The Story Of Us : Is That Love? #1

cove2r

Hai… Hai… *lambai-lambai geje* aku datang lagi sambil membawa cerita fresh yang baru keluar oven *panas kalik kalo keluar dari oven, tapi bodo ah*. Ini karangan emak tercinta aku yang bernama Nata. Kalo mau kenal, yo wess silahkan follow akun twitter @nataa_diva Happy reading ya….

Author :

@nataa_diva

Cast :

Adelaide Alessandra, Laura Amberita, Kamila Rosabel, Daniel Pedrosa, Marc Marquez, Alex Marquez, Casey Stoner

Genre :

Friendship, Relationship, Konyol, Campur aduk kayak cendol.

“ADELAIDE!!”

Sebuah suara menggelegar memenuhi ruangan kelas 12 IPS 2. Semua mata langsung tertuju ke belakang.

Adel, anak berambut hitam yang duduk di barisan belakang itu pun sontak berdiri sambil menahan malu.

“Ketiduran lagi sekarang,” batinnya lemas.

Dalam 3 kelas Adel sudah ketiduran 2 kali.

“Berdiri di depan kelas sekarang!” bentak Mr. Cal dengan muka yang mirip harimau kelaparan itu.

“Hah? Berdiri di depan? Yang bener aja,” Adel mendesah dalam hati. Biasanya ia akan membangkang pada semua guru, kecuali yang satu ini. Ia ingat dulu Casey Stoner, ayahnya, pernah dipanggil hanya karena Adel menolak disuruh menyapu sekolahan.

“Baiklah.”

Dengan lemas Adel berjalan ke depan kelas. Ia berdiri di pojok dekat lemari, mengangkat sebelah kakinya, dan… “Plopp!”

Ia meniup permen karetnya santai dengan mata terpejam dan ia lupa bahwa ia sedang dihukum di depan kelas.

“ADEL!!!”

***

“Jadi kamu kena marah Mr. Cal yang mengerikan itu?” tanya Laura tertawa puas.

“Kenapa kamu tertawa? Ini semua karena ulahmu, tau?”

“Ulahku?”

“Ya. Kalo kamu tidak mengajakku untuk melancarkan aksimu semalem aku gak perlu menahan kantuk sejak pagi.”

Laura terkekeh, “Maaf kawan, aku lupa belakangan ini jam tidurmu sangat amat berantakan.”

Adel pura-pura manyun. Lalu menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya dan tidur begitu saja.

“Malah tidur ini anak,” kata Laura kemudian keluar dari kamar dan meninggalkan Adel yang sudah terbuai mimpi entah kemana.

***

Adelaide Alessandra Stoner dan Laura Amberita Sanchez berteman akrab semenjak Adel pindah ke Australia. Mereka tinggal di Canberra dan sama-sama menyukai MotoGP. Adel cukup beruntung dirinya menjadi anak angkat dari seorang juara dunia MotoGP, Casey Stoner.

Sedangkan Laura merupakan tetangga Adel. Juga teman satu sekolahnya, dan tentu saja apapun yang dilakukan selalu berdua. Seperti saat Laura menyukai Marc Marquez, pembalap MotoGP yang hebat itu, tengah malam sambil menahan kantuk Adel menemani Laura untuk bertemu Marc.

***

Jam menunjukkan pukul 22.15 ketika pintu kamar Adel terbuka. Adel yang sedang mengerjakan tugasnya langsung terhenti.

“Adel, ayo ikut aku!” seru Laura.

“Mau ngapain?”

“Udah ikut aja dulu!”

“Gak.”

“Ayo Adel..” Laura mulai menarik-narik tangan Adel seperti seorang anak kecil merengek pada ibunya.

“Gak sebelum kamu bilang mau apa.”

“Baiklah, aku mau ke hotel. Aku mau ngasih ini ke Marc. Aku tidak tahu kamarnya dimana, dan mereka juga tidak mungkin memberitahukan padaku begitu saja. Jadi kau mau kan membantuku?” jelas Laura dengan tidak sabar.

“Ayo Adelaide! Nanti keburu malem,” desak Laura lagi.

“Iya, iya, iya. Aku ganti baju dulu,” kata Adel.

Dasar Laura. Jika sudah menginginkan sesuatu pasti tidak akan menyerah. Sama seperti dirinya. Sama-sama keras kepala.

***

Adelaide dan Laura berjalan memasuki lobby hotel. Minggu ini balapan MotoGP diadakan di Phillip Island. Kesempatan itu tidak di sia-siakan Laura. Ia tidak seperti Adel yang bisa berkeliaran dimana saja dan kapan saja.

“Selamat malam,” sapa Adel ramah.

Sang resepsionis tersenyum. “Ada yang bisa dibantu?”

“Dimana kamar Marc Marquez?”

“Kamar 393 di lantai 3, tapi saya lihat belum ada rider yang tiba disini.”

“Oh tidak masalah, aku akan menunggu. Terimakasih,” kata Adel kemudian berjalan menghampiri Laura.

Lalu mereka berdua menaiki lift ke lantai 3 dan mencari kamar 393. Semua orang sudah mengenal Adel, maka dari itu ia bisa dengan mudahnya mendapatkan informasi tanpa harus menyamar seperti fans lainnya.

***

“Oke, hampir sejam dan belum ada tanda-tanda rider itu akan kesini sebentar lagi.”

“Kita tunggu sebentar lagi ya,” kata Laura setengah memohon.

“Aku yakin rider itu tidak akan muncul sebelum aku tertidur pulas,” Adel mengeluarkan iPhone dari sakunya.

Message from Casey :

Papi pulang lusa, mami masih ingin jalan-jalan ke daerah tokyo. Kamu tidak masalah bukan sendirian satu hari lagi?

Me :

Gak apa-apa. Santai saja, lagipula ada Laura yang menemaniku. Selamat menikmati jalan-jalannya.

Casey :

Okay Sweetie. Take care and don’t forget to eat. Bye.

Adel menghembuskan nafas. Bersyukur memiliki keluarga kecil sekarang, meskipun ia hanya diangkat anak. Adel memanggil mereka dengan sebutan mami dan papi, supaya lebih nyaman, karena Adel sudah terbiasa dengan panggilan itu.

***

“Hi Marc! Aku penggemar beratmu, minta foto bareng boleh? Oh ya, aku juga membawa ini untukmu, terimalah. Ya ampun kamu keren banget Marc!”

Laura menyerocos tanpa ampun begitu dilihatnya Marc keluar dari lift.

Adel sedang melamun sehingga tidak memperhatikannya. Marc langsung direcoki Laura, entah apakah anak itu ingin melakukan modus aneh-anehnya itu pada Marc atau tidak.

“Ehm. Baiklah. Terimakasih. Dari mana kamu bisa mendapatkan kamarku?” Marc Marquez terlihat kaget. Setelah berfoto, Laura menjawab.

“Itu, dari Adel. Kenal kan? Nih bawa, aku harap kamu menyukainya. Kalo gitu aku pamit pulang dulu.”

“Adel, pulang! Udah malem! Permisi, sekali lagi terimakasih ya!”

Saat pintu lift terbuka Laura cepat-cepat masuk setelah berpamitan dengan Marc.
Sampai dibawah, sepertinya ada sesuatu yang kurang. Laura celingak celinguk mencari Adel. Ya, benar. Adel tertinggal diatas.

“Anak itu pasti akan mengomel gak karuan,” gumam Laura pelan.

Ia lebih memilih menunggu Adel di lobby daripada harus menyusulnya ke atas.

***

Adelaide tersentak kaget ketika Laura berteriak menyuruhnya pulang. Belum sempat Adel beranjak dari kursinya, Laura sudah menghilang.

“Huh! Awas aja dia, ngajak malah ninggalin,” omel Adel dalam bahasa Indonesia.

Marc menghampiri Adel. “Senang bertemu denganmu, kamu dari Indonesia?”

“Ah? Eh, ya aku dari Indonesia. Tapi udah lama pindah kesini. Maaf soal tadi,” kata Adel tiba-tiba lalu melanjutkan, “Laura yang memaksaku untuk menemaninya.”

“Oh soal itu, tidak masalah. Ngomong-ngomong, apa kamu akan datang minggu nanti?”

“Pasti, karena aku menjadi UG untuk Casey.”

Marc merasa senang. Tapi tunggu dulu, mengapa ia merasa senang dapat bertemu gadis didepannya ini lagi minggu nanti?

“Kamu kenapa?” Adel mengernyitkan alisnya.

“Tidak apa-apa,” Marc menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Sekarang udah malem, pulanglah. Temanmu juga pasti menunggu dibawah, hati-hati ya!”

“Terimakasih, sampai ketemu lagi,” Adel melambaikan tangan ke arah Marc.

Saat pintu lift terbuka, Adel buru-buru masuk. Sempat terlihat sekilas laki-laki bernama Marc Marquez itu balas melambai padanya.

Entah kenapa Adel merasa sosok itulah sosok yang paling ia cari selama ini. Sosok yang bisa melindungi dirinya, yang membuatnya nyaman, dan juga sosok yang tidak asing lagi baginya. Entahlah.

Sementara itu Marc juga merasakan hal yang sama. Tapi mungkinkah perasaan ini dapat disebut dengan…. Cinta?

Kemudian Marc membuka pintu kamar, lalu beristirahat setelah ia melewati hari yang panjang dan melelahkan itu.

***

Pagi ini, seluruh kru dan tim mekanik terlihat sibuk. Mengecek ulang motor dan memastikan semuanya beres. Disaat semua sibuk hilir mudik di paddock, Adel memilih berjalan-jalan diluar area paddock.

“Masih 2 jam lagi,” Adel melihat jam dilayar iPhone. Langkah kaki membawa Adel ke sebuah taman kecil di belakang sirkuit Phillip Island. Sejuk, tidak gersang, dengan kolam kecil dan bangku taman yang bersih.

“Ahh… indahnya,” Adel menghirup nafas dalam-dalam.

“Disini banyak polusi udara, jadi jangan tarik nafas seperti itu.”

Suara seorang laki-laki.

Adel membalikkan badan mencari sumber suara.

Dani Pedrosa. Sedang apa dia disini?

“Kamu… ngapain kesini?” tanya Adel gugup.

Sejujurnya jika Laura sangat mengidolakan Marc Marquez, dirinya juga sangat mengidolakan Dani Pedrosa. Bahkan lebih dari seorang idola.

“Memangnya ini sirkuitmu?” Dani berkacak pinggang.

“Bukan.”

“Jadi jangan melemparkan pertanyaan seperti itu padaku. Aku merasa bosan dan ingin berjalan-jalan kesini.”

“Oh.”

Dani duduk disebelahnya. Gadis ini menarik, pikir Dani.

“Mau jadi UG-ku?” celetuk Dani.

Muka Adel memerah. Adel bisa merasakannya karena mendadak saja jantungnya jadi berdebar tak karuan seperti ini. Oh my!

To Be Continued…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s