Don’t Say You Never Love Me #4

cove2r

06.45 AM

Hari minggu adalah hari libur bagi para pekerja kantoran seperti Marc. Ini adalah hari yang sangat dinanti-nantinya. Kenapa? Karena ia bisa tidur sepuasnya.

Sementara di kamar sebelahnya, Laura bangkit dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandinya. Saat ia melihat cermin yang ada di depannya, ia berteriak histeris seperti orang kerasukan. Lalu, ia pun menangis histeris.

Marc yang mendengar suara teriakan Laura langsung terbangun. Rasa panik menghampirinya karena gadis itu tidak pernah berteriak seperti itu selama 4 bulan pernikahannya yang telah berjalan.

Segera saja Marc menerobos masuk ke kamar Laura dan mendengar tangisan gadis itu di kamar mandi. Ia berjalan ke sana sambil melongokkan kepalanya panjang dengan maksud mengintip.

“Ugh! Bagaimana ini?” tangis Laura. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

“Hei, kau kenapa?” tanya Marc penasaran dibarengi sedikit kekhawatiran. Ia berdiri di depan pintu kamar mandi Laura.

“AKHHH…..,” teriak Laura sekali lagi hampir membuat Marc jantungan.

“Eh, ada apa?” tanya Marc panik dan sontak menghampiri Laura.

“Apa yang kau lakukan di sini?!” bentak gadis itu.

“Melihatmu,” jawab Marc jujur dan polos.

“Oh…. Kau mau mengitip ya?” tuduh Laura sambari melirik tajam ke arah Marc.

“Tidak. Aku dengar tadi kau… berteriak seperti….” Marc lantas menghentikan perkataannya saat melihat Laura menangis lagi. Aduh, apa ia salah ngomong lagi ya? Laura memang sangat sensitif. Sedikit saja Marc salah ngomong bisa gawat itu.

“Kau lihat…,” kata Laura sambil menunjuk ke cermin di depannya. Kemudian tangannya menyentuh perutnya yang terlihat membesar layaknya ibu yang hamil 5 bulan.

“Apa?” tanya Marc bodoh, membuat Laura sontak menghentikan tangisnya. Emosi langsung merayapinya.

“Kau ini bodoh atau apa sih? Kau tidak lihat perutku semakin membesar dan tubuhku semakin melebar? Dan kau tahu ini gara-gara siapa? Ini semua gara-gara kau yang telah membuatku seperti ini! Kau memang bajingan brengsek, Marc Márquez,” maki Laura dan kemudian menangis lagi.

Marc bengong seketika mendengar makian yang keluar dari bibir mungil Laura. Kemudian priaa itu tertawa terpingkal-pingkal. Astaga, ia tak menyangka Laura menangis histeris hanya karena perutnya membesar. Itukan sangat normal untuk ibu hamil. Lalu, apa masalahnya? Tubuhnya melebar? Itu juga bukan salahnya. Hanya saja nafsu makan gadis itu akhir-akhir ini memang sangat besar. Jadi terima tak terima itulah resikonya. Lucu sekali.

“Sialan kau! Aku sedang bersedih kau malah sibuk menertawakanku. Rasakan ini….!” Dengan sadis, Laura menendang tulang kering Marc hingga membuat pria itu meringis kesakitan. Huh! Memang tidak ada tempat lain lagi yang bisa ditendang? Kenapa harus tulang keringnya? Sakit sekali, tahu.

“Itulah akibatnya mengejek seorang Laura Amberita Sánchez,” ucap Laura penuh kemenangan.

“Bukan Sánchez lagi, Nona. Tapi Márquez,” koreksi Marc yang masih meringis kesakitan.

“Ya, tapi aku tidak akan lama menyandang nama itu. Kau ingat, setelah anak ini lahir, kita akan bercerai,” ucap Laura sekenanya.

Tubuh Marc langsung membeku mendengar kata keramat itu. “Cerai?” ulang Marc dengan nada kaku. Wajahnya tiba-tiba berubah merah padam. Karena amarah, mungkin. Seolah ada perasaan yang menyembul dari permukaan hati terdalamnya. Sebuah perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Apa… sebegitu buruknya ia menjadi suami untuk Laura, sampai-sampai Laura ingin cerai darinya setelah anak itu lahir? Marc bertanya dalam hati.

“Iya, kenapa? Bukannya perjanjian kita saat anak ini lahir, kita sudah tidak ada ikatan apa-apa lagi, Marc,” ucap Laura dan kembali membuat hati Marc tercabik-cabik.

Marc seperti ditampar saat mendengar kata perjanjian yang keluar dari mulut Laura. Perjanjian? Oh astaga, ia saja sudah lupa dengan perjanjian pra-nikahnya.

“Baiklah kalau itu maumu,” tukas Marc dingin dan langsung keluar dari kamar Laura.

***

Laura’s POV

“Itulah akibatnya mengejek seorang Laura Amberita Sánchez,” ucapku penuh kebanggaan. Pasti sakit sekali kakinya. Rasakan!

“Bukan Sánchez lagi, Nona. Tapi, Márquez,” koreksinya masih meringis kesakitan.

“Ya, tapi aku tidak akan lama menyandang nama itu. Kau ingat, setelah anak ini lahir, kita akan bercerai.” Aku sengaja memancingnya dengan pernyataanku barusan untuk melihat ekspresinya. Kalau dia memang tak peduli… berarti dia… ya, kalian pasti tahu hubungan kami akan berakhir di meja pengadilan.

“Cerai?” ulang Marc kaku. Wajahnya tiba-tiba merah padam, karena amarah. Astaga, dia kenapa? Apa pancinganku berhasil?

“Iya, kenapa? Bukannya perjanjian kita saat anak ini lahir, kita sudah tidak ada ikatan apa-apa lagi, Marc,” pancingku sekali lagi. Aku ingin tahu apa dia masih ingat dengan perjanjian pra-nikah kami? Aku harap dia tak mengingatnya, bahkan kalau bisa aku berharap dia tidak pernah dan tidak akan mengingatnya. Entahlah apa yang kupikirkan sekarang.

“Baiklah kalau itu maumu,” tukas Marc kaku dan langsung keluar kamarku. Bunyi pintu kamar yang ditutup itu seperti menghempaskanku ke jurang yang begitu dalam. Apa dia juga mengharapkan perceraian? Dia sama sekali tidak peduli kepadaku.

Aku terperosot ke lantai, menangis sejadi-jadinya dan mengutuki kebodohanku karena mengungkit-ungkit perjanjian tolol itu. Astaga, apa yang harus aku lakukan? Aku mengakui selama 4 bulan hidup satu atap bersama Marc, perasaan itu ada. Perasaan yang pernah aku rasakan saat pertama kali bertemu dengan pria itu, walaupun sempat hilang karena aku tahu dia hanya memanfaatkan tubuhku saja. Tapi, aku juga tidak bisa bohong bahwa sekarang aku mencintainya. Dengan perhatiannya yang selalu diberikannya setiap kali aku membutuhkannya.

Aku harus bagaimana?

***

Sudah tiga hari sejak pertengkaran kami, kalau aku bisa menyebutnya seperti itu. Kami sama sekali tidak saling menyapa satu sama lain. Dia pergi pagi dan pulang larut malam. Ya, pulang larut malam. Sebenarnya itu melanggar perjanjian kami. Tapi, masa aku dengan keadaan kami yang seperti ini, aku masih sempat-sempatnya memberi pria itu hukuman? Huh! Lucu sekali. Bicara dengannya saja tidak pernah selama tiga hari ini. Bagaimana mau menghukumnya?

Hm, apa sebegitu buruknya aku di matanya, sampai-sampai Marc tidak mengacuhkanku seperti ini? Lalu, aku harus bagaimana lagi? Minta maaf? Cih! Mau ditaruh ke mana mukaku ini kalau sampai kalimat terkutuk itu keluar dari mulutku? Aku tidak akan melakukannya.

Di sisi lain, jujur aku merasa sangat kesepian. Biasanya Marc akan menemaniku ngobrol setiap kali aku merasa bosan seperti ini. Dan di setiap obrolan kami pasti akan berakhir dengan saling memaki satu sama lain. Sebenarnya itu lebih baik dari pada diam-diaman seperti ini.

Huh! Merindukan pria itu memang sangat menyebalkan. Mencintainya diam-diam seperti ini juga membuatku sangat menderita. Dasar, Laura tolol! Kenapa kau bisa begitu bodoh? Aku memaki-maki diriku sendiri.

Dan setelah dipikir-pikir, hari ini aku sudah bertekad menunggunya pulang dan bicara dengannya. Aku tidak bisa menunggu terlalu lama lagi. Sebagai suami dia tidak boleh menanggurkan aku seperti itu. Sangat keterlaluan sekali itu namanya.

***

Author’s POV

00.30 AM.

Seperti tiga hari sebelumnya, Marc baru pulang setelah lewat tengah malam. Sebenarnya ia sudah melanggar peraturan yang pernah mereka tetapkan. Tapi, ini sengaja dilakukannya karena ia belum siap berhadapan dengan Laura. Pengecut memang sikapnya itu dan ia mengakui itu di dalam dirinya.

Marc tertegun saat masuk ke apartemennya. Ia melihat Laura terlelap di sofa ruang tamu. Secercah harapan muncul dalam dirinya, apa gadis itu menunggunya pulang? tanya Marc di dalam hati.

Perlahan Marc menghampiri Laura dan jongkok di depannya. Wajah gadis itu selalu tampak polos saat ia tertidur. Dan dia terlihat cantik sekali. Marc tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengatakan hal itu padanya. Karena… jika sampai itu terjadi, gadis itu pasti akan syok karena kata itu keluar dari mulutnya. Dan kemungkinan terburuknya malah ia akan diejek habis-habisan oleh gadis itu.

Hati-hati Marc mengangkat tubuh Laura yang semakin hari terlihat semakin besar ke kamar. Anehnya, Marc tidak merasa berat sama sekali. Ia malah dengan senang bisa menggendong Laura.

Setelah membaringkan Laura di tempat tidur, Marc menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Dan karena kelelahan, akhirnya pria itu memutuskan untuk tidur di samping Laura. Ya, mungkin malam ini tidak apa-apa, pikirnya dalam hati.

***

06.30 AM.

“AKHHH…!!!”

Suara teriakan Laura menggema di kamarnya. Rasa panik langsung menyerang tubuhnya. Berkali-kali ia memeriksa pakaiannya dan pakaian Marc berulang-ulang untuk memastikan apa semalam terjadi sesuatu yang… ya, kalian tahulah apa maksud Laura.

Marc masih belum sepenuhnya terjaga lalu bertanya dengan suara serak, ”ada apa sih?”

“Kau masih berani bertanya ada apa? Apa yang kau lakukan di kamarku?” jerit Laura sambil melemparkan boneka Angry Bird kesayangannya ke arah Marc. Masa bodoh dengan boneka itu, geram Laura dalam hati.

“Kenapa? Itu kan normal untuk sepasang suami-istri,” jawab Marc kemudian melanjutkan tidurnya. Ugh, pria sialan! maki Laura dalam hati.

Saking kesalnya, Laura pun menendang tulang Marc dengan keras. Rasakan!

“Aww…,” jerit Marc kesakitan.

“Selamat menikmati deritamu di pagi hari, Jelek!” bentak Laura, kemudian masuk ke kamar mandi meninggalkan Marc yang masih meringis kesakitan di atas tempat tidur.

Well, sepertinya hari-harinya telah kembali.

To Be Continued…

3 thoughts on “Don’t Say You Never Love Me #4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s