The Second Loving You

577814_495456053825214_1514063181_n

I’m always in second place Loving you
From rainy days
To cloudy days
To sunny days when you escape the past
I’m always in second place waiting for you
From yesterday
To today
Right up to forever, I believe I love you most

Hujan lebat, untuk kesekian kalinya di bulan Maret ini. Aku menatap rintik-rintiknya dari kaca bening jendela kamar yang kutempati hampir 5 tahun. Jari-jariku perlahan menyentuh kaca berembun itu, menggoreskan sebuah nama disana.

Lama aku duduk diam memandangi nama itu dengan pikiran yang berkecambuk. Diantara semua pikiran itu, hanya satu yang paling menyita fokusku. Gadis itu. Gadis yang setiap hari aku rindukan.

Terlihat bodoh memang duduk termenung memikirkan dan merindukan gadis yang bahkan tidak kuketahui apakah dia juga melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan.

Kenangan yang dulu pernah kulewatkan bersamanya, tepatnya selalu di hari hujan. Dia menyukai bagaimana ketika air itu jatuh dari langit. Gadis itu sangat mengagumi hujan yang awalnya adalah hal yang paling kubenci. Tapi, gadis itu membuatku menyukainya, menyukai apa yang disukainya.

Saat itu hujan turun yang disertai petir di bulan Maret tepat 5 tahun yang lalu. Gadis itu memintaku menjemputnya dihalte depan kampusnya. Kubawa payung kecil hitam-kuning dan turun dari mobil. Gadis itu ada disana, meringkuk kedinginan sendiri. Aku langsung berlari ke arahnya, memeluknya dan mengusap punggung lembut.

“Maaf, aku terlalu lama menjemputmu,” ucapku ditelinganya.

“Aku takut,” katanya, dan aku merasakan tubuhnya yang gemetar karena menangis.

Sial! Aku merutuki diriku sendiri. Gadis itu menangis dan itu karena aku. Perasaan bersalah langsung mengerubungi dadaku.

Lambat laun tubuhnya mulai rileks dan hujan juga sudah berhenti. Aku mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk ke mobilku. Dia langsung tertidur begitu saja. Wajahnya yang sedikit pucat tampak damai. Walaupun gadis ini menyukai hujan, tapi ia sangat membenci petir, dan aku juga membencinya karena membuat gadis ini takut.

Aku tersenyum getir mengingatnya. Setiap detik yang kulewati bersama akan selalu kuingat, kusimpan dalam memoriku.

Ada satu hari dimana hari terakhir kami berkencan dia memberitahuku dengan halus. Gadis itu ingin memberitahuku, tepatnya minta maaf dan mencoba mengucapkan selamat tinggal kepadaku. Aku tahu itu maksudnya.

Aku ingin menyebutnya ‘gadisku’ agar tidak ada yang bisa menguasainya kecuali aku. Gadisku, terdengar begitu posesif, bukan? Sayangnya, takdir tidak memihak kepadaku. Gadis itu telah bertunangan dengan orang lain.

Sampai hari dimana sebuah surat undangan yang dihias cantik pita kuning datang ke rumahku. Undangan pernikahan. Aku tersenyum miris dan tiba-tiba saja aku merasa udara seolah menipis.

Yang kedua, begitulah aku mencintainya. Aku hanya bagian kedua dengan kenyataan ada pria yang juga mencintainya dan gadis itu juga mencintai pria itu. Rasanya untuk menarik napas saja terasa begitu sakit. Padahal itu adalah hal yang paling sederhana yang bisa kulakukan tapi begitu sulit untuk dilakukan.

Jika ditanya mengapa aku mencintainya hingga seperti orang tolol, jawabannya banyak. Banyak hal yang bisa kucintai dalam dirinya dan tentu aku mencintainya tanpa syarat dengan alasan aku tidak bisa hidup dengan benar tanpa gadis itu.

Aku mencintainya, sejak awal aku menatap matanya, seolah ada magnet pribadi yang menarikku untuk mendekat agar bisa mengenalnya lebih dalam. Aku menuruti hatiku dengan mengenalnya dan saat itulah aku tahu dia gadis yang bisa menyempurnakan cela kekuranganku.

Aku mencintainya, saat kencan pertama yang kami lakukan, aku semakin mengenal pribadinya dan membuatku kembali jatuh cinta padanya.

Aku mencintainya, saat aku tahu dia sudah memiliki seorang kekasih dan akan bertunangan dalam waktu dekat. Disaat itulah aku baru menyadari bahwa aku menjadi bagian keduanya.

Aku mencintainya, bahkan disaat dia telah bertunangan dan akan melangsungkan pernikahan. Betapa bodohnya aku kalau dipikir-pikir. Mencintai gadis yang sebentar lagi akan menjadi istri orang.

Aku mencintainya, setelah dia menjadi istri orang lain. Sampai kapan aku tidak mencintainya?

Air mataku kembali jatuh untuk kesekian kalinya mengingat wajah cantiknya, mata indahnya dan bibir mungilnya. Aku ingin melemparkan diriku ke masa lalu lagi. Kembali mengenal dia untuk pertama kalinya. Kini hanya selembar foto usang yang bisa kupandangi untuk memuaskan rasa rinduku pada gadis itu.

Suara gemerisik dari palang-palang besi pintu yang berdiri kokoh itu terbuka. Dua orang yang memakai seragam serba putih masuk dan tersenyum ramah kepadaku. Dengan paniknya aku berjalan mundur dan meringkuk ketakutan di pojok kamar sambil menatap waspada ke arah mereka.

Foto usang yang kupegang tadi kugenggam erat-erat, mereka pasti mau mengambilnya dariku.

“PERGI!!! KALIAN MAU APA, HAH??? PERGI!!! PERGI DARI SINI!!! AKU TIDAK GILA!!!” teriakku pada mereka. Aku tidak gila. Ya, aku tidak gila, merekalah yang gila karena menahanku disini.

—***—

One thought on “The Second Loving You

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s