Cerpen : Beautiful In My Eyes

Menikahlah denganku. Dan selamanya hanya aku yang akan melihatmu dari sudut pandangku, Hanna. Bersediakah kau?

Seorang gadis duduk di bingkai jendela kamarnya yang membawanya menghadap langsung ke arah danau buatan yang berada di depan rumahnya. Wajahnya tampak begitu muram dan sedih.

Pria itu telah kembali. Begitulah pikirannya terus bergelung. Pria itu. Entah sudah berapa ribu kali ia terus menyuarakan nama pria itu dikepalanya.

Alex, pria yang dicintainya kini sudah kembali setelah menjalani wajib militernya selama 2 tahun. Pria yang bahkan sudah melamarnya menjadi istrinya. Tapi, apa lamaran Alex pada saat sebelum pria itu menjalani wajib militernya dan bahkan sebelum kecelakaan yang menimpa dirinya itu masih berlaku? Gadis itu yakin, pandangan Alex kepadanya pasti sudah berubah.

Kejadian itu telah mengubah dunianya. Kebahagiaan yang dulunya sempat dirasakan, kini hancur berkeping-keping membentuk sesuatu yang bahkan tak berharga lagi dimata. Gadis itu tidak tahu dosa apa yang telah diperbuatnya hingga Tuhan, menurutnya begitu kejam memberinya cobaan yang begitu berat.

Dulu, ia begitu cantik. Dengan bentuk wajah yang oval memanjang kebawah yang dihiasi sepasang matanya yang begitu indah, hidung mancung dan bibir mungil yang setiap kali tersenyum akan memunculkan sepasang lesung pipi. Namun, semua itu hilang begitu saja karena kecelakaan besar yang menimpanya.

Ia bukan Hanna yang dulu lagi. Ia bukan Hanna yang dulunya cantik. Tapi, ia adalah Hanna yang sekarang mempunyai wajah seperti monster. Bahkan ia sendiri takut melihat wajahnya yang tampak begitu jelek di cermin.

Semuanya sudah hilang, dan takkan pernah kembali.

Gadis itu putus asa. Tidak ada yang bisa diperbuatnya. Hanya mengurung dirinya dikamar dan menghabiskan waktu selama 2 tahun ini dengan berdiam diri dan duduk melihat pemandangan dari atas kamarnya. Bosan. Pemandangan sebagus apa pun jika diliat terus-menerus dari hari ke hari pasti tidak tampak menarik lagi.

Pintu kamarnya berdecit terbuka saat seorang wanita paruh baya melangkah masuk ke dalam dan menghampiri Hanna.

“Alex datang, Sayang,” kata wanita paruh baya itu sembari memberi tatapan lembut pada anak semata wayangnya itu. “Dia ingin bertemu denganmu.

DEG!

Hanna tiba-tiba membeku di tempat. Dadanya sesak, seolah ada beban berat yang tiba-tiba menghimpitnya saat nama pria itu disebut oleh ibunya.

“Aku tidak ingin bertemunya, Bu. Aku malu, aku tidak pantas dilihat lagi.”

“Kata siapa?” Tiba-tiba saja seorang pria masuk ke dalam kamar gadis itu dengan sebuket bunga mawar ditangannya.

“Alex?” lirih Hanna ingin menangis. 2 tahun. Hampir 2 tahun ia tidak melihat wajah tampan itu lagi. Dan sekarang pria itu muncul dihadapannya. Alex ada disini.

“Kata siapa kau tidak pantas dilihat, hm?” kata Alex. Pria itu sudah berdiri di depan Hanna. Melihat Hanna menangis, segera saja Alex hapus air matanya dengan usapan jarinya.

“Tapi, aku jelek.”

“Apa itu mengubah pandanganku terhadapmu?” tanya Alex sembari mengusap pipinya. “Ibumu pernah mengirimkan fotomu padaku beberapa bulan setelah kau kecelakaan. Dan kau tahu? Saat melihat foto itu aku pikir tak ada yang berubah, kau tetap cantik seperti dulu.”

“Aku malu, Alex,” ucap Hanna dengan suara serak.

“Kau masih cantik, Hanna. Dan sampai kapanpun kau akan tetap cantik. Tak peduli bagaimana pandangan orang terhadapmu, aku tetap memilihmu. Apapun yang terjadi.”

“Alex, aku…”

“Menikahlah denganku. Dan selamanya hanya aku yang akan melihatmu dari sudut pandangku, Hanna. Bersediakah kau?”

“Apa aku pantas mendapat cintamu?”

“Tidak ada alasanku untuk tidak mencintaimu, Hanna. Sejak awal pertemuan kita, aku sudah jatuh cinta padamu. Sampai sekarang pun perasaan itu tetap sama. Kau akan selalu menjadi gadis tercantik yang pernah kutemui. Kau tahu kenapa? Itu karena aku mencintaimu. Kau mau?” tanya Alex sembari memegang kedua sisi wajah Hanna.

“Hm, Ya. Aku bersedia, Alex,” jawab Hanna dengan tangis bahagia yang kembali pecah.

Cinta sejati tidak memandang fisik. Sejelek dan sehina apapun dirimu, Tuhan tidak pernah meninggalkanmu. Ia merancang semuanya untukmu. Ia menciptakan seseorang yang akan menemanimu, menerimamu apa adanya, tanpa memandang rendah dirimu. Ia memang melihatmu, tapi orang itu melihat melalui mata hatinya.

END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s