Hati Yang Tak Kenal Lelah

Sometimes I Stay Up At Night, Thinking About You And Wishing We Could Be Together

Aku menemukanmu terluka. Aku menemukanmu sesak tak bernapas. Aku menemukanmu selalu menoleh kebelakang, pada satu titik yang tidak pernah pudar dari ingatanmu. Aku bertanya… ada apa?

Kau menunjuk ke titik itu. Kau mengatakan, “AKU MAU DIA.”
Aku memapahmu. Perlahan-lahan, selangkah demi selangkah. Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk berlari. Sering kali aku mengatakan, jangan lagi kau putarkan lehermu kebelakang. Jalannya ada di depan. Angkat kepalamu, jalan lurus kedepan. Tapi bukan kau namanya jika tak membantahku.

Kau tetap menatap titik itu. Walaupun titik itu mulai pudar. Tak terlihat. Kau terus menoleh kebelakang. Sampai-sampai kau terjatuh.

Ya, kau terjatuh lagi untuk kesekian kalinya. Kau terluka lagi, aku mengobatimu lagi. Kau menangis lagi, aku tenangkan dirimu lagi. Tak mengapa, disini ada aku.

Aku yang akan selalu berdiri untukmu. Aku yang tak akan pernah tinggalkanmu melangkah sendirian. Terkadang kau bilang kau takut untuk melangkah lagi.

Ya, kau takut terjatuh lagi. Tapi aku tak pernah lelah untuk terus menuntunmu kembali. Aku selalu menyakinkanmu, ada masanya nanti kau akan lupa akan titik itu. Tak lagi berjalan dengan menolehkan kepala kebelakang. Akan kau angkat kepalamu, menjalani jalanmu sendiri. Tegak, tak tertatih dan tak lagi terjatuh karena titik itu.

Ini semua proses hidup. Kau hanya butuh waktu untuk melewatinya.
Tak mengapa walau hanya 1 langkah.

Tapi, kau berontak, kau meronta dan kau mengatakan padaku, “Aku punya caraku sendiri mengobati lukaku.” Namun aku tak pernah berhenti. Menjalani hari bersamamu…

Membuatmu tertawa…
Membuatmu sejenak lupa akan titik yang selalu kau pandang di belakang. Saat kau letih untuk melangkah, aku mengajakmu untuk berhenti. Sejenak kau menoleh kebelakang, titik itu semakin pudar. Tapi kau masih mengingatnya jelas.

Ada kalanya aku mengeluh, aku capek dengan semua ini. Aku lelah. Aku lelah menangis menahan lukaku sendiri. Ya, aku juga terluka. Memapahmu, tanpa kau pandang bagaimana aku. Aku mempedulikanmu melebihi diriku sendiri. Tapi memandangmu, aku tersadar.
Aku tidak boleh lelah…
Aku tidak boleh berhenti…
Sampai nanti tiba saatnya…
Kau mampu berdiri sendiri…
Melangkah sendiri…
Tanpa menoleh kebelakang lagi…
Sampai kau menemukan titik lain di dalam hidupmu.

 

Credit/Tag : Lily Chong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s