Oneshot : When I Realized How Important She Is

Gambar

Cast :

Adelaide Alessandra as @nataa_diva

Dani Pedrosa as @26_DaniPedrosa

Michaela Deeanara as @deeaprilliani

Clezy as Laura Amberita @clevalizzy

***

Sabadell, Spain.

“Jadi, kamu tetep mau pindah ke Brazil?” tanya Dee dengan raut muka ragu.

Adel mengangguk mantap. “Keputusan aku udah bulet Dee. Cape tau kalo disini gak dianggep mulu,” desah Adel sambil memasukkan pakaiannya ke dalam koper.

“Entahlah, aku juga bingung sama kamu. Dulu aja ngomongnya gak mau pindah dan segala macem,” cibir Dee yang langsung disambut timpukkan bantal dari Adel.

“Heh! Emang ada yang mau kaya gini? Gila kali,” seru Adel. Jelas saja, punya pacar tapi tidak memperdulikannya sama sekali.

Ingatan Adel kembali pada serentetan kejadian tidak menyenangkan. Salah satunya pernah ia pergi ke Cervera dari Sabadell dengan menggunakan kereta kelas bisnis yang notabene merupakan kelas paling bawah dan berbahaya di negara Spanyol. Adel memberi tahu pacarnya tetapi respon yang didapat jauh dari dugaannya. Sikapnya cuek dan hanya berpesan agar Adel berhati-hati. Langsung saja gadis itu kesal. Baik pesan singkat maupun telepon tidak digubrisnya sama sekali. Meski jarak Cervera-Sabadell tidak jauh, tapi kan setidaknya laki-laki itu bisa memberi respon yang lebih.

Well, rasa sebalnya pada lelaki yang menyandang status sebagai pacarnya ini membuatnya mengambil keputusan untuk pindah beberapa waktu ke Brazil. Ia nekat meski ia tidak tahu seluk beluk negara Brazil sama sekali.

Dee melirik jam, sudah hampir tengah malam. Jadi ia pamit pulang. Adel mengantarnya sampai ke depan gerbang.

“Besok aku ikut anter kamu ke bandara ya, jangan ditinggal. Gak bakal kesiangan kok,” Dee tertawa lebar. Membuat Adel ingin sekali menjitak kepalanya yang bahkan menggiurkan juga untuk dijambak.

Upss. Pikirannya terlalu kejam.

“Iya, iya. Tenang aja. Ya udah, pulang sana. Be careful,” kata Adel lalu menutup gerbang.

Setelah mobil Dee menghilang dari pandangannya, Adel masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia menghembuskan nafasnya.

Ahh.. banyak sekali yang akan ia rindukan. Kamar bernuansa birunya, suasana nyaman di Spanyol, juga sahabat baiknya disini. Tapi rencananya sudah bulat. Apapun yang akan terjadi ia tidak akan menyesali keputusannya.

Tidak lama, Adel tertidur lelap. Packing barang seharian rupanya cukup melelahkan untuknya. Brazil, tunggu aku!

***

Waktu menunjukkan pukul 04.25 ketika aktivitas hari Senin di mulai. Adelaide Alessandra Stoner terlihat sibuk pagi ini. Ia harus sudah ada di Sabadell Airport kira-kira 2 jam sebelum waktu keberangkatannya.

Saat Adel melangkahkan kaki ke kamar mandi, bel rumahnya berbunyi. Adel menggantung pakaiannya dulu sebelum ia berjalan ke depan untuk membukakan pintu.

Michaela Deeanara Anderson, sudah berdiri di depan rumahnya. Tumben sahabatnya bisa bangun sepagi ini. Oh ya, apakah menurutmu Michaela terdengar seperti nama anak laki-laki? Dee selalu menolak jika harus dipanggil dengan nama Michaela. Katanya tidak ada unsur nama perempuan sedikit pun. Padahal menurut Adel itu adalah nama yang bagus dengan unsur tomboy di dalamnya.

Dee membuntuti Adel hingga sampai ke dalam kamar.

“Aku tinggal mandi dulu,” kata Adel langsung masuk ke kamar mandi tanpa basa-basi. Kalau sedang terburu-buru, Adel memang tidak banyak bercanda.

“Hmm..,” Dee mengangguk kemudian melanjutkan, “Pinjem laptop ya!”

Terdengar teriakan dari dalam kamar mandi. Suaranya tidak jelas, tapi Dee tahu Adel pasti mengijinkannya. Dee duduk di meja belajar Adel dan membuka laptop. Iseng ia membuka situs tentang Brazil, lebih tepatnya tentang Rio De Janeiro.

Kalau Dee ada waktu luang, ia juga ingin mengunjungi Brazil. Adel dan Dee memang suka berkeliling dunia, tetapi Brazil adalah negara yang belum pernah mereka kunjungi sama sekali.

Ketika Dee sedang membaca sebuah berita, ia mengernyitkan alisnya. Apakah berita ini benar? Sejurus kemudian Dee sibuk dengan laptop sampai-sampai ia tidak menyadari Adel sudah keluar dari kamar mandi.

Setelah selesai bersiap-siap, Adel langsung mengambil laptopnya dan menaruhnya ke dalam mobil. Dee terdiam dan sibuk dengan pikirannya.

“Ayo masuk, anterin aku kali ini. Cepetan!” Adel menongolkan kepalanya dari kaca mobil.

Dee yang menyetir, sedangkan Adel sibuk mengoceh panjang lebar seperti biasa. Setengah jam kemudian, mereka sampai di bandara. Mereka berdua turun, Dee membantu Adel membawa barang-barangnya.

“Kau yakin mau pindah?” tanya Dee hati-hati. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya.

“Aku disini sekarang, jelas saja aku yakin.”

“Tapi.. apa kamu..,” kalimat Dee terpotong.

“Udah Dee, tenang aja. Aku bakal balik kesini lagi kok, gak usah khawatir. Jangan mencoba menggoyahkan tekadku ya,” Adel menggoyangkan jari telunjuknya sambil tertawa.

Well, itu keputusannya. Dee hanya bisa berdoa semoga saja berita itu tidak benar. Adel melirik jam tangannya, sudah waktunya check-in.

“Gonna miss you,” Adel memeluk Dee yang hanya mengantar sampai depan pintu masuk. Dee harus segera berangkat ke kantornya kalau ia tidak mau disemprot oleh bos nya yang super duper galak itu.

Sehabis check-in, Adel menunggu di waiting room hingga diperbolehkan untuk masuk ke dalam pesawat. Ia belum memberi tahu tentang hal ini pada pacarnya. Whatever, toh dia juga tidak menanyakan apapun hari ini.

Begitu menemukan tempat duduknya, Adel segera menghempaskan diri. Mulai detik ini kehidupannya pasti akan berbeda. Siap tidak siap ia harus menghadapinya. Pesawat mulai lepas landas, semua gadget Adel dimatikan. Dan seperti biasa, ia langsung tertidur lelap. Lumayan mencegah jetlag mengingat perjalanan memakan waktu yang cukup lama.

***

Rio de Janeiro, Brazil.

Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di sebuah kantor kedutaan negara asing. Adelaide ditempatkan di bagian visa. Dulu Adel sekolah kejuruan di bidang pariwisata, jadi ia tidak kesulitan ditempatkan di bagian manapun.

Begitu turun dari busway, Adel berjalan menyebrangi jalan raya yang sangat padat. Rio de Janeiro memang identik dengan kemacetannya yang parah. Kantor tempatnya bekerja tepat berada didepan halte busway.

Adel melangkahkan kakinya ke dalam kantor dan segera menuju ke ruangannya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa bergaul dengan teman-teman disana. Setelah di jelaskan sekilas tentang tugasnya, sedetik kemudian Adel sudah sibuk dengan telepon masuk yang ingin meng-apply visa juga mengurus tiket dan lain-lain. Memang anak yang satu ini tidak bisa diam, apapun juga dikerjakan Adel walau bukan bagiannya.

Jam 12 siang, bel istirahat berbunyi. Semua berhamburan mencari makan, ada juga yang beristirahat. Adel hanya duduk termenung di mejanya.

“Hufttt…,” Adel menghela nafasnya dengan lemas. Pikirannya kembali melayang pada sang pacar di negeri seberang. Kemarin malam begitu tahu Adel pulang ke Indonesia, ia malah marah-marah tidak jelas.

“Hai,” sapa seorang gadis, menarik kursi dan duduk disebelah Adel.

“Oh. Hai,” Adel balas menyapa. “Kamu siapa?”

“Panggil aja aku Clezy. Aku kerja di bagian accounting,” kata gadis yang bernama Clezy itu ramah.

“Aku Adel, bagianku.. Disini,” sederet gigi putih terlihat begitu Adel nyengir dengan lebarnya.

Mereka berdua terlihat akrab. Rupanya Clezy adalah penggemar berat MotoGP yang hampir saja menggadaikan nyawanya karena mencoba memeluk Marc Marquez di sirkuit Termas de Rio Hondo. Jelas saja semua orang tahu saat free practice lintasan tidak aman. Namun Clezy yang melihat Marc dari kejauhan langsung berlari melewati start grid untuk bisa loncat ke area paddock. Ia tidak menyadari dirinya hampir tercium YZR-M1 milik Jorge Lorenzo. Untung seorang teman yang saat itu ikut menonton bersamanya segera menarik Clezy menjauhi lintasan.

Adel tertawa terpingkal-pingkal. Dirinya saja tidak berani berada di luar paddock jika sedang ada free practice. Hei! Ngomong-ngomong soal MotoGP, ia jadi merindukan ajang balap dunia yang satu ini.

“Dan aku dilarang mendekati apapun, bahkan sehabis menonton race hari minggu dia memaksaku untuk pulang. Tenaganya cukup kuat untuk menggendongku, jadilah aku diseretnya sepanjang perjalan pulang,” jelas Clezy yang juga ikut tertawa.

Mana ada teman yang membiarkan temannya sendiri melukis lintasan dengan tinta merah yang dihasilkan oleh motor berkapasitas luar biasa seperti monster itu.

Bel tanda selesai istirahat siang berbunyi ketika jam tepat menunjukkan angka 1. Semua kembali pada pekerjaannya masing-masing. Waktu terasa berjalan begitu cepat. Sekarang sudah jam setengah 7, waktunya bersiap-siap untuk pulang.

“No esta mal,” gumam Adel begitu ia selesai mengerjakan pekerjaannya. “Setidaknya aku bisa melupakan dia untuk sejenak.” Adel membereskan meja kerja dan buru-buru pulang.

Bukan karena takut pulang sendirian di malam hari, Adel termasuk gadis berani mengingat ia pernah memukul habis laki-laki yang menjelek-jelekan rider MotoGP tanpa ampun. Tapi ia mau skype-an dengan Dee.

Rumah kecil yang ditempati Adel tidak begitu jauh dari kantor, jadi tidak membutuhkan waktu yang lama untuk perjalanan setiap harinya. Sesampainya dirumah, ia bersih-bersih terlebihi dahulu. Sesudah itu ia membuka laptop diatas kasur. Adel baru bisa berkomunikasi dengan Dee jika ia sedang santai seperti sekarang ini.

***

Adelaide mulai terbiasa dengan suasana di Brazil. Bisa ditebak jika hubungannya dengan pacarnya di Spanyol pelan tapi pasti mulai terabaikan. Ia saja bingung apa statusnya sekarang.

Pagi itu seperti hari kemarin, kendaraan menghiasi kemacetan di Rio de Janeiro. Adel kembali masuk kantor untuk bekerja. Namun ia tidak memikirkan hal yang macam-macam saat jumlah peng-apply visa lebih banyak di hari ini. Mendekati musim liburan sekolah mungkin, pikirnya. Mengherankan jika tiba-tiba saja jumlah peng-apply visa melonjak tajam.

Karena banyaknya pekerjaan, Adel dan teman-teman bagian visa harus lembur agar semua bisa selesai hari ini juga. Besok kemungkinan apply visa yang masuk lebih tinggi dari sekarang. 4 orang berbagi tugas. Waktu terus berputar, jarum pendek bergerak hingga melewati angka 10. Malam sudah larut, pekerjaan mereka akhirnya selesai juga.

Satu persatu bergegas pulang, berjalan semalam ini sangat berbahaya. Adel diantar Alex, diantara mereka semuanya laki-laki kecuali dirinya.

Jalanan terlihat sepi. Entah mengapa Adel merasa ada yang berbeda dengan suasana di hari itu. Takut? Well, Adel akui dirinya memang hanya akan merasa aman jika berada disekitar orang-orang terdekatnya. Tapi takut tanpa alasan seperti ini bukan sesuatu yang bagus.

Mobil Alex berhenti tepat didepan rumah Adel. Sambil mengucapkan terima kasih, Adel segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya. Lebih baik ia langsung beristirahat saja, lagipula ini terlalu malam. Adel berharap besok ia bisa merasa lebih baik dari hari ini.

***

“Guten Morgen!” seru Clezy pagi itu saat Adel baru duduk di mejanya.

Adel melambaikan tangannya, “Buenos dias, kawan.”

“Spanish? Aku tidak bisa,” Clezy menggelengkan kepalanya.

“Dan German? Sama aku juga gak bisa,” tawa Adel menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

Gadis berbadan mungil yang satu ini memang tidak bisa menahan tawa jika ada sesuatu yang menurutnya lucu.

“Udah, kerja dulu deh. Ketawa mulu yang ada gak bakal kelar lagi ini kerjaan,” kata Clezy. Ia beranjak ke lemari dan mengambil setumpuk kertas penuh dengan angka-angka.

Adel ingin mengecek ponselnya ketika telepon kantor berdering. Dalam sekejap bagian visa kembali sibuk, bahkan lebih sibuk dari kemarin. Adel baru bisa menghirup udara saat ada bagian yang santai membantunya meng-apply visa. Karena mejanya berada didekat jendela, ia suka melihat jalanan jika bosan.

Seperti biasa, panas matahari menyengat jalan raya dibawah sana. Tapi, tunggu dulu! Mengapa jalanan terlihat begitu sepi? Pagi menjelang siang seharusnya jalanan tidak pernah bebas dari kendaraan. Tiba-tiba Adel dipanggil oleh bos nya dan di minta datang ke ruangannya. Disana sudah ada Clezy dan beberapa orang lainnya yang merupakan kepala bagian.

Bos mereka berdeham, dan mulai berbicara dalam Inggris, bahasa umum di kantor karena bos mereka selalu menganggap tidak semua orang bisa berbicara bahasa Spanyol. “Well, berita terbaru mengabarkan bahwa hari ini akan ada kerusuhan. Seluruh jalanan yang terakses ke lembaga pemerintahan seperti kantor presiden maupun tempat-tempat lainnya telah ditutup.”

Kerusuhan? Adel membayangkan adanya makhluk alien ganas akan menyerang bumi seperti dalam film barat yang sering ia lihat. Sadar itu tidak masuk akal, Adel segera membuang jauh-jauh pikirannya. Cih, sekalian saja dinausaurus yang kembali dari jaman purba berkunjung ke bumi. Lalu memanggil doraemon dan melempar binatang besar itu lewat pintu kemana saja.

“Kemungkinan kalian tidak bisa pulang malam ini, jadi saya sudah menyiapkan apa yang kalian butuhkan. Demi keamanan kalian, seluruh kantor ini nantinya akan saya proteksi. Sekarang, kembali bekerja dulu. Permintaan visa pasti meningkat dikarenakan banyak yang tidak mau mengambil resiko. Mohon bantuan kalian semua,” bos mereka mengakhiri kalimatnya.

Benar saja, semua bagian yang tidak begitu penting beralih tugas menerima telepon dan membantu bagian visa. Beberapa membuka internet untuk mencari tahu.

“Ada masalah besar rupanya,” sebuah suara menyeruak diantara hiruk pikuk orang-orang didalam ruangan. Nicky menyuruh salah seorang menutup pintu tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.

“Sudah terjadi kerusuhan di beberapa titik kota ini, sebagian rumah ada yang dirusak dan ada yang dibakar, bahkan kendaraan mereka yang lewat ditempat tertentu juga bernasib sama,” Nicky menjelaskan sambil menunjukkan berita itu di layar laptop.

Semua merasa ketakutan. Jika mereka yang ada disini diserang, mereka harus lari kemana lagi? Sepanjang sisa hari itu tidak ada yang bekerja dengan konsentrasi, yang ada hanyalah suasana mencekam.

Langit mulai gelap, waktunya pulang kantor. Beberapa orang sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, sedangkan yang rumahnya terlalu jauh masih bertahan disini.

Baik bos maupun perwakilan kedutaan sudah masuk kedalam ruangan tersembunyi di lantai atas. Yang lain berdiam di ruangan masing-masing menunggu kejelasan dari masalah ini.

Adel memainkan ponselnya. Bosan. Penat. Ia ingin menerobos pulang kalau sebagian dari otaknya yang masih bekerja tidak menyadari dibawah sana segerombolan massa sedang duduk didepan kantor. Adel mulai frustasi. Tanpa sadar ia menulis status di akun twitter nya. Perasaannya jadi tidak karuan begini. What’s wrong!?

“Si no podemos vernos, que acaba de saber que yo siempre te amare, no importa lo que pase.” Statusnya langsung ter-update.

Meski katanya proteksi di kantor ini sudah aman, toh beberapa massa mulai memaksa masuk untuk mengecek. Kantor ini tidak berani mereka serang karena berhubungan langsung dengan kedutaan besar negara sebelah. Setidaknya akal sehat mereka masih digunakan untuk tidak merusak hubungan Brazil dan negara tetangga hanya karena merusak kantor disini.

Adel bukanlah tipe pengumpat yang baik. Itu terbukti dari beberapa kali saat main petak umpet ia terpaksa menyerahkan diri karena punya rasa takut yang berlebihan saat mengumpat. Ia mencoba mencari jalan keluar walau pasrah jika sampai tertangkap.

Dengar-dengar beberapa wanita di perkosa begitu saja secara membabi buta oleh orang-orang kalap ini, terutama warga asing di luar penduduk Brazil. Adel yang sedang membaca status terbaru di berbagai media itu terkejut.  Jangan ditanya seberapa menggigilnya Adel saat ini. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padanya? Ya Tuhan.. Kalau bisa.. Kali ini.. Kalau saja ia bisa meminta permohonan, ia mau agar ada seseorang yang bisa melindunginya.

Tapi Adel hanya sendirian sekarang, yang lain entah dimana. Sepi, sunyi, hal yang paling tidak disukai gadis ini. Dan tiba-tiba saja..

“Glekkk!” Adel menelan ludah.

Gelap gulita. Ada apa lagi ini? Jantungnya berdegup tidak karuan. Dan hari ini ia menyesali keputusannya pindah ke Rio de Janeiro ini. Jika ia bisa lebih bersabar lagi di Spanyol, ia tidak perlu mengalami kejadian mengerikan seperti ini.

Adel meringsut ke belakang pintu, biasa orang-orang cenderung mencari sesuatu di kolong meja daripada di belakang pintu. Sayup-sayup terdengar langkah kaki, suara itu terdengar sangat kencang baginya. Keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya.

“Kau yakin tidak ada orang lagi di kantor ini?” seorang laki-laki berbadan besar dengan otot yang kekar bertanya pada satpam.

“Ya. Listrik disini otomatis mati tak lama setelah jam kerja habis, sekarang juga sudah gelap.”

“Tapi aku tetap ingin melihat-lihat. Keberatankah?”

Satpam itu menggeleng cemas, “Ah.. Tidak, silahkan.”

Nafas Adel tertahan begitu 2 lelaki ini melewati ruangannya. Akan tetapi karena ruangan itu bisa dibilang kecil, laki-laki bertampang sangar itu tidak memperhatikannya. Adel sedikit lega lalu menghembuskan nafas yang bahkan terdengar berat di telinganya sendiri. Dan baru saja ia ingin berpindah tempat persembunyian, tubuhnya terasa menabrak sesuatu.

“Aduhh!” pekik Adel tertahan saat kakinya juga menginjak.. Sebuah kaki lagi?

Mulutnya langsung dibekap oleh telapak tangan dan ia buru-buru diseret ke sebuah ruangan kosong dibelakang lemari. Adel meronta. Cengkraman pria ini terasa kencang sekali. Astaga! Apakah ini akhir dari hidupnya? Oh my God! Somebody help me please!

Mengingat cerita Clezy, ia lebih menerima dirinya mati diatas aspal lintasan balap dibandingkan mati dengan kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya.

“Sssstt! Jangan berteriak, nanti kita ketauan. Tenanglah,” gumam seorang laki-laki dengan suara yang amat dikenalnya tepat di telinga Adel.

Sedetik kemudian Adel membeku ditempatnya berdiri. Apakah dirinya sedang bermimpi bisa mendapatinya disini? Saat ini? Sekarang? Detik ini?

“Sudah saya bilang itu bukan apa-apa. Nah itu Indy, sepertinya saya lupa mengeluarkan dia sewaktu mengobrol dengan anda. Indy, ayo keluar!” teriak si satpam pada seekor anjing siberian husky. Ternyata anjing itu masuk ke dalam ruangan tanpa diketahui Adel karena gelapnya suasana didalam ruangan. Perlu sedikit bersyukur mendapati anjing itu berada pada waktu dan tempat yang tepat, meski menjadikannya kambing hitam.

Kedua orang itu segera meninggalkan ruangan kosong. Tak lupa sang satpam mengunci pintu sebagai penegasan bahwa memang benar tidak ada siapapun didalamnya.

Setelah yakin tidak ada siapapun disekitar situ, bekapan mulut Adel dilepas dan cengkraman pria itu sedikit mengendur. Air mata yang mengalir di pipi Adel buru-buru di seka dengan punggung tangannya.

“Apa yang kamu lakukan disini.. Dani Pedrosa!?” teriak Adel, dadanya naik turun. Ingin sekali ia meluapkan emosinya.

“Maaf.. membuat kamu terkejut,” kata Dani kemudian mengajak Adel duduk disudut ruangan.

Adel terdiam. Kelegaan mulai menyelimuti hatinya, rasa nyaman itu kini kembali ia rasakan.

“Jadi ceritanya aku bisa sampai kesini, itu semua karena Dee. Dia datang ke kantorku setelah kamu pulang kesini. Dia menemuiku dan dia menceritakan semua di ruanganku,” penjelasan Dani terhenti setelah menyadari gadis di sebelahnya tidak menimbulkan reaksi apapun.

“Kau dengar aku tidak?” Dani menyikut lengan gadis itu. Adel menoleh.

“Ya, aku dengar. Lanjutkan..,” gumam Adel kemudian kembali menatap lurus ke depan.

***

Sabadell, Spain.

Dani Pedrosa POV

Pagi ini aku sedikit kesal, Adelaide pergi keBrazil tanpa sepengetahuanku. Bisa dibayangkan bukan rasanya seperti apa? Well, mungkin ini salahku juga tidak begitu memperhatikan kehadirannya selama ini. Aku akui aku memang orang yang gila kerja, tapi aku selalu beranggapan menikah pasti membutuhkan banyak biaya. Jadi aku menjadi manager utama di perusahaan Repsol Honda disamping karierku sebagai seorang pembalap, yang otomatis menyita banyak waktuku.

Saat jam makan siang, aku tidak nafsu makan. Aku sedang melamun ketika sekretarisku mengetuk pintu dan memberi tahu ada seseorang yang ingin menemuiku. Aku mempersilahkannya masuk.

Michaela Deeanara berjalan sedikit terburu-buru. Tanpa di minta ia langsung menceritakan kekhawatirannya padaku. Aku menaikkan alisku setiap kali Michaela mengela nafas.

Begitu ia menyebut ada isu tentang kerusuhan di Rio de Janeiro, aku mendadak panik. Jujur saja, biarpun aku terlihat tidak peduli padanya tapi aku sangat menyayangi gadis itu. Aku tak mau dia terluka, apalagi mengalami kejadian yang buruk. Aku pasti akan merasa sangat menyesal bila hal itu sampai terjadi. Merasa cukup atas informasinya, Dee kembali ke kantornya karena jam istirahat hampir habis. Aku langsung menghubungi anak buahku untuk memesan tiket ke Brazil. Prosesnya bisa lumayan panjang mengingat semua serba mendadak, tapi aku tidak mau tahu. Yang aku pikirkan saat itu hanyalah bagaimana kondisi gadis itu?

Setelah aku berhasil mendapatkan tiket, tanpa berpikir 2x aku segera mengurus keberangkatanku. Waktu perjalanan terasa sangat lama, ingin rasanya cepat-cepat sampai dan aku mendapatinya baik-baik saja didepan mataku. Walaupun dia akan mengomel panjang lebar, aku tidak peduli. Dia marah-marah adalah hal yang baik dibanding gadis itu diam tak bersuara.

Ketika mendarat di bandara Brazil, mobil yang sudah ku pesan segera meluncur ke kantor Adel. Semua jalanan di blokir, kami berputar berkali-kali untuk mendapatkan jalan kesana. Akhirnya kami melewati jalan belakang. Banyak massa disana, si supir berpesan agar aku berhati-hati. Muka Spanyol ku tidak mendekati muka orang Brazil sama sekali.

Dengan mengendap-endap aku memanjat dinding dan naik tangga belakang. Tidak sengaja aku menemukan sebuah pintu, aku berniat masuk lewat sana. Tapi saat aku mengintip ke dalam jendela tampak gadis yang sangat aku kenal meringkuk dibelakang pintu.

Aku ingin memeluknya begitu melihat dirinya dalam kegelapan, sepertinya dia ketakutan. Begitu berhasil masuk, aku mengurungkan niatku karena sayup-sayup terdengar suara 2 orang asing. Aku tidak ingin tertangkap. Aku mempertajam pendengaranku, suara itu telah menghilang. Aku menghampiri gadis itu, tetapi yang ada gadis itu malah terkejut. Tak mau mengambil resiko ketahuan, terpaksa aku membekap mulutnya. Gadis itu meronta, secara tidak sadar aku mencengkram lengannya dan menarik gadis itu ke tempat awal aku masuk.

Benar saja, pekikan Adel menarik perhatian 2 orang asing itu. Aku tidak begitu mendengarkan percakapan diantara keduanya. Setelah mereka menghilang dari sana untuk kedua kalinya, aku mulai melepaskan gadis itu. Hampir saja..    [Dani POV end]

“Kamu gak perlu repot-repot kesini segala,” kata Adel, yang sama sekali tidak menyinggung apapun soal penjelasannya. Ia masih trauma tingkat dewa  tentang peristiwa ini.

“Semua ini salahku, maaf membuatmu dalam posisi yang terancam,” Dani menyalahkan dirinya sendiri.

Saat air mata Adel mendesak ingin menetes, Dani memeluknya dengan erat. Adel merasa sangat nyaman, rasa hangat mulai menjalari mereka. Ketika mereka bertatapan, sorot mata mereka seolah mengatakan “Aku sangat merindukanmu.”

Dani mengusap pipi gadis itu lembut, ia mendekatkan wajahnya. Dan kemudian bibir mereka berpagutan. Perlahan tangan Dani bergerak ke leher Adel, berhenti di pundaknya, dan tiba-tiba saja ia menurunkan pakaian gadis itu dengan sekali tarik.

Adel menggenggam tangan laki-laki di hadapannya itu, bermaksud untuk menahannya. Akan tetapi dirinya terlanjur terbuai dengan apa yang dilakukan Dani terhadapnya. Secara tiba-tiba ia juga melepaskan pakaian Dani sambil meyakinkan dirinya. Nanti mereka toh akan menjadi pasangan suami istri, yang entah kapan akan di langsungkan.

Malam semakin larut, membuat pasangan yang kini sedang di mabuk cinta itu melanjutkan permainan mereka. Semua terjadi malam itu, dan sekarang Adel tertidur nyenyak di dalam pelukan Dani. Laki-laki itu memandangi muka polos Adel.

Sumpah demi Tuhan ia tak akan pernah lagi membiarkan sesuatu hal seperti ini terjadi padanya. Entah mengapa ia merasa sakit begitu tahu keadaan separah ini dan juga menyangkut nyawa gadis yang sudah menjadi pacarnya selama 2 tahun itu. Dani menoleh sekilas ke jalan raya. Apakah ia baru menyadari suasana mengerikan ini sekarang? Yang jelas ia merasa sedikit takut juga dalam hidupnya belum pernah ia melihat hal seperti ini. Ban-ban terbakar bersebaran di jalan raya, kepingan kaca-kaca berserakan seolah menandakan kehancuran di hari ini dan kerangka kendaraan tergeletak diam menambah suasana kota mati di malam hari.

Dani mempererat pelukannya juga. Memastikan gadis itu aman bersamanya. Tak lama ia ikut terlelap karena malam sudah larut. Besok pagi ia akan ke rumah Adel untuk singgah disana.

05.26 a.m

Suasana pagi menarik semua orang yang terlelap untuk segera bangun. Adel menggeliat, membuat Dani ikut tersadar dari tidurnya.

“Ehm.. Jam berapa sekarang?” tanya Dani.

Adel menggapai jam yang ada di meja kerjanya. “Jam setengah 6.”

Setelah mendapatkan kembali nyawanya, Adel terkejut. Mukanya memerah persis seperti kepiting rebus, mengapa keadaannya berantakan begini? Belum hilang rasa terkejutnya, pintu ruangan terbuka dan Clezy langsung berlari ke arah Adel. Rupanya semalam mereka semua ikut bersembunyi bersama bos, hanya Adel seorang diri yang tertinggal dibawah.

Menyadari adanya mahkluk lain, Clezy menengok ke kiri dan mendapati Dani Pedrosa sedang menatap dirinya.

“Astaga! Sejak kapan manusia ganteng bin keren sekelas dia muncul disini? Dia pacar kamu?” pertanyaan itu reflek dan jelas ditujukan pada Adel. Yang ditanya mengangguk salah tingkah.

 

***

Adel POV

Sudah 2 minggu lebih kami berada di Brazil. Sesudah kerusuhan itu berakhir, kami memutuskan berlibur ke pantai kecil dekat perbatasan kota. Pantai yang nyaman dengan suasana romantis. Dan dalam seminggu saja Dani sudah menjadi lebih perhatian padaku.

Hari-hari yang kami lewati seperti biasa, bermain pasir, berenang dan makan makanan khas daerah pantai yang terkenal enak itu. Hanya saja, nafsu makanku menurun drastis memasuki minggu ketiga. Kali ini aku menolak lagi makan pagi yang telah disiapkan Dani.

“Eghhh..,” aku menutup mulut. Pipiku menggembung.

Dani tertawa, bercanda pikirnya. Tidak mau makan saja aku sampai bertingkah seperti itu. Aku yang merasa mual langsung menghambur ke kamar mandi.

“Hooeekkk….” Aku muntah di wastafel meski aku belum memakan apapun pagi itu. Jangan-jangan.. Masa sih secepat itu?

Merasa khawatir, Dani masuk ke dalam kamar mandi. Ia memijat tengkuk ku sampai aku berhenti memuntahkan isi perutku. Dani memapahku ke meja makan.

“Kau sakit? Oh ya, hari ini kita pulang ke Spanyol. Beresin barang-barang ya, terus langsung ke bandara.”

Kebiasaan lamanya muncul lagi! Serba tiba-tiba dan terasa cuek.

Aku bangkit berdiri dan berjalan masuk ke kamar. “Iya aku packing sekarang.” Sambil mendengus kesal aku memasukkan pakaian dan tetek bengeknya kedalam koper. Juga membereskan barang-barang Dani yang tidak begitu banyak. Menunggu laki-laki itu membereskan barangnya sama saja dengan waktu ayam mengerami telurnya hingga menetas.

Setelah itu kami berangkat ke bandara. Kami langsung check-in begitu sampai, dan kemudian masuk ke dalam pesawat. Selama perjalanan dari pantai kesini, ia selalu mencecarku dengan pertanyaan yang sama. Sengaja tidak ku jawab..   [Adel POV end]

***

Awalnya Adel tetap tidak menggubris pertanyaan Dani. Tapi sepanjang perjalanan dari pantai ke bandara, bahkan sampai dirinya berada di dalam pesawat pun laki-laki imut itu terus-terusan mengoceh.

“Ayo kasih tau aku kalo kamu beneran hamil..,” dan sekarang Dani mulai merajuk.

Tidak tahan membayangkan dirinya terus menerus direcoki Dani sepanjang penerbangan dari Brazil ke Spanyol, Adel akhirnya buka mulut.

“Ya. Memang kenapa? Puas? Ini semua karena ulahmu tau.”

“Kenapa galak gitu. Beneran nih? Horeee!” seru Dani yang langsung terkekeh saat dirinya di lihat oleh beberapa penumpang.

“Gak usah teriak-teriak gitu dong,” kata Adel mencubit lengan Dani.

“Maaf. Dan boleh aku bertanya sekali lagi?” Dani tersenyum penuh arti.

“Kalo sama kaya tadi lebih baik simpan saja pertanyaanmu itu,” ucap Adel terlanjur kesal.

Dani mengeluarkan cincin dari kotak biru yang sangat indah.

“Mau kah kau menikah denganku, Adelaide Alessandra Stoner?” tanya Dani. Sontak jantung Adel berdebar 2x lebih cepat.

Kekesalannya sirna dalam sekejap. Dengan mengangguk malu Adel menjawab, “Dani Pedrosa, kau sudah tau jawabannya bukan? Tentu saja aku mau.”

“Yihaa! Kalo gitu kita akan menikah secepatnya. Rasanya tidak sabar menunggu anakku itu lahir,” canda Dani sambil memasangkan cincin di jari manis Adel. Mereka terlihat bahagia, tidak menyangka akan terjadi secepat itu.

Dan perjalanan ke Spanyol kali ini berubah menjadi suasana paling menyenangkan dalam hidupnya. Cincin yang melingkari jari manisnya adalah jaminan Dani menjadi milik Adel seutuhnya. So happy with my life.. now~

***

AdelaideAlessandra26 -@adelaidestoner

“Kalau kita tidak bisa bertemu lagi, kamu hanya perlu tahu bahwa aku akan selalu mencintaimu, tak peduli apapun yang terjadi.”

Sent 1m ago. Retweeted by Dani Pedrosa

 

End.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s