The Story of Us : I Saved Her #7

Gambar

Holaholaa! Ini lanjutan ff nya. Selamat membaca aja ya, di resapi juga kalo perlu :p wkwkwk *apasih* Leave comment please🙂

@nataa_diva

***

Jumat siang Adel pergi ke perpustakaan kecil di dekat sekolah. Ia suka membaca, jadi khusus hari jumat jika tidak ada keperluan Adel suka pergi ke perpustakaan ini.
Ruangannya tidak lebar, tapi tenang dan bersih. Membuat siapa saja betah membaca berlama-lama disitu.
Dalam waktu 3 jam, Adel sudah membaca 2 novel. Setelah novel terakhir habis dibacanya, Adel pamit kepada penjaga perpustakaan yang sudah lama dikenalnya itu.
Adel mampir ke kedai Starbuck sebelum pulang ke rumah. Dulu ia sering kesini bersama Laura. Tapi sekarang Adel bahkan mulai tidak menyukai sahabatnya itu. Memfitnahnya? Untuk apa? Karena Marc terobsesi padanya kah?
Ia sudah meluruskan masalahnya secara baik-baik dengan Marc dengan kepala dingin. Marc juga mencurigai ada yang salah dengan cerita Laura.
Saat Marc sudah bisa berpikir jernih, ia tahu Adel memang benar-benar tidak membatalkan janjinya hanya karena seorang Dani Pedrosa.
Dan sekarang Marc benar-benar ingin memiliki Adel. Gadis itu gadis idamannya! Ia yakin bisa merebut Adel dari Dani.
Adel menghembuskan nafasnya. Untuk apa mengingat sahabat yang menusukmu dari belakang?

Ah sudahlah. Tidak penting.

Adelaide memesan vanilla latte dan mau membayarnya ketika ponselnya berdering. Ia pergi menjauhi kasir sebentar untuk mengangkatnya.
Sehabis itu Adel langsung membayar dan duduk di dekat jendela. Ia menyeruput vanilla latte nya dengan pelan sambil menikmati keindahan Canberra yang bisa dilihatnya dari sini.

Ia menutup matanya, nyaman rasanya tinggal di kota ini. Tetapi tidak lama kemudian, Adel merasakan kepalanya pusing.
Adel memegang pelipisnya. Astaga, bagaimana ini? Matanya mulai berkunang-kunang dan ia tak sadarkan diri.
Seorang pemuda yang duduk tepat di belakang meja Adel dengan sigap membawa gadis itu pergi dan memapahnya masuk ke dalam mobil.
***

Pintu studio terbuka. Dua orang masuk dengan membawa seorang gadis bersamanya.
“Bradl, kami sudah membawa anak ini untukmu. Bisa kami pergi sekarang?” tanya salah satu anak buahnya.
Stefan Bradl tersenyum puas, “Ya, silahkan.”
Diruangan itu, hanya tinggal mereka berdua. Saat sedang menjalari tubuh Adelaide dengan mata buasnya, ponselnya berdering.
“Halo?” Bradl menjawab teleponnya yang berdering.
“Bagaimana? Sesuai rencana?”
“Tentu saja,” jawab Bradl singkat.
“Nanti malam kita bertemu di tempat biasa ya.”
“Oke, Laura sayang.”
Bradl menaruh ponselnya diatas meja dan mengambil kamera nya. Ia duduk di sebelah Adel yang masih terlelap tanpa mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya.
Perlahan Bradl membelai pelan pipi Adel, menyibak poni yang menutupi muka dan menyentuh bibirnya.
Baru saja Bradl hendak mencium Adel ketika pintu studio nya terbuka lebar.

***

Dani yang saat itu tidak ada kegiatan memutuskan untuk mengikuti Adel. Ia ingin tahu apa saja yang biasa dilakukan gadis itu.
Pertama, Adel pergi ke perpustakaan kecil. Hampir beberapa jam Dani menunggu didalam mobil.

Dilihatnya gadis itu keluar dari perpustakaan. Dani pikir Adel langsung pulang ke rumah. Tetapi tebakannya meleset, Adel malah mampir ke kedai Starbuck.
Adel memesan minumannya, kemudian berjalan ke kasir untuk membayar. Namun tiba-tiba Dani melihat gadis itu mengangkat telepon dan menjauh dari kasir.
Matanya menyipit, Dani menangkap seseorang memasukkan sesuatu ke dalam minuman Adel tanpa diketahui oleh siapapun. Cara kerja orang itu sungguh rapih.
Perasaan Dani mulai tak enak. Dugaannya semalam menyeruak begitu saja didalam pikirannya.
Setelah Adel membayar, ia duduk di dekat jendela. Dani baru menyadari bahwa gadis yang menyandang status sebagai pacarnya itu terlihat sangat cantik. Sekilas, pikiran buruknya itu terlupakan.
Saat ia memejamkan mata, Dani terus memandanginya dengan terpesona sebelum seseorang membawa Adel keluar dari situ dan masuk ke dalam mobil tepat di depannya. Dani terkejut.
Mobil bergerak dengan kecepatan tinggi, Dani menyusul dan terus berada di belakangnya. Hingga mobil itu berhenti di depan studio foto.
“Ini.. Ini kan studio foto milik Bradl,” batin Dani lalu melanjutkan, “Sudah kuduga pasti ada yang tidak beres.”
Kedua anak buah Bradl membawa Adel ke dalam. Dani megikuti mereka secara diam-diam. Mereka membawa Adel ke ruangan Bradl, dan ia menunggu di luar sampai anak buah Bradl pergi dari situ.
Dani mengendap-endap. Dibukanya pintu ruangan studio dengan pelan. Mencari celah dan mengintip apa yang terjadi di dalam sana.
Namun apa yang dilihatnya sungguh mengagetkan. Seketika emosinya meluap, darahnya naik ke ubun-ubun. Tangannya terkepal keras, sampai buku-buku jarinya memutih.
“Brengsek! Beraninya dia menyentuh Adel seperti itu,” geram Dani yang sedetik kemudian langsung masuk dan menghajar Bradl.
“Brakkk!”
Bradl jatuh menghantam meja kayu. Ia membalas pukulan Dani tapi berhasil ditepis olehnya. Tanpa ampun Dani melayangkan serangannya secara membabi buta.
“Gue ingetin sama lu, jangan pernah sentuh cewe gue lagi! Atau gue gak akan segan-segan bikin keadaan lu lebih parah dari ini. Cam kan ini!” seru Dani kalap.
Ia menghampiri Adel yang jelas saja masih tertidur dengan nyenyaknya. Ketika ia bermaksud membawa gadis itu pergi bersamanya dari sini, Bradl mendaratkan tonjokan keras di sudut bibir Dani.
“Sialan,” desis Dani sambil memegang sudut bibirnya.
Ia membalas Bradl hingga akhirnya pria itu pingsan tak bergerak.
Segera Dani menggendong Adel dan pergi dari situ. Begitu berada di balik kemudi, ia menancap gas dalam-dalam dengan perasaannya yang masih tidak karuan.
***
“Ahh..” desah Adel pelan. Ia menarik selimutnya dan mengulet. Dingin sekali, apa sudah mulai musim dingin di Canberra?
“Kau tidak apa-apa?”
Sepertinya Adel mendengar suara Dani. Tapi mana mungkin dia muncul begitu saja, dia kan tidak tahu kemana dirinya pergi seharian ini.
“Kau tidak apa-apa, sayang?” ulang Dani sekali lagi.
Adel membuka matanya. “Emm.. Kamu? Sedang apa disini?” tanya Adel sedikit heran. Mengapa ia bisa mendapati laki-laki ini di depan matanya?
Dani melongo. Sedang apa? Sedang apa katanya!? Apa dia tidak sadar jika dirinya terancam beberapa jam yang lalu?
“Sedang menemanimu tau,” jawab Dani sekenanya.
“Oh. Tumben,” kata Adel kemudian tertawa.
Tapi Dani malah kesal melihat gadis ini tertawa tanpa dosa seolah-olah dia tidak tahu apapun soal tadi.
Eh.. Ngomong-ngomong, dari tadi kan Adel dibawah pengaruh obat bius. Jelas saja dia tidak mengetahui apa yang terjadi hari ini.
“Memangnya tidak boleh?” Dani berusaha menekan rasa jengkelnya, dia tidak tahu soal apapun memang.
“Ada yang bilang gak boleh?”
“Gak ada sih.”
“Hei!” teriak Adel sontak membuat Dani terkejut. “Kamu kenapa? Kok bengep gini?” tanya Adel heran. Ia menyentuh sudut bibir Dani. Laki-laki itu meringis manahan ngilu.
Satu pukulan terasa lumayan sakit, tapi ia yakin hatinya akan jauh lebih sakit lagi jika ia mendapati Adel dengan keadaan seburuk itu tadi.
“Ini? Kecium banteng.”
“…”
Dani membuat mukanya seserius mungkin. “Sungguh. First kiss ku hilang dicuri seekor banteng besar.”
“…”
Adel tidak menanggapinya. Sekarang gantian ia yang kesal. Adel yakin itu pasti karena ia berkelahi dengan seseorang.
“Baiklah, baiklah. Itu bercanda,” Dani mengaku. “First kiss ku belum hilang kok, tapi mungkin akan hilang hari ini..”
Dani mengetuk-ngetuk jarinya di dagu, memancing rasa penasaran Adel. “Mungkin akan hilang? Maksudmu?” Adel terpaksa bertanya. Jika penasaran, rasanya itu seperti sesuatu yang menusuk tajam ke dalam pikirannya.
“Maksudku..” Dani sengaja menggantung kalimatnya. Ia tahu gadis ini mulai penasaran.
“Kau benar-benar ingin tau maksudku?” kata Dani mendekatkan wajahnya ke arah Adel.
“Hmm,” mata Adel berbinar. Setidaknya rasa penasaran itu akan terjawab.
“Jadi.. Artinya..” tangan Dani memegang pipi Adel.
Kemudian ia menciumnya dengan hangat. Bibirnya beradu, namun ia tidak merasakan sakitnya sejenak.
Beginikah rasanya ciuman pertama dengan orang yang kamu cintai? Mungkin terasa nyaman, dan tulus sebagai pernyataan lain dari sebuah kasih sayang.
“Artinya aku harap ciuman ini menjadi yang pertama denganmu, dan juga yang terakhir. Maksudku, aku tidak mau melakukannya dengan wanita manapun. Hanya kamu,” jelas Dani sambil tersenyum.
Dipeluknya gadis itu. Ingin sekali menghentikan waktu sebentar agar ia bisa lebih lama mendapati gadis itu aman di dalam pelukannya.
Demi Tuhan! Ia tidak akan membiarkan kejadian seperti ini terulang lagi. Ia akan menjaga gadis itu sepenuhnya mulai sekarang.
“Tapi, bengepnya disembuhin dulu sini. Jelek tuh,” gumam Adel kemudian melonggarkan pelukan Dani.
Dani terperangah. Jelek? Keren begini dibilang jelek, gimana kalau tidak keren?
Adel berlari kecil mengambil kotak obat. Lalu mengobati sudut bibir laki-laki ini dengan pelan.
***

“Apa? Gagal? Gimana sih?!” Kamila Rosabel mengomel pada Laura di telepon.
“Mana aku tau, gak usah marah juga kali,” Laura ikut-ikutan kesal.
Mila mendengus. “Harusnya kalo cewe itu hancur saat ini, aku bisa dengan mudah ngedeketin Dani! Mana mau Dani sama dia kalo udah gak ada harganya.”
“Sabar Mil, nanti kita pikirin lagi rencana lain. Yang penting kamu juga harus buat Marc bisa suka sama aku. Itu perjanjian awal kan,” kata Laura berusaha bersikap tenang.
“Iya, beres. Ya udah deh, aku mau istirahat dulu. Dahhh..”
Mila mematikan teleponnya. Laura hanya bisa mencak-mencak kesal mengutuki Bradl.

***

Dani menginap di rumah Adel malam ini. Sudah terlalu malam dan ia lelah. Adriana menyiapkan kamar tamu. Dani menemani Adel sampai gadis itu tertidur nyenyak.
Tadi ia sudah menceritakannya pada Casey dan Adriana. Mereka berdua lebih kaget dari Dani, karena setahu mereka Laura Amberita adalah sahabat baik anak perempuannya. Mengapa bisa Laura melakukan itu pada Adel?
Setelah Dani mengutarakan niatnya, Casey memperbolehkan Dani membawa Adel ke Spanyol besok.
Setidaknya menjauhkan Adel dari Canberra untuk beberapa hari adalah langkah yang baik, lagipula balapan di Valencia juga akan berlangsung minggu ini..

2 thoughts on “The Story of Us : I Saved Her #7

  1. nat,, agak risih aku baca kata ‘bengep’ di ff kmu ini, bhasa yg lain udh bagus, tpi knp harus ada kata bengep sihh?? Heheheh
    Tapi so far so good sih ff buatan kmu, gak nyangka sama sikapnya laura yg kya gitu..
    Dilanjut yaa..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s