas namun tubuh kecilnya sudah terbentuk layaknya seorang bayi mungil. Tanpa sadar, tangan Marc menggenggam erat telapak tangan Laura.

“Kalian ingin mendengar detak jantungnya?” tanya sang dokter.

“Ya,” jawab Laura pelan. Ia terlalu bahagia sekarang, walaupun ini bukan pertama kalinya ia melakukan USG.

Dr. Casey memberikan headset masing-masing kepada Laura dan Marc. Kemudian mereka dengan saksama mendengarkan detak jantung si bayi. Laura tak kuasa menahan air matanya saat mendengar suara detak jantung itu. Begitu pula dengan Marc, ia menatap Laura lembut dan menggenggam lebih erat tangan gadis itu.

Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Laura merapikan pakaiannya dan bangkit berdiri dibantu Marc. Kemudian mereka duduk berdampingan di hadapan Dr. Casey.

“Ini ada beberapa vitamin yang harus saya berikan. Mengingat kondisi Laura akhir-akhir ini juga sering kelelahan dan usia kandungannya sudah menginjak ke bulan ke-6,” ujar Dr. Casey sambil menyerahkan kertas yang tadi ia coret menuliskan beberapa obat yang harus ditebus.

“Baiklah. Terima kasih, Dokter,” kata Marc, sembari menerima resep obat tersebut.

Laura dan Marc pun keluar dari ruangan Dr. Casey.

***

Laura’s POV

Marc tadi berpamitan denganku ke apotik terdekat. Sudah hampir 15 menit aku menungggu, tapi batang hidungnya belum juga muncul. Ke mana dia?

Karena bosan aku berjalan-jalan kecil di koridor rumah sakit ini. Aku memandang ke sekelilingku, mencari-cari siapa tahu Marc berada tak jauh di sini.

Aku menelusuri arah koridor yang berbelok ke kiri dan… pria itu berdiri di ujung sana… bersama seorang wanita. Mungkin lebih tepatnya berpelukan dengan wanita itu. Astaga.

Hatiku seketika hancur saat melihat pemandangan di hadapanku. Tanpa sadar air mataku mengalir jatuh. Aku berbalik dan pergi menjauh.

Kenapa… kenapa rasanya begitu menyakitkan melihat Marc berpelukan dengan wanita itu? Di sini, di hatiku, rasanya sangat sesak. Apa begini rasanya mencintai pria yang jelas masih berhubungan dengan wanita lain?

Aku sadar Marc bukan milikku sepenuhnya. Tidak. Lebih tepatnya dia tidak akan menjadi milikku lagi setelah anak ini lahir. Aku yang terlalu bodoh membumbungkan harapanku terlalu tinggi padanya. Sekarang… apa yang aku dapatkan setelah mencintai pria itu?

Aku hanya bisa berharap setelah anak ini lahir aku bisa hidup dengan benar tanpa pria itu di sisiku. Ya, semoga saja. Dan itu takkan lama lagi.

***

Author’s POV

Marc mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah sakit mencari Laura. Kemana gadis itu? Padahal baru 20 menit ia tinggalkan tapi gadis itu sudah hilang. Eh, 20 menit? Astaga, itu kan waktu yang tidak sebentar. Apalagi Laura sedang hamil, menunggu pasti akan membuat gadis itu muak dan bosan.

Marc mengeluarkan ponsel dari sakunya, kemudian ia menghubungi nomor Laura. Tak aktif. Sial! Ke mana gadis itu? Marc mulai sedikit panik.

Akhirnya pria itu memutuskan mencari Laura di luar rumah sakit, tapi gadis itu tidak ada dimana-mana. Bahkan Marc sudah bertanya kepada beberapa orang yang lewat di sekitarnya, tapi tidak ada yang melihatnya sama sekali. Ia pun semakin panik. Marc menyesali karena meninggalkan Laura terlalu lama. Tidak seharusnya ia membuat Laura menunggu selama itu.

Saat berjalan ke apotik tadi ia bertemu dengan Adel, mantan pacarnya. Ia pun berbincang sebentar dengan gadis itu. Adel yang kebetulan sedang mengunjungi temannya di rumah sakit ini, sekalian berpamitan dengan Marc karena besok ia akan pergi ke Paris melanjutkan pekerjaannya yang berprofesi sebagai seorang model. Dan terlihat normal saja saat Marc memberikan pelukan perpisahan untuk Adel. Tapi tanpa disadari, ia telah menyakiti perasaan seseorang. Seseorang yang jelas-jelas mencintainya.

***

Laura langsung pulang ke apartemennya. Ia tak peduli kalau Marc sibuk mencarinya. Mencarinya? Huh, sepertinya kemungkinan itu kecil sekali. Ia bahkan sangsi pria itu akan menghabiskan waktunya untuk mencari dirinya. Mungkin juga sekarang Marc pergi ke hotel dan bersenang-senang dengan wanita itu. Siapa tahu, kan?

Laura masuk ke dalam kamarnya dan duduk di atas kasurnya. Matanya masih basah karena air matanya masih terus mengalir. Lalu, ia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya.

Laura melangkah ke kamar mandi. Diputarnya keran shower, air perlahan mengguyur kepala dan tubuhnya. Bahunya terguncang karena tangisnya yang kembali pecah. Tubuhnya merosot ke lantai, dibiarkannya pakaian yang masih menempel di tubuhnya basah. Ia berharap air yang dingin itu dapat mendinginkan hatinya yang panas. Panas karena dibakar api cemburu.

***

Marc sudah hampir mati ketakutan karena belum juga menemukan Laura. Sialnya hujan malah turun dan menghambatnya mencari Laura. Sebenarnya di mana gadis itu sekarang?

Apa Laura sengaja membuatnya khawatir seperti ini? Tapi atas dasar apa gadis itu melakukan ini? pikir Marc dalam hati.

***

Laura baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membungkus tubuhnya yang besar. Ia berjalan ke lemari pakaian ketika tiba-tiba pintu kamarnya menjeblak terbuka.

Marc dengan tatapan marah menghampiri Laura dan menarik tangannya lalu menyudutkannya ke dinding. Laura meringis kesakitan karena cengkraman Marc yang terlalu kuat di lengannya.

“SIALAN KAU! KAU PIKIR APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN, HAH?” teriak Marc dengan kemarahan yang sudah mencapai titik maksimum.

To Be Continued…

3 thoughts on “Don’t Say You Never Love Me #6

  1. kemudian bilang .
    .aq kawatir dg mu. . .karna . . .karna aq. . .sttt . . .#lalu pergi . . . .
    Dalam hati bilang * hampir saja aq bilang kalau aq cinta dia* #gengsi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s