Flash Fiction : Sebuah Penantian

9a521f8f-69e2-41f6-a28e-afd08a821cdd.1.10Satu, dua, dan kini berjalan ke tiga. Tiga tahun kau pergi. Tak memberi kabar sama sekali. Kau tahu betapa rindunya aku disini menunggumu pulang?

Sering aku bertanya apa kabar dirimu disana, apa kau makan dengan kenyang, istirahat dengan cukup, dan dengan siapa kau tinggal disana. Namun, sepertinya pertanyaanku itu hanyalah sebuah pengharapan agar kau cepat kembali, setidaknya ada kabar tentang dirimu yang bisa membuatku sedikit tenang disini.

3 tahun yang lalu kau bilang akan pergi merantau, mencari uang untuk masa depan kita kelak. Sebenarnya aku tidak ingin kau pergi, tapi tekadmu sudah bulat dan aku tidak bisa melarangmu.

Satu hal yang paling kuingat saat kapal yang kau tumpangi itu perlahan-lahan meninggalkan dermaga, hanya sebuah tatapan yang kau tinggalkan untukku. Dan saat itu juga ada sesuatu yang menghantamku. Aku tahu kau tidak akan kembali kepadaku. Itulah yang bisa kuartikan dari tatapanmu. Sebuah tatapan bersalah.

Kini, aku berdiri disini, di dermaga tempat perpisahan terakhir kita. Aku tahu kau tidak akan kembali, tapi aku akan tetap menunggu. Karena ada sebuah pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu. Apa kau benar-benar tulus mencintaiku?

Hari mulai gelap dan sang surya mulai kembali ke peraduannya. Cahaya kuning keemasan menyilaukan mataku, dan disana aku melihat dia, pria yang kutunggu selama tiga tahun.

Wajahnya tidak berubah, tetap tampan dan memesona. Dia tidak pulang sendiri, tapi bersama seorang wanita asing yang ia gandeng ditangan kirinya dan tangan satunya lagi yang digunakannya untuk menggendong seorang bocah berumur sekitar setahunan. Mereka terlihat seolah-seolah keluarga kecil yang bahagia. Dan aku tersenyum getir melihat pemandangan menyakitkan itu. Terima kasih untuk pengkhianatannya.

Satu, dua, dan kini berjalan ke tiga. Tiga tahun kau pergi. Tak memberi kabar sama sekali. Kini, kau kembali, menggoreskan luka baru di luka lama yang belum sembuh benar akibat kekecewaan dan penantian panjang yang menjadi sebuah kesia-sian yang kusesali.

***

One thought on “Flash Fiction : Sebuah Penantian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s