Don’t Say You Never Love Me #5

cove2r

Sekedar pemberitahuan kalo part ini rada ngebosenin alias garing seperti kentang goreng *maksud loeee??* Trus kalo mau tau update2-an ff baru *yaelah* tinggal follow official account Laura Amberita @MissLauraAS #promosi Happy Reading😉

07.30 PM

“TOK… TOK!”

“Marc…,” panggil Laura tak sabaran di depan pintu kamar Marc.

“Apa?” sahut Marc yang ternyata berada di belakang Laura. Reflek gadis itu pun berbalik dan melihat Marc hanya memakai… eh, selembar handuk yang membungkus di pinggangnya. Laura sontak membulatkan mata. Pipinya langsung memerah. Tiba-tiba saja ia kesulitan menelan ludah karena pemandangan ‘wow’ di depannya. Dada Marc yang bidang dan sedikit berotot. Astaga, gadis itu bisa gila melihat Marc setengah telanjang seperti ini. Ya, walaupun Laura sudah pernah melihatnya dulu. Tapi waktu itu kan ia mabuk jadi tak terlalu jelas. Jadi itu tidak masuk hitunganlah.

Menyadari pandangan Laura ke tubuhnya, Marc jadi salah tingkah sendiri. Sial! Gara-gara keran air kamar mandi di kamarnya rusak terpaksa ia harus mandi di luar.

“Ke… napa?” tanya Marc sedikit kikuk, tapi tetap berusaha memasang ekspresi tenang seperti biasa.

“Hmm… aku… sepertinya…,” Laura tidak bisa berkonsentrasi karena pandangannya tertuju pada bagian-bagian… ya, kalian tahu sendirilah.

Marc pun merasa demikian. Mungkin ia harus berpakaian dulu.“Hm, mungkin aku harus berpakaian dulu. Kau tidak keberatan, kan?” Bodoh! Kenapa ia malah menanyakan tentang keberatan? Marc mengutuki mulutnya sendiri.

“Tentu saja tidak,” sahut Laura cepat. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, arah yang tidak berfokus pada Marc.

Marc masuk ke kamarnya sedikit terburu-buru. Bukannya langsung berpakaian, ia malah terperosot di pintu kamarnya dan sibuk menenangkan jantungnya yang bertalu-talu. Ia tak menyangka Laura akan melihatnya dalam keadaan setengah telanjang seperti tadi. Eh, tapi bukannya sudah banyak gadis yang melihat Marc telanjang? Kenapa ia merasa salah tingkah seperti ini di depan Laura?

Aduh, Marc! Kau ini kenapa sih?

Pria itu jadi gusar sendiri. Sial!

***

Gadis itu tidak tahu apa yang ada di pikirannya sekarang ini. Pemandangan tadi masih terbayang di kepalanya. Ugh! Sangat menjijikan. Ia harus melupakannya.

Laura berjalan ke arah sofa di ruang tamu dan duduk di sana. Ia mencoba mengembalikan konsentrasinya. Huh! Gara-gara pria itu semuanya jadi kacau. Bahkan ia hampir melupakan tujuan awalnya menemui Marc. Ia sedang ngidam. Dan sekarang keinginannya itu semakin bertambah lipat ganda.

Tak lama kemudian, akhirnya Marc keluar dari kamarnya dengan keadaan yang ‘lebih pantas’. Dengan kaos polos putih dan celana kebesaran sebatas lutut. Kemudian pria itu pun menghampiri Laura.

“Ada apa tadi kau memanggilku?” tanya Marc cuek, sebenarnya ia hanya mengusir rasa gugupnya saja.

“Hmm… sepertinya aku ngidam lagi,” jawab Laura ikt ugugup juga.

“Jangan minta yang aneh-aneh,” ujar Marc dengan nada memperingatkan.

“Tidak kok. Tapi aku rasa ngidam kali ini sangat lucu.”

Marc menyipitkan mata curiga. ”Lucu?” ulangnya.

“Yep. Sangat lucu. Kau mau tahu apa yang kuinginkan?” Laura menaikkan alis matanya. Gadis itu kemudian menunjuk ke arah bagian bawah tubuh Marc. “Kemarin kan aku lihat bulu kakimu sangat lebat. Jadi kupikir mungkin kau sedikit risih dengan keberadaan bulu-bulu itu. Dan kau tahulah maksudku….”

Tulang belakang Marc membeku seketika. “Jangan bilang kau….” Marc membelalakan matanya setelah tahu apa maksud perkataan Laura. Gila saja! Masa bulu kaki yang susah payah ia tumbuhkan mau dicukur? Oh… tidak bisa itu. Bulu kakinya adalah aset berharga baginya.

“Kenapa? Kau tidak mau aku mencukur bulu kakimu?” tanya Laura, mata-mata mulai berkaca-kaca.

“Eh…, eh….” Marc jadi kalap sendiri. Oh, please… Jangan nangis dong! Marc memohon dalam hati.

“Hm, bukan begitu, Laura. Kau tahu bulu kakiku sangat berharga bagiku. Masa kau tega melihat kakiku licin tanpa sehelas bulu pun. Apa kata orang-orang nantinya?” Marc sudah ketakutan setengah mati. Astaga!

“Tapi kan bulu kakimu bisa tumbuh lagi. Lagi pula siapa juga yang memperhatikan bulu kakimu. Oh, ayolah, Marc…. Kau tidak kasihan padaku? Aku kan lagi hamil anakmu,” rengekkan Laura semakin menjadi.

Marc bingung harus melakukan apa. Tiba-tiba satu muncul di kepalanya. “Aha! Bagaimana kalau kau mencukur kumisku saja? Ataupun jenggotku sekalian kalau kau mau,” kata Marc.

“Wajahmu kan tidak ada kumisnya, Bodoh. Apalagi jenggot! Dan aku juga tidak bernafsu mencukurnya sekalipun wajahmu itu brewokan. Ayolah, Marc. Aku janji tidak akan mencukur semua bulu kakimu. Please…,” rengek Laura lagi.

“Laura…,” erang Marc frustasi.

“Oh, well. Kalau begitu bulu ketekmu saja yang kucukur kalau kau tidak mau aku mencukur bulu kakimu. Bagaimana?” tawar Laura.

“Heh? Mana bisa seperti itu!” Marc langsung menyelipkan kedua tangannya di bawah ketiaknya, seolah sedang melindungi bulu keteknya yang tak ternilai harganya itu. “Tidak. Tidak. Bulu ketekku juga sama berharganya dengan bulu kakiku. Kau tidak boleh mencukup keduanya,” jawab Marc cepat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya..

“Ayolah, Marc. Kau tidak pernah dengar ya kata orang tua zaman dulu, kalau permintaan ibu hamil yang sedang ngidam tidak dituruti anaknya bisa ileran dan wajahnya jelek. Kau mau anakmu seperti itu?” ucap Laura, mencoba menakuti-nakuti Marc. Tapi rata-rata mitos itu memang benar sih.

“Ya, tidak. Tapi….” Marc kehilangan kata-kata. Ya, Tuhan. Harus bagaimana ini? “Terserah kau sajalah…. Eittt…!!! Kau hanya boleh mencukur bulu kakiku saja, mengerti?”

Laura mengangguk semangat. Sementara Marc hanya bisa berdoa semoga kakinya tidak sekinclong setelah dicukur Laura. Ya, setidaknya disisakan sedikitlah beberapa helai bulu. Kan tak lucu seorang pria yang berbadan kekar tapi kakinya licin tanpa bulu. Apa kata dunia?

***

01.45 AM

Laura menggeliat tak nyaman dalam tidurnya. Rasanya ada yang menimpa kakinya sehingga sulit untuk digerakkan. Rasa sakit pun langsung menusuk ke urat-urat kakinya. Laura lantas menjerit memanggil nama Marc. Kakinya keram dan seluruh urat di kakinya tegang. Rasanya sakit sekali.

“MARC!!!”

Laura bangkit dari tidurnya, dengan menyadarkan punggung ke kepala tempat tidur, ia kemudian memegang kakinya. Dan rasa sakit itu kembali menyerang kakinya. Terus dan terus.

Air mata gadis itu pun jatuh. Ia tidak bisa menahan sakitnya. Seumur hidupnya ia belum pernah sama sekali mengalami yang namanya kram kaki.

Tak lama kemudian, Marc menerobos masuk ke dalam kamar Laura dan pria itu lantas segera menghampiri Laura yang menangis kesakitan. Raut wajah Marc juga tampak tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran yang luar biasa.

“Kau kenapa?” tanya Marc dengan nada cemas seraya merengkuh wajah Laura dengan kedua telapak tangannya.

“Kakiku… kram. Sakit…,” jawab Laura merintih di tengah isakan tangisnya.

“Apa?” Sejenak Marc bingung harus melakukan apa. Ia pernah membaca sebuah buku tentang kehamilan dan kram pada ibu hamil memang sering terjadi apabila kandungannya sudah mulai membesar. “Baiklah. Tunggu sebentar, oke? Aku akan segera kembali,” kata Marc pada Laura. Kemudian ia lantas berlari keluar dari kamar Laura dan tak lama setelah itu kembali dengan sebuah baskom kecil dan beberapa kain. Marc lalu masuk ke dalam kamar mandi di kamar Laura dan keluar sambil membawa air hangat di baskom tersebut.

Marc mendekati tempat tidur Laura. Kemudian ia meletakkan baksom itu tepat di pinggir ranjang gadis itu. Setelah itu Marc pun membantu Laura menggeser tubuhnya ke pinggir ranjang dan menurunkan kakinya ke lantai.

“Apa yang kaulakukan?” tanya Laura masih menahan sakit.

“Mengompres kakimu.” Perlahan-lahan Marc mulai merendam kain ke dalam air hangat itu, kemudian mengompresnya ke kulit kaki Laura. Laura sempat berjengit karena sentuhan Marc.

Marc tampak cekatan mengompres kedua kaki Laura seolah ia sudah biasa melakukannya. Laura yang melihatnya hanya bisa merasa haru karena perhatian Marc yang semakin hari semakin besar terhadapnya. Pria itu bahkan rela terbangun di malam hari dan mengompres kakinya yang kram.

“Masih sakit?” tanya Marc, mendongakkan kepalanya menatap Laura. Laura mengangguk pelan.

Tak lama setelah selesai mengompres, Marc kemudian mengangkat tubuh Laura dan membantunya kembali pada posisi awalnya, yaitu menyandarkan punggung di kepala ranjang.

Marc tak langsung keluar dari kamar Laura. Pria itu duduk di ranjangnya Laura. “Apa sakitnya masih terasa?” tanya Marc penuh perhatian.

“Tidak,” gumam Laura pelan. “Marc…,” panggil gadis itu.

“Iya?”

“Terima kasih.”

“Sama-sama kalau begitu,” jawab Marc tersenyum tulus.

Mereka berdua saling bertatapan. Ditambah lagi dengan posisi mereka yang tidak pernah sedekat ini sebelumnya. Dan entah apa yang dipikirkan Marc saat itu, kepalanya perlahan-lahan mendekat ke arah Laura. Semakin dekat dan dekat hingga tersisa jarak kurang lebih 5 cm.

Laura bisa merasakan hembusan napas Marc. Ajaibnya ia sama sekali tak merasa risih dengan keadaan mereka yang seperti ini. Rasanya sangat nyaman. Hingga sebuah kesadaran tiba-tiba saja menyembul di pikiran Laura. Tidak. Tidak seharusnya mereka dalam situasi seperti ini.

Laura langsung memalingkan wajahnya. “Sudah larut malam. Aku ingin beristirahat, Marc. Kau bisa keluar dari kamarku sekarang,” ucap Laura.

Tampak ada raut kecewa di wajah Marc. “Well, selamat malam, Laura,” kata Marc kemudian bangkit dari tempat tidurnya Laura. Ya, mau tak mau pria itu pun keluar sambil membawa baskom bekas kompresan Laura. Hatinya benar-benar kecewa. Laura menolaknya dan… itu sudah bisa diartikan bahwa Laura belum siap menerimanya sebagai seseorang yang penting di hidup gadis itu.

To Be Continued…

4 thoughts on “Don’t Say You Never Love Me #5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s