The Story Of Us : Everything Seems Wrong #5

cove2r

Holaa! Baru bisa ngepost ff nih. Hehehe… kalo rada ga beres, harap maklum ya :p ga biasa main blog soalnya. Entah gimana jadinya postingan ini, haha!! yaudah deh, selamat membaca aja ya😀 -nataadiva26-

***

“Adelaide!”

Adel mengedarkan pandangannya mencari sumber suara. Marc Marquez?

Rupanya laki-laki itu menunggu dirinya di gerbang sekolah. Adel berlari kecil menghampiri Marc.

“Masih ada urusan lain?” Marc bertanya dengan nada datar.

“Gak, emang kenapa?” jawab adel sedikit gusar.

“Kalau begitu, aku ingin mengajakmu makan siang. Tidak ada alasan untuk menolak, masuk ke dalam,” kata Marc yang langsung masuk ke dalam mobil. “Asem, terus aja berbuat sesuka hatimu. Makhluk rese!” umpat Adel kesal, tentu saja dalam bahasa Indonesia. Sepanjang perjalanan, Adel lebih banyak diam. Perlahan gadis ini mulai tidak menyukai Marc. Tapi terselip dalam lubuk hatinya, sosok Marc membuatnya tenang. Seolah dia adalah seorang kakak baginya. Namun ia cepat-cepat menampik pikiran konyolnya itu. Kakak? Mati saja ia jika menjadi adiknya, Alex pun Adel yakini tidak akan tahan dengan sifat egois kakaknya.

“Kemarin kamu kemana?” Marc memecah keheningan.

“Sekolah. Kan aku udah bilang sama kamu,” Adel menjawab sambil terus memperhatikan jalan di sampingnya.

Marc tertawa sinis. “Sekolah atau ke Cafe bersama Dani?”

“Pulang dari sekolah dia nganter aku pulang, aku juga gak tau dia mau ngajak ke cafe. Masalah terusnya?” Adel mendelik dengan pandangan tak suka.

“Masalah banget! Kamu batalin janji karena dia yang ngajak kamu makan? Iya,kan?!” Nada suara Marc tambah meninggi.

“Anjir!” makinya dalam bahasa Indonesia, bahasa yang selalu di pakainya jika sedang marah.

Jadi kalau kalian mendapatinya marah atau mengatakan sesuatu yang tidak mungkin dikatakan orang luar, itu pasti dalam bahasa ibunya.

Baru saja Marc membuka mulut ingin bertanya apa maksud perkataannya, Adel menyemprotnya lebih dulu.

“Denger ya, Marc Marquez! Kamu gak punya hak apapun yang berkaitan sama aku. Kita cuma temen, gak lebih!” Adel benar-benar kesal.

Demi Tuhan ia ingin sekali menendang keluar laki-laki super aneh ini! Sedetik kemudian Adel sadar ia yang menumpang mobil milik Marc, bisa-bisa ia yang dilempar keluar.

“Satu hal, aku udah pacaran. Jadi jangan coba-coba ngatur aku kayak gini. Aku gak suka!” Adel menekankan pada Marc.

“Asal kamu….” Kalimat Marc terpotong.

“Udahlah, jadi ribut begini. Aku turun sini aja. Lagian kemaren juga kamu jalan sama laura, adil kan?” kata Adel lagi.

Marc terdiam. Memang benar, tidak ada yang salah sebenarnya. Akhirnya ia membiarkan gadis itu turun dari mobilnya.

“Sial!” Marc menginjak gas dengan kasar.

Harusnya ia tidak semarah itu tadi, karena pasti itu akan membuat hubungannya dengan Adel rusak. Cuma teringat Laura tadi malam berkata Adel sengaja membatalkan janjinya lah yang membuat Marc naik darah.

***

“Brukk!”

Adel langsung menghempaskan diri ke sofa.

“Kesel banget gue, cowo gila. Otak di dengkul kali, nyolotin banget,” kekesalan Adel belum juga hilang.

Ia lalu memilih masuk ke dalam kamarnya. Lelah. Jarang ia marah-marah seperti tadi, dan Adel bukan tipe gadis yang kasar. Kecuali emosinya tidak terkontrol seperti tadi.

Mungkin tidur siang akan membuat perasaannya jauh lebih baik. Pejamkan mata dan lupakan masalah sejenak.

***

“Shh.. Shh..” Adel mengendus-ngendus.

Wangi masakan. Steak? Oh bukan. Semacam aroma rempah-rempah. Ia berusaha mencari wangi yang dominan.

“Kari!” seru Adel langsung membuka matanya.

Adel turun dari tempat tidur dan berlari ke dapur.

Adriana sedang memasak rupanya. Makanan Indonesia!

“Wah, jadi laper banget nih,” kata Adel sambil membawa makanan yang sudah jadi.

Salah satu yang ia rindukan dari Indonesia adalah makanannya.

“Jangan makan sebelum papi pulang ya,” canda Adriana, lalu menyusul Adel dan ikut menaruh makanan di meja makan.

Mami nya yang satu ini patut diacungi jempol. Kemampuan memasaknya tidak diragukan. Jarang ada disini yang bisa membuat makanan Indonesia seenak masakan Adriana.

Tak lama, Casey tiba di rumah. Ia terlihat agak gelisah. Adel ingin bertanya tapi tidak jadi. Sehabis makan saja.

Ada kari, rendang dan gulai. Obat kekesalan yang baik untuk malam ini.

***

“Kamu kayak belum makan setahun nak,” kata Casey.

“Abis enak. Rasanya itu loh mirip asli Indonesia banget,” Adel mengangkat jempolnya.

Adriana hanya tertawa kecil.

“Habis waktu mami liat kamu tidur, keliatan sumpek banget. Jadi mami masak ini biar kamu semangat lagi,” terang Adriana.

“Iya nih, sebel banget tadi siang. Bikin emosi aja,” Adel mendengus kesal.

“Memangnya kenapa? Marah-marah nanti cepet tua nak,” tanya Adriana yang masih sempat menggoda dirinya.

***

Adelaide mulai bercerita, yang membuat casey beberapa kali mengernyitkan alisnya. Setelah selesai, Casey akhirnya memutuskan untuk bicara.

“Boleh papi menceritakan sesuatu padamu sekarang?” tanyanya dengan hati-hati.

“Silahkan,” jawab Adel.

“Marc ternyata suka sama kamu, lebih tepatnya terobsesi. Laura kelihatannya menyukai Marc, dan dia menjelek-jelekkan kamu didepan Marc. Dan ketika papi melihat Dani, dia jalan bersama seorang wanita.”

Adel merasa kepalanya pusing. Baru saja tadi ia tenang. Kenapa mendadak keadaan kacau balau begini?

Casey terus menjelaskan panjang lebar dan sedikit banyak bertanya tentang kaitan ceritanya dengan cerita Adel. Masalah mulai menyeruak ke permukaan.

Adel baru ingat ia sudah tidak sedekat dulu dengan Laura. Bahkan di sekolah Laura terkesan menjauhinya.

Dan kelakuan Marc tadi, menunjukkan rasa cemburu yang berlebihan.

Juga…. Eh? Adel mengingat-ingat. Hari ini Dani tidak mengabarinya sama sekali. Biasa sesibuk apapun pacarnya itu, ia pasti akan memberikan kabar padanya. Apa jangan-jangan dia benar selingkuh di belakangnya?

Perlahan air mata membasahi pipi Adel.

Ia tak mau kehilangan Laura, sahabatnya. Ia juga tak mau pertemanannya dengan Marc rusak hanya karena cinta. Dan yang terpenting.. Ia tak mau hubungannya kandas berakhir begitu saja, ia sangat mencintai Dani. Rasa itu sudah lama terpendam dan terlanjur melekat saat pertama Dani memberi sinyal padanya. Sumpah demi apapun ia tak mau merasakan apa yang di namakan sakit hati..

To Be Continued…

7 thoughts on “The Story Of Us : Everything Seems Wrong #5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s