Cerpen : Flying Piano

Author : Rima Angelina

Jika kamu percaya pada dirimu sendiri, sekecil apapun harapan itu, Tuhan pasti mewujudkannya. Aku percaya mimpi bisa jadi kenyataan, karena itu yang selama ini kulakukan, berharap dan berdoa setiap aku menutup mataku. Jika kau ingin harapan itu terkabulkan. Dengan usaha, tentu saja!

Hidup tidak pernah adil untuk semua orang, itu benar. Takdir selalu berjalan beriringan dengan mengalirnya darah kalian. Hidupku jauh dari garis kesempurnaan. Aku bukan ratu, aku bukan putri, dan aku bukan orang yang spesial. Aku hanya gadis usia 11 tahun yang hidup di rumah seorang diri. Tidak ada orang tua, saudara, dan siapapun. Mungkin kalian berfikir ini menyedihkan. But… easy going, guys! aku selalu berfikir dewasa dan sedikit memaksa otak dan mentalku untuk memahami segala garis takdir yang tak dapat kuubah.

Karna takdir permanen.

***

Aku merasa hidupku sudah cukup sempurna dengan segala kekuranganku. Aku selalu melakukan aktifitas yang menurutku baik, aku senang membuat orang-orang tersenyum melihat penampilanku mengamen di sudut kota setiap harinya, lebih tepatnya bernyanyi. Walau aku tidak sekolah setidaknya aku masih bisa melakukan hal-hal yang berguna.

Setelah mengucapkan terimakasih pada orang-orang yang menonton diriku bernyanyi, aku bersiap untuk pulang. Di perjalanan pulang aku melewati toko alat musik seperti biasa. Aku berhenti disudut toko dan melihat setiap inci barang-barang disana. Sebenarnya aku selalu memperhatikan piano berwarna emas yang benar-benar membuat aku terpesona. Piano itu benar-benar indah, dan aku benar-benar ingin mencoba piano itu.

Aku memejamkan mataku mulai berkhayal dan berharap. merasakan diriku memainkan piano emas itu dengan cantik, semua orang terkesima, dan aku tersenyum. Panggung yang elegan, gaun indah seperti putri, penonton yang besorak kepadaku, memberi bunga dan penghargaan. Ssstt… Aku memang panghayal yang tinggi. Tuhan, aku yakin ada saatnya aku akan merasakan kebahagian yang telah kuciptakan sendiri.

“Hey, Nona. Kenapa kau melamun?’’ Seseorang mengagetkanku. Aku menoleh dan mendapati pemilik toko itu tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumannya lalu menatap piano itu yang dengan agungnya bersandar disana.

“Berapa harga piano itu, Tuan?’’ aku menunjuk letak piano itu berada tanpa mengalihkan pandangan pada pemilik toko dan aku melihat reaksinya yang bingung.

“Panggil aku kakek saja. Maksudmu piano itu? Maaf, itu sudah ada yang membelinya.’’

“Kapan piano itu dibawa?’’sulit sekali mengatakannya, tapi aku harus sanggup

“Sebentar lagi pemiliknya akan menjemput piano ini bersama keluarganya.”

“Siapa yang membeli piano ini? Pasti musisi? memakai mobil mewah? atau pria berjas?” aku bertanya dengan tergesa-gesa, pertanyaan yang tidak masuk akal. Pastilah pemiliknya punya masa depan yang indah, mana mungkin orang sepertiku memiliki piano berkelas ini.

“Ya, kau benar. Pemiliknya adalah pria yang berjas. Ia punya label musik dan sedang membutuhkan piano untuk musik Internasional.”

“Kakek merasa bangga sekali, piano yang kakek jual ini akan di bawa ke Hollywood dan akan disentuh dengan orang-orang yang mendunia.” Kakek itu menatap piano itu dengan mata berbinar-binar, seolah sedang membayangkan bagaimana pianonya nanti di mainkan oleh orang-orang besar.

“Kenapa pemiliknya memilih piano ini, Kek? Maksudku dia pasti orang besar dan ia bisa mendapatkan piano apapun yang ia mau.”

“Pria itu mengatakan jika piano itu telah menyilaukan matanya, ia bilang piano itu begitu mempesona,” ucap kakek itu.

“Benarkah? boleh aku memainkan piano ini sebelum dibawa ketempat yang tidak dapat manusia persimpangan jangkau?” Kakek ini lagi-lagi menatapku bingung.

“Kau menyukai musik, Gadis kecil”

“Tentu. Musik adalah jemari halus yang mengetuk hati.”

“Oh…, Nak, kau begitu misterius. Oke silahkan, kau boleh mencobanya.” Kakek itu menarikku ke samping piano dan mendudukkanku di bangku.

Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, setelah itu aku harus merelakannya karena piano ini akan mendapatkan kesuksesannya juga. Piano ini akan merasakan bagaimana semua orang bertepuk tangan untuknya. Aku harus merelakan semua yang kusayangi pergi.

Aku menatap langit, dan merasakan awan yang menjadi gelap, langit terasa berkelabu, dan terpaan angin yang begitu kecang ditubuhku. Akhirnya air turun dari atas langit membasahi kota sampai kesudutnya.

Jariku masih menari-nari diatas piano, menekan setiap tuts-tutsnya hingga menjadikan nada berirama . semakin kencang hujan menembus setiap sudut tubuhku, dentingan piano yang aku mainkan semakin cepat.

Aku Barbella Angelina, hidup tanpa orang tua, dan selalu merasa sendiri dihidupnya. Bertahan hidup dengan mengharapkan koin yang dijatuhkan orang-orang, agar dapat memperbaiki hidupku yang kurang beruntung.

Aku menutup mata dan hatiku, merasakan air hujan mengantarkanku ke dunia mimpi.

Tuhan…
Apa kehidupanku akan berubah?
Apa hujan ini dapat menjadi pelangi hariku?
Apa awan gelap dapat berubah menjadi cerah dalam hidup kelamku?
Atau…
Awan gelap akan terus menjadi hitam?
Atau angin akan menjadi badai?
Aku harap gelap ini akan habis, aku harap cahaya terang menolongku…

Khayalan tinggiku harus di tinggalkankan, ini adalah kenangan terindah yang akan selalu kuingat dengan piano ini. Piano terindah.

Kubuka mataku perlahan, dan saat mata ini telah terbuka sepenuhnya, aku merasakan pencerahan yang begitu cerah…
Aku melihat begitu banyak manusia yang mengelilingiku, mereka tersenyum seperti malaikat dan bertepuk tangan layaknya aku adalah orang besar.

Lalu, satu diantara mereka berjalan mendekat, aku mulai sadar siapa dia, pria berjas itu berkata, “apa kau mau menjadi pianis besar? Aku bisa mewujudkannya.” Tangis bahagia mengalir dipipiku

Ternyata tuhan benar-benar mewujudkan mimpiku.
Tuhan benar-benar meredakan hujan yang turun.
Tuhan mengubah langit hitam menjadi pelangi.
Tuhan benar-benar mencerahkan hai-hari ku.

Jadi, garisi harapan kalian dialiran darah kalian…

END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s