Don’t Say You Never Love Me #2

cove2r

07.00 AM

Author’s POV

Laura sedang menyiapkan sarapan paginya di dapur. Sesekali ia bersenandung kecil sembari tangannya cekatan memainkan peralatan dapur. Tak lama kemudian, sarapan yang ia buat sudah jadi. Lalu, ia membawa piringnya ke meja makan dan menyantapnya.

Marc baru saja keluar dari kamarnya dengan pakaian tidur yang masih ia kenakan dan rambut yang sedikit berantakan. Ia berjalan ke meja makan dan duduk di salah satu kursi tepat di depan Laura. Laura yang melihatnya hanya cuek saja dan melanjutkan sarapannya.

“Sarapan untukku mana?” tanya Marc, ia tidak melihat piring untuknya.

“Bikin saja sendiri,” jawab Laura cuek.

“Istri yang baik selalu membuatkan sarapan pagi untuk suaminya,” sindir Marc.

Laura menghentikan makannya dan menatapa Marc dengan tatapan sinis. “Sejak kapan kau menyangkut pautkan status suami di depanku hanya untuk sarapan pagi? Kau punya tangan, tentunya kau bisa membuat sarapanmu sendiri,” balas Laura tak mau kalah.

“Pernahkah seseorang mengatakan padamu bahwa kau sangat menyebalkan, Gadis Jelek?!” ujar Marc sengaja menambahkan kata ‘Gadis Jelek’ di ujung kalimatnya.

Laura semakin menatap sinis ke arah Marc. “Kau bilang apa? Gadis Jelek?” ulang Laura dengan suara mendesis. “Kaupikir wajahmu itu keren, hah?! Seenak saja kau mengejekku dengan sebutan itu, Dasar Pria Tak Tak Malu!” Tangan Laura jadi gatal ingin melayangkan beberapa tinju ke wajah jelek Marc—ralat, wajah tampan Marc.

Tapi, masa tampan, sih? Ya, mau tidak mau harus Laura akui kalau wajah pria itu memang sangat tampan. Dan bahkan saking tampannya membuat Laura semakin ingin meninjunya. Kenapa bocah tengik penuh dosa dan calon penghuni neraka ini bisa dianugerahi wajah setampan itu? Sangat tak pantas sekali!

“Terima saja kalau kau itu memang jelek!”

“Kau yang tak tahu malu!”

“Jelek!”

“Tak tahu malu!”

“Jelek!”

“Tak tahu malu!”

“Jelek!”

“STOP!” teriak Laura saking kesalnya. Gadis itu kemudian kembali ke dapur dan mengambil sesuatu yang terbungkus dalam kemasan plastik. Marc yang melihat apa yang dilakukan Laura lalu mengulum senyumannya. Gadis itu sedang mengambil roti dan mengolesnya dengan selai. Gadis itu baik juga ternyata, pikir Marc.

Tak lama kemudian, Laura pun kembali ke meja makan. Gadis itu tak lantas duduk di kursinya, tapi tetap berdiri dengan tangan memegang sebuah piring yang berisi roti yang diambilnya tadi.

“Kau bilang kau lapar, kan? Well, kalau begitu selamat sarapan, Pria Tak Tahu Malu! BUGH!” Dan setika roti selai itu pun mendarat mulus di wajah Marc. Laura tertawa penuh kemenangan saat melihat ekspresi wajah Marc yang menahan marah. Tapi lebih lucu lagi melihat wajah Marc yang penuh bercak cokelat dari selai roti itu.

Marc menatap protes pada Laura. “Kau…!!!”

“Apa? Kau tak terima? Mau membalasku? Coba saja kalau berani.” Laura pura-pura memasang ekspresi meremehkan.

“Kau sangat menyebalkan, Laura Amberita Márquez!” ujar Marc penuh penekanan pada kata Márquez, seolah ingin mempringatkan Laura dengan apa yang sudah diperbuatnya.

“Márquez? Sepertinya kau salah menyebut nama belakangku, Pria Tak Tahu Malu!” sahut Laura dingin. Ekspresi gadis itu tiba-tiba berubah.

“Terima saja kenyataan kalau kau sudah menikah denganku, Mrs. Márquez,” ucap Marc, sengaja memancing Laura.

Laura hanya menatap Marc dingin dan kembali melanjutkan sarapannya dengan tak selera.

***

09.55 PM

Pernahkah kalian membayangkan akan menikah di usia semuda itu untuk ukuran seorang laki-laki? Ya, tentu saja. Kenapa tidak? Marc santai saja menjalaninya, walaupun ia sadar sekarang hidupnya bukan untuknya sendiri saja. Tapi ada hidup orang lain yang harus ia tanggung, istri yang nikahinya secara terpaksa serta anak yang sedang dikandung gadis itu. Sebenarnya ini di luar rencananya. Karena keteledorannya Laura sampai hamil. Tapi, mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terjadi, kan?

Malam ini, setelah pulang dari kantor Marc langsung pergi ke pub malam langganannya. Ia ingin menenangkan dirinya sejenak—mungkin lebih tepatnya ingin melanjutkan kebiasaan lamanya.

Marc memesan satu gelas anggur dan menikmatinya sembari mendengarkan musik keras yang sedang diputar oleh DJ. Ia selalu menikmati suasana seperti ini, karena inilah bagian hidupnya.

“Hey, honey…,” panggil seorang gadis dari belakang Marc dan langsung saja gadis itu mengecup bibir Marc.

“Hey…,” balas Marc tersenyum singkat padanya.

“Apa yang kaulakukan di sini, huh? Bukannya kau sudah menikah?” tanya gadis itu dengan nada menggoda.

“Apakah pria beristri dilarang masuk ke pub?” Marc bertanya balik dan mengedipkan matanya, balik menggoda gadis itu.

Gadis itu terkekeh pelan. Tangannya kemudian melingkar di leher Marc dan ia membisikkan sesuatu. “Apakah kau perlu seseorang untuk menemanimu malam ini? Kau tidak perlu membayarku, honey. Anggap saja ini hadiah pernikahan tertundamu.”

Marc berpikir sesaat sebelum menjawab, “baiklah. Ayo kita bersenang-senang.”

Gadis itu lantas menarik Marc berdiri, kemudian membawanya menaiki tangga yang langsung terhubung ke lantai atas, yang merupakan tempat berhubungan gelap paling disukai oleh para pasangan. Mereka kemudian masuk ke salah satu kamar dan memulai semuanya di sana.

***

Jarum jam sudah menunjukan pukul 11 lewat 15 menit. Dan pria itu belum juga pulang. Laura sedang duduk di ruang tamu, menunggu ‘suaminya’ yang mungkin sedang bersenang-senang di pub malam sampai lupa waktu. Ya, tidak perlu menjadi jenius untuk menebak kenapa pria itu belum pulang. Padahal baru semalam mereka membuat perjanjian dan sekarang Marc sudah melanggarnya. Dalam hati Laura menyuarakan sumpah serapah untuk pria itu.

Walaupun bokongnya sudah panas duduk selama 3 jam di sofa ini, Laura sengaja menunggu Marc pulang. Karena ia ingin memberikan pelajaran berharga untuk bocah tengik tak tahu aturan itu!

Lihat saja kau, Marc. Kau akan tidur di luar. Kau bisa pegang kata-kataku, desis Laura dalam hati.

Tak lama kemudian, bel apartemen mereka berbunyi. Laura segera bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu. Gadis itu tidak langsung membukakan pintu, namun ia melihat layar monitor kecil di samping pintunya. Marc memang berdiri di sana dengan penampilan yang cukup berantakan. Dan parahnya ada tanda merah di kerah baju pria itu. Sialan! maki Laura.

“Wow. Bagus baru pulang jam segini,” ucap Laura sinis di layar monitor itu. Layar monitor itu langsung terhubung pada speaker di luar pintu apartemen mereka.

“Cepatlah buka pintunya. Aku ingin istirahat, Laura,” ujar Marc dengan suara seperti orang yang habis berlarian, terengah-engah.

“Oh… kau lelah ya?” tanya Laura dengan nada sok lembut seperti seorang ibu yang tengah bicara dengan anaknya. “Kenapa tidak balik ke pub saja? Bukannya banyak gadis jalang yang menunggu untuk ditiduri? Pilihannya lebih banyak, bukan? Jadi kau tidak perlu repot-repot kembali ke apartemen KARENA AKU TIDAK MENERIMA TAMU MALAM-MALAM SEPERTI INI. SO, SILAKAN KAU TIDUR SAJA DI MANA KAU SUKA. AKU. TIDAK. PEDULI!” teriak Laura berapi-api.

“Hey, hey, apa-apaan kau?! Ini apartemenku juga. Cepat buka pintunya! Laura!!!” Marc balas berteriak dan tidak dipedulikan oleh Laura karena gadis itu langsung mematikan monitor kecil itu dan berbalik masuk ke kamarnya.

Dalam hati ia merasa sangat puas memperlakukan Marc seperti itu. Makanya lain kali kalau sudah terikat dalam perjanjian, jangan sesekali melanggarnya. Begitulah akibatnya.

***

Marc berusaha menikmati malamnya bersama gadis ini. Tapi, pikirannya malah melayang jauh. Ia sedang memikirkan seorang gadis yang ‘mungkin’ menunggunya pulang ke rumah. Pria itu juga teringat perjanjian yang baru mereka buat semalam. SEMALAM?

Astaga! Kenapa ia bisa jadi pikun seperti ini sih?

Tiba-tiba Marc langsung bangkit dari tubuh gadis itu dan memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai. Dengan cepat ia segera memakai pakaiannya kembali.

“Marc, apa yang kaulakukan? Kau mau ke mana? Kita bahkan belum memulainya. Ayolah, kembali ke tempat tidurmu,” ujar gadis itu denga nada menggoda. Ya, memang mereka bahkan belum memulainya. Namun, karena wajah Laura yang melintas di kepalanya membuat Marc seolah tersadar kalau ia sudah menikah dan ada tanggung jawab yang harus ia pikul sekarang.

“Maaf, Adel. Tapi, kita tidak bisa melakukannya,” kata Marc tegas.

“Tapi kenapa?” tanya gadis yang bernama Adel itu, setengah merengek.

“Karena mungkin seseorang sedang menungguku pulang.”

Seusai berkata seperti itu, Marc langsung bergegas pergi. Ia mengendarai mobilnya gila-gilaan agar bisa kembali ke apartemennya. Entahlah apa yang dirasakannya. Tapi seolah ada yang membisikkan padanya kalau Laura sedang menunggunya pulang dan itu semakin membuat Marc diliputi rasa… bersalah, mungkin.

Marc langsung berlari ke apartemennya sesampainya ia di gedung bertingkat itu. Sejenak ia melihat arloji di pergelangan tangannya. Sudah pukul 11.15. Sial!

Marc memencet bel di samping pintu apartemennya. Dan tak lama kemudian suara gadis itu pun terdengar lewat speaker yang terhubung dari dalam.

“Wow. Bagus baru pulang jam segini,” ucap gadis itu dengan nada sinis.

“Cepatlah buka pintunya. Aku ingin istirahat, Laura,” ujar Marc dengan nafas ngos-ngosan.

“Oh… kau lelah ya?” tanya Laura dengan nada lembut. Sejenak Marc melongo di tempat mendengar suara Laura melembut seperti itu. Namun, tak lama setelah itu, “kenapa tidak balik ke pub saja? Bukannya banyak gadis jalang yang menunggu untuk ditiduri? Pilihannya lebih banyak, bukan? Jadi kau tidak perlu repot-repot kembali ke apartemen KARENA AKU TIDAK MENERIMA TAMU MALAM-MALAM SEPERTI INI. SO, SILAKAN KAU TIDUR SAJA DI MANA KAU SUKA. AKU. TIDAK. PEDULI!”

Marc sontak membelalakkan matanya. “Hey, hey, apa-apaan kau?! Ini apartemenku juga. Cepat buka pintunya! Laura!!!” teriaknya sambil menggedor-gedor pintu apartemennya.

Sialan! Seenaknya saja gadis itu menyuruhnya tidur di luar. Masa ia harus tidur di sini seperti gembel? Yang benar saja! Ini kan apartemennya.

Dan tak ada pilihan lain. Marc akhirnya merebahkan tubuhnya di samping pintu apartemennya dan tak lama ia pun tertidur pulas karena kelelahan.

To Be Continued…

6 thoughts on “Don’t Say You Never Love Me #2

  1. “dengan pakaian tidur yang masih ia kenakan dan rambut yang sedikit berantakan” « bener bener pengen lihat Marc kaya gitu haha :p
    Aduuhh makin bagus ajah inih, lanjuuut yaaaak😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s