A Fairy Tale

cove2r

Warning : Siap-siap mati kebosanan baca cerita geje bin aneh aku. Soalnya banyak narasinya daripada dialog. Yang kenal aku pasti sudah taulah gimana gaya penulisan aku. *pede amat lo Rit* Trus, ada beberapa adegan yang ‘sedikit menyerempet’, so peringatan untuk yang di bawah umur : WASPADALAH! WASPADALAH! Happy reading… *jangan lupa juga follow account Twitter-nya Laura Amberita @MissLauraAS #promosi

Cast :

Laura Amberita, Marc Márquez, Adelaide Alessandra, Scott Redding, Daniel Pedrosa

Pernahkah kalian membayangkan memiliki hidup yang begitu damai dan indah saat kalian mengunjungi sebuah tempat? Ya, itulah Swiss, negara yang menawarkan begitu banyak keindahan. Dengan pegunungan Alpen yang menjulang tinggi, danau-danau alami yang banyak bertebaran di setiap sudut kota dan tentu saja warna hijau dari pepohonan oak dan maple yang berjejer indah di sisi jalan.

Laura tak henti-hentinya mengagumi setiap sudut jalanan kota yang ia lewati. Pemandangan yang tidak akan ia temui di mana pun, kecuali di Swiss, atau tepatnya di kota kecil yang sedang dikunjungi gadis itu dan sahabat-sahabatnya, Interlaken.

Kota kecil ini sangat dekat sekali dengan pegunungan Alpen. Maka dari itu, salju dari puncak tertingginya bisa dilihat walaupun dari tempat terendah sekalipun. Sangat indah.

Cuaca hari ini tampak cerah, walaupun suhu agak sedikit dingin karena ini memang di daerah pegunungan. Laura yang mengenakan mantel cokelat tua tipis sibuk memotret berbagai objek yang menurutnya menarik, seperti rumah penduduk yang tampak alami yang dibangun dengan kayu. Gadis itu tidak menyesal sedikit pun setelah mengambil resiko yang sangat besar, dengan mempertaruhkan nyawanya dan mungkin ia akan terkena masalah besar saat pulang ke Madrid nanti. Tapi, siapa yang peduli? Yang penting ia bisa menikmati surga dunia yang menyambutnya saat ini.

Laura mengarahkan kameranya ke danau Thun, danau yang menjadi objek wisata yang terkenal di kota Interlaken. Tapi, tiba-tiba saja gadis itu mengurungkan niatnya untuk mengambil gambar danau tersebut karena ada sedikit gangguan yang tidak menyenangkan. Adel, sahabatnya sedang berciuman dengan pacarnya, Dani. Sontak Laura mendelik kesal melihat tingkah mereka yang seenaknya bermesraan di tempat umum seperti ini.

Gadis itu teringat pada Marc, tunangannya yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Pria itu sama sekali bukan tipe pria romantis yang akan memanjakan pasangannya atau memberikan kejutan-kejutan kecil tak terduga.

Kadang Laura sering membandingkan Marc dan Dani. Dani yang suka sekali memberi Adel kejutan dan perlakuan romantis. Sedangkan Marc? Jangankan memperlakukannya secara romantis, bahkan hingga saat ini terhitung sejak mereka berpacaran selama 3 tahun, Marc tidak pernah mengatakan bahwa pria itu mencintai Laura.

Itulah yang membuat Laura kadang iri dengan Adel. Tapi, anehnya, ia masih betah menjadi tunangan Marc, dan bahkan sebentar lagi mereka akan menikah. Gadis itu juga heran sendiri kenapa bisa bertahan dalam hubungan konyolnya bersama Marc.

Ada yang membuat Laura penasaran dan bingung dengan sikap Marc terhadap dirinya. Pria itu bisa menjadi sangat tidak pedulian dan dingin pada Laura. Walaupun begitu pria itu juga memiliki sikap posesif yang begitu tinggi. Bisa kalian bayangkan seorang pria yang jelas-jelas tidak memedulikanmu namun ia sangat posesif terhadapmu? Ya, itulah Marc Marquez, pria yang sangat sekali sulit dimengerti. Dan di sisi lain juga, pria itu bisa menjadi sosok yang hangat dan memberinya perhatian yang kadang tidak pernah diduga oleh Laura sebelumnya. Mungkin yang ini bisa dihitung sebagai kejutan tak terduga. Tapi, tidak romantis sih.

Laura masih ingat kejadian beberapa hari yang lalu saat ia mengatakan akan pergi berlibur ke Swiss pada Marc. Dan, reaksi pria itu benar-benar membuat Laura frustrasi.

Siang itu, Laura sedang menunggu Marc di ruang kerjanya. Hampir 1 jam ia menunggu dan pria itu belum muncul juga di hadapannya. Berkali-kali gadis itu mengembungkan pipinya karena kesal. Dan tak lama kemudian, ia mendengar pintu ruang kerja Marc terbuka. Pria yang ditunggu-tunggunya akhirnya datang juga.

Wajah Marc tampak sedikit lelah, tapi masih tampak begitu tampan dengan setelan jas kantor yang dipadukan dengan kemeja biru bergaris-garis vertikal.

Marc tidak terkejut melihat Laura yang duduk di sofa khusus untuk tamu di ruang kerjanya.

“Mau apa kau kemari?” tanya pria itu dengan suara datar, lalu mendekati Laura dan mengambil posisi duduk di hadapannya.

Laura memutar bola matanya dan menatap Marc dengan tatapan tak percaya. Mau apa ia kemari? Sebenarnya pertanyaan itu memang tidak salah dan sangat wajar malahan. Tapi, kalau kau mengajukan pertanyaan itu untuk tunanganmu yang lelah menunggumu selama 1 jam, apa kalimat itu pantas untuk ditanyakan? Tidak berperasaan sama sekali itu namanya! Sedikit romantis pun tidak ada. Laura kan juga seperti gadis lainnya yang ingin diperlakukan romantis oleh pasangannya. Tapi yang ia dapatkan malah pertanyaan datar seperti itu. Cih! Apa-apaan itu?

“Kau itu tidak bisa ya bersikap lembut padaku? Aku menunggumu seperti orang bodoh selama 1 jam dan kau cuma menanyakan itu? Kau itu memang sangat keterlaluan!” Laura menggertakkan gigi saking kesalnya.

“Jadi kau mau disambut bagaimana?” tanya Marc, tetap dengan nada dan sikap datarnya. “Lagipula salah kau sendiri kenapa tidak memberitahuku kedatanganmu,” lanjut Marc kemudian.

Benar juga sih perkataan Marc. Laura memang tidak memberitahu Marc soal kedatangannya. Tapi masa iya Laura mau mengakuinya? Cih! Demi sejuta pria setampan Tom Cruise, itu tidak akan terjadi.

“Salah kau juga tidak memberitahuku kalau kau akan ada meeting,” balas Laura, coba membela diri.

“Oh ya? Aku pikir kau sama sekali tidak tertarik dengan apa yang sedang kukerjakan. Well, kalau kau mau mengetahuinya, aku akan memberitahumu. Nanti sore aku akan mengadakan rapat dengan dewan redaksi untuk membahas pembangunan sekolah, dan besok aku akan pergi ke Barcelona bertemu dengan klienku lagi, dan sorenya aku akan….”

“Cukup! Cukup! Aku muak mendengar semua agenda meeting-mu itu. Makan saja berkas-berkas jelekmu itu,” ucap Laura emosi.

“Laura, dengar. Kalau kedatanganmu kemari hanya untuk marah-marah, lebih baik nanti saja. Aku sangat sibuk hari ini,” kata Marc setengah mendesis dan menatap lurus ke arah gadis itu.

“Kau mengusirku?” Laura mendengus tak percaya. “Oh, well, mungkin aku lupa betapa sibuknya kau, calon pewaris Marquez Corp. Kau sibuk, tentu saja. Dan selalu sibuk sampai-sampai kau tidak pernah mau peduli dan mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh orang yang akan hidup bersamamu. Lakukan saja, Marc. Atau perlu nanti saat pernikahan kita, kau boleh pergi sesuka hatimu dan menemui ‘klien-klien tercintamu’ itu setelah mengucapkan janji setia. Lakukan saja! Aku pergi!” ketus Laura.

Gadis itu lantas bangkit dari posisi duduknya dan berjalan ke arah pintu. Hatinya panas dan sakit karena tidak dipedulikan seperti ini. Marc tidak akan pernah berubah.

Sebelum mencapai daun pintu ruang kerja pria itu, Laura merasakan sebuah tangan tiba-tiba saja menyelinap ke pinggangnya dari belakang dan dengan cepat tubuhnya diputar ke depan. Sementara tangan lainnya meraih tengkuk gadis itu dan sesuatu yang hangat dan basah menyentuh bibir mungilnya. Laura kaget bukan main mendapat kejutan tak terduga seperti ini.

Bibir Marc melumat pelan bibir Laura dengan lembut. Namun, semakin lama temponya semakin cepat. Marc meraih pinggang gadis itu, mendekapnya agar lebih dekat.

Laura meremas rambut Marc karena kenikmatan yang diberikan pria itu untuknya. Desahan gadis itu semakin membuat Marc bergairah. Dan saat itulah pikiran pria itu langsung kembali setelah logikanya mengambil alih kendali dirinya. Marc mendorong tubuh Laura menjauh dan melihat gadis itu terengah-engah.

Untuk sejenak Marc memberi kesempatan Laura menormalkan kembali napasnya. Setelah itu, pria itu meraih wajah Laura dan berkata, “Aku minta maaf.”

Laura tidak menjawab. Tepatnya tidak tahu harus jawab apa setelah apa yang baru saja terjadi. Walaupun ini bukan pertama kalinya mereka berciuman, tapi bagi Laura setiap sentuhan bibir Marc akan tetap seperti saat mereka pertama kali berciuman.

“Aku tahu aku tidak bisa memperlakukanmu seperti pria pada umumnya. Itu sama sekali bukan gayaku. Aku harap kau mengerti. Dan aku benar-benar minta maaf karena perkataanku yang menyakitimu. Memangnya ada apa kau kemari, hm?” tanya Marc dengan nada melembut, bahkan saking lembutnya Laura sampai lupa dengan rencananya yang datang kemari.

Laura menunduk ke bawah, walaupun tidak sepenuhnya menunduk karena wajahnya disangga oleh tangan Marc yang kokoh. Gadis itu tiba-tiba saja jadi enggan mengatakannya.

“Aku akan ke Swiss besok,” ucapnya, berusaha tidak menampakkan kegugupannya. Tapi, tetap saja getaran suaranya sedikit terdengar.

Marc tidak bereaksi dan Laura menunggu dengan was-was. Bibir pria itu terkatup rapat dan tatapan matanya menjadi keras. Laura terintimidasi dengan tatapan Marc yang mengarah padanya.

“Aku tidak mengizinkanmu pergi,” gumam Marc di sela-sela giginya.

Laura tahu ia akan mendapat jawaban seperti ini. “Aku tidak meminta izinmu,” balasnya cepat.

“Kau tetap tidak boleh pergi,” desis Marc dan kini suaranya terdengar marah.

“Kau itu kenapa sih?” sentak Laura tiba-tiba. “Tidak bisa ya, kau membiarkan aku bersenang-senang bersama teman-temanku? Aku bosan, Marc. Aku ingin berlibur bersama teman-temanku.”

“Aku tetap tidak memberimu izin,” tegas Marc sekali lagi.

“Tapi, kenapa?” tanya Laura, frustrasi dengan sikap Marc.

“Karena aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu. Pernikahan kita tidak lama lagi, Laura,” jawab Marc dengan tatapan tajam.

“Tapi….” Laura merasa sia-sia jika ia terus membujuk Marc agar membiarkannya pergi. Tetap saja pria itu tidak akan mengizinkannya walaupun Laura merasa tidak sekali pun minta izin padanya. Tapi, apa pun yang terjadi, ia akan tetap pergi ke Swiss. Tidak peduli saat ia pulang nanti, ia akan diamuk oleh Marc. Itu urusan belakang.

Lamunan Laura mendadak buyar saat seseorang mengejutkannya dari belakang. Kamera yang dipegangnya hampir saja jatuh kalau saja ia tidak sigap menangkapnya.

“Oh, maaf. Aku hampir saja merusak kameramu, Laura. Omong-omong, apa yang sedang kau lamunkan? Kau sedang memikirkan aku ya?” tanya pria itu dengan penuh percaya diri.

Laura mendelik kesal pada pria itu yang menyengir lebar padanya. Nama pria itu adalah Scott Redding, salah satu sahabatnya yang ikut bersamanya ke Swiss.

“Kau! Sampai saja tadi kameraku jatuh, aku tidak akan segan-segan melempar kepalamu ke laut. Dan apa kau bilang? Memikirkanmu? Sampai dunia kiamat pun, aku tidak akan menghabiskan waktuku untuk memikirkanmu, kau tahu?!” bentak Laura judes.

“Ugh! Jahat sekali kau,” balas Scott, pura-pura merasa teraniaya. “Tapi, omong-omong, apa yang sedang kau lamunkan? Kau berdiri di sini tampak seperti orang bodoh, tahu,” ceplos Scott dan langsung mendapat cubitan keras dari Laura.

“Adawwww….!” rintih Scott kesakitan.

“Berani sekali kau mengataiku seperti orang bodoh. Dasar, jelek! Rasakan ini!” Lagi-lagi Laura memberi cubitan-cubitan mematikan ke lengan Scott dan membuat pria itu berteriak.

Namun, aksi mereka sontak terhenti saat Adel tiba-tiba saja menghampiri mereka dengan wajah seperti baru saja melihat hantu. Napas gadis itu tersengal-sengal akibat berlarian tadi.

“Gawat…! Gawat, Laura,” ucap Adel dengan suara putus-putus.

“Gawat apanya?” tanya Laura bingung.

“Ma… Marc… aku melihatnya… di sini. Dan… tampangnya sangat mengerikan,” jawab Adel.

Wajah Laura sontak memucat. Marc ada di sini? Pria itu menyusulnya ke sini? Dan kata Adel tadi, ia melihat Marc dengan tampang yang sangat mengerikan? Astaga. Tubuh gadis itu lantas menegang. Dan seperti tersambar petir di siang bolong, matanya menangkap sosok pria itu di kejauhan sana, tepatnya pria itu tengah melewati jembatan kecil yang mengarah kemari.

Matilah!

Laura kontan panik. Pasti Marc akan menyeretnya pulang sekarang juga.

Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya. “Aku titip kameraku,” katanya pada Adel seraya menyerahkan kameranya.

Laura berlari ke atas bukit yang dominan ditumbuhi pepohonan dan menghubungkan akses langsung ke atas pegunungan Alpen.

Scott dan Adel yang melihat tingkahnya Laura sama sekali tidak tahu apa yang sedang dilakukan gadis itu. Ada kekhawatiran yang menyelip dalam hati mereka. Mereka sangat mengenal Laura. Kalau gadis itu sedang dalam keadaan panik, ia tidak bisa berpikiran jernih dan lebih mengandalkan perasaannya daripada otaknya.

Semoga saja sahabatnya itu tidak kenapa-kenapa.

***

Marc mendapat informasi dari orang suruhan bahwa Laura sudah berangkat ke Swiss tadi malam. Sontak pria itu marah besar karena Laura tidak mengindahkan perintahnya. Perasaannya bertambah buruk saat ia tiba-tiba saja mendapat firasat tidak enak dan bertambah buruk lagi saat tahu Laura sudah berangkat ke Swiss. Ingin sekali Marc meninju wajah seseorang saat ini. Melampiaskan kemarahannya karena gadis itu.

“Carikan aku penerbangan ke Swiss sekarang juga. CEPAT!” teriaknya pada orang suruhan yang memberinya informasi tadi.

Jadi di sinilah dirinya. Marc langsung bergegas ke Interlaken begitu turun dari pesawat setelah mendapat informasi di mana gadis itu berada. Marc bersumpah akan menyeret gadis itu pulang karena tidak mendengar omongannya. Tidak peduli gadis itu akan memberontak.

Sesampainya di Interlaken, Marc langsung menyusuri jalan-jalan di kota kecil itu. Tidak sesulit yang dikira karena kota ini sangat kecil. Dan benar saja, di kejauhan sana walaupun dari sosok itu berdiri menyamping sambil memegang kamera, tapi Marc tahu gadis itu adalah tunangannya.

Marc semakin mempercepat langkahnya dan melewati sebuah jambatan kecil. Matanya menatap tajam ke arah Laura dan Marc tahu gadis itu sudah menyadari kedatangannya. Tapi, entah apa yang dilakukan Laura, gadis itu tiba-tiba saja berlari ke atas bukit yang ditumbuhi pepohonan di atas sana. Marc lantas ikut berlari mengejar gadis itu walaupun jarak di antara mereka cukup jauh.

Ternyata bukit ini memiliki akses masuk ke pegunungan. Marc terus berlari mengejar Laura hingga tiba-tiba saja ia dihentikan oleh seorang kakek tua yang tengah melintas di sana.

“Jangan ke sana. Sebentar lagi akan ada badai salju,” peringat kakek tua itu.

Marc lantas membeku di tempat. Akan ada badai salju? Astaga. Laura!

Jantung Marc berdetak dua kali lebih kencang. Ia langsung menerobos pepohonan itu dan tidak memedulikan kakek tua yang berteriak di belakangnya. Dan memang benar, langit-langit mulai menggelap dan angin juga bertiup lebih kencang.

Marc semakin masuk ke dalam hutan. Perasaan khawatir mulai merasukinya. Bahkan ia mulai ketakutan dengan keadaan Laura. Dalam hati ia merutuki gadis bodoh itu—tidak, mungkin dirinyalah yang bodoh. Laura pasti ketakutan melihatnya yang menyusulnya ke Swiss dan berpikir Marc akan marah besar padanya.

Tolol! Marc menyesali tindakannya. Kepalanya dipenuhi dengan bayang-bayang gadis itu. Marc merasa dirinya sangat bodoh. Seandainya saja ia memberi gadis itu izin, seandainya saja ia tidak datang kemari, dan seandainya saja tadi Laura tidak melihatnya. Seandainya, seandainya, dan seandainya.

Marc menyalahkan dirinya sendiri. Kalau dari awal Marc tidak bersikap seperti itu, maka kejadian ini tidak akan terjadi. Semua kata ‘seandainya’ sudah tidak ada gunanya.

Angin tiba-tiba saja bertiup sangat kencang ditambah butiran salju yang mulai turun. Permukaan tanah pun mulai tertutupi oleh warna putih. Dan ketakutan serta kekhawatiran Marc semakin bertambah.

Kau di mana, Laura? Kau di mana, Sayang? Marc berseru dalam hati.

Angin lagi-lagi bertiup kencang dan membuat merinding siapa pun, tak terkecuali Marc. Pria itu mulai frustrasi karena tidak tahu bagaimana keadaan Laura sekarang. Marc bersumpah kalau sampai terjadi sesuatu pada calon istrinya, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.

***

Laura mulai merasakan ada yang aneh dengan sekitarnya, tepatnya merasa dingin yang tiba-tiba menyerangnya. Padahal tadi ia lihat langit cerah-cerah saja dan tak ada tanda-tanda mendung atau apa. Tapi, saat butiran salju yang jatuh semakin memperjelas kalau cuaca memang tidak benar-benar cerah.

Gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang. Ia tampak sedikit terkejut melihat jalan yang dilaluinya sudah tertutup oleh putihnya salju yang berjatuhan. Ditambah lagi angin yang semakin lama semakin kencang dan salju yang semakin lebat. Mantel yang dikenakannya tidak bisa menahan rasa dingin itu dan seketika kakinya seolah membeku dan sangat sulit untuk digerakkan.

Laura mengedarkan pandangannya ke sekeliling, berharap ada rumah penduduk lokal yang bisa ia tumpangi untuk sementara. Matanya kemudian menangkap sebuah pondok kecil yang terletak menyorong ke dalam.

Saat kakinya hendak melangkah ke sana, tubuhnya bergetar hebat karena angin lagi-lagi bertiup. Ia mencoba melangkah lagi, namun kakinya begitu sulit digerakkan. Dan keadaannya diperparah lagi saat ia mulai merasa paru-parunya menyempit, membuatnya sulit bernapas. Ia juga mulai merasakan nyeri yang mendera hindung serta telinganya. Dan seperti film yang berputar di kepalanya, tubuhnya langsung limbung ke tumpukan salju di bawahnya.

Rasanya tubuhnya seperti ditusuk-tusuk dari dalam dan di saat bersamaan rasa nyeri itu langsung menghantamnya. Tubuhnya menggigil hebat. Ia rasa kematian mulai mendekat kepadanya.

***

Marc tak gentar terus mencari Laura di tengah badai salju yang mulai tak mengenal belas kasih. Ia terus menajamkan penglihatannya ke segala penjuru arah. Tak satu pun yang luput dari penglihatannya. Sampai matanya menangkap sesosok tubuh yang terbaring dengan mantel cokelat yang dikenakannya. Sontak Marc berlari ke tubuh yang terbaring itu.

Marc merunduk dan langsung meraih wajah Laura mulai membiru.

“Laura…, bangun, Sayang. Hei, bangun…,” panggilnya seraya menepuk-nepuk pelan pipi gadis itu.

Ajaibnya, Laura membuka matanya dan melihat Marc ada di hadapannya.

“Marc…,” gumam gadis itu sangat pelan.

“Laura…, Sayang…, kau bisa mendengarku?” tanya Marc cemas. Laura tiidak menjawab. Namun, ia mengedipkan matanya lemah sebagai jawaban.

“Aku rasa… aku akan mati,” ucap Laura lemah.

“Tidak! Kau harus bertahan untukku. Aku tidak akan membiarkanmu mati, Laura. Kau tidak boleh mati, kau dengar?! Kau harus bertahan!” seru Marc. Kemudian pria itu langsung mengangkat tubuh mungil Laura dan menggendongnya.

Sebenarnya Marc juga bingung harus ke mana. Karena tidak mungkin mereka bisa kembali ke bawah di tengah badai seperti ini.

Tapi, sepertinya Tuhan sedang berbaik hati pada mereka. Marc melihat sebuah pondok kecil yang tak jauh dari tempat mereka. Langsung saja ia membawa Laura ke pondok itu.

“Seseorang di dalam sana. Aku mohon… aku butuh bantuanmu!” teriak Marc keras.

Marc memandang wajah Laura yang semakin membiru dan membuatnya semakin ketakutan.

“Tolong kami!” teriaknya sekali lagi.

Pintu itu terbuka. Dan wanita paruh baya yang membuka pintu itu sontak terkejut mendapat kunjungan di tengah badai salju seperti ini.

“Aku mohon. Calon istriku butuh tempat yang hangat. Bisakah kami berteduh di sini sebentar,” pinta Marc dengan nada memohon.

“Masuklah,” suruh wanita paruh baya itu sembari mempersilakan Marc membawa Laura masuk ke dalam pondoknya. Keadaan pondok ini sangat hangat. Marc berharap Laura tidak terlalu kedinginan lagi.

“Bawa dia masuk ke sini,” suruh wanita paruh baya itu lagi sambil membuka pintu kamar untuk Marc. Marc langsung membaringkan Laura ke atas ranjang tidur.

“Apa yang terjadi?” tanya wanita paruh baya itu, menghidupkan tungku perapian di dalam kamar itu dan seketika ruangan itu berpendar oleh cahaya kekuningan.

“Ceritanya sangat panjang, Ma’am. Tapi, aku benar-benar butuh bantuanmu. Aku rasa calon istriku terkena hipotermia,” kata Marc bertambah khawatir saat menyentuh wajah Laura yang begitu dingin.

Wanita paruh baya itu menghampiri ranjang yang ditiduri Laura. Tangannya terulur dan menyentuh wajah Laura. Wanita paruh baya itu lantas tersentak.

“Kenapa? Ada apa?” tanya Marc panik saat melihat eskpresi wajah wanita paruh baya itu

“Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Tapi, dengan keadaannya yang seperti ini, kecil kemungkinan dia bisa bertahan,” jawabnya enggan.

“Apakah kau bisa melakukan sesuatu? Kumohon. Aku tidak mau kehilangannya, Ma’am,” desak Marc panik.

“Kau bilang gadis itu adalah calon istrimu. Mungkin ini sedikit tidak masuk akal. Tapi kau harus melakukannya untuk menyelamatkan nyawanya. Kau bisa memberinya kehangatan, Anak Muda. Hanya ini satu-satunya cara,” kata wanita paruh baya itu, menatap Laura prihatin.

“Maksudmu?”

“Kau harus menghangatkannya. Teori lama. Bila kulit bertemu kulit akan menciptakan panas,” jelas wanita paruh baya itu.

“Skin to skin?” tanya Marc tercekat.

“You have to do it. Or she will die.” Setelah berkata seperti itu wanita paruh baya itu meninggalkan Marc. Semua keputusan ada di tangan Marc sekarang. Dia tidak mau Laura terbaring tak bernyawa di sini. Hanya itu satu-satunya cara agar Laura bisa selamat.

Tanpa banyak pikir lagi, Marc bangkit berdiri dan melepas mantel dan sweaternya hingga menyisakan kaos dalam, lalu melemparnya sembarangan ke lantai. Ia kemudian melepas mantel cokelat Laura dan pakaian dalam yang dikenakan gadis itu. Dan… Marc pun mendekap tubuh dingin Laura, memberinya kehangatan.

***

Laura bermimpi. Marc memanggilnya dari tempat yang sangat jauh. Suara Marc terdengar bergema di telinganya. Laura lalu membuka paksa matanya dengan sangat berat. Lantas gadis itu bangkit dan mencari suara itu. Tapi seperti mimpi buruk yang tak berunjung, kegelapan tiba-tiba saja menyelimutinya. Laura terjatuh dan tubuhnya seperti terlempar dari atas hingga membuat sekujur tubuhnya terasa sakit dan nyeri. Rasa sakit itu tidak berhenti. Bahkan ia sampai menangis karena terlalu sakit. Ia tersedu-sedu, hingga…

“Laura….” Marc menghampirinya dan langsung mendekapnya dalam pelukan erat. “Aku minta maaf, Sayang,” ucapnya lembut.

Laura memejamkan matanya. Ia sempat berpikir untuk tidak lagi membuka matanya. Ia lelah.

“Laura…, buka matamu, Sayang. Jangan pejamkan matamu. Kau harus bertahan, kau dengar? Kau harus bertahan untukku,” ucap Marc cemas dan sukses membuat Laura kembali membuka matanya.

Kemudian kegelapannya itu berganti menjadi warna cokelat kayu yang berkilau karena pantulan cahaya dari tungku perapian. Kini, matanya terbuka sempurna dan Marc ada di hadapannya, mendekapnya erat di dada telanjangnya yang bidang.

“Marc…,” panggil Laura pelan.

“Laura? Kau sudah sadar?”

“Hm. Aku… mencintaimu.”

“Ya, aku juga, Sayang. Aku juga mencintaimu,” balas Marc, dan semakin mempererat dekapannya pada Laura.

Rasanya begitu menyenangkan mendengar Marc mengatakan bahwa ia juga memcintai gadis itu. Kalimat yang mungkin tidak akan pernah ia dengar dari Marc di dunia nyata. Apakah ini hadiah terakhir sebelum kematiannya? Kalau pun iya, Laura akan pergi dengan damai karena sudah mengetahui perasaan Marc sesungguhnya. Dan mungkin ia juga mendapatkan bonusnya.

Laura merasakan kehangatan menjalar di sekitar bibirnya saat permukaan tipis itu menyentuhnya. Marc menciumnya sangat lama dan intens. Laura semakin terhanyut dan merasa dirinya semakin dekat dengan kematian. Semuanya bercampur padu.

***

Laura membuka matanya perlahan. Kepalanya masih sakit dan pusing langsung menyerangnya. Bau antiseptik yang menusuk hidung segera menyadarkannya jika ia sedang berada di rumah sakit.

“Kau sudah sadar?” tanya seorang gadis yang berdiri di sebelah ranjangnya.

“Adel?” Laura masih tampak sedikit bingung.

“Tidak apa-apa, Laura. Bagaimana keadaanmu?” Adel menyentuh lengan Laura.

“Aku tidak tahu. Apa yang terjadi?” tanya Laura, sontak mengernyitkan keningnya karena pusing yang tiba-tiba menyerangnya.

“Kau terjebak saat badai salju itu dan kata dokter kau terkena hipotermia parah. Well, kau memang sangat parah karena sampai tidak sadarkan diri selama 3 hari,” jawab Adel.

“3 hari?” Adel mengangguk, mengiyakan pertanyaan Laura.

“Kata dokter kau hampir saja mengalami kerusakan otak dan kemungkinan terburuknya kau bisa saja mati kalau Marc tidak sigap menolongmu. Well, kau harus tahu bagaimana ekspresi wajahnya saat dia membawamu ke rumah sakit. Dia sangat khawatir, kau tahu? Dia selalu menjagamu di sini. Astaga, dia sangat romantis, Laura, kalau saja kau tahu,” ucap Adel terkagum-kagum, kembali terbayang bagaimana Marc memperlakukan Laura dengan begitu baik dan gentle. Bahkan ia sendiri iri karena Dani tidak pernah melakukan seperti yang dilakukan Marc pada Laura.

“Lalu, di mana dia sekarang?”

“Mungkin pergi menemui dokter. Aku juga tidak tahu. Omong-omong, aku benar-benar berterima kasih padanya karena sudah melakukan hal yang tepat. Aku tidak bisa membayangkan akan kehilangan sahabatku di tengah badai.” Adel menatap Laura dengan prihatin.

“Melakukan hal yang tepat, maksudmu?” tanya Laura tak mengerti.

Adel menghela napas sebentar dan tersenyum misterius pada Laura. “Marc menghangatkanmu,” jawabnya singkat.

Laura menyipitkan matanya. Ia mendengar makna lain dari perkataan Adel. “Menghangatkan… bagaimana?”

“Oh, ayolah, Laura. Jangan pura-pura bodoh seperti ini. Dia menghangatkanmu dengan tubuhnya. Skin to skin, begitulah yang kudengar dari seorang wanita paruh baya yang ikut menunggumu di rumah sakit kemarin. Sangat romantis, kan?”

Adel tampak masih terkagum-kagum pada Marc. Ya, walaupun pria itu tidak pernah ramah padanya—ralat, pria itu tidak pernah ramah pada semua sahabat Laura.

Laura membelalakkan matanya. “Skin… to skin?” tanyanya, memastikan sekali lagi. Gadis itu sedikit terguncang.

Adel mengangguk dan membuat Laura seolah terlempar ke dasar lautan. Itu artinya Marc sudah melihat seluruh tubuhnya? Gadis itu seperti ingin marah pada Marc, atau mungkin pada dirinya sendiri. Tapi, skin to skin… astaga!

Adel menangkap raut tak nyaman di wajah Laura. Ia langsung menyadari kesalahannya. Tidak seharusnya ia memberitahukan pada gadis itu di saat sekarang. Laura baru saja siuman.

“Laura, kau tidak usah berpikiran yang buruk. Aku rasa Marc tidak….”

“Apa sudah cukup kau bicaranya? Kuharapkan kau tidak merecoki calon istriku lagi. Dan kalau kau sadar diri, lebih baik kau keluar dari sini sekarang juga.”

Suara tajam itu sontak membuat Adel mengkeret di tempat. Secepat kilat ia berpamitan dengan Laura dan bergegas keluar dari ruang inapnya.

Marc menghampiri Laura dan duduk di samping ranjang gadis itu. “Bagaimana perasaanmu?” tanya Marc berubah lembut dan hangat. Laura bahkan sedikit terkejut dengan perubahan sikap Marc. Tangan Marc terulur dan menyentuh kening Laura. Cukup hangat.

“Baik,” jawab gadis itu singkat.

“Jangan pikirkan ucapan Adel tadi. Kau tidak boleh berpikiran terlalu berat,” gumam Marc sembari mengusap pipi Laura.

Laura menatap lurus ke arah Marc. “Kata Adel kau melakukan…, maksudku… kau menghangatkanku saat badai salju itu. Itu artinya kau melihat….”

“Sssttt…,” potong Marc langsung. “Aku terpaksa melakukannya, Laura, demi mempertahankanmu. Hanya itu satu-satunya cara untuk membuatmu tetap hangat,” ucap Marc sembari menyentuh telapak tangan Laura dan mengecupnya ringan.

“Tapi, kau melihat semuanya, Marc.” Laura menjadi kesal.

“Hei, apa kau pikir dalam seperti kondisi itu tidak sulit juga untukku? Di satu sisi aku ingin memberimu kehangatan dan di saat bersamaan aku ingin sekali menidurimu. Aku harus menahan godaan yang cukup besar, kau tahu?”

“Dan kau memang sudah meniduriku!” sela Laura langsung.

“Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Kan aku sudah bilang aku hanya berusaha untuk tetap mempertahankan suhu tubuhmu,” bela Marc.

Keheningan menyeruak di antara mereka. Laura masih kesal, kesal pada Marc dan juga pada dirinya sendiri. Sementara Marc terus menatap dirinya.

“Kau marah padaku?” tanya Marc, memecah keheningan.

“Lebih tepatnya aku sedang kesal padamu,” jawab Laura ketus, namun nada suaranya masih terdengar parau.

“Apa aku harus minta maaf lagi?”

“Tidak. Tidak perlu. Itu sama sekali tidak perlu kau lakukan,” sergah Laura cepat.

Dan hening lagi.

Laura melempar pandangannya ke arah kaca besar yang dibingkai oleh gorden warna pastel. Ia tidak mau menatap Marc. Karena keheningan seperti ini membuatnya cepat gugup.

“Terkadang sangat sulit, kau tahu?” Marc tiba-tiba berucap dan memancing perhatian Laura.

“Sangat sulit untukku memastikan keselamatanmu karena kau selalu melemparkan diri ke sumber bahaya. Kadang kau sering bertindak tanpa berpikir dulu. Maka dari itu aku melarangmu pergi. Aku khawatir jika terjadi apa-apa denganmu di saat aku tidak berada di sampingmu,” gumam Marc melamun. Laura terenyuh mendengarnya.

“Bahkan aku sampai harus membayar orang untuk memastikan keselamatanmu dan melaporkannya secara rutin padaku hal-hal detail seperti apa yang sedang kau lakukan dan sedang bersama siapa kau. Aku minta maaf, Laura, jika semua hal yang kulakukan tidak pernah membuatmu senang atau menjengkelkanmu. Tapi, itulah caraku.”

“Kau memata-mataiku?” desis Laura.

“Agar aku bisa langsung datang jika terjadi sesuatu padamu, Laura, makanya aku sengaja menyewa orang,” jawab Marc berterus terang.

Laura tidak tahu harus bagaimana ia bersikap. Apakah ia merasa terharu karena Marc yang melakukan hal seperti itu atau ia harus marah karena dimata-matai tanpa sepengetahuannya.

“Tapi kau tidak pernah punya waktu untukku. Kau bahkan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu,” gumam Laura, mengubah sedikit topik pembicaraan.

“Well, perusahaanku mengalami sedikit malasah. Makanya akhir-akhir ini aku selalu sibuk. Aku minta maaf untuk yang ini,” kata Marc, menatap Laura dengan tatapan lembut.

“Sudahlah…, kau tak perlu lagi meminta maaf. Aku sudah muak mendengarnya, kau tahu? Kuanggap itu resiko yang harus kutanggung karena memiliki calon suami yang merupakan seorang calon pewaris perusahaan. Aku bisa mengerti,” ucap Laura sekenanya.

“Benarkah? Omong-omong soal resiko. Sebenarnya banyak sekali resiko yang harus kau tanggung setelah menikah denganku. Dan salah satu resiko terbesarnya adalah, kau akan terikat seumur hidup denganku, kau tahu? Jadi persiapkan dirimu karena sebentar lagi kau akan menjadi istri seorang calon pewaris Marquez Corp. Dan aku tertarik untuk mempercepat prosesnya.” Marc menaikkan alis matanya.

Laura menangkap maksud lain dari ucapan Marc. “Maksudmu?”

“Kita akan menikah. 2 minggu lagi.”

“APA?!”

To Be Continued…

3 thoughts on “A Fairy Tale

  1. akhirnya baru baca maaf baru sekarang
    punya pacar sibuk emang susah
    ngebayangin marc jadi direktur
    kenapa ya laura masih betah sama cowok kyk gto sibuk n gk romantis
    bagus kok critanya

    Suka

  2. Ping-balik: TWOSHOT : Once Upon A time #1 | Symphony Rita

  3. Hahay, manis sekale ffnya😅
    ff ini sedikit mengingatkan gw sama adegan di film BBF, waktu Goo Jun Pyo nyari Jan Di si tengah badai salju, manisnya adegan di ff ini gakalah sama yg si film 😂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s