The Story Of Us : A Friend Becomes A Rival #3

cove2r

Author :

@Nataa_diva

Cast :

Adelaide Alessandra, Laura Amberita, Kamila Rosabel, Daniel Pedrosa, Marc Marquez, Alex Marquez, Casey Stoner

Genre :

Friendship, Relationship, Konyol, Campur aduk kayak cendol.

Marc Marquez harus puas berada di posisi ketiga. Ia bersama Daniel Pedrosa dan Casey Stoner naik ke atas podium.

Begitu mereka berada di tempat masing-masing, lagu kebangsaan pun diputar. Lagu kebangsaan Australia berkumandang. Casey menyeka keringat di pelipisnya. Ada perasaan bangga memenangkan balapan di kandang sendiri, terlebih lagi tahun ini adalah tahun terakhirnya berkecimpung dalam dunia MotoGP.

Di sebelahnya, Dani mengarahkan pandangannya ke bawah. Terlihat ia sedang mencari seseorang.

Bingo!

Ia menemukannya. Sesosok gadis berambut hitam mudah ditemui di sini mengingat hampir sebagian besar orang-orang di sini berambut pirang. Postur tubuh Adel terbilang kecil, dengan mata coklat dan rambut hitam yang tidak di cat. Adel lebih menyukai rambut hitamnya dibandingkan dengan warna pirang.

Dani langsung melambai kearah gadis itu dan tersenyum. Dari kejauhan Adel membalas lambaiannya. Setelah itu Adel beranjak pergi dan menghilang di antara kerumunan orang.
Tidak ada yang menyadari Dani melambai kepada siapa terkecuali Marc. Sejak tadi Marc terus memperhatikan gerak gerik Dani. Adel. Ada apa antara Dani dan Adel? Mengapa mereka terlihat sedekat itu?

“Jika ada apa-apa di antara mereka, aku tidak akan membiarkannya. Bersaing pun akan kulakukan. Adel harus menjadi milikku. Tak tahu apa yang merasuki pikiranku saat ini, tapi aku hanya menginginkan dia!” batin Marc mengepalkan tangannya keras sampai buku-buku jarinya memutih.

Casey Stoner merasa aneh dengan tatapan Marc Marquez yang ada di sebelahnya. Memang tatapan itu bukan ditujukan padanya, hanya saja… hanya saja Casey berpikir ia harus mendengarkan cerita Adelaide.

***

“Jadi, Adelaide Alessandra…. Coba ceritakan tentang hari ini,” kata Casey sewaktu mereka makan malam di salah satu restaurant mewah.

Casey selalu menyebut nama lengkapnya jika ia ingin menanyakan sesuatu.

“Baiklah. Jadi hari ini aku sedang duduk di taman ketika Dani duduk di sebelahku. Papi pasti tau kalo aku suka banget sama dia. Dan tadi itu sesuatu banget! Ditambah, papi tau? Dia memintaku untuk menjadi UG-nya,” jelas Adel panjang lebar.

“Jadi UG-nya?”

“Ya. Dan aku meminta bayaran, dengan cara yang gak biasa. Aku mendorongnya kedalam kolam kecil di tengah taman, waktu aku lari ke paddock dia malah ngejer, terus meletin lumpur. Aku bahkan tidak pernah berpikir bisa mengalami hari ini.”

Casey dan Adriana saling berpandangan.

“Sepertinya anak kita sudah dewasa,” goda Adriana dibarengi dengan tawa Casey.

“Mami ih, apaan sih.” Adel memanyunkan bibirnya. “Dan gimana menurut kalian? Dani orang yang baikkah?”

Casey, Adriana dan Adel mengobrol banyak sepanjang malam. Bahkan obrolan soal Dani berlanjut di rumah. Adel tidak menyebut nama Marc. Menanyakan Dani pada Stoner, juga masukkan dari Adriana menimbulkan suatu keyakinan dalam diri Adel.

***

“Aku benar-benar telah jatuh cinta padanya! Dan aku rasa dia adalah cinta sejatiku.” Adel berdiri di balkon kamarnya.

“Hari ini sangat amat menyenangkan, sungguh! Kamu tau gimana rasanya perlahan-lahan impianmu terwujud? Dan inilah yang terjadi padaku sekarang ini.”

Sedikit berlebihan. Adel menyadarinya. Tapi kenyataannya dia sangat senang walaupun baru tahap awal.

Adel sedang mengoceh sendiri ketika iPhone nya berdering. Lagu I Believe in You dari Il Divo. Adel melihat layar sebelum mengangkat telepon masuk. Nomor baru.

“Halo?”

“Aku ganggu gak nih?” tanya sebuah suara di ujung sana.

“Marc?” tebak Adel sedikit ragu.

“Ya, ini aku,” kata Marc, lalu melanjutkan, “Bisa keluar untuk makan malam besok?”

Sambil masuk kembali kedalam kamar, Adel menimang-nimang. Tidak ada salahnya menerima tawaran teman baik bukan?

“Bisa,” jawab Adel singkat.

“Oke, aku jemput kamu. Sampai ketemu besok malam.” Marc memutuskan pembicaraan.

Adel mengernyitkan alisnya, lalu menghempaskan tubuhnya keatas kasur. “Main mati-matiin telepon aja, dasar gak sopan.” Adel mengomel dan lagi-lagi menggunakan bahasa Indonesia.

Dan seperti biasa, begitu Adel menempel kasur, maka dalam hitungan detik dirinya sudah terlelap.

***

Sinar matahari menembus masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat. Adel menggeliat dan menarik selimutnya menutupi kepala.

Baru saja ia akan kembali tidur kalau saja benda menyebalkan yang ada disampig tempat tidurnya tidak menjerit keras.

“Uh… bunyi apa itu?” masih dengan mata terpejam, Adel menggapai-gapai sisi tempat tidurnya untuk mencari sumber suara.

Bunyinya makin menusuk kedalam telinga. Adel mulai meringsut ke pinggir tempat tidurnya demi menemukan benda terkutuk yang menganggu tidurnya pagi itu.

“Ah! Ini dia,” desah Adel setelah ia mendapatkan jam dengan alarm yang masih menyala itu ditangannya.

Ia langsung mematikan alarm dan mengembalikan jam pada tempatnya. Tapi…

“Bughh!”

“Aww! Aduh, kepalaku! Eh, bukan, jidatku! Aishh.” Adel menyerocos tanpa henti dan ketika ia membuka matanya, ia menyadari ia jatuh dari tempat tidurnya.

Casey yang saat itu sedang melewati kamar Adel masuk dan mendapati anak gadisnya itu terduduk sambil memegangi dahinya.

“Jatuh? Kamu tidak apa-apa? Cepat mandi dan turun sarapan, bukankah hari ini ada ulangan Matematika?”

Adel tersenyum kecil. “Ah ya, ulangan hari ini… Ulangan? Astaga, aku lupa!”

Casey geleng-geleng kepala. Begitu Adel masuk kedalam kamar mandi, ia berjalan ke ruang makan.

“Jatuh lagi?” Adriana langsung bertanya begitu Casey duduk di kursi meja makan.

“Ya, dan lupa lagi ada ulangan hari ini,” timpal Casey.
Mereka berdua tertawa. Memang anak mereka yang satu itu agak unik.

***

“Kalau ada yang ketahuan menyontek, saya akan keluarkan kalian dari kelas. Paham?” Mr. Maverick menatap tajam seisi kelas.

Kertas soal dan jawaban mulai dibagikan. Semua anak-anak mulai sibuk. Ada yang sibuk mengerjakan, ada pula yang sibuk mencari jawaban.

Adel mengerjakan soal dengan santai, tidak demikian dengan Laura. Sejak tadi anak itu mencuri pandang kearah Adel.

“Sssttt….”

Merasa suara itu ditujukan padanya, Adel menoleh.

“Udah belom? Liat dong, punya aku masih kosong nih.” Laura memberi isyarat bahasa tangan.

Kertas jawaban Adel perlahan tapi pasti mulai bergerak. Laura menyalin jawaban secepat kilat. Setelah selesai, buru-buru kertas itu dikembalikan kepada tuannya.

“Adel!” seru Mr. Maverick.

Yang namanya dipanggil hanya menatap dengan tatapan acuh tak acuh.

“Kalau sudah selesai, silahkan keluar.”

“Bapak ngusir saya?”

“Saya hanya menyuruh anda keluar.”

Adel menaruh kertas ulangan di meja guru dan membuka pintu. Tidak ada semenit pintu ditutup, terdengar suara ketukan.

Pintu terbuka, seorang murid dengan rambut kuncir kuda melongok ke dalam.

“Keluarnya udah pak?” kata Adel menunjukkan muka polosnya.

Sontak seisi kelas tertawa.

Sambil menahan marah, Mr. Maverick berkata, “Malam ini kamu harus menemui saya. Di ruang perpustakaan jam 6 malam. Saya tidak mau tahu, atau siap-siap saja kamu mendapatkan SP.”

“Kembali keluar!”

***

“Kamu udah gila kali ya? Sukurin malem-malem suruh kesini. Emang enak.” Laura menoyor kepala Adel.

“Bodo amat. Lumayan jalan-jalan,” canda Adel sambil bernarsis ria dengan iPhone nya.

Laura mendelik. “Kamu bisa ngomong gitu dengan santainya? Bagaimana janjimu dengan si bocah ajaib itu?”

Kegiatan Adel terhenti sejenak.

“Oh my God! Aku lupa! Laura, apa yang harus aku lakukan?” Adel mendadak lesu.

Bukan karena ia ada janji dengan Marc, tapi ia merasa tidak enak membatalkan janjinya dengan siapapun karena hal sepele seperti ini. Sekali lagi, bukan karena Marc.

“Oke, malem ini aku ada acara keluarga. Jadi aku gak bisa menggantikanmu, maaf. Laen kali jangan bandel ya.” Laura memandang Adel dan merasa sedikit senang. Tetapi Laura pura-pura memasang tampang iba.

Tadi pagi saat Adel menceritakan janji makan malamnya dengan Marc, Laura sedikit cemburu. Padahal Adel berkali-kali menekankan kata ‘cuma teman’ padanya. Lagipula Adel toh sudah mencintai Dani. Adel tidak mengetahui kalau Laura sudah mulai mencintai Marc dan di sisi lain Marc juga sudah mencintai dirinya. Sungguh memusingkan!

Message from Me :

Marc, maaf. Janji makan malam denganmu harus kubatalkan. Aku mendapatkan hukuman dan harus ke sekolah malam ini. Janjinya kutebus hari lain saja ya.

Marc :

Oh, tidak masalah. Baiklah, kupegang janjimu. Ngomong-ngomong, kamu beneran dihukum?

Message from Me :

Iya, akan kuceritakan nanti padamu. Aku mau masuk kelas lagi ya. Sampai nanti.

Adel memasukkan iPhone ke dalam saku rok nya. Setidaknya masalah janji dengan Marc sudah selesai. Ia harus memikirkan akan menebus janji itu kapan dan dimana.

Laura membuntuti Adel ke kelas. Ia mengeluarkan ponselnya.

Message from Laura :

Hi! Ada waktu nanti malam? Aku ingin mengajakmu pergi. Jika bisa, jam 7 malam aku tunggu di depan rumah Adel. Kubalas nanti ya.
Laura.

“Hayo abis sms siapa?” tanya Adel dengan nada menggoda.

“Supir, kepo deh kamu.”

“Ah, masa? Pacar baru ya? Jangan lupa kenalin.” Adel terkekeh.

“Bukan. Sudahlah. Selamat menjalankan hukumanmu saja ya. Semoga menyenangkan!” kata Laura dan berlari kecil meninggalkan Adel.

“Aneh,” gumam Adel pelan. “Gak biasanya dia ngomong gitu, kenapa ngerasa janggal sama kalimatnya ya?” Adelaide adalah orang yang gampang penasaran dan berimajinasi tinggi. Itu sebabnya jika ia di biarkan penasaran, pikirannya pun bisa macam-macam tak karuan.
Seperti sekarang, ia mulai memutar otak mencari tahu apa maksud perkataan Laura tadi.

Mendadak saja suasana terasa aneh. Sangat aneh….

To Be Continued…

3 thoughts on “The Story Of Us : A Friend Becomes A Rival #3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s