Cerpen : Rumahku Adalah Rumahmu…

 Jangan Rusak Alam Kita :

Rumahku Adalah Rumahmu…

Karya : Rita

Deru mesin berputar terdengar di dalam sana. Seperti biasa mungkin, pikirku dalam hati. Tapi, setiap mendengar deruan gerigi itu merongrong, menembus kerasnya batang-batang berimbunan di dalam sana membuatku sedih. Ada rasa tercabik, seolah ada ribuan jarum yang berlomba-lomba mengepung tubuhku, lalu satu per satu menusuk ke ulu hatiku.

 Tepat 2 bulan yang lalu, aktivitas penebangan itu terus berlanjut seolah tak terbendung hingga sekarang. Jujur, aku sangat marah kepada mereka semua. Pohon-pohon itu tidak seharusnya diambil!

Percikan air mengenai wajahku saat piring-piring yang baru saja kusabuni itu mulai kubilas satu per satu. Tanganku memang bekerja, tapi pikiranku melayang ke dalam hutan yang dulunya lebat dan hijau, tapi berubah menjadi tanah gersang yang menyisakan debu-debu kering.

Aku, Nafael Pratama, bocah berumur 11 tahun yang hidup dibawah garis kemiskinan bersama seorang perempuan yang ditinggal pergi oleh suaminya. Aku tidak pernah menyesal lahir di keluarga ini, malahan sangat bersyukur walaupun hidup serba berkekurangan.

Setelah selesai mencuci, aku pun masuk ke dalam rumah dan… suara itu masih saja terdengar.

Dulu, sebelum tempat itu dijadikan daerah penebangan liar, disanalah tempatku bermain bersama kelinci-kelinci yang berlari bebas di atas rumput lembab, tempatku menikmati terpaan angin sejuk dan ditemani nyanyian indah burung-burung yang berterbangan di udara. Disanalah rumah keduaku, tempatku menghabiskan masa-masa indahku. Tapi, sekarang apa? Apa yang telah mereka lakukan terhadap rumahku? Bahkan sekarang ibu melarangku mendekat ke sana. Katanya daerah itu tidak boleh lagi dimasuki dan sangat berbahaya. Aku rindu suasana hutan. Hm, mungkin aku harus pergi ke sana. Ya, inilah waktunya mumpung ibu belum pulang.

Jarum panjang di dinding pondok reotku menunjukan angka 5. Sepertinya tidak masalah jika aku pergi sebentar. Lagipula semua pekerjaan rumah sudah kuselesaikan sesuai pesan ibu sebelum berangkat ke kebun tadi.

Aku pun meninggalkan pondok yang beratapkan helai-helaian daun nipah yang di bingkai sedemikian rupa. Dengan beralaskan sendal yang berbeda warna, yang diberikan oleh ibu ketika pulang dari kebun sebulan yang lalu. Tak apalah, daripada tidak ada alas kaki sama sekali. Walaupun jelek yang penting masih bisa dipakai.

Kakiku menuntunku membelah rerimbunan hutan. Suara itu semakin terdengar jelas. Tak hanya itu, bau menyengat cairan oli pun tercium. Samar-samar kulihat dari kejauhan orang-orang berlalu-lalang, kesana-kemari.  Bahkan truk besar pengangkut pun terlihat keluar masuk dari jalur yang mereka buat sendiri.

Aku bersembunyi dibalik semak-semak, dan mulai menyaksikan bagaimana orang-orang itu mengoyak batang-batang keras itu dengan tajamnya gerigi mesin yang mereka gunakan. Serpihan bekas penebangan itu pun berterbangan membentuk simfoni kesedihan. Mataku kemudian beralih ke tanah gersang yang tak terlindungi lagi. Tinggal debu dan lingkaran-lingkaran batang yang mulai menghitam dan mengering.

Sesak. Rasanya sakit sekali menyaksikan pemandangan di depanku. Batang per batang pohon itu di tumbangkan, kemudian di gergaji lagi menjadi bentuk-bentuk persegi panjang lalu diangkut ke atas truk. Bahkan ada juga batang-batang besar yang diangkut langsung dengan kendaraan berat.

Miris. Entah apa yang kupikirkan saat itu. Hanya bisa bergelung di dalam kesedihan. Serasa di remas dari dalam, hatiku ingin sekali berteriak agar aktivitas itu dihentikan. Tapi apa daya? Aku hanya bisa duduk diam, menyaksikan kegiatan mereka yang haus akan uang dari balik semak-semak ini.

Seberkas cahaya keemasan mulai muncul diufuk barat, meninggalkan jejak-jejak oranye dilangit. Bahkan sepertinya langit pun tidak ingin kalah menghiasi meganya dengan suasana mendung. Jadilah langit senja ini dibaluri oleh langit kelabu.

Perlahan-lahan orang-orang itu pun meninggalkan aktivitasnya, menghilang satu per satu dan menyisakan serpihan-serpihan kayu yang menangis disana. Kakiku menuntunku maju, mendekat ke arah bekas penebangan tadi. Aku berhenti di sebuah lingkaran batang yang tak lagi simetris dan aku pun jatuh terduduk diatasnya.

Lama aku terdiam, masih belum percaya dengan apa yang kulihat. 2 bulan yang begitu cepat berubah. Rumahku… apa yang telah mereka perbuat terhadapnya? Tuhan… kenapa bisa menjadi seperti ini?

Aku menatap langit, seolah meminta tolong. Tapi langit tetap menjadi gelap berkelabu, dan terpaan angin membuatku bergidik. Apa yang harus kulakukan?

Aroma hujan yang jatuh menjadi latar mengiringi kesedihanku, seakan langit pun tahu apa yang sedang kurasakan. Jika langit bisa berbicara, aku yakin ia akan marah. Tapi seakan tuan yang tak punya kuasa, ia hanya bisa mengucapkan turut berduka cita.

Dulu, tempat ini adalah surgaku, tapi lihatlah apa yang sudah mereka lakukan? Pohon-pohon yang dulunya melindungiku dari panasnya matahari, kini telah hilang di telan oleh gelapnya hati mereka. Apa mereka mencoba membunuhku? Kalau pun iya, bukan hanya aku yang akan mati, tapi mereka pun juga akan mati. Ibarat pisau yang mereka asah untuk mencari kilauan harta, tapi mereka jugalah yang akan merasakan goresan tajamnya.

Lama aku duduk di bongkahan kayu ini, memegangi serpihan bekas penggergajian tadi. Lalu, aku mendengar derap langkah kaki yang mendekatiku dari belakang. “Astaga, Nafael! Apa yang kau lakukan disini? Kan Ibu sudah pernah bilang kepadamu bahwa jangan pernah kau masuk ke daerah ini!” seru ibuku.

Aku terkejut mendapati ibuku sudah berdiri di hadapanku. Pasti beliau akan marah besar kepadaku. Aku pun bangkit dari posisi dudukku. Kepalaku menunduk seketika, takut menatap mata ibu yang mengarahkan tatapan tajamnya kepadaku.

“Sekarang juga ikut ibu pulang!” tegas ibu tanpa ingin berkompromi.

“Aku tidak mau,” jawabku kemudian mundur selangkah ke belakang.

“Nafael!”

“Memangnya kenapa, Bu? Apakah salah jika aku ingin bermain-main disini? Lagi pula aku juga sudah lama tidak menginjakkan kakiku disini. Aku rindu dengan suasana hutan,” belaku.

“Sekarang semuanya sudah berubah, Nak. Ibu mau sekarang juga kau pulang. Disini bukan tempatmu lagi,” ucap ibu sedikit frustasi.

“Aku tidak mau, Ibu! Aku….”

“Nafael! Jangan mempersulit keadaan. Ibu tahu kau mencintai hutan, tapi untuk sekarang jauhi tempat ini. Apalagi dengan aktivitas penebangan hutan yang dilakukan oleh orang-orang itu. Jika kau ketahuan mendekat ataupun sedikit saja mengganggu pekerjaan mereka, habislah riwayatmu,” cecar ibu.

“Apa kau tidak lihat tetangga kita, Pak Kusman dikeroyok oleh para penjaga mereka karena ketahuan mengintip ke daerah ini? Ibu takut jika….” Ibu menghentikan ucapannya. Kulihat setetes air bening jatuh dari pelupuk matanya.

“Ibu…,” panggilku lirih.

“Ibu hanya tidak ingin sesuatu terjadi padamu, Nak. Ibu takut kau kenapa-kenapa,” ujar ibu sedih.

Ibu kemudian mendekatiku, lalu memegang pundakku. Mata senduhnya menatapku penuh arti. Mataku pun juga berkaca-kaca. Lapisan bening itu mendesak keluar.

“Tapi mereka telah merusaknya, Bu. Rumahku, kehidupanku! Apakah aku tidak berhak marah melihat rumahku dihancurkan? Aku tidak rela, Bu!” Gejolak emosi di dalam diriku meledak. Marah. Aku sangat marah kepada orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu. Berani-beraninya mereka menghancurkan alamku. Tidakkah mereka tahu bahwa ini juga akan mengancam hidup mereka?

“Coba Ibu lihat ke sekeliling Ibu. Apakah Ibu melihat makhluk-makhluk  kecil yang berlarian diatas rumput yang dulunya lembab? Apakah Ibu bisa mendengar kicauan burung yang dulunya bebas berterbangan di udara? Mereka semua tak ada lagi, Bu. Mereka semua sudah mati karena tempat tinggalnya dihancurkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab itu!”

Usapan tangan ibu di bahuku seolah-olah menyuarakan kata pasrah. Oh… entahlah. “Sudahlah, Nak. Kita hanya orang kecil, tidak ada yang bisa kita perbuat,” ucap ibu perih.

Mendengar perkataan ibu tadi, entah kenapa kemarahan semakin memuncak. Apa orang kecil tidak berhak melawan orang-orang besar yang hanya mementingkan isi perut mereka?

“Bu, bukan berarti mereka orang besar jadi mereka bisa berbuat seenak hatinya? Lihat gedung-gedung tinggi diluar sana? Darimana mereka mendapatkan kayu untuk menopang fondasi bangunan itu? Semuanya dari alam kita, Bu. Dan lihat apa yang telah mereka perbuat di dalam sana? Hanya kekejian dan keegoisan diri mereka yang mereka tunjukan. Lalu, bagaimana dengan nasib orang-orang kecil seperti kita?” tanyaku mengebu-ngebu.

“Ibu mengerti perasaanmu, Nak. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Biarkan saja alam yang membalasnya.”

Mereka memang tidak bisa berbuat seenak hatinya. Jika terus-terusan batang-batang pohonku diambil, apa yang akan terjadi nantinya? Siapa yang akan menderita? Semua orang! Bahkan makhluk hidup yang bukan manusia pasti juga ikut menderita.

“Bu, jika alam murka, bagaimana nasib kita dan nasib orang-orang yang tidak bersalah diluar sana? Apa Ibu ingin mati sia-sia hanya karena tangan jahil mereka? Apa Ibu pernah berpikir bagaimana mereka memperlakukan kita rakyat kecil seperti sampah? Bu, jika mereka saja tidak bisa memimpin diri mereka sendiri bagaimana mereka bisa memimpin ratusan juta jiwa dan juga ribuan hektar lahan yang hidup di negeri ini? Hanya karena keserakahan mereka, kita yang menjadi korbannya, Bu. Aku tidak ingin hidup seperti ini, hanya pasrah pada keadaan!” Aku merasa suara bergetar, menahan isak tangis yang ingin pecah. Tapi aku menahannya. Aku tidak ingin menangis di depan ibu.

Ibu meraihku ke dalam pelukannya. Punggungku diusapnya penuh sayang. Ada rasa damai direlungku. Seakan pelukan ini meredam kemarahanku.

“Ibu tahu kau punya tekad yang kuat, Nak. Dunia ini bisa saja kau ubah asal kau bersungguh-sungguh. Kelak jika dewasa nanti, jadilah orang besar dan pimpinlah rakyat di negeri ini. Ibu pecaya padamu,” bisik ibu tepat ditelingaku.

“Iya, Bu. Aku berjanji akan mengubah dunia ini dengan tanganku. Aku akan menjadi pemimpin yang bertanggung jawab pada rakyat dan alamku. Takkan kubiarkan lagi orang-orang seperti mereka merusak rumahku.”

Membayangkan diriku berdiri tegak, memimpin banyak orang membuatku semakin menguatkan tekadku menjadi orang besar. Tidak ada yang tidak mungkin jika kita percaya dan punya tekad yang kuat. Aku yakin suatu hari nanti aku akan menjadi seorang pemimpin. Ya, aku akan membuktikan kepada ibu.

“Ya sudah. Kita pulang sekarang ya. Hujannya juga sudah mulai lebat,” ujar ibu. Aku mengangguk setuju, lalu ibu pun membawaku pulang bersamanya ke rumah yang sesungguhnya.

-SELESAI-

One thought on “Cerpen : Rumahku Adalah Rumahmu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s