The Story Of Us : Now You’re Mine #4

cove2r

Author :

@Nataa_diva

Cast :

Adelaide Alessandra, Laura Amberita, Kamila Rosabel, Daniel Pedrosa, Marc Marquez, Alex Marquez, Casey Stoner

Genre :

Friendship, Relationship, Konyol, Campur aduk kayak cendol.

“Papi aku pergi dulu,” pamit Adel setelah ia selesai makan malam.

“Mau kemana?” Casey bertanya sambil mengelap mulutnya.

“Perpus sekolah, menjalankan hukuman.” Adel nyengir lebar selebar-lebarnya.

“Ya sudah. Jangan lupa bawa kunci rumah dan jangan pulang larut malam, oke?” pesan Casey yang disambut dengan anggukan Adel.

Adriana memasukkan sebotol susu yoghurt ke dalam tas Adel. Sesudah itu Adel segera pergi ke sekolah.

***

Jarak dari rumah ke sekolah tidak begitu jauh. Adel memilih untuk berjalan kaki. Meskipun sebenarnya belakangan ini ia agak takut jalan sendirian saat hari sudah mulai gelap.

Kurang lebih berjalan 5 blok, Adel sampai ke sekolahnya. Setelah mengucapkan salam pada satpam, ia segera berlari kecil menuju ruang perpustakaan.

Sekolah ini memang masih dipadati beberapa murid di malam hari. Ada yang kerja kelompok, bereksperimen di laboratorium, dan juga mencari bahan di perpustakaan.

Tetapi Adel disini bukan untuk mencari bahan, melainkan menjalani hukuman dari si tua bangka Mr. Maverick itu.

Mr. Maverick tampak sibuk mencatat soal Matriks. Sepertinya ada asisten disampingnya. Tapi seingat Adel guru tua nya yang satu itu tidak pernah mau memiliki asisten.

***

“Permisi pak, jadi apa hukumannya?”

Adel menarik kursi, duduk disebelah Mr. Maverick dan langsung bertanya.

“Tulis kalimat itu sebanyak 3 lembar kertas folio. Mudah kan?” Mr. Maverick menjelaskan tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku tebal dihadapannya itu.

“Hah? Beneran nih? Tega amet, kurangin dong pak,” protes Adel. Mau mengerjainya? Yang benar saja!

“Mau ditambah jadi 5 lembar?”

Adel mendengus kesal, “Gak. Ya udah 3 aja.”

Datang malam-malam hanya untuk menulis 3 lembar kertas folio? Sungguh konyol.

“SAYA TIDAK AKAN NAKAL LAGI”

Dalam hati Adel bersumpah akan membalas guru tidak tahu diri ini.

Urusan tulis menulis sangat mudah. Tak membutuhkan waktu lama untuk mengisi hampir 3 lembar folio.

“Saya permisi sebentar, tetap menulis!” kata Mr. Maverick bangkit berdiri lalu meninggalkan Adel yang menatapnya penuh rasa dongkol.

Kemudian Adel kembali menatap kertasnya. Tangannya tidak bergerak, gadis itu pasti sedang melamun.

“Hei, kerjakan tugasmu dengan benar,” seseorang berbisik tepat ditelinganya. Membuat Adel tersentak dari lamunannya.

“Kamu…. Ngapain kamu disini?” Adel mengatur nafasnya yang mendadak tidak beraturan.

“Lagi-lagi itu pertanyaanmu. Apa tidak ada pertanyaan lain jika bertemu denganku?”

“Hei Dani Pedrosa! Aku bertanya padamu dan kamu malah balik bertanya?” seru Adel setelah ia sepenuhnya sadar.

“Aku sedang mengajarkan Maverick soal Matriks. Hanya untuk hari ini saja.”

“Apakah si tua itu gak tau banyak soal matriks? Boleh minta tolong?” sebuah ide jahil terbesit dalam otaknya.

“Minta tolong apa?” Dani menjawab, ia mendekatkan telinganya agar bisa mendengar suara Adel dengan jelas.

Adel membisikkan rencananya. Dani awalnya menyimak dengan serius sampai akhirnya dia sendiri tertawa terbahak-bahak.

“Adelaide! Apa tugasmu sudah selesai jadi kamu asik mengobrol?” suara Mr. Maverick terdengar lebih mengagetkan dari suara Dani tadi.
Menahan kekagetannya, Adel menjawab tenang, “Udah tuh. Liat aja.”

“Ah ya. Kamu boleh meninggalkan perpustakaan sekarang,” kata Mr. Maverick dan beralih pada Dani, “Masih adakah yang perlu saya ketahui tentang Matriks? Jika tidak kamu juga boleh pulang sekarang.” Sial! Mengapa si tua ini bisa begitu ramah pada Dani dan begitu kejam dengan dirinya? Ternyata mendapat nilai bagus dalam mata pelajarannya tidak menjamin Mr. Maverick akan bersikap ramah padamu.

***

Dani memaksa mengantar Adel pulang meskipun gadis itu menolaknya. Ditengah perjalanan, Dani mengajak Adel ke sebuah Cafe.

Karena Cafe itu terletak masih 1 blok dengan rumah Adel, maka tidak butuh waktu lama untuk sampai kesana.

Dani membukakan pintu mobil untuk Adel. Cukup romantis bukan?

Mereka memilih tempat duduk outdoor. Lebih leluasa untuk mengobrol kata Adel. Volume suara Adel kadang suka kelewat batas.

Pelayan menawarkan menu dan mereka memilih. Setelah memesan, pelayan itu pergi ke dalam.

“Jadi, kamu murid paling badung yang pernah aku lihat,” kata Dani begitu si pelayan pergi ke dalam.

Dani meringis saat tangannya dipukul oleh Adel.

“Enak aja, apa gak ada yang lebih bandel dari aku?” Adel memajukan bibirnya.

“Tidak,” Dani memamerkan sederet gigi putihnya yang tersusun rapih.

“Huh. Nyebelin.”

“Tidak.”

“Iya. Pake banget.”

Perdebatan kecil terhenti begitu pelayan lain mengantar pesanan mereka.

Karena sudah makan malam, Adel hanya memesan dessert.

Sepanjang makan malam, Adel tidak henti-hentinya membuat panas kuping Dani dengan ocehan super duper serunya.

Dani menghabiskan makan malamnya lebih semangat dari biasanya. Baru kali ini ia makan ditemani oleh seorang gadis bawel seperti Adel.

“Adel….”

“Hmm?”

“Aku tau mungkin ini sedikit terburu-buru, tapi entah kenapa aku merasa sangat yakin. Emm, kau tau kan?”

Adel menaikkan sebelah alisnya. “Maksudmu?”

“Ya… aku…. Emm kamu…,” Dani mendadak canggung. “Mau jadi pacarku?” Akhirnya kalimat itu terucap juga.

Pipi Adel memunculkan semburat merah. Mimpikah ia? Jika benar, maka ia memilih tidak usah bangun dari mimpinya itu.

“Hei,” kata Dani mengelus kepala Adel pelan.

“Ah, ya… aku mau,” ucap Adel tersipu malu.

Dani mengeluarkan kotak berisi cincin lalu memasangkannya di jari manis Adel.

“Baiklah. Sekarang kamu, Adelaide Alessandra, sah menjadi pacarku,” Dani mencium lembut tangan Adel.

“Dan kamu juga sudah menjadi pacarku, Dani Pedrosa,” Adel menggenggam tangan Dani erat.

***

Jam menunjukkan pukul 22.23 ketika Adel sampai di depan rumahnya. Dani menunggu gadis itu masuk sebelum ia pulang ke rumahnya sendiri.

Saat Adel menutup pintu, ia memastikan Dani sudah pergi. Sekilas ia melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Laura.

Hmm… Laura bersama keluarganya? Oh tidak, dia bersama.. Apa dirinya tidak salah lihat? Laura bersama Marc?

Bukankah tadi Laura bilang ia ada acara keluarga? Mungkinkah hubungannya dengan Marc sudah jauh dari yang ia lihat sehingga Marc ikut dalam acara keluarga Laura?

Apapun itu, Adel tidak mau ambil pusing. Baginya, hari ini cukup membuat sejarah tak terlupakan dalam hidupnya.

“Papi!” seru Adel begitu ia melihat Casey di ruang tamu.

“Ada apa sayang? Kamu baru pulang?” tanya Casey sambil menyuruh Adel duduk di sebelahnya.

“Tau gak, tau gak?”

“Tau soal apa nak?” Adriana ikut bergabung bersama mereka.

“Iya nih, belum cerita gimana bisa tau. Ada kaitannya dengan Dani ya?” Casey menebak-nebak dengan tatapan menggoda.

“Yup!”

Adriana membelai rambut Adel, menunggu anak itu menceritakan ceritanya.

“Aku resmi berpacaran dengan Dani!” kata Adel penuh semangat.

Casey menatap Adriana. Keduanya tersenyum penuh arti.

“Ingat ya nak,” kata Adriana, “Jika kamu merasa perlu mempertahankan sesuatu, jangan pernah melepasnya. Dan jika kamu menemui masalah, jangan pernah berlari. Karena dalam suatu hubungan, sejauh apapun kita melangkah, seberat apapun tekanan yang ada, cinta sejati tidak akan terpisah. Akan menyatu seiring berjalannya waktu.”

Casey menambahkan, “Jadi kamu berlari pun tidak akan ada ujungnya.”

Adelaide berkata dalam hati, aku tidak akan melepasnya. Juga tidak akan pernah berlari. Aku akan mempertahankannya, diatas taruhan nyawaku sekalipun.

To Be Continued…

2 thoughts on “The Story Of Us : Now You’re Mine #4

  1. hmmm… mereka jadi pacaran.
    aku penasaran yaa gimana ‘kencan’ nya laura sama marc. aku takut laura jadi pelampiasannya marc gara gara marc nggak bisa dapetin adel gituu. huuuuh
    eh iya.. itu maverick kan guru matematika.. kok bisa bisanya minta dani buat ngajarin matriks. padahal matriks itu materi paling gampang loh buat aku. di banding integral sama vector kan masih gampang matriks. kalau gitu sekalian aja dani yang jadi guru mtknya. hahaha

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s