Bieber Story : Sorry My Son

Genre : Family

Cast : Justin Bieber and his family

Rated : K+

Author : Noni Safitri

“Mom?”

“Hmm?”

“Apa benar aku dilahirkan karena terpaksa?”

“Ehh?”

“Apa itu benar, Mom?”

Pattie mengernyit heran. Pertanyaan yang terlontar dari mulut seorang anak lelaki berusia 10 tahun itu terasa janggal di telinga dan membuatnya terdiam dari aktifitasnya merangkai bunga.

Pattie bangkit dari kursi taman dan segera menghampiri Justin Bieber, satu-satunya penerus keluarga Bieber, yang tengah termenung di ruang keluarga yang langsung terhubung dengan taman belakang tempat Pattie merangkai bunga.

Dielusnya rambut coklat karamel milik anak semata wayangnya, “Mengapa kau bertanya seperti itu, Sayang?”

“Kelihatannya seperti itu. Kalau tidak terpaksa, mengapa Dad membenciku?” pertanyaan retoris sang Bieber junior yang cukup membuat ibunya shock.

“Memangya siapa yang mengatakan Dad membencimu, hm?”

“Tidak ada,” Justin berfikir sejenak, “Tapi Dad selalu menghukumku dan menyiksaku. Setiap berlatih akting, bila aku melakukan kesalahan sedikit saja, Dad pasti menghukumku. Mom lihat saja sendiri.”

Justin menyingkap lengan baju panjangnya, memperlihatkan ruam-ruam yang mulai membiru di permukaan lengannya. Kontras sekali dengan kulitnya yang putih.

Pattie terbelalak miris melihat kondisi anaknya, “Astaga! Sejak kapan?” Dengan panik, diraihnya kotak yang berisi peralatan dan obat. “Oh Sayang, mengapa bisa seperti ini?”

“Sebulan yang lalu, tapi yang di lengan ini baru tiga hari yang lalu. Yang lain-aww!”

“Tahan sebentar,” interupsi Pattie. Terlihat sebuah kain putih tipis dikeluarkan dari kotak tadi. Lalu Pattie mengoleskan luka yang masih baru dengan alkohol ke permukaan lengan anaknya yang terdapat memar dan luka baru.

Sambil meringis, Justin melanjutkan, “Yang lain sudah mulai mengering, hanya saja bekasnya masih terlihat.”

Setelah selesai, tetap ditekankannya kain putih tersebut pada bagian-bagian luka di lengan Justin, tak berapa lama Justin sudah tidak meringis sakit.

“Nah, selesai.” Pattie merapikan kembali letak lengan baju milik Justin, “Sekarang, ceritakan pada Mom apa yang terjadi selengkapnya,” ucap Pattie dengan nada sedikit mengintimidasi.

Bukan apa-apa, ia hanya ingin putranya jujur atas apa yang terjadi sebenarnya. Namun, diamatinya putra kesayangannya dengan tatapan lembut seorang ibu.

“Tiga hari yang lalu, Dad mengajakku berlatih akting, katanya aku selain bernyanyi, harus bisa berakting. Tentu saja Dad yang berperan sebagai lawan mainku. Kami berlatih dari pagi hingga sore. Aku sudah terlalu lelah melaksanakan perintah dari Dad, tapi dad tetap memaksaku untuk terus berlatih. Aku ingin menyudahi latihanku berakting, tapi setiap aku akan bicara, Dad selalu saja menatapku dengan tatapan yang mengerikan,” Justin sedikit bergidik dalam ceritanya.

“Aku tidak berani melawan perintah Dad, tapi aku juga tidak sanggup jika harus selalu mengikuti kemauan Dad. Aku sudah tidak sanggup lagi, Mom, aku lelah.” Nafas Justin sedikit memburu.

Terlihat kilatan emosi di mata hazelnya. Pattie mengelus punggung Justin, membiarkan sang anak mengatur nafasnya sebelum melanjutkan kembali ceritanya, “dan saat itu, tanpa kuduga Dad memukulku tiba-tiba. Saat itu aku sedang lengah, aku tidak bisa menangkal pukulan mendadak itu.” Justin menjulurkan lengannya kembali tanpa membuka penutupnya, “Seperti yang Mom lihat tadi.”

“Oh, Justin sweetheart,” air mata Pattie yang sejak saat Justin menceritakan kejadian itu sudah menggenang pelupuk matanya, kini meluncur dengan derasnya, “Mengapa tidak kau ceritakan pada Mom dari lama?”

Justin merundukan kepala, “A-aku tidak ingin Mom sedih.” Ia tahu apa yang dilakukannya justru membuat ibunya tambah sedih.

“Justin sayang.” Pattie merengkuh kedua belah pipi anak lelakinya. Justin mau tidak mau mendongakkan kepalanya, terlihat cairan bening memudarkan pandangannya, “Dengarkan Mom baik-baik. Dengan kau tidak menceritakannya pada Mom dan Mom mengetahuinya setelah tubuhmu penuh luka begini, justru itu membuatku sangat sedih. Mom merasa sangat berdosa padamu. Aku telah melalaikan kewajibanku. Aku gagal menjadi seorang ibu yang baik. Aku merasa amat buruk, kau tahu?”

Hening sejenak. Keduanya sama-sama terdiam. Hanya suara isak tangis yang terdengar di ruangan, “Kau menyakiti hatiku. Apakah kau tidak memercayaiku sebagai teman untuk berbagi cerita? Mengapa kau memendamnya sendiri, Nak? Apa kau tidak sayang lagi pada Mom-mu ini, Justin?”

Justin tercekat mendengar penuturan ibundanya, “Mom…”

“Justin Drew Bieber, dengarkan mom. Mom sayang padamu. Begitu juga Dad. Kami semua sangat sayang padamu. Tidak pernah ada kata terpaksa saat melahirkanmu ke dunia ini, itu hal yang sangat mustahil. Jangan pernah sekali lagi kau berfikir begitu.” Wanita paruh baya itu mengusap air matanya yang terus meleleh.

“Mom, maafkan aku,” Justin ikut terisak.

“Dad bertindak begitu bukan tanpa alasan. Ia hanya ingin anak lelakinya menjadi lebih hebat. Ia ingin menjadikanmu lebih terkenal. Hanya saja caranya salah.”

Diusapnya air mata sang ibu. Dipeluknya tubuh ibunya dengan erat sambil tidak henti-hentinya menguapkan kata maaf, “Maafkan aku. Aku menyayangimu, Mom. Aku hanya tidak ingin kau khawatir.”

“Perlu kau ketahui, Nak, kau adalah anugrah terindah dalam kehidupan kami. Kehadiranmu di dunia adalah momen yang sangat berharga yang akan selalu kami syukuri. Tidak pernah sedetik pun terlintas di benak kami akan sesuatu hal yang buruk menimpamu, tidak pernah. Seberapa pun lelahnya kami akan selalu ada untukmu, Justin. Aku dan Dad-mu akan terus dan selalu menyayangimu. Kau harus ingat itu, nanti Mom akan bicara pada Dad-mu.”

Justin tergugu di pelukan sang ibu, “Ya, mom.”

“Apapun yang terjadi padamu, kau harus berterus terang. Mom tidak ingin lagi mendapati kau dalam keadaan seperti ini, terlebih kau mengatakannya saat kejadiannya sudah berlangsung lama. Akan sangat menyakitkan bagiku bila mengetahui anakku kesakitan tanpa aku bisa mengobati rasa sakitnya. Kebahagiaan kami adalah melihatmu bahagia, kesedihanmu adalah sakit bagi kami. Kau paham itu, Sayang?”

“Ya, Mom, aku mengerti. Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji ini yang terakhir kalinya,”

“Maafkan Mom juga, Justin,” Maafkan aku yang sering mengabaikanmu, lalai terhadap kewajibanku sebagai ibumu.

Dieratkan pelukannya pada sang ibu, “I love you, Mom.”

Dikecupnya kening sang buah hati, “I love you too, Sweetheart.” Aku mencintaimu dan akan terus mencntaimu sampai aku di surga nanti, anakku.

Suasana mengharu-biru di tengah ruang keluarga yang megah. Sepasang ibu dan anak lelakinya larut di dalamnya. Tanpa mereka berdua sadari, sepasang mata sewarna dengan Justin mengamati kilasan kejadian yang sangat jarang terjadi di kediamannya yang sepi dan terkesan dingin. Sang pemilik mata tampak terenyuh oleh ucapan sang istri dan juga merasa bersalah akan apa yang selama ini dilakukannya pada anak semata wayangnya yang sama sekali tidak ia duga bahwa itu membawa luka tersendiri bagi sang anak. Ia merutuki kebodohan yang ia perbuat. Sungguh, ia merasa amat berdosa terutama pada anak yang nyatanya selama ini menjadi korban keegoisannya. Dalam hatinya, Jeremy Bieber menangis, “Maafkan aku, Justin. Aku menyayangimu.”


END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s