{Angel Bride} Here I’m Waiting For You [Mini FF]

PS : Ceritanya ini masih jaman-jaman saat Korea masih dijajah sama Jepang. Dan karena ini settingannya di tahun ’43 jadi jangan heran kalau semuanya masih kuno.

Jung-gu, Incheon , South Korea

25 November 1943

Incheon Station…

Hari terberatku. Aku harap hari ini tidak pernah ada. Bahkan kalau pun bisa aku ingin waktu berhenti sekarang juga. Ya, jika aku bisa, itulah yang selalu kuharapkan sejak Leeteuk Oppa memutuskan untuk menjalani wajib militernya. Dia harus menjalankannya sebagai warga negara yang baik. Tapi, sungguh, aku belum bisa merelakannya. Aku takut jika suatu hari nanti aku merindukannya dan aku tidak tahu cara menyembuhkan rinduku. Aku belum siap jika Leeteuk Oppa pergi menjalani tugasnya.

Hari ini tepat memasuki musim gugur keempatku bersama lelaki itu dan akan musim gugurku melihatnya pergi. Untuk sementara, tentu saja.

Di stasiun kereta ini, mungkin akan menjadi hari terakhirku menatap wajah malaikatnya dan aku harus menunggu hingga 2 tahun kemudian untuk menatap wajah yang sama lagi. Aku akan sangat merindukannya.

Angin bertiup sedikit kencang hari ini. Untung saja syal yang kupakai ini bisa melindungiku dari dinginnya udara musim gugur.

Leeteuk Oppa melihat jam tangannya sebentar, lalu mengalihkan tatapannya ke arahku.

“Apa kau tidak ingin mengucapkan sesuatu sebelum aku pergi?” tanyanya padaku. Bola mata Leeteuk Oppa menjelaskan bahwa dia juga memendam rasa yang sama sepertiku.

“Jaga dirimu baik-baik, Oppa,” jawabku bergetar. Dadaku seperti tertimpa beton saat mengucapkan kata-kata itu. Aku belum siap. Sumpah demi Tuhan, aku belum siap jika Leeteuk Oppa pergi.

“Baiklah. Kau juga harus menjaga dirimu baik-baik,” kata Leeteuk Oppa seraya mengacak-acak rambutku sebentar, kemudian kembali menatap jam tangannya lagi. “Aku harus pergi sekarang,” ucapnya pedih.

“Oppa….” Suaraku tertahan sejenak saat memanggilnya. Air mata yang dari tadi kutahan-tahan agar tidak jatuh pun, kini mulai membanjiri pipiku. Rasa sakit didada ini benar-benar tidak bisa kujelaskan. Sangat menyiksa. Dan parahnya Leeteuk Oppa bahkan belum masuk ke kereta yang akan membawanya dan rombongan lainnya yang juga berkewajiban menuntaskan tugas mereka, tapi aku sudah tersiksa begini.

“Hani~a…, aku hanya akan pergi selama 2 tahun. Tidak lebih. Dan… 2 tahun kemudian, aku janji setelah selesai tugasku, aku akan kembali dan aku akan menikahimu. Aku janji, Hani~a.” Aku percaya. Aku sangat percaya pada kata-katanya.

Akhirnya dengan keyakinan besar aku pun melepas Leeteuk Oppa dengan keikhlasan hatiku. Walaupun sulit, tapi aku harus meikhlaskannya.

“Aku tunggu janjimu, Oppa. Setelah kau pulang, kau harus menikahiku,” kataku sambil terisak-isak menatap wajahnya yang sedikit mengabur karena air mata yang menghalangi penglihatanku.

Leeteuk Oppa memberi sebuah senyum perpisahan dan berjalan menuju gerbong kereta. Dan sebelum masuk ke dalam kereta api, aku pun berteriak padanya, “Oppa!”

Leeteuk Oppa membalikkan tubuhnya dan aku langsung berlari dan menghamburkan diriku ke dalam pelukannya. Mungkin ini pelukan terakhir yang akan kudapatkan. Memikirkan kata terakhir dan untuk terakhirnya merupakan tamparan kuat yang menghantamku. Aku harus kuat, tekadku dalam hati.

“Hani~a…,” bisik Leeteuk. Aku merasakan sesuatu yang basah di pundakku. Lelaki ini juga menangis.

Aku menjauhkan tubuhku dan melepas syal merah yang kupakai dan menyelendangkannya ke leher jenjang miliknya. Setidaknya syal ini bisa membantuku untuk terus mengingatkannya bahwa aku akan terus menunggunya disini.

“Aku akan menunggumu pulang, Oppa,” kataku mantap. Aku sendiri sadar nada suara benar-benar terdengar begitu penuh dengan keyakinan. Kali ini dan untuk seterusnya aku akan mengikhlasnya pergi. Dia akan kembali. Pasti!

Leeteuk Oppa menggenggam tanganku dan menatapku untuk terakhir kalinya karena bunyi yang keluar dari cerobong kereta api mulai terdengar beberapa kali, menandakan jika kereta akan segera berangkat dan meninggalkan stasiun ini.

“Aku mencintaimu,” kata Leeteuk Oppa, kemudian dia membawa tanganku yang digenggamnya dan menyentuhkannya ke bibirnya.

Leeteuk Oppa pun naik ke kereta itu. Dia tidak langsung masuk, melainkan berdiri di pintu kereta dan menatapku. Lagi. Kali ini tatapan itu benar-bebar menyayat yang sarat akan tatapan perpisahan.

Perlahan-lahan kereta api itu pun mulai bergerak dan mulai meninggalkan stasiun. Tatapan Leeteuk Oppa masih terarah kepadaku, namun makin lama makin menjauh. Dan apa yang kukhawatirkan tadi memang terbukti. Aku tidak bisa tanpanya disisiku. Aku tidak sekuat yang aku perlihatkan didepan Leeteuk Oppa tadi. Aku tidak kuat, sungguh.

Tanpa dikomando kakiku pun ikut berlari menyusul kereta yang mulai meninggalkan stasiun ini.

“OPPA!” teriakku, meluapkan rasa frustasi yang benar-benar menyiksaku.

Semoga dia mendengar, semoga dia membalasku. Aku mohon. Relung hatiku semakin bergemuruh ditambah dengan bunyi kereta yang semakin mulai terdengar menjauh.

“OPPA!!!”

Tidak. Leeteuk Oppa tidak akan mendengarku.

Aku pun berhenti berlari dan menatap kepergian Leeteuk Oppa dengan perasaan yang begitu tercabik.

Namun, tak lama setelah itu…

“HANI~a…! AKU AKAN KEMBALI. AKU AKAN KEMBALI UNTUKMU.”

Dia mendengarku. Leeteuk Oppa berteriak membalasku sebelum belokan terakhir rel yang sudah tak tampak lagi. Sebuah senyuman mengembang dibibirku. Ya, aku tahu lelaki itu akan kembali. Aku akan menunggunya, disini, di stasiun yang sama.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s