Don’t Say You Never Love Me #3

cove2r

Marc’s POV

00.25 AM

Seseorang menggedor-gedor pintu kamarku tengah malam begini. Siapa sih? Tidak tahu apa kalau aku ngantuk sekali. Tapi, siapa lagi kalau bukan gadis itu. Soalnya kan dia yang tinggal di apartemen ini bersamaku. Mengganggu saja.

Sebenarnya aku tidak mau meladeni gadis jelek itu. Aku masih kesal padanya setelah apa yang sudah dia lakukan terhadapku beberapa hari yang lalu. Seenaknya saja dia mengusirku dari apartemenku sendiri. Untung saja aku tidak encokan karena tiduran di lantai dingin di koridor apartemenku sendiri. Cih! Kalau saja dia tidak sedang hamil anakku, aku bersumpah akan melemparnya ke laut. Syukur-syukur gadis jelek itu dimakan hiu. Biar mati sekalian!

Malas-malasan aku berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ya, gadis itu memang berdiri disana dengan tampang… eh, tak seperti biasanya. Kenapa dia?

“Kenapa lagi?” tanyaku.

“Aku lapar,” jawab Laura memelas.

Aku mendelik heran. “Lalu? Kau mau aku memasak makanan untukmu tengah malam begini?”

“Tidak. Aku ingin kau membelikan makanan untukku.”

Aku pun memutar bola mataku. “Membelikan makanan?” ulangku tak percaya. Dia gila apa? Tengah malam begini mana ada toko yang buka. Ya, kecuali makanan cepat saji. Tapi, bukannya orang hamil tidak baik mengonsumsi makanan cepat saji ya?

“Aish! Kau tidak pernah dengar ya tentang wanita yang sedang ngidam?” teriaknya. Astaga, kenapa Laura jadi sensi sekali. Begitu mengerikankah seorang wanita yang lagi ngidam?

“Pernah. Oh, apa kau sedang ngidam?” tanyaku polos.

“Kau ini bodoh sekali!” hujatnya kesal. “Ya, tentulah aku sedang ngidam!”

“Jadi kau mau makan apa?” tanyaku, akhirnya mengalah. Tidak mungkin aku menolak keinginannya. Ada satu mitos yang pernah kudengar jika sang ibu tidak mendapatkan apa yang diingikannya saat ngidam, maka anak yang dilahirkannya akan ileran dan jelek. Oh Gosh, aku tak mau anakku nantinya seperti itu. Masa ayahnya tampan begini tapi anak… membayangkannya saja sudah membuatku ngeri.

“Bebek panggang.” Aku melongo seketika. Bebek panggang? Aku harus cari dimana?

“Kau… serius?” tanyaku tak percaya.

“Kenapa? Kau tak bisa membelikannya untukku? Ya, sudah, biar aku sendiri yang pergi beli. Buang-buang waktu saja aku minta tolong padamu. Cih!” Laura menggerutu sendiri.

“Eh… iya, iya, aku akan membelikannya. Kau tunggu saja.”

Membayangkan seorang gadis keluar rumah tengah malam saja sudah membuatku ngeri. Tapi bukannya aku sering bersama gadis-gadis seperti itu ya sebelumnya? Haduh, Marc. Apa sih yang kaupikirkkan dari tadi? Aku juga heran dengan diriku sendiri.

Bodoh amatlah. Aku pun mengambil jaketku dan kunci mobilku dari kamar dan bergegas pergi.

***

Author’s POV

Hari demi hari yang Laura lewati setelah menikah dengan Marc, rasanya tidak terlalu buruk. Setidaknya Marc tidak sebrengsek bayangannya. Walaupun pria itu belum bisa disebut pria baik yang ia harapkan. Contohnya saja beberapa hari yang lalu, Marc pulang lewat dari jam yang sudah mereka sepakati. Itu sudah pelanggaran awal yang dilakukan Marc. Tapi semuanya terbayar sudah dengan hukuman tidur di luar apartemen mereka. Itu sudah cukup!

Malam ini, saat Laura mengalami sindrom ibu hamil atau biasa disebut ‘ngidam’, gadis itu tak mengira Marc akan bersikap seperti suami pada umumnya, mau membelikan bebek panggang untuknya. Padahal ini kan tengah malam. Lucu juga sih sebenarnya, tapi di sisi lain hati Laura merasa tidak enak.

Sembari menunggu, Laura memutuskan untuk menonton TV di ruang tamu. Rasa kantuk yang terus menyerangnya sehingga gadis itu jatuh tertidur di sofa panjang.

Marc yang tak lama kemudian datang membawakan makanan yang diinginkan Laura setelah hampir putus asa menggelilingi seluruh penjuru kota Cervera. Untung saja masih ada salah satu kedai Cina yang menjual bebek panggang.

Marc menghampiri Laura dan menggoyang bahu gadis itu pelan. Laura tak bergeming, ia terus terlelap. Marc kemudian meletakan kantong makanannya di meja dan menggendong Laura masuk ke kamar gadis itu. Pria itu membaring Laura dengan perlahan-lahan. Sebelum keluar, Marc memandangi wajah Laura yang tertidur. Sangat polos, pikirnya dalam hati. Dan entah keberanian dari mana, Marc membelai rambut Laura lembut dan memberinya kecupan selamat malam di keningnya, lalu keluar dari kamar gadis itu.

***

“Huekk… huekk….“

Suara muntah-muntah terdengar dari kamar mandi Laura. Hampir lima belas menit gadis itu membungkuk di atas kloset dan mengeluarkan isi perutnya berupa air yang menandakan muntahnya sangat normal dialami ibu hamil di pagi hari.

Apa begitu susahnya menjadi ibu hamil? pikir Laura dalam hati.

Marc yang baru saja keluar dari kamarnya, mendengar suara orang muntah segera menghampiri kamar Laura. Ragu-ragu ia membuka pintu dan masuk ke dalam. Marc berjalan ke kamar mandi dan menemukan Laura dengan wajah pucatnya sedang membungkuk di sana. Segera saja Marc berdiri di sampingnya dan reflek Marc mengusap punggung gadis itu.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Marc seraya menyibak rambut panjang yang menutupi wajah pucat Laura.

“Tidak. Aku baik-baik saja kok. Sangat normal dialami wanita hamil.”

“Kau yakin?” tanya Marc sekali lagi. Ada kilatan khawatir yang terpancar di manik mata pria itu.

“Ya.”

Laura bangkit dan berjalan ke wastafel untuk berkumur-kumur. Tentu saja Marc menemaninya dengan memegang bahu Laura, berjaga-jaga kalau gadis itu bisa tumbang kapan saja.

Selesai berkumur-kumur, Marc kemudian membopong Laura ke tempat tidur dan membaringkannya dengan hati-hati. Gadis itu tidak protes sama sekali karena tubuhnya benar-benar lemah.

“Sepertinya aku harus panggil dokter,” kata Marc, duduk di samping tempat tidur Laura.

“No,” erang Laura.

“Tapi kondisimu….”

“Please…. Jangan, Marc,” mohon Laura setengah mengerang.

Melihat wajah memelas Laura, Marc pun mengurungkan niatnya. “Kau mau aku buatkan sesuatu untukmu?” tanya Marc penuh perhatian.

“Tidak. Aku tak lapar. Hmm… Omong-omong kau tidak ke kantor hari ini?” Laura mencoba mengalihkan perhatian Marc tentang pekerjaannya. Ya, setelah Marc menikah, ayahnya memutuskan untuk mempekerjakan Marc di perusahaan keluarga menggantikan beliau. Apalagi Marc juga sudah memiliki keluarga sendiri.

“Membolos kerja sehari sepertinya tidak apa-apa,” jawabnya ringan.

“Oh….” Dan tak lama setelah itu, “hmm, Marc, sepertinya aku ingin memakan sesuatu,” kata Laura tiba-tiba ketus.

“Apa?” Marc tampak syok mendengar ucapan Laura barusan. Apa-apaan gadis itu?! Marc merasa dipermainkan.

“Aku bilang aku ingin memakan sesuatu!” bentak Laura tiba-tiba.

“Kau ini kenapa sih, Laura? Tadi kau bilang tak lapar, sekarang kau bilang….”

“Jadi tadi kau tak ikhlas menawariku?” jerit Laura, memotong perkataan Marc.

Marc terperanjat mendengar jeritan Laura. ”Ke… napa kau emosi be… gitu?”

“Kau jahat!” Laura lantas mebalikkan tubuh dan balik membelakangi Marc. Ia kemudian terisak pelan. Sebenarnya Laura juga tak memahami sifatnya belakang ini. Feromonnya meningkat berlipat-lipat sejak ia hamil. Perasaan cuek, membutuhkan perhatian, dan marah-marah sendiri sering datang pada waktu bersamaan.

Dilanda panik, Marc lantas meremas rambutnya frustasi. Ia bingung, tidak tahu harus melakukan apa. Akhirnya dengan sedikit ragu-ragu, Marc menepuk-nepuk pelan bahu Laura, bermaksud menenangkan.

Isakan Laura sontak terhenti. Dalam hatinya, Marc pun bersorak-sorai karena berhasil membuat Laura berhenti terisak. Laura membalikan tubuhnya cepat dan menatap Marc tajam. “Siapa suruh kau menyentuhku?” tanya gadis itu galak.

“Eii…! Aku hanya berusaha menenangkanmu saja,” jawab Marc salah tingkah karena tatapan Laura.

“Get out from my bedroom, RIGHT NOW!” usir Laura sadis.

“Tapi… tadi kan kau bilang lapar….” Marc sampai kehabisan kata-kata. Laura kenapa sih?

“Laparku sudah hilang. Sekarang keluar dari kamarku!” bentak Laura.

Laparnya sudah hilang? Astaga, apa ibu hamil memang selalu bersikap begitu? Plin-plan, pikir Marc heran.

“Baiklah kalau itu maumu,” kata Marc segera beranjak keluar. Dan belum sampai di ambang pintu, “Marc…,” panggil Laura manja dan sedikit merengek, membuat langkah Marc terhenti dan berbalik ke arah gadis itu.

“Apa lagi?” tanya Marc hilang kesabaran. Rasanya seperti ada asap yang mengepul di ubun-ubunnya Marc. Ia benar-benar merasa dipermainkan.

“Sepertinya laparku kembali,” jawab Laura dengan tampang tidak berdosa dan menyengir lebar pada Marc.

“Apa?” Marc membulatkan matanya tak percaya. Kau….” Dan asap dari ubun-ubunnya pun keluar. Rasanya ia ingin meledak sekarang juga saking emosinya menghadapi sikap tak jelas Laura.

“Kenapa? Kau tidak mau ya….” Mata Laura berkaca-kaca. Saat itu juga Marc seperti ingin mati di tempat saja.

Sabar… sabar… sabar…, batin Marc.

“Baiklah… baiklah…. Jangan menangis, oke? Aku akan membuatkanmu makanan. Tunggu sebentar,” ujar Marc cepat sebelum Laura terlanjur menangis lagi. Sumpah, ini adalah hari tergilanya sepanjang eksistensi hidupnya. Sepertinya Laura memang sengaja coba membunuhnya dengan menguji kesabaran pria itu.

***

Semangkuk bubur sudah tersaji di hadapan Laura. Ia menatap mangkuk itu dan beralih ke Marc yang berdiri di samping tempat tidurnya. Dan dengan tatapan memelas, ia berkata…

“Suapin.”

“Hah?” Marc terkejut mendengar permintaan Laura. Marc pasti salah dengar.

“Kau tuli ya? Aku bilang suapin!”

“Oh, baiklah.” Bisa gila Marc kalau setiap hari menghadapi Laura dengan sikap seperti itu. Tapi, demi anaknya… oh, demi bayi yang dikandung Laura, mungkin ia harus menderita dulu.

Baru beberapa suapan, Laura mengernyitkan dahinya, tampak sedang berpikir. “Bubur buatanmu tidak enak,” ceplos gadis itu berterus terang.

“Apa? Tidak enak?” ulang Marc.

“Iya. Bubur buatanmu memang tak enak. Hmm… di suapan pertama buburmu sangat enak, suapan kedua juga enak, suapan ketiga jadi kurang enak, dan suapan keempat tadi jadi tidak enak. Aneh….” Laura mengatupkan bibirnya.

“Laura…, kau…,” saking frustasinya, Marc hendak melempar mangkuk yang ada di tangannya. Ia sudah hampir setengah gila sekarang. Mungkin besok ia akan menjadi gila benaran.

To Be Continued…

8 thoughts on “Don’t Say You Never Love Me #3

  1. sist, Laura kan udah gak perawan lagi ya, sebaiknya dipanggil wanita bkn gadis. soalnya gadiskan bermakna kalau dia itu masih perawan hehe.. kalau untuk ceritanya keren dan sangat menghibur🙂 nulis ceritanya hebat

    Suka

  2. Hmm, mau kasih saran. Kalau ceritanya nggak terlalu panjang kenapa nggak kasih gambar, jadi supaya ceritanya bisa lebih menarik. Cuma saran sih. Mis : Laura ngeliat si Marc lagi kecapean terus ketiduran. Nah, Rita di cerita itu masukin foto Marc lagi tidur di pesawat/kereta *lupa* yang dishare Alex kemarin.
    Singkatnya semacam ilustrasi.
    Hanya saran sih.🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s