Sepasang Sayap di Langit Tertinggi

merpati

Tuhan menciptakan manusia yang dilengkapi dengan sebuah sayap dibelakang tubuhnya. Laki-laki disebelah kanan dan perempuan disebelah kiri. Lalu, jika ingin terbang, menyongsong birunya langit, bukankah mereka harus bersatu, menyatukan dua sayap itu menjadi satu hingga membentuk sepasang sayap?

Aku mempunyai sayap, yang tercipta 20 tahun yang lalu. Saat tercipta sayapku lemah, butuh perlindungan dan aku mendapatkannya dari penciptaku. Penciptaku merawatku, menjagaku hari demi hari hingga sayapku menjadi kuat dan kokoh, bahkan sekarang aku bisa mencari sayap kananku.

Aku mencarinya, terus mencari. Sampai suatu hari aku menemukan sayap itu. Kami bersatu membentuk sepasang dan mencoba untuk terbang. Gagal. Bahkan ini pun belum sampai setengah langit tertinggi. Dia bukan sayap kananku. Aku terjatuh. Tubuhku membentur tanah keras, rasanya sakit sekali dan aku sadar sayapku terluka.

Butuh berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk menyembuhkan luka sayapku. Hingga suatu hari, aku kembali menemukan sayap lagi. Kami pun bersatu kembali dan mencoba terbang ke langit. Kami berhasil. Aku pikir mungkin inilah sayap kananku, sayap yang kutunggu-tunggu. Namun, yang namanya berjuang pasti ada rintangan yang harus dilewati.

Kami terbang, semakin tinggi, tinggi dan hampir mencapai langit tertinggi. Namun, ada badai disana dan kami harus melewatinya agar bisa mencapai langit itu. Kami pun menerobos badai itu, berputar-putar mengikuti arahnya sampai aku merasa ada celah disayap kami. Perlahan-lahan, entahlah siapa yang memulainya sayap kami terlepas hingga terseret angin. Hal terakhir yang kullihat sebelum aku jatuh membentur tanah keras untuk kedua kalinya, pemilik sayap kananku hilang ditelan angin.

Sakit. Aku terjatuh kedua kalinya. Sayapku terluka sangat parah dan lebih parah dari kejatuhan yang pertama. Menyakitan sekaligus kecewa. Kami hampir sampai ke langit tertinggi, tapi badai itu telah memporak-porandakan sayap kami. Untuk kedua kalinya aku merasakan kejatuhan. Apakah ada untuk ketiga kalinya?

Aku mulai tidak percaya pada langit tertinggi itu. Kuanggap itu omong kosong belaka. Tak kan ada yang bisa mencapai langit itu. Mustahil!

Jika orang berlomba-lomba mencari sayap mereka, tetapi tidak denganku. Untuk kedua kalinya aku merasakan sakitnya dan aku bersumpah, tidak ada untuk ketiga kalinya. Karena aku tidak akan mencari lagi, mencari sesuatu yang pada akhirnya akan membuatmu sakit dan terluka.

Waktu terus berjalan. Aku melihat salah satu temanku telah mencapai langit tertinggi. Wow! Hebat sekali dia. Namun, aku tidak urungkan niatku untuk tidak mencari lagi. Cukup begini saja aku hidup, menikmatinya hanya dengan satu sayap dibelakang tubuhku.

Aku tidak mencari, tapi dia datang mencariku. Ada sayap kanan lagi dan bentuknya sangat indah sekali. Berkilauan terkena pantulan cahaya surya. Sayap itu ingin bersatu denganku. Sejenak aku ragu dan berpikir, apakah aku akan terjatuh untuk ketiga kalinya jika mencoba dengannya?

Dia menyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja dan kami akan sampai dilangit tertinggi dengan sepasang sayap ini. Aku ingin mencoba, tapi rasa takut juga menghampiriku. Aku takut terjatuh. Aku takut merasakan sakitnya lagi. Butuh waktu lama untuk memulihkan.

Dia terus menyakinkanku dengan berkata, “kau hanya butuh keberanian dan terus mencoba. Jika kau takut, kapan kau akan melihat langit tertinggi?”

Benar juga katanya. Jika aku tidak punya keberanian, kapan aku akan melihat langit tertinggi? Setidaknya aku harus mencobanya dan jatuh ada resikonya. Ya, keberanian adalah kunci untuk melihat langit itu. Dan aku butuh kunci itu untuk menyongsong masa depanku.

Tangannya terulur kepadaku. Dengan ragu aku menerimanya dan saat itu juga aku yakin aku bisa mencapai langit tertinggi karena genggaman pemilik sayap kanan itu terasa begitu menyakinkan.

Perlahan tubuh kami yang menjejaki bumi pun naik, yang disambut terpaan angin lembut. Kami terbang dan kulihat ternyata bukan hanya kami saja yang ingin mencoba sampai ke langit tertinggi itu. Banyak sekali sepasang sayap yang mencobanya. Aku melihat ada sepasang sayap yang terbang bahkan belum sampai setengah langit, pasangan sayap itu terbelah, lalu terjatuh dan membentur tanah keras. Lalu, aku juga melihat ada sepasang sayap lagi yang mencoba menerobos badai. Mereka hampir berhasil, namun pada akhirnya harus terbelah juga dan jatuh. Sejenak aku merenung, bukankah aku pernah mengalami hal seperti itu?

“Siap-siap,” aku tersentak mendengar pemilik sayap kanan itu bicara padaku. Aku tidak mengerti maksudnya, sampai aku merasakan ada pusaran angin menerpa ke arah kami yang semakin lama semakin kuat. Oh, tidak! Badai itu ada didepan kami!

Kami pun menerobos badai itu. Ada ketakutan yang terselip didiriku. Takut jika nantinya aku terjatuh lagi.
“Kau harus percaya jika kita bisa melewati ini,” kata pemilik sayap kanan itu lagi. “Dengan keyakinan besar, kita pasti bisa keluar dari badai ini.”

Aku memejamkan mataku. Percaya dan yakin. Aku pasti bisa melewati pusaran badai ini bersama pemilik sayap kananku ini. Ya, aku pasti bisa.

Aku merasakan badai itu menerjangku. Begitu kuat sampai aku kira sayapku akan terpisahh dari sayap kananku itu. Dan ternyata sayap kami baik-baik saja. Malahan aku merasa sayap kami sangat kuat menghalau badai itu.

“Bukalah matamu.” Suara lembutnya membuatku tersentak lagi. Aku membuka mataku dan… apa yang kulihat benar-benar diluar perkiraanku. Menakjubkan. Inikah yang disebut langit tertinggi itu?

Ribuan peri yang memiliki lingkaran suci diatas kepala mereka berjejer membentuk barisan disebuah gerbang besi yang dipahat indah, seolah menyambut kedatangan kami.

“Mereka sudah lama menunggu kedatangan kita,” kata pemilik sayap kananku ini. “Ayo, masuk.”

Kami memasuki gerbang itu. Ternyata didalam sana terdapatnya banyak lagi peri-peri cantik. Pemilik sayap kananku menuntunku melewati sebuah jalan yang dilapisi karpet emas nan elegan ini. Jalanan ini sangat panjang, hingga kemudian aku berhenti disebuah bangunan. Dan itulah bangunan yang terkenal agung dan suci itu. Aku tidak percaya bisa berdiri di depan bagunan itu. Rasanya seperti mimpi.

Pemilik sayap kananku menoleh ke arahku sebentar dan aku mengangguk kepadanya. Kami pun berjalan masuk ke dalam bangunan itu. Suara lonceng gemerincing menyambut kami saat memasuki pelataran di dalam bangunan itu.

Kaki kami membawa kami ke depan altar. Disana kulihat penciptaku telah menunggu kami sembari memberi kami senyum terindahnya. Aku mulai sedikit gugup, dan perasaanku mulai tak keruan. Kami pun sampai di depan penciptaku.

“Berbahagialah, Anakku. Kau telah menemukan sayap kananmu, cinta sejatimu. Terbanglah bebas kemanapun tempat yang ingin kautuju,” kata penciptaku menatap kami penuh kasih. Aku tersenyum mendengarnya. Ya, aku telah menemukan sayap kananku, cinta sejatiku.

Aku menatap pemilik sayap kanan-ku, dia juga balik menatapku. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang mendesak keluar dari mataku. Aku bukan perempuan cengeng. Bahkan saat kejatuhan pertama dan keduaku aku tidak pernah menangis. Sungguh.

Hidup baruku dimulai. Sayap kami telah diikat oleh sebuah tali yang bernama cinta. Inilah awal kebahagiaanku setelah kejatuhan dua kali yang begitu menyakitkan.

Didunia ini yang kauperlukan hanyalah keberanian untuk mencoba. Disetiap percobaan pasti ada kejatuhan yang menyakitkan. Seperti itulah hidup. Tidak ada yang berjalan mulus seperti halnya hidupku. Cukup percaya dan yakin bahwa setiap percobaan yang kaulakukan akan membawamu menuju kebahagiaan.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s