Don’t Say You Never Love Me #1

cove2r

Warning : Perhatikan setiap judul cerita yang diposting di sini supaya kalian tidak bingung dengan jalan ceritanya. Dan kalo misalnya ada yang dirasa kurang paham dengan ceritanya, bisa ditanya ke aku langsung via Twitter : @Clevalizzy. Thank you and happy reading! ^.^

Perjanjian Pra Nikah

1. Marc dan Laura hanya menikah untuk memberi status pada anak yang sedang dikandung Laura.

2. Marc dan Laura harus tinggal serumah setelah menikah selama 9 bulan ke depan.

3. Marc dan Laura tidak berkewajiban memenuhi kebutuhan batin atau dalam kutip tidak berkewajiban melakukan hubungan intim.

4. Marc dan Laura harus menandatangani surat perceraian apabila anak yang dikandung Laura telah lahir.

5. Hak asuh anak akan dialihkan kepada pihak keluarga Laura. Dan Marc tidak berhak menuntut menarik kembali hak tersebut dikarenakan perjanjian ini telah ditandatangani oleh kedua belah pihak.

***

Laura’s POV

Aku tidak tahu apakah masih bisa melakukan sesuatu untuk menebusnya. Kesalahan fatal yang kuperbuat membuat keluargaku harus menanggung malu yang begitu besar mengingat nama besar keluarga kami yang cukup terpandang di kalangan atas. Aku sangat bodoh saat itu, percaya pada kata-kata rayuan bajingan itu, hingga membuatku terperangkap dalam pesonanya. Tidak ada lagi kata menyesal. Semuanya sudah terjadi. Dan hari ini, aku akan melangsungkan pernikahan tanpa ikatan cinta.

Lonceng gereja berdentang beberapa kali saat aku untuk pertama kalinya melangkahkan kaki memasuki pelataran menuju altar. Barisan tamu-tamu undangan berdiri menyaksikan aku berjalan dengan ditemani oleh ayahku yang setia menggandeng tanganku seperti dalam film-film yang pernah kutonton. Saat anak gadisnya menikah, ayahnyalah yang harus menghantarnya ke altar, tanda penyerahan tanggung jawab ke pundak calon suami yang akan menikahi anak gadisnya. Tapi aku bahkan sangsi kalau bajingan itu akan menjadi suaminya yang baik untukku. Tapi apa peduliku? Yang hanya aku inginkan dari bajingan itu hanyalah mengikatku dalam pernikahan dan terhindar dari berbagai gosip yang menerpa keluargaku. Itu saja yang kumau, begitu juga dengan keluargaku. Bajingan itu, pria yang telah menghamiliku, berdiri disana menungguku dengan tatapan tak peduli. Sialan! Setelah semua yang telah terjadi dia masih saja memperlihatkan tampang tak berdosanya! Tapi aku juga memperlihatkan wajah tak peduliku. Aku hanya ingin status dari pernikahan ini supaya anak yang akan kulahirkan dari rahimku nanti tidak akan menanggung malu karena kesalahan orang tuanya. Terdengar egois memang. Tapi itu semua sudah menjadi perjanjian sebelum kami menikah. Satu lagi yang perlu dicatat dalam perjanjian nikah kami, aku tidak sudi melakukan hubungan badan lagi dengannya sekalipun dia sudah menjadi suami sah aku. Itu tak masalah untuknya. Tapi yang paling menjengkelkan dalam perjanjian itu adalah aku harus tinggal bersamanya. Aku sempat memprotes, tapi ayahku malah menyetujuinya. Aku bisa berbuat apa lagi jika ayahku yang turun tangan langsung?

Aku sudah sampai di depan altar, ayahku menyerahkanku pada bajingan sialan itu. Lalu, seorang pastor yang akan memimpin ucapara pernikahan kami mengarahkan kami untuk saling berhadapan dan mengucapkan janji suci yang kuanggap sangat konyol seperti pernikahan pada umumnya.

Pengucapan janji suci lumayan berjalan lancar walaupun awalnya aku agak enggan mengucapkannya. Dengan demikian sah-lah aku menjadi nyonya Márquez, nama belakang yang membuatku muak.

“Selamat, Sayang…, sekarang kau sudah menjadi istri orang lain. Mom sangat berbahagia untukmu. Walaupun pernikahan kalian terjadi karena… oh, sudahlah, lupakan saja. Sekarang kalian akan menempu hidup baru. Oh astaga, Laura, gadis kecilku. Aku harus kehilanganmu segera. Padahal baru saja aku melihatmu tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang menawan. Oh…, Sayang….” Ibuku menangis terisak-isak saat memelukku. Ini sangat konyol memang, harus kuakui itu. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Ini mungkin menjadi momen yang sangat emosional di antara kami—ibuku lebih tepatnya.

“Sudahlah, Elena….” Ayahku menepuk pundak ibuku pelan. “Laura sudah menjadi istri orang lain. Jadi kau tak usah menangisinya. Sampai kapan pun Laura akan menjadi gadis kecil kita yang paling cantik,” hibur ayahku.

“Yah, kau benar sekali, Felix. Laura akan selalu menjadi gadis kecil kita selamanya,” kata ibuku tersenyum bahagia saat beliau melepaskan pelukannya dariku. “Kau harus sering mengunjungi kami, Laura. Kau mengerti?”

“Pasti, Mom. Apa kau pikir aku akan menjadi anak durhaka yang lupa pada ibunya setelah menikah dengan pria yang sangat kaya raya yang bisa melakukan apa saja. Bahkan hanya memutuskan sesuatu secara sepihak?” Aku sengaja bicara seperti itu dengan maksud ingin menyindir bajingan yang berdiri tak jauh dariku. Dan… aku berhasil membuatnya menoleh kepadaku dan memberiku tatapan tajam. Sikap selalu ingin menang sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain memang sering dilakukan oleh Marc-nama bajingan tengik itu. Menyebut namanya saja membuatku ingin muntah saking jijiknya.

“Kau menyindirku, Sweety,” desis Marc tajam.

“Kalau iya, memangnya kenapa? Kau tak suka? Tapi itu memang sikap yang selalu kau tunjukan,” kataku tak acuh.

“Kapan aku pernah menunjukannya?” tanya Marc pura-pura bodoh. Meyebalkan.

“Dengar, Mr. Márquez….”

“Yah… Itu aku. Apa kau yang memanggilku, Sayang?” sahut Juliá Márquez yang terusik karena namanya disebut oleh menantu barunya, yaitu aku.

“Sepertinya kau harus memanggilku dengan sebutan nama saja, Sweety. Karena disini ada tiga Márquez. Aku, ayahku, dan adikku, Alex.” Marc mengedipkan sebelah matanya, bermaksud ingin menggodaku, bocah tengik?

“Maaf, Uncle, aku tadi hanya bermain-main saja dengan baji…. Hmm, maksudku dengan Marc,” jawabku sedikit kikuk kepada ayahnya Marc..

Ayahnya Marc bergabung bersama kami. “Oh ya? Apa yang kalian obrolkan? Sepertinya menarik. Dan kau, Laura. Jangan memanggilku Uncle, tapi Dad, oke?”

“Iya, Dad,” ucapku pelan.

“Tadi Laura hanya menanyakan status dia yang akan menjadi Mrs. Márquez di keluarga kita, Dad,” jelas Marc, sengaja mempermalukanku. Sialan!

“Benarkah?” tanya ayahnya Marc takjub. Aneh.

“Tidak, itu tidak benar. Aku tidak pernah…,” aku terlalu kalut untuk mengucapkan kata-kata.

“Aku sendiri yang mendengarnya, Sweety. Jadi kau tidak perlu malu untuk menanyakannya. Toh, kau kan sudah resmi menjadi istriku. Jadi….”

“Hentikan, baji… Marc.” bentakku pelan. “Aku tidak pernah mengatakan seperti itu. Jadi kau jangan mengarang cerita bohong.” aku menatap tajam ke arahnya. Ingin sekali mulutku meneriakan kata bajingan ke pria itu, tapi mengingat banyaknya keluargaku di sini temasuk keluarga bajingan itu juga, aku pun mengurungkan niatku.

“Sudahlah, kalian ini seperti anak kecil saja. Kalian kan baru saja menikah, masa mau bertengkar di hari bahagia kalian!” Ibuku melerai kami. Dan tadi apa ibuku bilang? Hari bahagia? Sepertinya aku memerlukan toilet untuk menumpahkan seluruh isi perutku. Kau tak salah, Mom? Kau menyebut ini hari bahagia? Aku mungkin bisa mati di tempat ini sekarang juga.

***

20.00 PM

Orang tuaku dan orang tua Marc memberikan kami sebuah apartement yang lumayan mewah sebagai hadiah pernikahan kami. Syukurlah, daripada aku harus tinggal di rumah Marc yang besar itu bersama orang tuanya. Membayangkannya saja sudah membuatku bergidik ngeri. Tinggal bersama mertuamu, tak pernah terlintas dipikiranku sebelumnya.

“Ah, terima kasih, Tuhan. Ternyata. Dua kamar,” ujarku dengan kelegaan luar biasa. Setidaknya aku bisa selamat tak sekamar dengan bajingan ini. Ehm… sepertinya aku harus mengedit nama panggilan itu. Walau bagaimana pun juga dia sudah menjadi suami sah-ku tadi siang. Jadi terdengar sedikit kasar jika aku memanggilnya seperti itu. Walaupun tanpa keikhlasan hati aku memanggilnya dengan sebutan nama. Marc.

“Sayang sekali, bukan? Aku kira kita bisa sekamar.” Wajah Marc dibuat-buat seolah menyesal. Huh, sangat lucu, sindirku dalam hati.

“Cih! Dengar ya, kau. Aku tak sudi kalau harus berdekatan denganmu. Jadi jangan harap kau bisa sekamar denganku!” kataku sinis.

“Ugh. Jahat sekali.”

“Biar!” aku menjulurkan lidahku kepadanya.

Setelah mengurus kamar kami masing-masing, kami duduk di ruang tamu untuk berdiskusi tentang kehidupan sehari-hari kamu untuk kedepannya.

“Baiklah. Sepertinya kita harus membuat peraturan baru. Pertama, tak seorang pun di antara kita terutama kau, pulang lewat dari jam sepuluh malam. Jika kau melakukannya, sebagai konsekuensinya kau akan tidur di luar apartemen,” kataku, merasa puas karena ucapanku sedikit membuatnya terkejut.

“Itu peraturan yang sedikit keterlaluan, Laura. Kau tidak bisa melarangku…,”

“Itu harus kulakukan demi mengubah statusmu sebagai pria yang telah beristri. Kau tidak punya malu, apa? Pergi ke bar dan menggandeng wanita lain. Dan melupakan wanita yang kau tinggalkan di rumah.”

“Sejak kapan kau mempermasalahkan statusmu sebagai istriku? Ingat, kita menikah hanya untuk memberi status pada anak yang akan lahir dari rahimmu. Tidak lebih. Jadi kau tidak berhak melarangku dan kau juga tidak lupa dengan janji nikah kita? Di sana sama sekali tidak ada tertera aku tidak boleh ke bar dan menggandeng wanita lain.”

Pernyataannya membuatku sakit hati. Marc mengucapkan kata-katanya tanpa menghargaiku sebagai istrinya. Suami macam apa itu? Iya sih di dalam janji nikah kami memang tidak ada tertulis seperti itu karena aku lupa untuk memasukannya. Sial! Tapi setidaknya dia harus ingat tentang tanggung jawabnya. Oh ya, aku lupa kalau pria seperti Marc memang tidak tahu apa arti tanggung jawab. Walau dia sudah menikahiku. Itu belum cukup untuk memenuhi tanggung jawabnya.

“Kau keterlaluan!” teriakku tak terima.

“Baiklah. Sekarang giliranku. Peraturan kedua, tidak ada pangaduan kepada orang tua kita masing-masing jika salah satu di antara kita bertengkar,” kata Marc. Peraturan dia sepertinya tidak terlalu berat.

“Baik. Kalau itu peraturan yang kau terapkan,” tukasku kemudian berdiri dan berjalan masuk ke kamarku meninggalkannya di ruang tamu.

To Be Continued…

4 thoughts on “Don’t Say You Never Love Me #1

  1. buat apa nikah . .trus anak z . . .yg ngasuh laura??*hak asuh* . . . Biasa y nikah trus hak asuh untuk marc . .itu nuntut nikah . . . . .kalau cuma mo diasuh laura sendiri . .gak perlu nikah . . .

    Suka

    • Demi jaga nama baik keluarga. Soalnya kan keluarga Laura dari kalangan atas. Jadinya menutupi aiblah. Trus biar nanti anaknya lahir, kan anaknya bisa tau kalo bapaknya bertanggung jawab🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s